BAB 7
Keadaan pagi ini cukup hangat. Apalagi Tuan Nelson berada di kediamannya setelah beberapa minggu terus mengurusi bisnis yang berada di luar Inggris. Saat ini Tuan Nelson dan putra sulungnya tengah melakukan sarapan bersama. Namun, perhatian mereka teralihkan saat Briana datang bergabung di meja makan.
“Selamat pagi!” ucap Briana seraya mengecup pipi ayahnya.
“Pagi!” jawab Tuan Nelson.
“Kau begitu rapi,” ucap Brian dengan dahinya yang mengernyit.
“Memangnya kenapa? Bukankah setiap hari aku selalu seperti ini,” ucap Briana sambil menerima hidangan yang disajikan oleh pelayan pribadinya.
“Maksudmu kau akan pergi hari ini?” tanya Brian memastikan.
“Tentu saja. Ini bukan hari libur dan aku harus bekerja. Aku juga berencana akan pergi ke markas sore nanti,” ucap Briana yang belum menyadari raut wajah Brian yang telah berubah.
“Tidak perlu. Tetaplah di rumah,” ucap Brian yang terdengar seperti perintah.
Pergerakan Briana terhenti saat mendengar penuturan Brian yang membuatnya tidak suka, “Aku akan tetap pergi.”
“Istirahatlah! Lukamu belum sembuh,” ucap Brian.
“Aku tahu, tapi aku memiliki tanggung jawab,” ucap Briana.
“Tanggung jawab apa?” Brian mulai bersikap menyebalkan.
“Aku baru tahu jika kau pelupa,” ucap Briana yang terdengar sarkas.
“Aku tidak mau tahu. Kau harus tetap di rumah. Aku juga akan meminta Dokter Zed untuk memeriksamu lagi,” ucap Brian sambil bersiap untuk pergi.
“Brian, kenapa kau semakin hari semakin menyebalkan?” Briana mulai tersulut emosi.
“Aku hanya melakukan yang terbaik untukmu,” Brian pun mulai menekan setiap ucapannya.
“Kau selalu bicara seperti itu, padahal kau hanya sedang mengkhawatirkan dirimu untuk tidak menyesal,” ucapan Briana membuat suasana pagi berubah menjadi panas, tidak hangat lagi.
“Briana!” pekik Brian.
“Sudah! Kenapa kalian malah bertengkar di meja makan?” akhirnya Tuan Nelson pun angkat bicara karena putra dan putrinya semakin tidak terkendali.
“Brian lebih dulu, Ayah. Dia berusaha mengatur hidupku,” ucap Briana.
“Aku hanya tidak ingin Briana terluka lagi, Ayah. Bahkan luka yang kemarin pun belum mengering. Dan satu hal lagi, kau memiliki luka yang aku tidak tahu apa penyebabnya,” ucap Brian yang membuat Briana tertegun.
“Kenapa kau diam sekarang? Apa yang kau sembunyikan? Sampai semua orang yang kuperintahkan lebih menurut padamu untuk bungkam,” tatapan Brian begitu menusuk sampai Briana kehilangan kata-katanya.
“Kau terlalu mencampuri hidupku, Brian,” ucap Briana dengan nada yang terdengar bergetar, “Ayah, aku sudah kenyang. Maaf karena aku harus meninggalkan meja makan lebih dulu.”
“Briana…” lirih Tuan Nelson.
Brian menatap Briana yang berlalu begitu saja. Dia berusaha mengontrol diri lagi, mengembuskan napasnya dengan kasar. Detik kemudian, dia merasa menyesal, selalu seperti itu.
“Kau terlalu keras padanya,” ucap Tuan Nelson seraya menyesap kopi hitam yang mulai dingin.
“Aku hanya mengkhawatirkannya, Ayah,” ucap Brian yang kini terdengar lemah.
“Ayah tahu, karena Ayah pun merasakannya. Jangan memakai emosi jika itu berhadapan dengan adikmu. Dia tidak seperti dulu,” saran Tuan Nelson.
“Aku selalu hilang kendali saat dia mulai membantah,” ucap Brian.
“Berarti kau harus lebih banyak belajar lagi untuk mengontrol emosimu,” ucap Tuan Nelson.
“Iya, Ayah,” ucap Brian sambil mendaratkan punggungnya ke sandaran kursi.
