BAB 4
“Kenapa dengan wajahmu akhir-akhir ini? Apa sesuatu terjadi?” Brian mengecup puncak kepala Briana sejenak, lalu duduk di salah satu kursi meja makan yang sudah tersaji dengan berbagai sarapan.
“Tidak ada,” singkat Briana.
“Kau yakin?” Brian mencoba memastikan.
“Hm,” jawaban Briana membuat Brian mengangguk, tapi tatapannya terus menelisik ekspresi yang ditampilkan Briana.
Mereka pun memulai sarapannya dengan khidmat, seperti biasa. Sampai akhirnya Brian memecah keheningan di antara keduanya setelah sarapan mereka selesai.
“Bagaimana dengan jabatan barumu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Brian seraya menyesap secangkir kopi hitam.
“Tentu, aku merasa cocok,” jawab Briana setelah menyesap teh hijau daun mintnya.
“Apa kau tidak ingin berubah pikiran?” tanya Brian.
“Kenapa kau selalu bertanya seperti itu? Apa kau begitu ingin aku mengubah keputusanku?” ucap Briana.
“Aku khawatir,” ucap Brian.
“Kau selalu mengkhawatirkanku, Brian,” ucap Briana.
“Ya, kau cukup tahu itu, bukan?” Brian menyesap lagi kopi hitamnya.
Briana hanya menampilkan senyum tipis tanpa ingin menjawab lagi kekhawatiran Brian.
“Aku selalu menunggu kau berubah pikiran,” ucap Brian.
Tidak berselang lama, Danis menghampiri Brian di meja makan. “Tuan, mobilnya sudah siap.”
“Apa keperluanku sudah disiapkan?” tanya Brian pada Danis, asisten serta pengawal pribadi Brian.
“Tentu, Tuan,” ucap Danis.
Briana yang mendengarkan percakapan mereka pun akhirnya mengangkat suaranya, “Kau akan pergi ke mana, Brian?”
“Aku ada perjalanan bisnis ke London,” jawab Brian.
“Kau tidak mengatakan padaku sebelumnya,” ucap Briana.
“Aku melihat kau tidur cepat semalam,” ucap Brian dan Briana hanya bersikap acuh, “Aku akan segera kembali. Jika sesuatu terjadi, hubungi aku!”
“Hm,” Briana berdehem sambil mengangguk, menatap Brian yang tengah bersiap meninggalkan meja makan.
Brian mengecup puncak kepala Briana sejenak, sebelum akhirnya dia meninggalkan kediaman Nelson dengan Denis yang setia mengikuti di belakangnya. Briana pun beranjak dari kursi menuju mobil yang sudah disiapkan oleh Alan, pengawal pribadi Briana.
“Selamat pagi, Nona Briana!” sapa Alan dan Bella dengan hormat, lalu membukakan pintu penumpang mobil.
“Pagi!” Briana menjeda ucapannya, “Alan, aku akan mengemudi hari ini.”
“Maaf, Nona, tapi Tuan Brian tidak mengizinkan Nona Briana mengemudi. Saya akan mengantar ke mana pun Nona pergi,” ucap Alan.
“Kalian bisa ikut denganku,” ucap Briana.
“Maaf, Nona. Kami hanya menjalankan perintah Tuan Brian,” ucap Bella.
“Ayolah, Bel!” bujuk Briana dengan wajahnya yang kesal.
“Maaf, Nona,” Bella menunduk.
Briana mengembuskan napasnya kasar. Dia pun melirik sekitar, terdapat beberapa pengawal lain yang tengah berdiri di masing-masing sisi, “Apa mereka juga ikut bersama kita?”
“Iya, Nona, seperti biasanya,” jawab Alan.
“Ck, Brian!” keluh Briana.
Akhirnya Briana pun masuk ke dalam mobil dengan Alan yang mengemudi dan Bella di samping Alan. Mereka juga diikuti oleh sebuah mobil yang berisi sekitar enam pengawal lain. Briana mengecek ponsel, lalu mencari nama Brian. Nada sambung pertama Brian langsung menjawab telepon Briana.
