BAB 2
“Aku akan mengantarmu pulang,” ucap Brian.
“Tidak perlu,” ucap Briana singkat.
“Kau datang bersamaku. Apa kau lupa?” ucap Brian.
“Aku rasa kau masih menikmati pestanya,” ucap Briana.
“Tidak terlalu, hanya saja aku akan menyelesaikan urusan terlebih dahulu, baru kita kembali,” ucap Brian.
“Terserah kau. Aku akan menunggu di luar,” ucap Briana.
“Baiklah,” ucap Brian.
Sepeninggal Briana, Brian pun pergi ke sebuah ruangan yang biasa ditempatinya untuk mengecek beberapa laporan yang diberikan Chris. Isinya cukup memuaskan tentang teritorial mereka. Di saat Brian sudah selesai dengan segala laporan yang ditelaahnya, tiba-tiba Chris mulai membuka pembicaraan.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud menyinggung, saya hanya ingin memastikan, apa Tuan bersungguh-sungguh atas keputusan ini?” tanya Chris dengan hati-hati.
“Maksudmu apa, Chris?” tanya Brian memastikan.
“Saya cukup tahu Tuan sangat menyayangi Nona Briana. Hanya saja, kenapa Tuan mengizinkan Nona Briana memimpin kelompok ini?” ucap Chris penuh penasaran.
“Dia yang menginginkannya,” jawab Brian.
“Bagaimana jika Nona Briana terluka? Karena risikonya tidak main-main,” ucap Chris.
“Aku tahu, Chris. Justru itu, aku ingin meminta bantuanmu,” ucap Brian sambil menatap Chris dengan seksama.
“Tentu. Silahkan, Tuan!” ucap Chris dengan sedikit menganggukkan kepalanya.
“Tolong jaga dia untukku!” ucap Brian dengan sungguh-sungguh.
“Saya akan menjaga Nona Briana dengan baik, Tuan,” ucap Chris dengan tegas.
“Terima kasih. Kalau begitu kau boleh kembali. Nikmatilah pestanya!” ucap Brian yang langsung berdiri meninggalkan kursinya.
“Tentu, Tuan,” ucap Chris, lalu memberikan salam hormat pada Brian sebelum dia melangkah mengikuti di belakang Brian.
Di tempat lain, Briana tengah berjalan menyusuri lorong gedung menuju pintu utama seorang diri. Tiba-tiba pendengarannya menangkap sebuah suara yang membuat langkahnya terhenti. Percakapan beberapa orang yang membuat hati Briana memanas.
“Ck, adik Tuan Brian itu sangat cantik,” ucap salah seorang pria dengan tato di tangan kirinya.
“Ya, aku setuju, tapi kenapa dia mau repot-repot memimpin kelompok ini? Aku rasa dia lebih cocok aku lindungi. Sayang sekali wajahnya yang cantik harus terkena gores nantinya,” ucap pria lain yang memiliki wajah sedikit imut.
Tidak bercermin? Batin Briana mencibir.
“Aku sedikit ragu dengan kemampuannya. Kalian tahu sendiri, bagaimana Tuan Brian memimpin kelompok ini? Para musuh pun berpikir dua kali untuk menyerang,” ucap pria bertato di tangan kirinya.
“Kita lihat saja nanti. Aku yakin kelompok ini akan hancur di tangannya dan Tuan Brian akan mengambil alih posisinya lagi,” ucap pria dengan kepala pelontos.
“Tapi aku akui, dia terlihat berbeda dari terakhir aku melihatnya dan itu cukup lama,” ucap pria bertato itu.
“Ya, aku setuju. Aku jadi ingin mencoba bertarung dengannya,” ucap pria berwajah imut.
“Kau yakin ingin berkelahi dengan wanita? Ck, aku rasa kalian akan berakhir di lain tempat,” ucap pria bertato.
