BAB 6
Danis menyampaikan laporannya pada Brian tentang semua kegiatan yang Briana lakukan, yang dia dapat dari bawahannya yang sengaja dia utus atas perintah Brian untuk mengawasi Briana. Raut wajah Brian seketika berubah saat mendengar tentang Briana yang terluka di arena latihan.
“Nona mendapatkan beberapa luka di tubuhnya karena serangan yang dibuat Aidar. Namun, Nona hanya mengobati lukanya sendiri tanpa dibantu oleh Dokter Zed,” jelas Danis.
“Kenapa Alan dan Bella tidak memberitahuku? Bahkan Chris juga bungkam soal ini. Bukankah aku sudah memerintahkan mereka untuk melaporkan apa pun yang dilakukan Briana,” ucap Brian dengan menggebu-gebu sampai melempar tabletnya ke atas ranjang.
“Maaf, Tuan. Mereka bungkam karena permintaan Nona Briana,” Danis menundukkan kepalanya sebagai rasa sesalnya.
“Briana!” cicit Brian penuh penekanan.
Brian meraih ponsel yang dia simpan di saku celana formalnya untuk menghubungi Briana. Namun, di detik kemudian Danis bersuara lagi, setelah mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan kabar yang dia dapat dari bawahannya.
“Tuan, begini…” Danis memotong ucapannya saat Brian terus berdecak sambil berusaha menghubungi ponsel Briana yang tidak kunjung mendapat jawaban.
“Bicara saja, Danis,” Brian mencoba lagi menghubungi ponsel Briana, “Kenapa teleponku tidak kunjung dijawab? Ke mana dia?”
“Ini tentang Nona Briana, Tuan. Nona hilang saat melakukan patroli sore tadi bersama Lucas dan Rey,” ucapan Danis membuat Brian langsung menatap Danis.
“Apa?” Brian begitu terkejut mendengar laporan Danis yang satu ini.
“Saya mendapat kabar ini satu jam yang lalu, dan sampai sekarang Nona Briana belum ditemukan. Terjadi kekacauan juga di lokasi di mana Nona menghilang,” ucap Danis dengan suara sedikit bergetar.
“Kenapa bisa begini, Danis?” teriak Brian.
“Saya kurang tahu, Tuan,” Danis menunduk begitu dalam karena tidak berani menatap Brian yang kini begitu murka.
“Apa jadwalku masih ada?” tanya Brian.
“Tersisa satu jadwal sekitar satu jam lagi, yaitu pesta pertunangan putri dari salah satu pemilik perusahaan properti yang bekerja sama dengan perusahaan kita,” jelas Danis.
“Kalau begitu batalkan! Sampaikan permintaan maafku pada mereka karena tidak bisa menghadiri acaranya, dan juga kirimkan hadiahnya saat pesta berlangsung,” ucap Brian.
“Baik, Tuan,” ucap Danis.
“Siapkan juga jet pribadi, aku ingin kembali sekarang,” ucap Brian dengan raut wajahnya yang sangat khawatir.
“Sesuai perintah!” Danis pun langsung menjalankan semua permintaan Brian.
Selama di perjalanan, Brian terus berdo’a. Rasa takut yang mendera hatinya tidak bisa dia sembunyikan.
Kumohon, jangan lagi! Batin Brian.
***
Perkiraannya Rey sungguh tepat. Lima orang diawal sudah tumbang, tapi sepuluh orang yang baru saja datang membuat Rey dan Lucas kewalahan, dan mereka dari geng yang sama. Bahkan Rey sendiri sudah mendapatkan terlalu banyak luka. Anggota geng tersebut semakin lama semakin bertambah. Keadaan semakin ricuh saat tim bantuan berdatangan. Senjata tajam saling beradu membuat suasana semakin mengerikan.
“Ah, sial!” umpat Lucas saat sebuah tendangan menghantam bagian punggungnya.
Rey tersungkur dan Lucas berhasil melumpuhkan lima dari anggota geng. Chris, Aidar, dan Jack pun sudah pada posisinya masing-masing. Anggota geng lawan mulai sedikit berkurang setelah pertikaian beberapa jam berlangsung. Mata mereka mulai berfokus dan menangkap sosok yang begitu mereka khawatirkan sedari tadi. Briana yang tengah beraksi dengan gayanya yang elegan dengan masker yang menutupi wajahnya.
