BAB 1
Enam tahun yang lalu.
“Bersiaplah! Kita akan ke markas,” ucap Brian sebelum meninggalkan kamar Briana.
Briana hanya mengangguk lalu beralih pada cermin besar di kamarnya. Dia melihat pantulan dirinya dengan penuh percaya diri. Lalu, tangannya terangkat untuk menggulung rambut coklat sepunggungnya menjadi sebuah cepolan, menyisakan rambut halus di setiap sisinya. Dia terlihat sangat cantik dan juga menawan.
Briana mulai berjalan keluar dari kamarnya, menuruni tangga dengan tegas nan elegan. Beberapa pengawal yang tengah berdiri di ruangan itu menundukan kepalanya, memberikan salam hormat atas kedatangan Briana, satu-satunya putri di keluarga Nelson. Aura Briana begitu menguar kuat dengan wajahnya yang tanpa ekspresi. Brian yang menyadari kedatangan Briana pun berdiri, lalu saling menatap saat mereka hanya berjarak kurang dari dua meter.
“Kau sudah siap?” tanya Brian.
“Seperti yang kau lihat,” ucap Briana datar.
“Kau masih punya waktu jika ingin mengubah keputusanmu,” ucap Brian.
“Keputusanku tidak akan pernah berubah, walau aku memiliki banyak waktu sekali pun,” ucap Briana penuh keyakinan.
Brian menghela napas berat atas kesungguhan adik semata wayangnya. Walau dalam dirinya cukup yakin, tapi tidak bisa dipungkiri jika hati Brian gelisah. Brian menatap manik hijau milik Briana sekali lagi dan tatapannya itu tidaklah berubah. Brian berjalan lebih dulu, lalu diikuti oleh Briana.
“Aku akan mengemudi,” ucap Brian pada supir pribadinya yang telah membuka pintu belakang penumpang.
“Baik, Tuan,” ucapnya seraya menundukkan kepala lalu menutup kembali pintu itu.
Brian membukakan pintu penumpang samping kemudi untuk Briana. Lalu, dia mengitari mobil dan masuk di bagian pintu kemudi yang telah dibukakan oleh salah satu pengawalnya. Mobil sedan hitam itu pun melesat dengan kecepatan sedang, diikuti oleh beberapa mobil pengawal di belakangnya.
Hening, hanya itulah yang membelenggu dua orang yang sama-sama fokus menatap lurus ke depan. Dua orang yang berbeda generasi, tapi satu darah. Sejenak, Brian melirik Briana. Rasanya dia ingin memutar kembali arah laju mobil. Namun, sepertinya itu tidaklah mungkin saat Briana mulai menatap Brian dengan tatapannya yang dingin.
Brian menggenggam tangan Briana lalu mengecupnya di sana sebelum akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti di sebuah gedung kuno. Tidak ada aktivitas yang mencurigakan jika dilihat hanya sekilas. Mereka berdua pun keluar dari mobil dan disambut oleh beberapa orang dengan pakaian resmi, karena hari ini akan menjadi sejarah baru bagi seseorang yang memulai lagi kehidupannya.
“Selamat siang dan selamat datang, Tuan dan Nona Nelson,” sambut Chris, salah satu anggota dan juga orang kepercayaan Brian di kelompok itu. Dia pun menundukan kepala diikuti oleh beberapa anggota yang lain.
Brian pun mengangguk samar seraya berkata, “Apa semuanya sudah berkumpul, Chris?”
“Tentu, Tuan,” ucapnya lalu melirik sejenak Briana dengan tatapan yang sulit diartikan.
“Bagus!”
Brian pun melanjutkan langkahnya dengan Briana yang berdiri di sampingnya. Tatapan dan aura mereka tidak jauh berbeda. Sampailah mereka di sebuah aula yang sangat besar yang sekarang telah hening, padahal lebih dari seratus orang di tempat itu. Tidak ada yang berani membuka suara saat mata Brian menyusuri setiap penjuru ruangan.
“Aku rasa kalian semua sudah tahu alasan mengapa hari ini kita semua berkumpul dengan situasi yang sedikit berbeda,” Brian menjeda ucapannya, “Briana, kemarilah!”
Briana mendekat ke arah Brian dengan wajahnya yang datar. Sedikit pun kepalanya tidak menunduk walau di depannya terdapat puluhan pasang mata yang didominasi oleh kaum pria. Matanya begitu tajam menelusuri setiap pasang mata yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda.
“Adikku yang akan menggantikan posisi untuk memimpin kelompok ini. Namun, aku tetap akan memantau semua pergerakan yang ada,” Brian menjeda ucapannya, “Briana, aku berikan tanggung jawab ini padamu.”
“Tentu, dengan senang hati aku menerimanya,” ucap Briana dengan yakin, lalu beralih pada seluruh anggota kelompok yang masih terdiam, “Aku harap kita bisa bekerja sama.”
Manik hijau Briana begitu menusuk. Tidak sengaja matanya menemukan sepasang mata yang menatapnya tidak suka di dalam kerumunan. Itu sungguh kentara di benaknya. Briana sungguh tidak suka ditatap remeh seperti itu, apalagi oleh seorang pria. Dia menyimpan ingatan itu untuk diincarnya jika suatu waktu pria tadi cukup mengancamnya.
