BAB 9
“Apa dia sudah bangun?” tanya Brian pada Chris.
Sudah dua malam, Brian selalu datang ke markas sebelum dia kembali ke kediaman Nelson. Tanpa sepengetahuan Briana, Brian terus mencari tahu semua hal yang selama ini dia lewatkan. Bahkan setelah hari di mana pertikaian itu terjadi, Brian langsung menjatuhi hukuman pada salah seorang anggota yang membuatnya sangat murka.
“Saya mengeceknya lima belas menit yang lalu dan dia sudah terbangun, Tuan,” jawab Chris.
“Bagus, aku ingin menemuinya,” Brian beranjak dari kursi yang baru dia tempati sekitar lima menit yang lalu.
“Apa Tuan akan menghukumnya lagi?” tanya Chris memastikan.
“Bukan urusanmu!” Brian berlalu sambil menggulung lengan kemeja putihnya.
Kabar kemarahan Brian ini sudah diketahui semua anggota Black Angels. Mereka semua langsung berhati-hati agar tidak membuat Brian lebih marah lagi, jika tidak ingin nasib mereka sama seperti salah satu anggota yang pernah dianggap terbaik.
Ruang bawah tanah yang cukup pengap membuat orang itu sedikit kesulitan bernapas. Ditambah pukulan-pukulan yang dia terima tanpa henti selama dua hari ini. Seolah lupa tentang bagaimana orang ini berjasa dan setia padanya. Emosi Brian tidak kunjung surut. Kilatan amarah di matanya tidak kunjung berubah, bahkan semakin tajam dan mengerikan.
“Apa kau sudah siap untuk makan malam, Aidar?” ucap Brian sambil berjongkok, mencengkram kaos hitam yang sudah lusuh dan basah karena keringat dan juga darah.
“Ma-maaf, Tuan. Hanya saja, apa salah saya? Kenapa saya dihukum seperti ini?” ucapan Aidar terbata karena menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
“Kau belum menyadarinya?” ucap Brian terdengar sarkas.
Aidar hanya menggeleng lemah dan itu membuat Brian terkekeh mengerikan.
“Ini peringatkan untuk kalian semua, tidak boleh ada yang mendekati Briana tanpa seizinku. Terutama kau!” Brian menghempaskan kaos Aidar dengan mendorongnya sedikit hingga tersungkur, bahkan terbatuk-batuk setelahnya.
Chris, Danis, dan beberapa anggota Black Angels yang melihat ini merasa iba pada Aidar yang sudah tidak berdaya. Mereka pun semakin takut akan kemarahan Brian yang semakin tidak terkontrol. Ini membuat mereka semua terkejut, walau mereka tahu seberapa mengerikannya Brian pada orang yang melakukan kesalahan, tapi kali ini berbeda. Seolah ada dendam yang terselubung, yang tidak diketahui oleh siapa pun. Bahkan Chris pun tidak bisa membantu Aidar hanya untuk sekedar meringankan hukuman yang dia terima.
Aidar mengingat perkataan Chris tempo hari, dan itu membuat Aidar menampilkan senyum meremehkan, “Apa Nona Briana mengadu karena dia bertarung dengan saya sampai dia terluka dan hampir kalah? Jika iya, lalu kenapa Tuan membiarkan Nona masuk ke dalam kelompok yang pastinya akan membuat Nona terluka? Dan kenapa Tuan memberikan jabatan itu pada Nona Briana, jika Tuan semarah ini sekarang?”
Tatapan Aidar membuat Brian tidak suka, “Lancang kau berkata seperti itu padaku!”
“Saya hanya bertanya, Tuan. Bagaimana jika kelompok lain tahu bahwa Nona Briana yang sekarang memimpin kelompok ini? Apa Tuan tidak takut jika kelompok lain menganggap kelompok kita kembali seperti dulu? Jika itu terjadi, mereka akan berulah lagi dan usaha kita untuk mengubah fungsi kelompok ini akan sia-sia,” Aidar menjeda ucapannya karena napas tersenggal dan rasa nyeri pada dadanya.
“Jadi kau meremehkan adikku?” ucap Brian penuh penekanan, “Kau lupa siapa kakaknya, Aidar.”
“Saya tahu, fisik Nona Briana sudah terlatih melihat bagaimana dia mengalahkan Jack dan Lucas dari terakhir kali saya melihatnya,” ucapan Aidar membuat Chris semakin tertegun. Pasalnya dia melewatkan apa yang seharusnya dia lakukan, tapi kemarahan Brian sudah menjelaskan semuanya. Hanya tinggal menunggu apa yang akan terjadi padanya setelah melihat Aidar seperti saat ini.