“Sesuatu terjadi?” ucap Brian lebih dulu saat telepon tersambung.
“Brian, tidak bisakah kau untuk tidak berlebihan seperti ini?” keluh Briana.
“Apa maksudmu?” tanya Brian.
“Aku tidak perlu banyak pengawal seperti ini. Alan dan Bella pun sudah sangat cukup,” ucap Briana.
“Tidak bisa. Aku tidak ingin kau terluka. Apalagi sekarang aku sedang tidak di sekitarmu,” ucap Brian.
“Aku akan baik-baik saja,” ucap Briana.
“Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu di luar pengawasanku,” ucap Brian.
“Bahkan aku sekarang seorang pemimpin kelompok yang cukup disegani,” ucap Briana.
“Justru itu, kau akan semakin diincar,” ucap Briana.
“Sembunyikan saja identitasku,” ucap Briana yang tidak mau mengalah.
“Para musuh akan mencari celah bagaimana pun caranya,” ucap Brian.
“Tapi Brian…”
“Sudah, turuti aku! Aku hanya melakukan apa yang aku bisa. Aku tidak ingin menyesal lagi. Aku menyayangimu,” ucap Brian dan sambungan telepon pun berakhir secara sepihak.
Briana hanya mengembuskan napasnya kasar. Menggenggam kuat ponsel seolah ingin menghancurkan benda itu saat ini juga. Alan dan Bella hanya diam. Mereka tidak ingin ikut campur urusan kakak-beradik itu.
“Aku ingin ke markas saja,” ucap Briana yang kini tengah menatap keluar jendela mobil.
“Baik, Nona,” ucap Alan.
Alan pun melajukan mobilnya sesuai permintaan Briana. Saat baru keluar dari mobil, hati Briana semakin bergemuruh. Rasa kesal sudah tidak bisa lagi terbendung. Apalagi wajah menyebalkan itu terpampang jelas di depan mata Briana.
“Aku akui, kau hebat sekarang. Namun, sayang kau tidak cocok memimpin kelompok ini. Penampilanmu memang berubah, tapi aku sarankan untuk mundur saja dari jabatanmu. Aku tidak yakin seorang gadis sepertimu bisa membuat kelompok ini maju,” ucap orang itu.
“Kau meremehkanku? Memang sehebat apa kau sampai berani seperti ini?” ucap Briana.
“Terserah kau saja! Tapi kehebatanmu karena dalam bayang-bayang Tuan Brian,” ucapnya yang membuat Briana hampir menyerangnya lagi.
“Selamat pagi, Nona Briana!” sapa beberapa anggota Black Angels yang hendak pergi untuk melakukan patroli.
Briana hanya diam dengan tatapan tajamnya. Mereka semua bingung dengan reaksi Briana. Bahkan mereka saling melirik satu sama lain karena suasana tiba-tiba mencekam. Alan dan Bella pun saling melirik. Sampai akhirnya Alan pun bersuara.
“Nona Briana!” panggil Alan.
Briana pun tersadar, lalu melanjutkan langkahnya begitu saja, diikuti oleh semua pengawal.
“Aku rasa penilaian Chris salah tentang penilaian pemimpin baru kita,” ucap salah satu anggota setelah Briana menghilang dari pandangannya.
“Mana mungkin Chris salah,” sanggah anggota yang lain.
“Buktinya, kau lihat beberapa saat yang lalu, bukan?” ucapnya lagi.
“Entahlah! Lebih baik kita mulai saja patrolinya,” ucap pria itu.
Mereka semua pun setuju, lalu pergi menuju masing-masing lokasi yang sudah ditentukan. Pria itu menampilkan senyum sarkasnya tanpa sepengetahuan siapa pun. Dia merasa puas melihat reaksi Briana.