“Nona!” cicit Lucas dan Rey bersamaan.
Senyum mereka terbit saat Briana melumpuhkan empat anggota geng dengan mudahnya. Hingga mata mereka bertemu saat Briana berjalan menghampiri mereka. Briana pun mengambil bagian di sisi yang lain dan memberikan isyarat bahwa ini belum berakhir. Mereka semua pun berfokus kembali pada lawan yang tidak hentinya terus menyerang.
Briana merasa bagiannya sudah selesai, lalu dia berbalik untuk menghampiri Rey yang sudah kesulitan bertahan. Namun, tiba-tiba sebuah serangan dari belakang membuatnya terluka.
“Akh!” pekik Briana.
Lengan kiri Briana terluka karena sayatan senjata tajam dan itu tidak lepas dari penglihatan Brian yang baru saja sampai beberapa detik yang lalu bersama para pengawalnya.
“b******k!” Brian langsung menghampiri Briana dan membantunya melumpuhkan musuh dengan mudahnya.
“Aku peringatkan kau dan anggota yang tidak bergunamu ini untuk tidak membuat kerusuhan sesuka hati. Jika aku mendengar kau dengan anggotamu membuat masalah lagi, aku akan meratakan markas kalian beserta isinya,” Brian mencengkram kerah baju pria yang sudah tidak berdaya itu.
“Jika kau sudah tidak sanggup memimpin kelompok yang sok benar ini, seharusnya kau memberikan jabatanmu kepada orang yang layak, bukan wanita lemah seperti adikmu,” pria itu terkekeh yang membuat Brian hilang kendali hingga pria itu tidak selamat.
Ucapan musuhnya itu sukses membuat pikiran Brian kacau. Pertarungan itu akhirnya selesai, dan mereka langsung membersihkan tempat itu seperti semula, seolah tidak pernah terjadi keributan.
“Kalian kembalilah ke markas!” ucap Brian lalu beralih pada Chris, “Chris, cari tahu apa yang menjadi sebab pertikaian ini!”
“Baik, Tuan,” ucap Chris.
“Ini berawal dari anggota mereka yang bertindah senonoh pada dua orang gadis lugu,” Briana pun angkat bicara.
Semua orang mulai menatap Briana, begitu pun juga dengan Brian.
“Aku berusaha untuk menanganinya. Aku pikir semuanya sudah selesai. Saat aku kembali, ternyata perkiraanku salah,” jelas Briana.
“Kenapa Nona berusaha sendirian?” tanya Rey dengan sisa tenaganya.
“Ya, aku salah. Maaf telah membuat kekacauan,” ucap Briana.
“Apa Nona baik-baik saja? Lalu, bagaimana dengan dua gadis itu?” tanya Lucas.
“Aku mengirimnya ke klinik terdekat. Mereka mengalami luka lebam, ada yang di lengan kiri dan juga punggung. Mereka begitu ketakutan sampai mereka memohon dan menahanku untuk pergi. Aku juga sudah meminta pihak klinik itu untuk menghubungi keluarga mereka, dan aku menjaga mereka sampai pihak keluarga datang untuk menjemput,” jelas Briana yang membuat semua orang menatapnya tak percaya.
“Ternyata Nona hebat, kami pikir Nona hilang,” celetuk Rey.
“Kalian berpikir seperti itu?” tanya Briana memastikan.
Rey mengangguk-angguk, begitu juga dengan lucas. Briana tidak mengatakan apa pun lagi. Dia hanya mengatupkan bibirnya rapat-rapat dibalik masker yang masih dia kenakan.
Sejenak, Brian begitu bangga pada adiknya yang kini sudah bertumbuh. Namun, saat matanya menangkap luka yang didapat Briana, rasa gundah itu datang lagi. Brian menggandeng tangan Briana dengan segera.
“Danis, hubungi Dokter Zed dan minta untuk datang ke kediaman Nelson,” ucap Brian pada salah satu pengawalnya.
“Baik, Tuan,” ucap Danis.
Brian pun menatap Briana dengan dingin, “Kita pulang!”
“Aku baik-baik saja,” ucap Briana.
“Kau terluka,” Brian melirik lengan kiri Briana sejenak.
“Brian!” pekik Briana saat Brian mulai berjalan sambil menggandengnya.
