BAB 5
Pertarungan cukup sengit, bahkan tidak terkendali. Semua menjadi tegang tanpa terkecuali. Briana cukup kewalahan menghadapi Aidar seolah pergerakan Briana sudah dipelajarinya.
“Sialan!” desis Briana.
Aidar menampilkan senyum sarkasnya sambil menatap Briana puas, “Apa Nona ingin mengalah?”
“Dalam mimpimu!”
Briana pun mulai menyerang lagi, dan kali ini dia berhasil membuat serangan yang membuat Aidar kesulitan bernapas. Kali ini Briana yang menampilkan senyum sarkas. Aura mereka di arena begitu mengerikan. Aidar berdiri dan mulai bertarung lagi melawan Briana yang masih mampu bergerak dengan gesit.
“Astaga! Ini pertarungan yang luar biasa,” Rey begitu takjub melihat Briana dan Aidar yang sama-sama tangguh.
“Aku merasa Aidar ingin memburu Nona Briana. Tadi saat dia berlatih bersama kita, dia tidak seperti ini,” ucap Lucas yang merasa heran.
“Aidar, hentikan pertarungannya!” desis Chris yang semakin khawatir akan keadaan Briana.
“Kenapa harus dihentikan? Ini luar biasa, Chris. Briarkan saja mereka terus bertarung seperti ini. Aku ingin tahu siapa yang akan jadi pemenangnya,” seru Rey.
“Ini tidak bisa dibiarkan. Tuan Brian akan marah,” ucap Chris yang membuat Rey dan Lucas mengalihkan pandangan ke arahnya.
“Bukankan ini risikonya jika bergabung dengan kelompok kita? Aku rasa Tuan Brian atau pun Nona Briana pasti sudah tahu sebelumnya,” ucap Lucas.
“Lebih baik kau bantu aku untuk melerai mereka, Luc. Aku merasa ini tidak akan berakhir dalam waktu singkat,” ucap Chris.
“Lalu, kau pikir kita akan tiba-tiba masuk ke dalam pertarungan mereka?” ucap Lucas.
Chris hanya mengangguk, lalu memberikan isyarat untuk mengikuti aba-abanya.
“Apa kalian membutuhkan bantuan kami?” tanya Alan yang mendengar percakapan mereka.
“Masuklah ke arena saat kami memang tidak bisa membuat Nona Briana dan Aidar berhenti,” ucap Chris sambil menatap Alan dan Bella bergantian.
“Baik!” ucap Alan dan Bella berbarengan, lalu memfokuskan kembali pada dua orang yang saling tidak mau mengalah.
Chris dan Lucas pun bersiap, lalu bergerak saat Chris memberikan isyarat padanya untuk mengambil posisi yang sudah diatur oleh Chris. Chris dan Lucas langsung memblok masing-masing serangan dari Briana dan juga Aidar. Briana pun tersadar jika pertarungannya dengan Aidar sudah dicampuri oleh orang lain.
“Apa yang kau lakukan, Chris? Minggir!” teriak Briana dengan napasnya yang memburu.
“Tidak! Nona harus hentikan pertarungannya,” Chris berusaha bernegosiasi.
“Ini belum selesai, Chris. Aku belum membuat dia tunduk padaku,” ucap Briana yang menggebu.
“Tapi Nona sudah terluka. Tuan Brian tidak akan suka melihat ini,” ucap Chris.
“Aku tidak peduli. Sekarang kau minggir!” ucap Briana penuh penekanan.
“Tidak akan, Nona, sebelum Nona hentikan pertarungannya,” ucap Chris dengan sungguh-sungguh.
“Baiklah, jika kau tidak patuh padaku,” ucap Briana yang langsung menyerang Chris.
Chris hanya menahan dan menghindar dari serangan yang Briana lakukan, membuat Briana semakin tidak terkendali karena rasa kesal dan juga amarahnya. Di posisi lain Lucas menjadi lawan Aidar karena Lucas berusaha menghentikan pergerakan Aidar.
“Kenapa kau tidak mau minggir, Luc! Lawanku gadis itu, bukan kau,” teriak Aidar dengan penuh amarah.
“Ada apa denganmu? Kau tidak seperti ini tadi?” ucap Lucas.
“Aku sedang tidak ingin basa-basi. Sekarang kau minggir!” perintah Aidar.
“Kau mengalah saja padanya, jika kau tidak ingin mendapatkan hukuman dari Tuan Brian,” ucap Lucas yang berusaha membuat Aidar sadar.
“Oh, jadi pemimpin kita yang baru memang tidak ada apa-apanya,” ucap Aidar yang mampu didengar oleh Briana.