“Perubahan Nona Briana sangat kentara, tapi tetap saja, Nona Briana itu wanita, dia tidak pantas untuk menjadi seorang pemimpin kelompok bersenjata ini,” ucap Aidar.
“Nyalimu sungguh besar sampai berani berkata seperti itu tentang adikku,” sebuah tamparan dilayangkan Brian pada Aidar yang membuatnya tersungkur kembali.
Brian beralih pada Chris yang sudah tertunduk dengan beberapa anggota lain. Chris sungguh tahu apa yang menjadi kesalahannya. Dia berusaha untuk tenang saat Brian mulai mendekat ke arahnya.
“Aku sudah tahu tentang keteledoranmu sejak awal. Kau hanya perlu mempersiapkan diri,” ucap Brian.
“Tuan, maafkan saya,” ucap Chris.
Brian beralih pada Aidar yang kini tengah menatapnya, “Aku memang sempat marah karena pertarungan kalian. Namun, aku cukup sadar tentang latihan yang aku buat untuk kelompok ini. Aku tidak bodoh, Aidar. Yang membuatku menghukummu karena kau berani menyerang adikku saat malam di mana Briana meminta izinku untuk melenyapkan seseorang.”
Aidar terkekeh mengingat bagaimana dia sengaja menyerang Briana di atap gedung, “Ah, yang itu rupanya.”
“Kau harus tahu, Aidar. Briana tidak pernah mengadu apa pun tentang apa yang dia alami, walau sesulit apa pun. Aku yang berusaha melindunginya dari orang sepertimu, dan kau juga harus tahu soal ini, Dia satu-satunya wanita hebat yang aku miliki. Jika kau tidak tahu apa pun tentangnya, tidak usah menjadi sok tahu,” ucap Brian yang membuat Aidar tertegun.
Mata mereka saling bertemu, menyiratkan rasa yang berbeda. Keheningan mulai membelenggu, tapi dibalik itu semua berbagai emosi menyelimuti hati. Tidak ada satu orang pun yang berani bergerak, bahkan bersuara.
Kesungguhan yang Brian perlihatkan membuat semua orang yang ada di ruangan itu bungkam, bahkan Aidar sekali pun. Pertanyaan demi pertanyaan semakin memutar di kepala mereka. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui apa yang selama ini Brian tutupi.
Brian pernah menghilang dari kelompoknya selama beberapa bulan, lalu kembali dengan pribadi yang semakin buas. Kejadian itu membuat Brian selalu merasa serba salah. Dia semakin terobsesi untuk melindungi Briana hingga dia tidak terkendali seperti saat ini. Brian pun akhirnya memilih untuk meninggalkan ruang bawah tanah, menyisakan Aidar seorang diri yang terkapar tak berdaya.
“Danis, kita pergi!” seru Brian saat berjalan menyusuri lorong.
“Baik, Tuan,” ucap Danis.
Diam-diam Chris memperhatikan Danis. Entah kenapa, dia merasa bahwa kehadiran Danis cukup mengancam di sini. Firasatnya mengatakan bahwa Danis berbeda dengan kedua pengawal pribadi Briana, Alan dan Bella. Namun, Chris berusaha untuk tidak menunjukan ketidaksukaannya pada Danis.
“Chris, hukuman Aidar selesai. Peringatkan dia untuk tidak mendekati Briana. Jangan sampai dia mengulangi kesalahan yang sama,” perintah Brian.
“Baik, Tuan. Akan saya jalankan,” ucap Chris.
“Bagus,” ucap Brian seraya memasuki mobil miliknya.
Chris dan beberapa anggota lain menundukkan kepala seraya mobil Brian melaju meninggalkan markas. Dia pun langsung menjalankan perintah Brian menuju ruang bawah tanah kembali bersama Lucas dan Rey.
“Untuk apa kalian kemari?” suara Aidar begitu lemah saat Lucas dan Rey berusaha membantunya bangun.
“Hukumanmu selesai,” jawab Chris.
“Ah…” Aidar mengangguk-angguk lemah.
Mereka pun tiba di kamar Aidar. Ada Jack yang tengah membantu perawat mempersiapkan obat-obatan untuk Aidar. Ringisan demi ringisan begitu ngilu di telinga mereka yang sedang menemani Aidar. Bahkan, saat lukanya tengah dibalut oleh kasa pun, ringisan itu masih saja terdengar. Ini kali pertama Aidar terluka karena sebuah hukuman.
“Istirahatlah! Agar kau bisa segera pulih,” pinta Chris.
“Kenapa Tuan bisa tahu segalanya jika Nona Briana tidak mengadu, bahkan kau juga? Apa pengawal pribadinya Nona yang melapor?” kondisi Aidar yang lemah tidak membuat urung untuk dia ingin tahu.