Kejadian malam di mana Briana diserang masih saja mengusik pikiran dan juga hatinya. Auranya pun semakin terasa dingin. Bahkan saat berpapasan dengan Chris saja raut wajah Briana tidaklah berubah. Senyum Briana yang tidak sengaja tertangkap oleh Chris kala itu seolah hanya mimpi dan tidak pernah terjadi.
Apa yang terjadi padanya? Tapi Tuan Brian tidak mengatakan apa pun padaku, selain harus menjaganya. Mungkin masalahnya bukan di sini. Semoga saja! Batin Chris seraya pergi menuju ruangannya.
Briana tengah meredam amarahnya. Mengontrol diri seperti biasanya agar tidak gegabah. Dia berusaha mengalihkan pikiran dengan berfokus pada layar laptop, mengontrol pekerjaannya sebagai manajer perusahaan yang dipimpin oleh Brian.
“Sialan!” Briana mengepalkan kuat-kuat kedua tangannya.
Dia tidak bisa berfokus dengan apa yang dikerjakannya. Rasa kesal yang mendera terus saja mengusik hatinya.
“Kenapa dia begitu menyebalkan? Apa aku harus memberinya pelajaran seperti yang sebelumnya?” Briana berdecak sambil memukul meja, “Awas saja kau!”
***
Gedung latihan selalu riuh di sore hari. Anggota yang tidak memiliki jadwal patroli mengambil posisinya masing-masing. Mereka terlihat begitu gagah dan luar biasa. Kali ini Chris ikut berlatih dengan formasi satu lawan tiga.
“Chris, kau yakin dengan formasi ini? Apa kau tidak takut kalah?” pria bertato di tangan kiri itu terkekeh.
“Apa kau menjadi amnesia setelah hampir mati karena serangan Nona Briana, Lucas?” cibir Aidar.
“Heh, asal kau tahu. Aku tidak akan mudah mati, walau aku akui Nona Briana tidak bisa diremehkan,” ucap Lucas membela diri.
“Memang siapa yang berani meremehkan Nona kita? Jika itu terjadi dia hanya tinggal pilih, Nona Briana yang menjadi lawannya atau Tuan Brian langsung,” ucap Chris.
“Kau benar, Chris,” ucap Lucas lalu beralih pada Aidar, “Kenapa kau di sini? Bukannya ini jadwalmu patroli?”
“Patroliku selesai, dan tidak ada masalah di lokasi yang aku tangani. Jadi, aku memilih berlatih sore ini,” jawab Aidar.
“Hm, begitu rupanya,” Lucas pun mengangguk-angguk.
“Ah, iya. Bagaimana dengan Jack? Apa keadaannya sudah membaik?” tanya Chris saat melilitkan handwrap di kedua tangannya.
“Aku dengar dia terluka lagi, tapi aku belum memastikan apa yang terjadi padanya. Saat aku sudah membaik aku langsung menangani masalah di pusat kota,” ucap Lucas.
“Ngomong-ngomong, aku tidak melihat Nona Briana berlatih sore ini. Biasanya Nona sudah duduk di salah satu tribun, bahkan kadang sudah lebih dulu memulai latihan. Apa Nona Briana tidak datang kemari, Chris?” tanya Rey sambil memperhatikan sekitar mencari keberadaan Briana di semua sudut ruang latihan.
“Saat aku akan ke ruangannya, pengawal yang berjaga melarangku masuk. Sepertinya Nona Briana sedang tidak ingin diganggu,” ucap Chris.
“Apa Nona Briana sedang sibuk?” tanya Rey lagi.
“Mungkin saja, iya. Karena Nona Briana juga putri dari keluarga Nelson,” jawab Chris.
“Apa kau merindukan Nona kita?” tanya Lucas yang mulai beraksi untuk menggoda Rey.
“Hanya tidak biasanya, dan mungkin aku memang merindukannya,” ucap Rey yang terdengar jujur.
“Ck, harusnya kau bersiap untuk melawan Nona kita, Rey. Kalian masih memiliki janji untuk bertarung,” Lucas mulai mencemooh yang langsung ditatap tajam oleh Rey.