Hati Briana bergemuruh mendengar setiap percakapan mereka. Apalagi saat mereka tertawa dengan begitu renyahnya. Briana tetap bersikap tenang. Namun, bagi orang yang melihatnya dengan seksama, kilatan amarah di matanya seolah ingin menelan bumi serta isinya.
Briana melanjutkan langkahnya, berjalan dengan penuh percaya diri. Dia sengaja menampakkan dirinya. Sepatu hak tinggi sekitar tujuh senti meter menggema di lorong tersebut. Walau dia berjalan tanpa pengawal, auranya begitu kentara dan sekarang dia sedang begitu emosional pada beberapa pria yang sudah Briana tandai. Yang begitu lancang meremehkan seorang Briana Nelson.
Briana melangkah hampir melewati para pria tersebut. Seolah lupa dengan apa yang telah mereka perbuat, sekarang mereka tengah terperangah menatap Briana takjub dan terpesona dengan tidak tahu dirinya. Sungguh tidak sopan. Salah satu dari mereka akhirnya tersadar.
“Salam, Nona Briana,” ucapnya sambil menundukkan kepala diikuti oleh yang lain.
Briana menghentikan langkahnya yang berjarak tidak jauh dari para pria tersebut. Dengan aura dingin yang menguar, dia mengalihkan pandangan pada mereka. Menatap mereka dengan tajam satu persatu. Tanpa berniat menjawab atau semacamnya, Briana langsung mengalihkan lagi pandangan dan berlalu begitu saja. Para pria itu saling memandang satu sama lain dengan pikiran masing-masing.
Briana pun berdiri di dekat pintu utama gedung kuno itu. Tidak lama kemudian, Brian pun muncul dengan gagah diikuti beberapa pengawal di belakangnya. Brian merangkul pinggang Briana.
“Kau menunggu lama?” ucap Brian sambil menatap Briana yang seperti tidak terganggu dengan sikap Brian.
“Tidak terlalu,” singkat Briana.
Brian mampu merasakan sikap Briana semakin dingin dan ini lebih kentara dari sebelumnya, saat dia menanyakan anggota terbaik kelompok mereka. Brian hanya melanjutkan langkahnya lalu membukakan pintu penumpang samping kemudi untuk Briana. Setelahnya dia mengitari mobil dan masuk di pintu dekat kemudi. Mobil sedan hitam itu pun meninggalkan area markas.
“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” tanya Brian memecah keheningan.
“Apa mereka memiliki jadwal latihan?” Briana balik bertanya yang membuat dahi Brian mengernyit.
“Tentu, setiap hari pun ada. Aku yang mewajibkan mereka berlatih, entah itu bela diri, membidik dan lain sebagainya,” jelas Brian.
“Kapan waktunya?” tanya Briana lagi.
“Sore hari. Apa kau ingin melihat mereka berlatih? Aku bisa menghubungi Chris untuk menemanimu,” ucap Brian.
“Tentu,” ucap Briana yang hanya menatap keluar jendela mobil.
Hening kembali, itu yang membelenggu dua orang dengan masing-masing pikiran. Brian kembali fokus mengemudi dengan harapan jika adik kesayangannya tidak terluka lagi.
Setelah Brian mengantarkan Briana ke kediaman mereka. Brian pun melanjutkan aktivitasnya menuju perusahaan keluarga yang bergerak di bidang industri dan perdagangan. Namun, sebelum dia berkutat dengan berkas yang akan membuatnya lupa dengan kehidupan, dia menyempatkan untuk menghubungi Chris terlebih dahulu.
Malam tiba, saat sebagian besar orang lebih memilih beristirahat dalam ketenangan. Gadis ini lebih memilih berada di sebuah tempat tertutup di kediamannya. Suara dentuman menggema seisi ruangan tersebut. Keringat bercucuran membasahi seluruh tubuhnya. Napasnya memburu sampai terengah.
Tak kenal lelah, dia terus memukul samsak yang menggantung sampai bergerak ke sana kemari. Matanya menatap nyalang. Ingatan demi ingatan terus terbayang. Gemuruh di hatinya kembali lagi.