Hening, itu yang membelenggu keduanya. Sampai akhirnya Brian beranjak dari kursinya.
“Kau mau ke mana?” tanya Tuan Nelson.
“Aku ingin menemuinya, Ayah,” jawab Brian.
“Jangan. Biarkan adikmu tenang dulu,” ucap Tuan Nelson.
“Tapi Ayah…” ucapan Brian mengantung yang langsung dipotong oleh Tuan Nelson.
“Hari ini Ayah tidak memiliki rencana untuk keluar rumah. Kau bisa berangkat ke kantor,” ucap Tuan Nelson.
“Tapi Ayah…” lagi, ucapan Brian dipotong.
“Danis!” panggil Tuan Nelson.
“Iya, Tuan Besar!” Danis pun melangkah lebih dekat pada Tuan Nelson.
“Apa hari ini Brian memiliki jadwal meeting?” tanya Tuan Nelson.
“Ada, Tuan Besar. Meeting akan dimulai sekitar dua jam lagi,” jawab Danis.
Tuan Nelson pun menatap wajah putranya yang terlihat lesu dan juga khawatir, “Pergilah! Semua akan baik-baik saja.”
Sempat berpikir, akhirnya Brian pun setuju dengan perkataan Tuan Nelson. Dia pun pamit meninggalkan meja makan bersama Danis. Tersisalah Tuan Nelson dengan segala pikiran yang berkecamuk.
Ternyata seperti ini. Aku merindukanmu, sayang. Batin Tuan Nelson.
***
Briana hanya menatap lurus, tanpa peduli beberapa pengawal dan pelayan memberikan salam saat berpapasan dengannya. Rasa kesal di hatinya terlalu mengganggu. Bahkan bantingan pintu kamarnya terdengar menggema hingga membuat beberapa pelayan terperanjat yang tengah membersihkan area balkon.
Tuan Nelson pun berusaha mengajak Briana berbicara. Namun, Briana hanya terus mengalihkan pembicaraan, lalu menghidar, membuat Tuan Nelson terus saja mengembuskan napasnya kasar. Kedatangan Dokter Zed pun seolah angin lalu bagi Briana. Tidak ada percakapan, hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Tuan Nelson tidak bisa bersikap keras pada putri yang begitu dia sayangi. Jadi, dia lebih milih mengalah dan mengawasi putrinya diam-diam.
Bungkamnya Briana membuat khawatir seisi kediaman Nelson. Mereka sangat tahu bagaimana Briana. Hingga ketukan demi ketukan silih berganti dari para pelayan wanita yang biasa mengurus keperluan Briana.
Tok! Tok! Tok!
“Nona, waktunya makan malam!” ucap salah satu pelayan wanita yang bernama Alice.
Panggilan Alice tidak mendapatkan jawaban apa pun. Setelah lebih dari dua jam, dia beserta Noi dan Zira terus saja wara-wiri hanya untuk meminta Briana makan malam, karena Briana pun melewatkan makan siang. Dia hanya berdiam diri di kamarnya.
Tok! Tok! Tok!
Sekali lagi, pintu yang masih setia tertutup itu diketuk dan tidak dihiraukan. Rasa khawatir terpampang jelas di raut wajah wanita berusia hampir empat puluh tahun itu. Hingga suara langkah kaki mendekat yang membuat Alice memberikan salam hormat padanya.
“Tuan Brian,” sapa Alice.
“Adikku masih tidak ingin makan?” tanya Brian seraya melihat jam tangan di kirinya, saat ini sudah menunjukan pukul sembilan tiga puluh malam.
“Iya, Tuan,” jawab Alice.
Alice memberitahukan soal ini pada Brian siang tadi. Bahkan bujukan Tuan Nelson pun gagal.
“Tolong siapkan saja makan malamnya dan bawa kemari!” pinta Brian.
“Baik, Tuan,” ucap Alice lalu pergi menuju lantai bawah setelah memberikan salam hormat pada Brian.
Brian menghirup napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan kasar sambil menatap pintu besar yang tertutup di hadapannya. Brian mencoba mengetuk pintu itu dan hasilnya sama, tidak ada sahutan yang terdengar. Bahkan kamar Briana seolah tidak berpenghuni.
“Briana, ini aku. Buka pintunya!” teriak Brian.
“Briana!” teriak Brian lagi.