Brian tidak memperdulikan ucapan Briana. Dia hanya terus berlalu menuju mobil sedan hitamnya yang terparkir cukup jauh dari tempat kejadian. Semua orang yang ada di sana menundukkan kepalanya, memberi salam hormat pada mereka. Beberapa pengawal Brian pun mengikuti langkah mereka, dan ikut berlalu menggunakan mobil yang berbeda ke kediaman Nelson.
“Bukannya kau seharusnya masih di London?” tanya Briana yang duduk di sebelah Brian di kursi penumpang, dengan Danis yang mengemudi.
“Ya, seharusnya,” ucap Brian.
“Lalu, kenapa kau kemari?” tanya Briana yang membuat Brian menatapnya.
“Aku mengkhawatirkanmu saat mereka mengatakan kau menghilang, makanya aku langsung pulang. Kau juga tidak menjawab teleponku,” jawab Brian yang masih menggebu-gebu.
“Maaf, aku tidak sempat tadi, dan aku baik-baik saja. Kau pasti lelah setelah melakukan perjalanan bisnis,” ucap Briana.
“Kau lebih berarti,” ucap Brian, lalu beralih pada Danis, “Lebih cepat mengemudinya, kita harus segera bertemu Dokter Zed.”
“Baik, Tuan,” ucap Danis.
“Untuk apa?” dahi Briana mengernyit.
“Kau terluka dan harus segera diobati,” ucap Brian.
“Ini hanya luka kecil, Brian,” ucap Briana.
Brian tak mengatakan apa pun. Tanpa Briana sadari, tangan Brian menyentuh luka Briana dan menekannya.
“Akh!” pekik Briana, “Apa yang kau lakukan?”
“Agar kau tahu jika itu bukan luka kecil,” ucap Brian saat mobil yang mereka tumpangi tiba di kediaman Nelson.
“Bahkan aku sering melihatmu terluka lebih dari ini,” ucap Briana yang mulai tidak terima, tapi Brian tidak mendengarkan keluhnya.
Brian keluar dari mobil lalu membukakan pintu untuk Briana sambil mengulurkan tangan ke arahnya, “Ayo!”
Dengan terpaksa Briana pun turun dengan terus digandeng oleh Brian hingga memasuki rumah mewah dan megah. Perhatian mereka teralihkan pada sosok pria tua tampan nan wibawa yang berumur sekitar lima puluh dua tahun, tengah duduk santai di ruang keluarga sambil menatap layar tablet.
“Ayah!” ucap Brian dan Briana bersamaan yang membuat Tuan Nelson mengalihkan pandangannya untuk menatap putra dan putrinya.
“Kalian pulang begitu larut,” senyum yang ditampilkan Tuan Nelson tiba-tiba memudar saat menyadari jika kedua anaknya dalam keadaan berantakan dan juga terluka, “Apa yang terjadi, Brian? Kenapa dengan adikmu?”
Brian dan Briana berjalan menghampiri Tuan Nelson, lalu mengambil duduk di salah satu sofa. Tidak lama kemudian, Dokter Zed pun datang lalu memberikan salam pada Tuan Nelson, Brian, dan Briana.
“Aku akan menceritakannya setelah Briana diobati,” ucap Brian pada Tuan Nelson yang diangguki olehnya.
Brian pun membawa Briana ke lantai atas di mana kamarnya berada. Dia juga meminta beberapa pelayan wanita untuk membantu Dokter Zed mengurus Briana. Tatapan Brian begitu menusuk yang kini tengah duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari ranjang Briana. Ringisan demi ringisan yang Briana perlihatkan, itu membuat hati Brian tidak tega. Meski raut wajahnya terlihat datar, tapi kedutan di rahangnya memperlihatkan bahwa Brian tengah menahan kekhawatirannya.
“Apa tidak bisa dibuat tidak sadar saja?” perkataan Brian membuat orang-orang yang tengah mengurus Briana pun menoleh padanya.
“Ah, aku tidak…” ucapan Briana langsung dipotong oleh Brian tanpa menatap ke arahnya.
“Aku tidak meminta pendapatmu, Briana,” jawaban Brian langsung membuat Alice, Noi, dan Zira ketakutan, mereka pun melirik dokter Zed meminta untuk melakukan apa yang Brian minta.
Dokter Zed hanya melakukan kontak mata sambil menyiapkan obat beserta suntikan baru. Dia pun memberikan anestesi itu dalam dosis rendah, yang akan membuat Briana dalam keadaan setengah sadar, tapi cukup membuat Briana tidak meringis lagi saat akan melakukan tindakan operasi kecil di lengan kirinya, dan juga mengobati sisa-sisa luka sebelumnya.