“Sialan!” Briana berdesis, “Aku akan membuat kalian tunduk padaku.”
Dengan kasar, Briana melepas handwrap lalu beralih pada handuk yang tersimpan di dekatnya. Dia keluar dari tempat latihan pribadi sambil mengelap keringat di wajahnya. Berjalan menuju kamarnya tanpa mempedulikan sekitar, yang ternyata ada yang menatapnya dengan tatapan sendu.
Tepat di sore hari, Briana datang dengan beberapa pengawal utusan Brian. Chris menyambutnya dengan hangat.
“Selamat datang, Nona Briana!” ucap pria berusia tiga puluh tahun itu sambil menundukkan kepalanya.
Briana membalas salam hormat pria itu dengan elegan.
“Mari saya antar menuju tempat latihan,” ucap Chris dengan ramah.
“Terima kasih….” Briana menjeda ucapannya sambil menaikkan sebelas alisnya.
Chris yang langsung mengerti pun menjawab lebih dulu, “Chris. Nona bisa memanggil saya Chris.”
“Ah, baiklah, Chris,” ucap Briana.
“Kalau begitu, mari!” Chris jalan lebih dulu diikuti oleh Briana dan para pengawal.
Gedung kuno ini cukup besar ditambah dengan halaman yang begitu luas. Mereka berjalan cukup jauh dari pintu utama ke tempat yang dituju. Samar-samar mulai terdengar riuh pikuk dari sebuah ruangan terbuka yang sangat luas.
Briana memperhatikan setiap hal di ruangan tersebut tanpa kecuali. Matanya menangkap beberapa orang yang membuat rasa kesal di hatinya timbul lagi. Mereka tengah berlatih dengan posisi seperti bertarung satu lawan satu. Setiap pergerakan yang dilakukannya Briana pelajari.
“Aku ingin dia menjadi lawanku,” Briana menunjuk seseorang dengan dagunya.
Chris yang mengerti, langsung mengikuti arah pandang Briana pada pria berkepala plontos yang tengah bertarung dengan pria yang memiliki tato di tangan kirinya. Chris menatap Briana sejenak.
“Anda yakin, Nona?” ucap Chris memastikan.
“Kenapa tidak?” ucap Briana dengan santai.
“Baiklah,” ucap Chris lalu memanggil orang yang dimaksud Briana.
Briana bersiap di satu sisi dan pria yang berkepala plontos itu bersiap di sisi yang lain. Lalu, dia melepas sepatu hak tingginya yang dia simpan di sisi arena. Ruang latihan semakin riuh karena beberapa anggota yang berada di luar ruang latihan tiba-tiba berdatangan. Mereka mendapat kabar kalau pemimpin barunya akan memperlihatkan kemampuan yang menjadi tanda tanya seluruh anggota, kecuali para pengawal utusan Brian.
“Senang menjadi lawan anda, Nona,” ucap pria itu dengan senyum sarkasnya.
Briana tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Dia cukup tenang dengan sekitar yang sudah tidak sabar ingin melihat aksinya. Salah satu anggota yang menjadi wasit pun memberikan aba-aba untuk mereka memulai latihannya yang bisa disebut pertarungan beda gender. Pertarungan ini dilakukan dengan tangan kosong dan bertelanjang kaki. Otomatis, mereka hanya menggunakan kekuatan dan juga kemampuan mereka sendiri tanpa bantuan apa pun.
Semua orang terperangah melihat aksi Briana di arena pertarungan. Kurang dari satu menit Briana mampu mengalahkan salah satu pria yang kemarin meremehkan kemampuannya. Tatapan matanya begitu tajam dan tak teralihkan dari lawannya yang sekarang tengah kesulitan bernapas. Semua orang terdiam tanpa berani mengeluarkan satu patah kata pun, bahkan Chris juga. Briana berdiri penuh percaya diri menatap lawannya yang tidak bisa berdiri lagi.
