BAB 10
“Briana, kemarilah! Kau belum tidur?” ucap Tuan Nelson.
Briana pun menutup kembali pintu itu. Dia mulai berjalan menghampiri Tuan Nelson yang kini tengah tersenyum padanya. Namun, Briana hanya menampilkan sorot mata tajamnya pada Brian yang kini hanya bersikap santai di atas ranjang dengan melipat kedua tangannya di d**a.
“Jelaskan padaku apa maksud dari ucapanmu!” ucap Briana yang terdengar seperti perintah.
Bukannya menjawab, Brian malah mengalihkan topik pembicaraan, “Ayah, sepertinya aku harus kembali ke kamarku.”
Tangan Briana terulur untuk menahan pundak Brian saat dia hendak beranjak dari ranjang, agar Brian tetap duduk pada posisinya, “Aku rasa pendengaranmu masih normal.”
“Tapi aku tidak menguping,” ucap Brian.
“Aku hanya berusaha menjadi manusia serba ingin tahu seperti dirimu,” ucap Briana.
Brian ingin menimpali ucapan Briana yang tiba-tiba membuat dia sedikit kesal. Namun, Briana langsung menempelkan jari telunjuknya di bibir Brian, “Stt, kau hanya perlu mengatakan apa yang ingin aku dengar. Jadi, kau hanya perlu menjelaskan sesuai permintaanku.”
Brian menyingkirkan jari Briana dengan mengambil pergelangan tangannya, “Aku berencana akan mengambil alih kembali posisimu di Black Angels.”
“Berikan alasan yang bisa diterima oleh logikaku,” pinta Briana dengan nadanya yang terkesan dingin.
Tuan Nelson hanya memperhatikan interaksi putra dan putrinya yang kini mulai beranjak dewasa. Usia mereka hanya terpaut tiga tahun. Tuan Nelson semakin tertarik dengan apa yang ada di hadapannya, sampai dia melipat kedua tangannya di d**a dengan tatapan yang cukup intens.
“Kau selalu menyembunyikan segala hal yang membuatku mengkhawatirkanmu dan aku tidak suka,” Brian mulai menatap Briana.
Briana menaikan sebelah alisnya, “Hanya itu?”
Tidak ada jawaban lain dari mulut Brian, karena sesungguhnya dia hanya sekedar khawatir akan bahaya yang suatu saat datang menghampiri Briana.
“Kau hanya membesarkan sebuah masalah. Aku sudah bilang beberapa kali, jika aku akan baik-baik saja. Kau hanya terlalu takut dan kau masih terbayang dengan penyesalan yang tidak pernah selesai,” ucap Briana.
“Ya, kau benar. Aku hanya tidak ingin kau terluka. Aku tidak bisa melihatmu seperti itu,” ucap Brian yang langsung menatap Briana.
“Bukan ‘kah kau berjanji akan selalu melindungiku?” tanya Briana.
“Bagaimana aku bisa melindungimu, jika kau selalu berusaha seorang diri?” Briana berusaha menahan emosinya.
“Apa kau percaya padaku? Seperti kau yang selalu meminta untuk aku mempercayaimu,” ucap Briana, dan Brian hanya diam dengan emosi yang tertahan dan kegundahannya.
Sudut bibir Briana mulai terangkat, menatap Brian yang kini lebih memilih untuk memalingkan wajahnya, “Apa kau meragukan kemampuanku, Brian?”
“Bagaimana aku bisa meragukan kemampuanmu? Jika saja kau mampu melukai beberapa anggota kita tanpa ampun dan menghabisi beberapa anggota musuh,” kejujuran Brian membuat Briana semakin merekahkan senyumannya, tidak terkecuali dengan Tuan Nelson.
“Kau tahu tentang itu. Lalu, kenapa kau masih bersikeras memintaku untuk mundur, bahkan kau akan mengambil alihnya secara paksa?” tanya Briana.