Brian menghampiri Briana yang kini tengah berbaring di ranjangnya. Dia duduk di sisi ranjang sambil menatap dokter Zed yang tengah membereskan peralatannya yang dibantu oleh para pelayan wanita. Dokter Zed dan para pelayan want keluar, menyisakan Brian yang kini tengah menatap Briana yang memejamkan matanya.
Brian mengelus punggung tangan Briana dengan lembut, lalu menundukan kepala untuk mengecup kening Briana. Namun, perlakuan Brian membuat Briana membuka matanya kembali.
“Maaf, aku mengganggumu. Istirahatlah!” ucap Brian.
“Brian, aku…” ucapan Briana yang terdengar lemah karena masih dalam pengaruh anestesi pun langsung terhenti karena Brian memotong ucapannya.
“Kita akan bicara nanti. Sekarang istirahatlah, tolong jangan membantah!” pinta Brian.
“Baiklah,” ucap Briana.
Brian pun meninggalkan kamar Briana, membiarkan adik kesayangannya terlelap kembali, setelah menjalani hari yang membuat degup jantung Brian tak karuan. Brian pun segera mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih bersih dan layak, lalu turun dari lantai dua menuju ruang kerja Brian di mana ayahnya dan Dokter Zed tengah berbincang santai di sana.
“Terima kasih kau telah merawat putriku, Zed,” ucap Tuan Nelson.
“Sama-sama, Om. Hanya saja, kenapa Briana terluka lagi? Aku harap hal itu tidak terulang lagi,” ucap dokter Zed, dia berumur sekitar tiga puluh tahun, anak tertua dari kakak Tuan Nelson.
“Kita tanyakan pada Brian saja, aku rasa putraku jauh lebih tahu apa yang sudah terjadi pada Briana,” ucap Tuan Nelson saat Brian baru memasuki ruang kerja, lalu mengambil posisi duduk di samping dokter Zed.
“Briana terluka karena ikut perkelahian,” ucap Brian.
“Briana berkelahi?” dokter Zed terkejut mendengar hal yang memang tidak diketahuinya tentang keputusan Briana.
“Kau membiarkannya, Brian?” dahi Tuan Nelson mengernyit.
“Aku baru tahu soal itu ketika semuanya sudah terjadi. Aku lalai lagi untuk menjaganya, Ayah,” Brian menunduk merasa menyesal dengan apa yang terjadi hari ini.
“Kenapa bisa Briana berkelahi? Rasanya perubahan Briana membuatku khawatir,” ucap dokter Zed.
“Ini semua salahku karena melepaskan jabatan di Black Angles untuknya. Aku pikir aku bisa terus memantaunya, tapi nyatanya aku gagal,” ucap Brian frustrasi.
“Kalian serius membiarkan Briana masuk ke dalam kelompok berbahaya itu? Kenapa Om tidak melarangnya?” ucap dokter Zed.
“Kau tahu, Briana putri kesayanganku dan perubahannya membuatku semakin sulit menolak keinginannya. Aku tidak menduga jika Briana tiba-tiba meminta izin untuk hal yang tidak pernah aku pikirkan. Kau tahu sendiri bagaimana Briana. Bahkan dia tidak memberikan alasan kenapa dia menginginkan hal itu. Aku merasa bersalah. Aku merasa kehilangan putriku setelah aku gagal menjadi seorang ayah untuknya. Jadi aku membiarkan Brian yang mengambil keputusan. Namun, nyatanya putraku sama sepertiku,” jelas Tuan Nelson dengan tatapannya yang seolah menerawang jauh.
“Aku mengerti. Semoga Briana bisa kembali! Mungkin aku hanya bisa membantu menjaga Briana jika dia terluka. Namun, aku harap, aku tidak mendengar hal itu lagi,” ucap dokter Zed sebelum akhirnya pamit untuk kembali ke rumah sakit di mana dia bekerja.
Dokter Zed diantar oleh Brian menuju pintu utama rumah ini, lalu kembali ke ruangan tadi setelahnya. Dua pria berbeda generasi ini termenung dalam kesunyian. Bergelut dengan pikiran hingga kata bagaimana terus saja terlintas. Namun, kebimbangan membuat mereka tak urung mendapatkan jawaban.