BAB 8
Suara yang sama masih terekam jelas di pendengaran Briana. Aura yang terasa pun masih sama. Begitu mencekam sampai rasa putus asa pun merajai. Bulir-bulir keringat membasahi tubuh. Sejenak, suara yang terbiasa lantang kini tercekat. Tubuh yang membeku dengan segala harapan.
“Hiks…”
Hanya suara itu yang mampu keluar dari mulut yang terbungkam. Sangat menyedihkan, sangat memilukan. Berjuang seorang diri hanya dengan kelemahan dan juga air mata.
Terluka. Satu kata yang mewakili segenap rasa yang selalu menyelimuti hati. Bahkan ketika mata terpejam pun, rasa itu masih tetap sama. Bahkan semakin hari, semakin mengerikan. Bayangan itu masih terpampang nyata, membuat dunia mana pun semakin gelap untuknya, segelap-gelapnya.
“Tidak! Brian!” teriak Briana.
Beberapa orang yang masih terjaga mendengar suara memilukan itu. Mereka hanya bisa mengembuskan napasnya kasar, dan mulai berjaga dengan segala kemungkinan nantinya. Mendengar teriakan Briana, Brian yang tengah terlelap pun langsung terbangun, lalu turun dari ranjangnya tanpa aba-aba, dan mulai berlari ke kamar Briana yang terletak di satu lantai dengan kamarnya.
Saat tiba, Brian melihat beberapa orang tengah berdiri dengan raut wajah khawatir di depan kamar Briana. Ada dua pengawal di sana, tapi bukan Alan dan juga Bella. Ada tiga pelayan wanita juga yang selalu setia ada untuk Briana.
“Tuan!” seru Alice dan semua orang yang menyadari kedatangan Brian pun mulai menunduk, memberi salam hormat padanya.
“Aku akan masuk,” ucap Brian lalu memutar gagang pintu kamar Briana.
Hatinya terenyuh melihat gadis yang selalu dia sayangi, kini tengah meringkuk tak berdaya. Brian menutup kembali pintu itu dan mulai mengampiri Briana yang berada di atas ranjangnya.
“Briana…” lirih Brian yang hendak mengulurkan tangannya untuk menyentuh lengan Briana.
“Hiks, jangan sentuh!” teriak Briana yang tengah menyembunyikan wajahnya di balik bantal yang dia peluk.
“Hey, ini aku, Brian,” ucap Brian lagi penuh dengan hati-hati saat dia mulai duduk di sisi ranjang Briana.
“Jangan mendekat!” Briana mencengkram selimut yang membungkus tubuhnya kuat-kuat.
Brian mengurungkan niatnya untuk memeluk Briana yang kini tengah menangis. Hati Brian terasa pilu melihat adik kesayangannya seperti ini. Brian tidak mampu melakukan apa pun. Dia lebih memilih menunggu sambil memperhatikan Briana yang tidak kunjung menatapnya. Dia takut kejadian itu terulang lagi membuat Briana histeris bahkan seolah tidak mengenalinya.
Cukup lama Briana menangis, bahkan kerap kali merancau yang membuat Brian hanya mampu menahan diri untuk tidak gegabah. Sampai akhirnya tangis Briana mereda. Dia mulai tenang kembali seperti sebelum Brian tinggalkan, saat Briana mulai terlelap.
Merasa tidak sendiri, Briana pun mulai mengintip, menggeser sedikit wajahnya dari bantal yang sedari tadi menghalangi wajahnya. Sosok Brian yang tengah tersenyum dia dapati. Briana berusaha merubah posisinya agar bisa duduk.
“Kau haus? Aku akan mengambilkan minum dulu,” Brian hendak bangkit, tapi Briana menahan tangannya.
“Kenapa?” tanya Brian dengan lembut. Namun, Briana hanya menatapnya dengan mata yang sembab.
“Tidak apa-apa. Aku akan segera kembali. Tunggulah sebentar!” bujuk Brian, tapi tetap, itu tidak membuat Briana melepaskan pegangannya.
“Aku janji!” Brian mengecup tangan Briana sejenak, lalu melepaskan pegangan Briana perlahan.
Brian keluar dari kamar Briana dan melihat mereka masih tetap berjaga dengan jumlah yang sama. Brian pun meminta segelas air mineral pada Noi. Dengan segera, dia menjalankan apa yang Brian minta. Ini masih pukul dua dini hari. Sayangnya, Tuan Nelson sudah pergi saat jam makan malam berakhir, karena keesokan harinya Tuan Nelson harus menghadiri rapat pemegang saham di Paris.