Brian pun memutar gagang pintu itu yang ternyata tidak terkunci. Netranya menatap sekeliling kamar Briana yang begitu terasa sunyi dan kosong. Langkah Brian terhenti saat dia menemukan seseorang yang dia cari tengah fokus dengan buku di tangannya. Briana duduk di kursi balkon. Wajahnya begitu tenang yang tersorot lampu taman yang temaram. Brian pun mendekati Briana dengan langkahnya yang terbilang hati-hati.
“Kenapa kau tidak makan malam? Lihatlah! Sudah jam berapa ini?” tanya Brian sambil melipat kedua tangannya di d**a.
Briana hanya diam dan terus membaca. Seolah kedatangan Brian tidaklah penting baginya.
“Briana, aku bicara padamu,” ucap Brian lagi.
“Untuk apa kau kemari?” tanya Briana tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun dari bukunya.
“Masih bertanya?” ucap Brian dengan nada bertanya dan Briana hanya diam seolah tidak peduli.
Tidak lama kemudian, Alice dan Noi masuk dengan beberapa menu makan malam. Mereka menyimpannya di meja dekat kursi yang berada di dalam kamar Briana. Brian pun mempersihkan mereka untuk keluar kembali, membiarkan Brian dan Briana hanya berdua yang masih diam dalam pikiran masing-masing.
“Kau ingin makan sendiri atau disuapi?” tanya Brian tiba-tiba.
“Tidak perlu, kau bisa keluar juga, Brian,” ucap Briana yang masih menatap buku.
“Berhentilah keras kepala, Briana! Kau harus makan,” ucap Brian.
“Dan kuperingatkan juga, berhentilah untuk mengatur hidupku, Brian!”
Mendengar perkataan Briana, Brian pun akhirnya mengambil buku yang sedari tadi Briana pegang, dan itu membuat Briana harus mengalihkan pandangannya, untuk menatap Brian yang kini tengah menatapnya dengan sendu.
“Kembalikan bukuku!” tatapan Briana begitu dingin, sedingin malam yang menjelang musim dingin.
“Makan malam dulu, baru aku kembalikan,” ucap Brian.
“Apa pekerjaanmu semuanya sudah selesai?” tanya Briana acuh.
“Sejujurnya pekerjaanku tidak pernah selesai,” ucap Brian.
“Lantas, kenapa kau masih di sini? Aku bisa memakan makanannya nanti,” ucap Briana sambil menengadahkan telapak tangannya meminta bukunya kembali.
“Aku hanya sedang memperhatikan adikku yang merajuk,” ucap Brian dengan santai.
“Ck, terserah kau saja,” Briana bangkit dari duduknya hendak pergi, tapi Brian menahan langkahnya dengan melingkarkan tangan di tubuh Briana untuk menggapai lengan kanannya.
“Jangan seperti ini, aku tidak suka,” ucap Brian.
“Lalu, apa aku harus melakukan apa pun yang kau suka?” ucap Briana yang terdengar sarkas sambil menatap Brian dengan acuh.
“Maafkan aku,” ucap Brian dengan sungguh-sungguh.
“Dan kau akan mengulanginya di kemudian hari,” ucap Briana.
“Aku hanya menyayangimu,” ucap Brian.
Briana hanya diam. Tak bersuara, tak pergi pula. Namun, hatinya terus bergemuruh dibalik wajahnya yang tak memperlihatkan ekspresi apa pun.
“Jika kau hanya ingin bicara omong kosong. Pergilah dari kamarku! Aku tidak membutuhkannya,” Briana menepis tangan Brian yang sedari tadi menghalangi langkahnya.
Brian hanya menatap nanar punggung Briana yang menjauhinya. Briana tak menghiraukan lagi Brian. Dia hanya menutup tubuhnya dengan selimut, lalu berusaha tertidur agar kekesalan dalam hatinya bisa mereda.
Akhirnya Brian pun mengalah. Dia menghampiri Briana, membuka perlahan selimut yang menutupi kepala, lalu mengecup singkat puncak kepala Briana. Brian pun keluar dari kamar itu tanpa hasil.
Sayup-sayup sebuah teriakan terdengar, saat Brian tengah dimanjakan oleh damainya malam setelah seharian bekerja yang begitu menguras emosi dan tenaga. Seketika mata Brian terjaga saat namanya menggema oleh suara yang begitu dikenalnya.
“Briana!” pekik Brian.