Briana pun tersulut emosi dengan tatapannya yang semakin menajam, “Sialan kau, Aidar!”
Briana mencari celah untuk lepas dari pengawasan Chris dan dia berhasil mengelabuinya. Lucas pun tersingkirkan oleh serangan Aidar. Pertarungan Briana dan Aidar pun kembali dengan keadaan mereka yang sudah tidak baik-baik saja.
Akhir dari semua itu adalah pemisahan secara paksa. Tidak ada yang menang atau pun kalah. Kini Briana tengah di ruangannya bersama Alan dan juga Bella. Tidak lama kemudian, ketukan pintu terdengar yang ternyata Chris yang datang.
“Selamat malam, Nona! Saya hanya ingin memberikan obat. Saya harap ini bisa membantu,” ucap Chris sambil memberikan obat itu pada Bella.
“Terima kasih, Chris,” ucap Briana sambil memberikan isyarat pada Bella untuk membawa obat itu padanya.
“Sama-sama, Nona. Saya minta maaf atas sikap Aidar yang diluar batas,” ucap Chris sambil menundukan kepalanya.
“Kenapa kau minta maaf untuknya?” tanya Briana.
“Karena saya menganggapnya sebagai adik saya,” ucap Chris.
“Aku tidak butuh permintaan maaf darimu. Sekarang kau boleh pergi!” ucap Briana.
Chris pun memberikan salam hormat sebelum akhirnya membalik tubuh untuk meninggalkan ruangan. Namun, Briana menahan langkah Chris saat dia hampir mencapai pintu.
“Chris!” panggil Briana.
Chris pun menghadap kembali, “Iya, Nona.”
“Jangan laporkan ini pada Brian!” ucap Briana yang membuat semua orang di dalam menatapnya dengan tatapan terkejut.
“Tapi Nona…” ucapan Chris langsung dipotong Briana.
“Ini perintah dan berlaku untuk semua orang yang terlibat. Aku rasa kalian cukup tahu apa yang akan terjadi jika Brian mengetahuinya,” Briana menjeda ucapannya, “Kau boleh pergi sekarang.”
Briana mengisyaratkan pada Bella untuk membantunya mengobati luka. Tanpa berkata lagi, Chris pun pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang campur aduk. Kini kebingungan pun membelenggu hati dan juga pikirannya.
“Nona, apa tidak sebaiknya panggil Dokter Zed saja?” tawar Alan.
“Saya rasa, lukanya pun bukan luka ringan,” Bella menambahkan.
“Tidak perlu, kalian bantu saja aku,” ucap Briana yang langsung dipatuhi oleh Alan dan Bella.
Mereka begitu gundah dengan situasi sekarang, karena mereka harus memilih kepada siapa mereka harus patuh. Pada Brian yang sudah memberi mereka kepercayaan untuk menjaga Briana, atau pada Briana yang sekarang menjadi Nonanya.
***
“Aidar, ada apa denganmu? Tidak biasanya kau gegabah seperti tadi?” Chris kini tengah tersulut emosi.
Aidar tidak mengatakan apa pun. Dia hanya membersihkan lukanya saja. Kini mereka tengah berkumpul di bagian gedung lain yang biasa di tempati oleh anggota yang ingin beristirahat.
“Kau tahu apa akibatnya jika sampai Tuan Brian mengetahui tentang ini?” ucap Chris lagi.
“Bukankah dia yang menginginkan pertarungan tadi?” ucap Aidar dengan santai.
“Jaga bicaramu! Itu Nona Briana, pemimpin kelompok ini dan juga adik dari Tuan Brian,” ucap Chris penuh penekanan.
“Ya, aku tahu. Lalu, salahku di mana?” kini Aidar mulai menatap Chris yang tengah berdiri di depannya sambil berkacak pinggang.
“Kenapa kau tidak mengalah saja?” ucap Chris.
Lucas dan Rey hanya menyimak percakapan kedua orang itu, dengan Lucas yang membantu Rey mengobati lukanya.
“Bukankah dia berhasil mengalahkan Lucas dan juga Jack. Lalu, apa yang menjadi alasanku untuk mengalah?” ucap Aidar yang tidak merasa bersalah.
“Tapi kau melukainya?” ucap Chris yang bersikukuh.
“Itu risikonya,” ucap Aidar yang masih dalam pendiriannya.
“Dia wanita,” nada Chris sedikit merendah.