Noi datang dengan segelas air di tangannya, dan Brian pun menerima itu.
“Tuan, bagaimana dengan Nona Briana? Apa perlu saya menghubungi Dokter Zed?” tanya Alice.
“Tidak perlu, Alice. Briana sudah membaik,” ucap Brian.
“Apa Nona Briana membutuhkan hal yang lain, Tuan? Saya bisa membuatkannya,” ucap Zira.
“Sepertinya tidak. Kalian bisa kembali beristirahat dan berjaga. Terima kasih,” ucap Brian.
“Baik, Tuan,” ucap kedua pengawal yang tengah berjaga malam itu.
“Ah, tentu, Tuan. Jika Tuan dan Nona membutuhkan sesuatu, panggil kami saja,” ucap Alice.
“Iya, Tuan,” ucap Noi dan Zira bersamaan.
“Hm,” Brian menganggukan kepala lalu berlalu menuju kamar Briana lagi.
Melihat kehadiran Brian kembali ke kamar, membuat Briana langsung memeluk Brian saat Brian baru saja duduk di sampingnya.
“Minumlah dulu!” Brian memberikan segelas air mineral di tangannya dan Briana menerimanya dengan baik.
“Terima kasih.”
Briana pun meminum air mineral itu hingga setengahnya, lalu memberikan gelasnya lagi pada Brian yang Brian simpan di atas nakas dekat ranjang Briana.
“Membaik?” Brian mengelus rambut Briana, yang kini masih memeluknya.
“Hm,” Briana mengangguk lemah di d**a Brian.
Cukup lama Brian memeluk Briana. Deru napas halus menyapa pendengaran Brian, sampai dia beranggapan jika Briana telah terlelap kembali. Namun, nyatanya Briana hanya tidak bicara.
“Kau sedang memikirkan apa? Tidurlah lagi!” ucapan Brian membuat Briana melepaskan pelukannya, lalu menyingkap selimut yang sedari tadi membungkus kedua kakinya.
“Aku ingin ke ruang latihan saja. Mungkin aku belum cukup lelah saat aku pergi tidur tadi,” ucap Briana yang mulai beringsut ke sisi ranjang.
“Kau sedang terluka,” bujuk Brian.
“Tapi aku tidak ingin tidur lagi, Brian,” putus Briana seolah tidak ingin dibantah untuk soal ini.
“Aku akan menemanimu. Jadi tidurlah!” ucap Brian.
“Tidak!” tolak Briana.
Brian langsung menahan Briana saat dia akan beranjak dari ranjang, “Kau percaya padaku, bukan? Aku tidak akan meninggalkanmu. Jika mimpi itu datang lagi, peluk saja aku!”
Brian menatap Briana dengan penuh kelembutan, sampai akhirnya Briana pun setuju dan mau tertidur lagi dengan Brian yang menemaninya. Namun, mata Briana tak kunjung terpejam. Ingatan itu masih sangat jelas di benaknya. Bahkan hingga pagi menjelang, Briana terjaga dengan Brian yang tertidur di sampingnya, dengan kepala Brian yang bersandar pada kepala ranjang.
Kapan semua ini akan berakhir? Aku lelah. Batin Briana
***
Hari berganti dan ini sudah hari ketiga di mana Brian masih tetap tidak mengizinkan Briana pergi ke mana pun. Kerap kali Briana dan Brian berdebat sampai Tuan Nelson sendiri pun merasa lelah. Bahkan Tuan Nelson lebih memilih tidak mengambil bagian karena permintaan Brian agar Briana mau mengalah.
“Briana, berhentilah menggangguku seperti ini,” Brian tengah kesal pada Briana yang begitu kekanakan.
Saat ini mereka tengah di ruang kerja Brian, dan Briana mengambil laptop Brian, membuat dia tidak bisa bekerja karena tingkah adiknya yang sangat menyebalkan. Briana hanya bersikap acuh yang kini tengah duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di d**a.
“Astaga! Kau sungguh menguji kesabaranku,” Brian mengacak rambutnya frustrasi.
Briana hanya menatap Brian yang sedang kacau sekarang.
“Aku hanya minta kembalikan laptopku! Terserah kau jika ingin diam di sini menemaniku,” ucap Brian sambil melangkah mendekati di mana posisi Briana berada.