Lucas tertawa dengan renyahnya. Bahkan tak terkecuali dengan beberapa pria lainnya. Mereka pun mulai bersiap di posisinya masing-masing. Memfokuskan segala indra pada tubuh mereka agar bisa bertahan hingga detik terakhir pertarungan.
Latihan fisik yang seperti ini sudah sangat biasa bagi mereka yang hidup dalam dunia yang keras dan penuh kedurjanaan. Goresan-goresan luka seolah menjadi seni alami di tubuh mereka. Berbagai suara terdengar memenuhi ruangan mulai dari bunyi yang dihasilkan dari pukulan yang menyentuh bagian tubuh, tendangan, bahkan juga pekikkan dari masing-masing orang yang menahan rasa sakit yang mendera tubuhnya.
“Akh!” pekik Aidar saat tendangan Chris mendentam lengan kanan atasnya.
“Ck, tua sialan!” Lucas mengumpat, lalu menyerang Chris tanpa jeda.
Chris masih sangat tangguh. Bahkan serangan curang dari Rey pun mampu dihalau dengan mudah. Senyum sarkas nan menyebalkan terbit di wajah Chris yang membuat Lucas, Rey, dan Aidar semakin memanas. Saat Chris sedikit lengah, Aidar menyerang dari sisi kiri Chris dan mengenai rahangnya.
Bagi orang yang baru melihat latihan seperti ini, pasti akan berpikir jika ini bukanlah latihan, melainkan pertarungan sungguhan karena kebuasan mereka dalam menyerang dan mempertahankan diri. Diakhir latihan, Rey yang paling banyak mendapatkan luka. Tenaga Lucas dan Aidar pun terkuras, walau mereka mendapatkan sedikit lebam di beberapa titik tubuhnya.
“Chris, tidak bisakah kau mengalah padaku?” ucap Lucas sambil berusaha mengatur deru napas yang masih memburu.
“Maaf, aku tidak bisa, Luc,” ucap Chris yang begitu santainya.
“Ck, menyebalkan!” umpatan Lucas mengundang tawa Chris.
“Aku baru tahu, kalau kau sedang terluka,” ucap Rey saat melihat lengan kanan Aidar yang tertutup kain pelindung sikut yang memanjang hampir sepertiga tangannya itu berdarah.
“Kenapa kau tidak bilang? Apa kau mendapat serangan dadakan saat patroli?” tanya Lucas.
“Hanya luka kecil dan ini sudah membaik sebelumnya. Mungkin karena tendangan Chris jadi lukanya terbuka lagi, tapi aku baik-baik saja, tenanglah!” ucap Aidar dengan santai.
“Ya, aku tahu kau cukup tangguh. Luka seperti itu tidak ada apa-apanya untukmu. Setelah dari ruang latihan, segera obati lagi!” ucap Chris.
“Tentu,” ucap Aidar.
Saat mereka tengah menikmati waktu santainya, tiba-tiba riuhnya ruang latihan hilang, tergantikan menjadi hening, dan itu membuat keempat pasang mata menatap ke arah pintu masuk. Semua orang memberikan salam hormat atas kedatangan Briana dengan kedua pengawalnya, Alan dan Bella. Mereka berempat pun ikut berdiri saat Briana melangkah mendekat ke arah mereka.
“Sepertinya latihan kalian sudah selesai,” ucap Briana.
“Ya, Nona, baru saja selesai,” ucap Lucas.
“Jika Nona ingin berlatih, saya bisa menjadi lawannya,” ucap Chris.
“Aku ingin berlatih, tapi bukan denganmu,” Briana mengalihkan pandangannya pada sosok pria yang menurutnya menyebalkan, “Aku ingin kau menjadi lawanku.”
Chris, Lucas, dan Rey mengalihkan pandangannya pada Aidar.
“Dengan senang hati, Nona,” ucap Aidar yang menatap Briana dengan tatapan yang sulit diartikan.