“Kalau begitu, kenapa tidak mengundurkan diri saja kalau memang dia tidak boleh terluka? Aku rasa dia cukup tahu keputusan apa yang telah dia ambil. Kenapa malah memojokkanku seolah aku ini bersalah. Aku hanya menemaninya berlatih,” ucap Aidar.
“Tapi…” ucapan Chris dipotong begitu saja oleh Aidar.
“Apa kau menyukainya?” ucapan Aidar membuat Lucas dan Rey langsung menatap Chris.
“Kau bicara apa?” Chris tidak terima dengan tuduhan Aidar.
“Kau begitu bersikukuh membelanya, seolah kau menyukainya. Aku tahu dia wanita, tapi setelah bergabung dengan kelompok ini dia harus menjadi tangguh, entah siapa pun lawannya. Aku hanya ingin pemimpin seperti Tuan Brian atau bahkan lebih darinya. Kalau memang dia tidak mampu melakukan semuanya dengan baik, aku akan menjadi satu-satunya orang yang menentang kepemimpinannya. Dan soal Tuan Brian, aku siap menghadapinya jika memang aku bersalah,” Aidar pergi meninggalkan ketiga orang itu begitu saja.
Aidar belum bisa menerima kehadiran Briana di kelompok itu sebagai pemimpinnya. Sifat keras kepalanya membuat dia semakin arogan. Bahkan tanpa pandang bulu.
“Ck, gadis itu. Kenapa tidak pergi saja?” gerutu Aidar saat melihat Briana yang tengah bersandar pada sisi jendela ruangannya yang sengaja dibuka.
***
Sore ini Briana melakukan patroli untuk kali pertama dari setelah dia mendapatkan posisi kepemimpinannya. Sebagian besar orang menganggap bahwa Brian yang masih memimpin Black Angels. Termasuk kelompok dan geng di kota tersebut.
“Kau masih belum bertarung denganku, Rey,” ucap Briana.
Saat ini Briana, Rey, dan Lucas tengah berjalan menelusuri Aberdeen Selatan. Mereka mendapatkan kabar jika di daerah itu beberapa kali terjadi kekerasan pada wanita.
“Aku sangat sadar itu, Nona,” ucap Rey sambil melirik Lucas untuk meminta bantuan membela dirinya, tapi Lucas hanya tersenyum mengejek yang membuat Rey mengumpat di belakang Briana.
“Sialan kau!” cicit Rey.
Seketika langkah Briana terhenti dan langsung membalik tubuhnya untuk menatap Rey yang berjalan berdampingan dengan Lucas.
“Kau mengumpat padaku?” Briana menatap Rey nyalang yang membuat nyali Rey sedikit menciut.
Lucas hanya berusaha menjadi tidak tahu apa-apa, sambil menahan senyumya yang terus mendesak untuk terbit.
“Ah, tidak, Nona. Aku… aku hanya…” ucap Rey yang terbata dengan kebingungan yang menyerang.
Briana hanya menaikkan sebelah alisnya dengan tatapan yang masih saja belum berubah.
“Lucas, semua gara-gara kau!” ucap Rey.
Dengan tidak berdosanya Lucas hanya bersiap biasa saja, “Kenapa denganku?”
“Kau yang membuatku mengumpat, sialan!” ucap Rey menggebu-gebu.
Briana memutar tubuhnya kembali dengan tidak peduli. Rey dan Lucas masih saja berdebat sambil saling memukul yang menurut Briana tidak perlu. Briana pun melanjutkan langkahnya meninggalkan Lucas dan Rey yang masih bertengkar layaknya anak kecil. Merasa akan sebuah keanehan, mereka pun akhirnya sadar jika Briana tidak bersama mereka.
“Rey, diamlah! Ke mana Nona Briana pergi?” mata Lucas mencari sekeliling yang tidak menampakkan adanya Briana.
Rey pun memberhentikan aksinya pada Lucas dan mulai melihat ke sana dan kemari mencari sosok Briana seperti apa yang dilakukan Lucas, “Nona Briana hilang?”
“Jangan sampai, kita bisa mati. Semua gara-gara kau, Rey!” ucap Lucas sambil berjalan dengan tergesa.
Rey merutuki dirinya akan sikap kekanakkan yang seharusnya tidaklah muncul saat mereka melakukan patroli. Lucas dan Rey mencari di jalur yang berseberangan. Bahkan mereka lupa untuk memasang earphone, padahal itu selalu mereka lakukan untuk mempermudah meminta bantuan tim yang berada di markas atau di sekitar mereka.
“Rey, bagaimana?” tanya Lucas saat mereka bertemu di persimpangan jalan.
Rey hanya menggelengkan kepalanya dengan panik.
“Sial!” umpat Lucas.