“Aku…” seolah kehabisan kata-kata, Brian hanya menggantung kalimatnya yang tidak selesai.
Briana mengambil duduk di samping Brian dengan matanya yang tidak lepas dari sosok yang ada di dekatnya, “Maafkan aku, jika aku keras kepala. Namun, beri aku kesempatan untuk hidupku yang baru.”
“Kenapa kau memilih jalan hidup seperti ini? Cukup aku saja, dan kau bisa mulai belajar lagi karena kau juga harus memimpin perusahaan keluarga kita,” Brian mulai menatap Briana kembali.
“Kau melewatkan ini, Brian, jika hal yang aku pilih saling berkaitan,” ucap Brian yang membuat dahi Brian mengernyit.
“Maksudmu?” tanya Brian memastikan.
“Masa laluku akan tetap kelam, tapi kau lupa jika aku juga dilahirkan di keluarga terpandang. Apalagi saat nama Nelson terpampang jelas di deretan namaku. Bahkan publik pun tahu siapa aku. Kau sendiri yang mengatakan bagaimana pun aku disembunyikan, para musuh akan tetap mencariku karena keterikatan darah antara kita. Berarti aku harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk yang akan menimpa,” sorot mata Briana memancarkan jika hatinya begitu terluka, luka yang sengaja dikubur, tapi tergali lagi karena bayang-bayang yang tak mau pergi.
Tuan Nelson berusaha agar air matanya tidak sampai terjatuh. Bahkan mata Brian sudah mulai berkaca-kaca menahan rasa sedih melihat adik semata wayangnya rapuh dalam balutan senyum yang begitu manis.
“Aku tidak ingin hal buruk terjadi padamu. Aku tidak ingin gagal lagi melindungimu,” ucap Brian dengan suaranya yang sedikit parau.
“Kau tidak pernah gagal melindungiku, Brian. Aku hanya terlalu bodoh saat itu sampai begitu percaya tanpa curiga. Aku tidak ingin kembali dan menjadi naif lagi. Aku sangat sadar jika takdirku tidak sesederhana dengan apa yang selama ini aku tahu. Aku tidak ingin hidup seperti mimpi buruk itu lagi, Brian,” kini Briana mulai menangis, Brian langsung membawa Briana ke dalam dekapannya.
“Aku berjanji, kau tidak akan mengalaminya lagi,” Brian memeluk Briana dengan erat, sesekali tangannya mengelus rambut yang saat ini Briana gerai.
“Aku tidak ingin membuat kau dan Ayah terus-menerus mengkhawatirkanku. Jadi, aku lebih memilih untuk diam, walau aku tahu kau memerintahkan semua orang yang bisa dipercaya untuk selalu mengawasiku, tapi aku tidak pernah mempermasalahkan itu karena aku tahu kau menyayangiku,” Briana menjeda ucapannya sejenak sambil melerai pelukan di antara keduanya.
Briana menghapus air matanya dan berusaha untuk tersenyum lagi. Matanya melirik kedua pria yang begitu menyayanginya secara bergantian, “Ayah, Brian, sudah cukup aku melewati masa sulit itu. Aku tidak ingin menjadi aib dan direndahkan oleh orang lain. Aku juga ingin menjaga nama baik keluarga kita. Jadi tolong, izinkan aku untuk tetap memilih jalan hidupku sendiri. Aku mohon!”
“Briana…” lirih Tuan Nelson sambil menatap putrinya terluka.
Brian sangat tahu itu. Bahkan Aidar secara terang-terangan meremehkan Briana di depannya.
“Aku mengerti akan keinginanmu, tapi bukan berarti kau tetap menjadi bagian Black Angels,” tolak Brian.
“Kau sudah menyetujuinya tempo hari,” ucap Briana.
“Itu karena terpaksa,” kilah Brian.
“Aku sudah memulainya. Berarti aku harus menjalaninya dengan segala kisah yang akan terukir,” ucap Briana.