Akhirnya wasit pun menyatakan jika Briana pemenangnya. Senyum pun akhirnya terbit di wajah Chris setelah rasa tegang yang memburu dirinya, karena Nona yang harus dia jaga ternyata memiliki kemampuan yang luar biasa. Setidaknya jika Tuannya tahu kalau adik kesayangannya tengah bertarung melawan anggotanya sendiri, dia tidak akan terlalu takut untuk menerima hukuman dari Brian.
“Ini belum selesai, Chris,” Briana memperingatkan Chris yang akan mengajaknya menepi.
“Maaf, maksud Nona?” ucap Chris yang belum mengerti.
“Aku ingin dia menjadi lawanku selanjutnya,” Briana menunjuk seorang pria bertato di tangan kiri dengan dagunya.
Setelah mengerti, Chris pun mempersilahkan Briana melanjutkan lagi pertarungannya, “Baiklah, Nona.”
Chris pun mundur kembali ke tempat dengan perasaannya yang harap cemas kembali. Pria yang ditunjuk Briana pun maju dengan tatapan tajamnya. Namun, Briana hanya bersikap biasa saja. Mereka pun bersiap di sisi masing-masing. Suasana menjadi lebih hening dari sebelumnya, karena mereka tahu lawan Briana cukup tangguh. Dia adalah salah satu dari tim penyerang yang memiliki ilmu bela diri yang mumpuni.
Pertarungan kali ini cukup sengit. Sampai yang menonton mereka pun menahan napasnya, seolah satu embusan napas mereka akan membuat kegaduhan. Satu pukulan yang Briana layangkan pada lawan terhindarkan. Namun, di detik kemudian Briana mampu menumbangkan lawannya dengan dua kali tendangan di ulu hati dan juga di bagian rahang.
Lagi, semua terperangah. Sebagian besar orang yang berada di sana begitu terpesona dengan sosok Briana. Seolah tidak kenal lelah, Briana hanya bersikap santai dengan wajahnya yang datar. Briana pun mundur kembali ke posisinya lalu menatap lawannya yang tergeletak menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya. Sampai akhirnya pria itu tidak sadarkan diri. Pertarungan selesai, Briana pun menunjuk pria berwajah imut yang sepertinya dia tidak cocok menjadi anggota kelompok bersenjata seperti ini.
Briana menunjuk dengan dagunya, “Majulah!”
Pria itu langsung mendekat dengan tubuh yang bergetar. Keringatnya bercucuran padahal pertarungan belum dimulai. Briana hanya menaikkan sebelah alisnya saat melihat pria tersebut malah berlutut di hadapannya.
“Maaf, Nona. Ampuni saya!” ucap pria itu sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Briana beralih pada Chris yang saat ini tengah menghampirinya, “Aku pikir kelompok ini memiliki anggota dengan kemampuan yang bisa diperhitungkan.”
Chris mengetahui arah pembicaraan Briana lalu dia melirik pria yang tengah berlutut di hadapan Nonanya. Chris memberikan isyarat untuk bangun pada pria itu, tapi dia malah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Dia tahu kesalahannya di mana.
“Nona, saya mohon, ampunilah saya! Saya sungguh tahu kesalahan saya. Tolong, maafkan saya!” ucap pria itu dengan suara bergetar.
“Siapa namamu?” tanya Briana sambil menatapnya.
“Nama saya Rey, Nona,” ucapnya.
“Berlatihlah! Kau akan tetap menjadi lawanku saat kau siap,” ucap Briana.
Rey mengangkat wajahnya menatap Briana sejenak karena terkejut, lalu dia menundukkan kepalanya kembali sambil berkata, “Baik, Nona.”
Briana pun meninggalkan tempat latihan tanpa sedikit pun terluka, sambil menenteng sepatu hak tingginya diikuti oleh Chris dan para pengawal. Semua orang yang berada di sana menunduk hormat melepas kepergian Briana. Namun, ada satu orang yang langsung menatap Briana dengan tatapan yang sulit diartikan.
Menarik, tapi aku belum yakin sepenuhnya. Batin orang tersebut.