BAB 3
Briana memasuki ruangan yang biasa ditempati oleh Brian bersama Chris, dan membiarkan para pengawalnya menunggu di luar. Briana menyimpan sepatu hak tingginya di bawah sisi meja besar, lalu melangkah menghampiri kursi kebesaran milik Brian sebelum hari ini. Briana berencana mempelajari lebih dalam tentang kelompok bersenjata yang cukup disegani ini.
Chris adalah salah satu anggota terlama di kelompok. Dia mulai menjelaskan seluk beluk kolompok mereka, dari sebelum Brian datang sampai Brian memimpin kelompok dan menatanya dengan cukup baik sampai hari ini.
“Dulunya kelompok ini hanya sebuah kelompok kecil yang beranggotakan tidak lebih dari dua puluh orang. Yang dilakukan hanya bersenang-bersenang, berpesta, dan juga tawuran antar kelompok lain. Tidak ada konsep atau pun aturan, karena kami menganut kebebasan. Namun, semenjak Tuan Brian bergabung sekitar empat tahun yang lalu, secara tidak langsung aturan mulai ditetapkan, dan disitulah Tuan Brian mulai memimpin kelompok ini. Kelompok ini mulai dipandang karena memiliki kekuatan. Semakin hari kelompok ini semakin berkembang dan mulai menguasai sebagian wilayah dalam kurun waktu dua tahun. Bahkan anggota pun semakin bertambah seiring berjalannya waktu. Namun, saat kami sedang berjaya, tiba-tiba Tuan Brian membuat aturan baru yang sulit kami terima, sekitar satu tahun yang lalu, saat kembalinya Tuan Brian setelah menghilang beberapa bulan,” jelas Chris.
Briana memperhatikan setiap kalimat yang terlontar dari mulut Chris, dan mencoba menganalisisnya. Briana tetap fokus mendengarkan, tanpa memotong penjelasan Chris sedikit pun.
“Karena aturan baru itu, banyak anggota yang mengundurkan diri. Seolah tidak terusik dengan segala bentuk protes yang diberikan para anggota, Tuan Brian tetap bersikukuh atas pendiriannya. Bahkan Tuan Brian kerap kali menantang anggota yang tidak patuh atas keinginannya,” jelas Chris.
“Kalau boleh aku tahu, peraturan apa yang dibuat Brian waktu itu?” sanggah Briana yang semakin tertarik dengan pembahasan mereka, karena sejujurnya Briana tidak pernah mendengar penjelasan ini dari Brian.
“Tuan Brian mengalihfungsikan kelompok ini menjadi kelompok bersenjata yang melindungi wanita dan anak-anak. Banyak yang merasa ragu bahkan tertekan setelah aturan itu disahkan. Saya rasa Nona tahu sendiri bagaimana kami berpesta dan juga bersenang-senang kala itu, maka dari itu banyak yang merasa jika kebebasan yang selama ini dirasakan menjadi terancam,” jelas Chris.
Briana cukup tahu tentang pesta itu, karena Brian pernah melarangnya datang untuk menemui Brian di markas saat pesta berlangsung. Namun, dia tetap datang dan melihat sesuatu yang membuat bulu kuduknya merinding. Sangat jauh berbeda dengan pesta yang diadakan untuk penobatan Briana kemarin.
“Situasi semakin tidak terkendali saat Tuan Brian mengubah nama kelompok ini menjadi Black Angels. Penolakan dan pengkhianatan semakin menjadi. Bahkan sebagian besar lebih memilih untuk mengibarkan bendera perang pada anggota yang masih terbentuk dan setia pada kepemimpinan Tuan Brian. Dari kejadian itu, banyak korban yang berjatuhan,” jelas Chris.
“Ah, seperti itu rupanya. Pantas kelompok ini terasa berbeda,” ucap Briana.
“Apa Tuan Brian tidak mengatakan soal ini sebelumnya?” tanya Chris.
Briana pun menggeleng, “Aku pun tidak bertanya sampai ke permasalahan itu.”
Chris hanya mengatupkan bibirnya sambil mengangguk lemah.
“Apa kau tahu, kenapa Brian membuat aturan itu sampai kelompok ini terpecah belah?” tanya Briana.
“Saya sendiri tidak tahu, Nona. Tidak pernah ada penjelasan yang signifikan yang menjadi tanda tanya besar bagi kami. Sejak saat itu, Tuan Brian hanya fokus membangun kembali kelompok ini dengan sisa anggota yang bertahan, dan itu tidaklah banyak,” jawab Chris.