“Aku rasa bukan. Bahkan Nona melarangku dan kedua pengawalnya untuk tidak melaporkan pertarungan sengit kalian,” jelas Chris yang membuat Aidar tertegun kembali.
“Apa?” lirih Aidar.
“Aku hanya curiga pada orang yang sangat setia pada Tuan Brian,” Chris menjeda ucapannya, “Istirahatlah! Kau sudah sangat lemah seperti ini. Aku tinggal.”
Ucapan Chris mendapat anggukan dari Aidar. Kamarnya sangat hening karena semua orang yang tadi menemaninya, pergi untuk urusan masing-masing. Meski lelah, pikirannya tetap melayang membuat dia tetap terjaga.
Mungkin aku memang salah, tapi dia sangat menyebalkan. Ugh, bagaimana ini? Batin Aidar.
***
Setelah membersihkan diri, Brian hanya melamun. Bahkan untuk makan malam pun rasanya dia tidak berselera. Di usianya yang sudah menginjak dua puluh dua tahun, dia sudah dituntut oleh banyak hal. Bahkan sejak usianya masih belasan tahun, dia sudah harus menjadi pria dewasa dan mandiri karena dia anak pertama dan putra satu-satunya di keluarga Nelson.
Mengurus perusahaan dan menjalani pendidikan secara bersamaan, itu sangat menguras tenaga dan juga emosinya yang masih terbilang labil. Belum lagi dengan berbagai kejadian yang membuat mentalnya terguncang. Brian hanya menganggap semua itu adalah proses pendewasaannya, walau terkadang dia bisa menjadi begitu tertekan atau bahkan merasa takut yang berlebih.
Brian melangkah ke lantai dasar tanpa melihat sekitar terlebih dahulu. Dia hanya sedang kalut, sampai dia hanya fokus pada tujuannya yang kini sedang menuju salah satu ruangan di sudut kediaman Nelson. Dia pun mulai mengetuk pintu itu, berharap pemiliknya sudah kembali dari hiruk pikuknya kehidupan.
“Ayah, ini aku. Boleh ‘kah aku masuk!” teriaknya Brian.
“Masuk saja!” jawab Tuan Nelson.
Brian pun mendorong pintu itu, lalu menutupnya kembali. Dia menghampiri Tuan Nelson yang kini tengah membaca buku di kursi santainya, padahal malam sudah sangat larut.
“Ayah masih membaca buku?” tanya Brian yang mengambil duduk di sisi ranjang milik Tuan Nelson.
“Ayah hanya belum merasa lelah. Kau juga belum istirahat,” ucap Tuan Nelson sambil menyimpan buku yang sedari dia pegang di atas meja samping kursinya.
“Aku hanya sedang bingung, Ayah,” ucap Brian.
Tuan Nelson bisa melihat jelas raut wajah putranya yang begitu letih, “Ada apa? Apa terjadi sesuatu di perusahaan?”
Brian hanya menggeleng. Karena sejujurnya jika itu tentang bisnis, dia akan selalu mencari celah dari setiap masalah yang dia hadapi. Apalagi dengan kemampuan analisisnya yang terbilang cepat dan cermat. Bahkan dia tidak perlu repot membatin yang berkepanjangan. Dia yakin, darah dari ayah dan ibunya tidak akan bisa dikelabui.
“Apa ini soal adikmu?” tanya Tuan Nelson yang tepat sasaran.
“Sampai saat ini, aku masih ragu bahkan takut atas keputusanku,” ucap Brian.
“Sekarang, Ayah tidak ragu atas keputusanmu, tapi jujur saja Ayah masih takut jika hal buruk terjadi lagi pada adikmu,” ucap Tuan Nelson.
“Lalu, aku harus bagaimana?” tatapan Brian begitu sendu menatap Tuan Nelson penuh harap.
“Dengarkan apa kata hatimu, lalu pikirkan baik-baik dengan akal sehat. Karena keputusan yang terbaik diambil saat hati dan logika seimbang,” ucap Tuan Nelson.
Brian lalu diam, mempertimbangkan apa yang Tuan Nelson katakan, “Mungkin seharusnya aku mengambil alih lagi kelompok itu dari tangan Briana.”
Ceklek!
“Maksudnya apa kau bicara seperti itu?” ucap Briana yang membuat Brian dan Tuan Nelson terkejut.
Kedua pria berbeda generasi itu langsung mengalihkan pandangan mereka ke salah satu sudut di mana pintu kamar ini berada. Seolah membeku, tidak ada satu pun yang membuka suara.
“Jawab!” ucap Briana penuh penekanan.
“Briana…” lirih Tuan Nelson dan Brian secara bersamaan.