Kerumunan yang begitu mencekam kini berubah menjadi sebuah pesta. Briana duduk di samping Brian yang tengah menyesap wine. Dia hanya menyaksikan keramaian pesta tanpa mau ikut menikmatinya. Merasa bosan, akhirnya Briana memilih untuk keluar dari aula. Brian hanya menatap kepergian Briana lalu menyesap lagi wine-nya dengan santai.
Ini bukan kali pertama Briana datang ke markas. Briana cukup hafal seluk beluk gedung kuno ini yang terletak cukup jauh dari pusat kota di Aberdeen. Briana pergi ke lantai tiga di mana atap terbuka berada. Dia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskannya dengan segera. Tatapan matanya tidak teralihkan, yang menatap lurus hamparan hijau yang menyejukkan.
Tiba-tiba pendengaran Briana menangkap langkah kaki yang sepertinya sedang menuju ke atap di mana dia berada. Dengan sigap, Briana berpindah tempat ke salah satu sisi yang tidak terlalu mencolok. Dia mengamati gerak-gerik orang yang baru saja sampai di atap. Mode waspadanya sudah aktif sejak tadi. Manik hijaunya terus menyelidik setiap inci tubuh lawannya.
Orang itu pun berbalik dan menemukan Briana yang tengah berdiri santai tanpa ekpresi di balik tembok bangunan, yang memperlihatkan setengah tubuh Briana yang sekarang tengah menghadapnya. Senyum meremehkan timbul dari orang itu. Orang yang sama yang sudah Briana ingat beberapa saat yang lalu.
“Hai!” ucapnya basa-basi.
Briana hanya diam tidak berminat menjawab sapaan yang menurutnya tidaklah berguna.
“Aku tidak percaya, ternyata kau yang menggantikan Tuan Brian,” ucapnya lagi.
Briana sungguh ingin melempar wajahnya sampai dia benar-benar tidak bisa tersenyum lagi. Senyumnya sungguh menjengkelkan bagi musuh yang memiliki temperamen buruk. Namun, Briana cukup cerdas tentang itu. Dia tidak akan terpancing oleh hal yang menurutnya hanya sebuah pancingan.
“Aku rasa kau bisa berbicara tadi,” dia menjeda ucapannya, “Ah, baiklah. Selamat untuk jabatan yang baru saja kau dapatkan. Namun, ingat! Kau tidak akan selamat selama kau terikat dengan kelompok ini. Semoga berhasil, Nona Briana!”
Orang itu berlalu begitu saja setelah mengucapkan kalimat yang menurut Briana sebuah gertakan. Briana cukup tahu apa risiko yang akan dia hadapi setelah hari ini. Bahkan dia mampu menyingkirkan orang tadi jika dia mau. Briana akan mencari tahu siapa orang tersebut beserta seluk beluknya di kelompok ini. Briana akan membuktikan kalau dia bukan hanya sekedar pantas menjadi pemimpin kelompok bersenjata ini, melainkan dialah ratu dari semua pemimpin yang ada.
Briana pun kembali ke aula yang ternyata pesta belum selesai, padahal dia sudah meninggalkan aula ini lebih dari empat jam. Mereka terus menari dan sebagian besar orang sudah bisa dinyatakan mabuk. Bau minuman alkohol menguar di aula. Itu sangat menusuk indra penciuman Briana, dia sangat muak dengan bau ini. Briana menghampiri Brian yang masih setia di tempat duduknya sejak Briana meninggalkan aula.
“Aku akan pulang dan membereskan sisa pekerjaan,” ucap Briana.
“Kau tidak suka pestanya? Ini perayaan untukmu,” ucap Brian.
“Kau sungguh tahu jika aku tidak suka pesta dan lihatlah mereka!” Briana mengalihkan pandangan pada orang-orang yang sudah terkapar di sofa lain diikuti oleh Brian, “Menyedihkan dan mengenaskan.”
Ucapan Briana mengundang kekehan Brian. Sebenarnya Brian sangat tahu tentang itu. Maka dari itu, dia membiarkan Briana pergi tadi saat pesta baru beberapa menit dimulai.
“Ah, baiklah. Kau yang memegang kendali,” ucap Brian santai.
“Namun, sebelumnya aku ingin bertanya. Siapa orang itu?” Briana menunjuk dengan dagunya sambil menatap tajam orang yang sekarang tengah menyesap wine di kursi bar bersama temannya sambil tertawa.
Brian menatap seseorang yang dimaksud oleh Briana. Melihat reaksi Briana sekarang, Brian rasa ada sesuatu yang membuat adiknya ini terusik.
“Dia cukup cerdas. Bela dirinya pun tidak diragukan lagi. Dia yang bertanggung jawab setiap penyerangan yang dilakukan. Walau orang kepercayaanku lebih unggul darinya, usahanya jarang mengecewakan, hampir tidak pernah,” ucap Brian.
Briana mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan Brian dengan seksama. Brian tidak bisa membaca pikiran atau raut wajah Briana saat ini. Brian hanya akan menunggu apa yang akan Briana lakukan setelah dia mendapatkan informasi tentang salah satu anggota terbaiknya.