“Apa kau dan ketiga anggota tadi termasuk ke dalamnya?” tanya Briana.
“Iya, Nona,” jawab Chris.
“Baiklah. Lalu, apa yang Brian lakukan untuk memulihkan Black Angels?” tanya Briana.
“Tuan Brian memberikan pelatihan dengan pembekalan latihan fisik, strategi pertahanan, dan juga penyerangan. Tuan Brian pun semakin memperlihatkan seberapa berkuasanya dia dalam memimpin kelompok ini. Bahkan kerap kali Tuan Brian tidak terkendali. Namun, sejauh ini semuanya terlihat baik-baik saja,” Chris menjeda ucapannya.
“Apa saat itu kau juga ragu dengan keputusan Brian?” tanya Briana.
“Jujur saja, iya, Nona,” ucap Chris.
“Apa yang membuatmu ragu? Boleh aku tahu?” tanya Briana.
“Alasan saya tidak jauh berbeda seperti banyaknya anggota yang memilih mundur kala itu. Saya juga pernah berpikir akan merasa terkekang dengan aturan yang dibuat dengan tidak mengganggu wanita. Bahkan saya juga hampir mengkhianati Tuan Brian,” jawab Chris seraya menunduk.
“Lalu, apa yang benar-benar membuatmu bertahan hingga detik ini jika kau merasa seperti itu? Bahkan kau menjadi orang kepercayaan Brian sekarang,” Briana semakin penasaran dan terus melontarkan banyak pertanyaan pada Chris.
“Saya sendiri tidak tahu. Saya hanya terus mengikuti Tuan Brian dan mempelajari apa yang menjadi tujuannya saat itu, dengan keteguhan hati saya yang mulai goyah. Seiring berjalannya waktu, pola pikir saya pun mulai berubah, melihat tindakan demi tindakan yang Tuan Brian perlihatkan. Saya pribadi mulai mengerti, mengapa kelompok ini menjadi satu-satunya kelompok yang menjunjung tinggi harga diri wanita dan merangkul anak-anak, karena saya sendiri mengalaminya saat saya meragukan kekuatan kelompok ini,” raut wajah Chris sedikit berubah dan itu mengundang pertanyaan bagi Briana.
“Apa yang terjadi padamu saat itu?” suara Briana melembut dengan intonasi yang masih terkesan tegas.
“Saya kehilangan wanita yang paling berharga dalam hidup saya. Dia harta satu-satunya yang saya miliki kala itu. Dia diperkosa lalu dibunuh di depan mata saya, saat saya sedang sibuk bertaruh tentang kekuasaan. Bahkan jeritannya pun masih terdengar jelas di telinga saya,” tangan Chris mengepal kuat di samping tubuhnya dan itu tidak lepas dari penglihatan Briana.
Dengan sekali tatap Briana cukup tahu sepedih apa hati Chris sekarang. Briana membiarkan Chris dengan emosinya yang tertahan. Briana hanya diam dengan tatapan yang sulit diartikan. Sampai akhirnya Chris sadar atas reaksi yang menurutnya berlebihan bagi ingatan masa lalunya.
“Maafkan saya, Nona. Seharusnya saya tidak bercerita tentang masa lalu pribadi saya,” ucap Chris sambil menundukkan kepalanya.
“Tidak masalah,” Briana hanya terus memperhatikan gerak-gerik Chris yang tengah berusaha dengan emosinya yang tiba-tiba memuncak, “Apa Brian mengetahui hal ini?”
“Iya, Nona. Bahkan Tuan Brian menawarkan bantuan untuk pembalasan dendam atas kematiannya,” ucap Chris tanpa menatap Briana.
“Apa Brian sudah mewujudkannya?” tanya Briana yang membuat Chris mengangkat kepalanya.
“Sudah, Nona. Bahkan itu jauh lebih mengerikan dari apa yang adikku dapatkan,” kilatan amarah di mata Chris begitu kentara di mata Briana.
Aku tahu, Brian yang terbaik. Batin Briana.
Senyum sarkas nan puas pun tercetak samar di wajah cantik Briana, “Baguslah. Namun, sepertinya kau masih kesal, Chris. Apa kau menginginkan pertarungan? Sepertinya tenagaku masih cukup jika kau membutuhkan lawan sekarang.”
“Tidak, Nona. Saya hanya terlalu emosinal dan akan segera baik-baik saja,” tolak Chris.
“Kau tidak perlu takut jika aku kalah darimu. Kita main adil saja,” ucap Briana dengan santai. Namun, berbeda dengan Chris walau wajahnya hendak tersenyum.