“Aku tidak mau!” ucap Briana dengan nada yang terkesan menjengkelkan.
“Apa yang kau inginkan?” ucap Brian tidak sabaran.
“Aku rasa kau sudah sangat tahu apa yang aku inginkan,” ucap Briana yang terlewat santai.
“Kau bisa bekerja dari rumah,” ucap Brian.
“Astaga, Brian! Aku bukan peliharaanmu!” ucap Briana.
“Aku akan mengizinkanmu keluar saat kau benar-benar pulih,” ucap Brian.
“Kau sungguh menyebalkan. Bahkan kau membuat Alan dan Bella tidak ada di sekitarku. Kau keterlaluan!” Briana beranjak dari sofa dengan raut wajahnya yang ditekuk, “Ambil laptopmu!”
Setelah memberikan laptop Brian, Briana pun melangkah keluar dari ruang kerja Brian.
“Minggir!” ucap Briana penuh penakanan saat salah dua pengawal menghalangi jalannya.
Keduanya pun menunduk, “Maafkan kami, Nona. Silahkan!”
Briana pun kembali ke kamarnya. Kediaman Nelson dijaga ketat oleh puluhan pengawal. Sebelumnya, Briana mencoba untuk keluar dari kediaman karena dia merasa bosan dengan rutinitas yang itu-itu saja. Namun, naas sekali nasibnya. Pengawal yang sedang berkeliling memergoki usahanya dan langsung melaporkan hal itu pada Brian, sehingga Brian memutuskan memilih bekerja di rumah sejak kemarin.
Brian begitu fokus dengan layar laptopnya setelah makan malam. Wajahnya yang kaku terlihat semakin tampan dan juga gagah dengan keseriusan yang membelenggu dirinya. Manik coklatnya seolah mampu menghunus siapa saja yang berani menatapnya. Tiba-tiba, senyum sarkas yang mengerikan terbit menghiasi wajahnya yang tidak terlihat bersahabat.
“Sampai kapan pun kau tidak akan pernah lolos. Aku akan mengejarmu hingga ke ujung dunia sekali pun,” lirih Brian, tapi terkesan dingin dan juga mengancam.
Ponsel Brian tiba-tiba bergetar saat dia tengah sibuk dengan laptopnya di ruang kerja di kediaman Nelson. Nama Danis tertera di layar ponsel, dengan segera Brian menjawab telepon itu.
“Bagaimana?” tanya Brian.
“….”
Tidak ada percakapan panjang. Brian langsung memutus sambungan teleponnya dengan rahangnya yang berkedut. Dia pun pergi dari ruang kerjanya dengan tergesa. Kilatan amarah sudah tidak bisa disembunyikan lagi olehnya. Bahkan saat berpapasan dengan Briana di ujung tangga kediaman Nelson, Brian seolah tidak terusik yang hanya berlalu begitu saja melewatinya.
Dengan tatapan penuh tanya Briana hanya menatap punggung Brian yang dengan begitu cepatnya menghilang dari pandangan. Sampai deru mobil terdengar, meninggalkan halaman rumah dengan tergesa, membuat riuh malam yang begitu tenang.
Ada apa dengannya? Batin Briana.
Briana melanjutkan langkahnya. Namun, tujuannya sekarang berbeda. Awalnya dia ingin pergi ke kamarnya setelah bertemu dengan Alice di dapur, tapi tujuannya sekarang menjadi ke arah ruang kerja Brian. Briana mencari sesuatu yang menurutnya mencurigakan, yang membuat kakak laki-lakinya mengabaikan kehadirannya.
Briana tidak menemukan apa pun di ruangan itu, hanya ada laptop yang terbuka. Briana pun duduk di kursi Brian dan mengecek laptop itu dan mulai memasukan kode akses untuk bisa menggunakan laptop milik Brian. Ini tidak sulit untuknya, karena apa pun yang menjadi milik Brian, Briana mengetahui semuanya.
Senyum sarkas terbit di wajah Briana yang tersorot cahaya laptop. Tatapan yang sama yang diperlihatkan Brian beberapa menit yang lalu. Namun, rasa kebencian lebih kentara yang mulai mengusik lagi hatinya.
“Jadi ini penyebabnya?” tanya Briana pada dirinya sendiri.
“Aku akan lebih menghancurkannya suatu hari nanti. Tunggu saja!” ucap Briana seraya menutup akses laptop Brian, dan mulai berlalu meninggalkan ruangan itu dengan penuh keyakinan dan juga dendam.