“Terima kasih atas tawarannya, Nona. Hanya saja ini sudah malam, mungkin Nona perlu istirahat,” tolak Chris secara halus.
“Kau sangat tahu mencari kalimat yang bagus, Chris,” Briana terkekeh, “Aku jadi penasaran apa yang Brian katakan padamu sampai kau menolak tawaranku?”
Chris pun ikut terkekeh sejenak, “Mungkin lain waktu kita bisa berlatih bersama jika Nona berkenan!”
“Aku suka tawaranmu.”
Briana tiba-tiba tersenyum begitu manis yang membuat mata Chris terpaku menatap pesonanya. Briana mengecek berkas yang ada di mejanya tanpa menyadari jika Chris masih menatapnya dengan tatapan takjub. Sampai akhirnya Chris tersadar dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
“Apa kelompok ini masih melakukan penambahan anggota?” tanya Briana memecah keheningan.
“Sejauh ini masih. Hanya saja penyeleksiannya diperketat, tidak seperti dulu, yang hanya ingin bergabung dan langsung resmi menjadi bagian dalam beberapa detik,” ucap Chris.
“Ah, begitu rupanya. Kalau begitu kau boleh kembali, Chris. Terima kasih untuk kerjasamanya” tanya Briana.
“Iya, Nona, sama-sama. Jika Nona membutuhkan sesuatu bisa beritahu saya,” ucap Chris.
Briana hanya berdehem sambil sedikit menganggukkan kepalanya.
“Kalau begitu saya permisi! Selamat malam, Nona!” Chris memberikan salam hormat pada Briana sebelum akhirnya dia menghilang di balik pintu ruangan itu.
Malam semakin larut, bahkan hampir tengah malam, tapi Briana malah berdiam diri di atap terbuka markas Black Angels. Angin malam menerpa wajahnya yang tak berekspresi. Menerbangkan helaian rambut yang keluar dari kunciran rambutnya. Pikirannya melayang jauh, seolah kesendirian adalah hal terbaik untuknya.
Ketenangan yang sejak tadi membelenggu Briana, kini teralihkan oleh samarnya dering ponsel yang ada di saku celana jogger hitam miliknya, membuat dia tersadar akan kenyataan yang membuat hidupnya berubah. Briana pun merogoh ponsel di saku celananya. Nama Brian tertera di layar ponsel sebagai pemanggil.
“Apa kau tidak berencana untuk pulang? Ini sudah sangat larut,” ucap Brian lebih dulu dari seberang telepon.
“Mungkin tidak,” jawab Briana dengan santai.
“Apa kau masih di markas?” tanya Brian.
“Hm,” briana hanya berdehem sebagai jawabannya.
“Kalau begitu aku akan ke sana, tunggulah!” ucap Brian dengan tergesa.
“Untuk menemaniku?” tanya Briana.
“Tentu saja!” ucap Brian.
“Aku rasa tidak perlu jika seperti itu,” Briana mendengar suara lain yang terdengar samar di sekitarnya.
“Tapi….”
“Aku akan baik-baik saja. Bukankah kelompok ini milikmu?” ucap Briana masih terdengar tenang.
“Ya, memang benar. Hanya saja...” lagi, ucapan Brian dipotong oleh Briana.
“Aku pemimpinnya sekarang jika kau lupa.”
“Aku hanya khawatir, Briana.”
“Aku tahu. Terima kasih, Brian. Namun, kau tidak perlu khawatir, aku bisa menjaga diri. Hanya saja…” Briana menggantungkan ucapannya.
“Apa?” jawab Brian dengan tidak sabaran.
“Jika ada yang berani menyentuhku, bolehkan aku menghukumnya?”
“Kau tidak perlu bertanya soal itu. Bahkan aku pun akan turun tangan jika itu terjadi,” ucap Brian dengan sungguh-sungguh.
“Aku percaya!”
Walau mereka berdua berbeda tempat, tapi kilatan mata mereka sama dengan hati yang bergemuruh penuh dengan keyakinan dan juga dendam. Briana menyadari ada seseorang yang tengah mengamatinya sejak tadi. Namun, Briana bersikap seolah tidak tahu apa-apa. Hingga sebuah serangan menghampirinya saat sambungan telepon dengan Brian berakhir.
“Akh…” lirih Briana saat lawan membatasi pergerakannya.
Tidak membutuhkan waktu lama, Briana mampu membalikkan posisi. Bahkan dia melukai lawan dengan senjata tajam miliknya.
“Sialan!” umpatnya.
“Apa yang kau inginkan?” tanya Briana dengan angkuh.