“Jika aku tetap mengambil alih posisimu lagi, bagaimana?” tanya Brian sambil menatap Briana begitu dalam.
“Kalau begitu aku akan membuat kelompokku sendiri,” ucap Briana dengan senyum sarkas khasnya.
Brian terkekeh mendengar perkataan Briana yang menggelitik telinganya, “Aku akan meratakan kelompokmu hingga tidak tersisa.”
“Kau!” pekik Briana.
Suasana malam yang penuh pilu, mulai tergantikan dengan suasana hangat. Bak sosok Briana seolah kembali. Walau rasa frustrasi itu masih saja terasa dalam benak Brian. Dia berusaha tetap tenang dan menyakinkan diri, walau rasanya begitu sulit. Brian menghirup udara sedalam-dalamnya, berusaha mengenyahkan rasa sesak yang begitu mencekik.
“Aku tidak ingin menjadi Briana yang sama. Jika itu masih terjadi, berarti aku gagal untuk kedua kalinya. Aku tidak ingin hal itu terjadi pada orang lain pun. Hatiku sudah terlalu mendendam dan sulit untuk memaafkan. Ini kesempatanku. Aku sudah berjuang hingga titik ini dan yang aku lalui tidaklah mudah. Aku harap kau mengerti,” pinta Briana.
“Kau adalah adikku yang paling berharga. Jaga diri baik-baik, karena aku akan sangat merasa bersalah jika hal buruk terjadi padamu. Kau harus bahagia dan carilah aku jika kau merasa kesulitan,” ucap Brian.
“Tentu,” ucap Briana lalu memeluk Brian dengan sangat erat.
Saudara tetaplah saudara dan keberuntungan ada pada mereka yang selalu peduli satu sama lain. Pemandangan yang begitu elok di mata Tuan Nelson. Dia begitu bersyukur atas putra dan putrinya yang selalu menyayangi. Dia begitu bangga pada mendiang istrinya yang berhasil mendidik putra dan putri mereka agar selalu rukun.
“Apa kalian hanya akan berpelukan tanpa Ayah? Kenapa Ayah merasa diasingkan di sini,” ucap Tuan Nelson yang terdengar merajuk.
Seketika Brian dan Briana melepas pelukannya, lalu menatap Tuan Nelson yang kini tengah melipat kedua tangannya di d**a. Tidak lupa dengan raut wajahnya yang terkesan dingin, tapi menggemaskan di mata putra dan putrinya. Mereka berdua terkekeh, lalu menghampiri Tuan Nelson di kursinya.
“Ayah, aku menyayangimu,” ucap Briana, lalu mengecup salah satu pipi Tuan Nelson.
“Aku juga,” ucap Brian menimpali.
“Ayah juga sayang kalian. Rasanya Ayah rindu momen kita yang seperti ini,” ucap Tuan Nelson yang tengah membayangkan masa lalu mereka yang begitu indah tanpa celah sedikit pun.
Malam yang panjang, tapi tidak terasa berlalu begitu cepat. Brian dan Briana membiarkan Tuan Nelson untuk beristirahat karena seperti biasa, Tuan Nelson harus pergi ke luar kota untuk urusan bisnis meski sudah ada Brian dan Briana yang siap membantu.
Arah tujuan mereka berubah saat mereka telah keluar dari kamar Tuan Nelson. Tanpa sepengetahuan Tuan Nelson, Brian dan Briana pergi ke ruang kerja padahal ini sudah pukul satu dini hari. Brian membuka laptopnya dan memperlihatkan statistika yang menurun.
“Apa maksudmu?” tanya Briana.
“Ini adalah saham perusahaan yang saat ini dia kelola. Aku rasa kau cukup tahu siapa yang aku maksud,” ucap Brian.
Senyum sarkas tercetak jelas di wajah cantik Briana, “Apa kau menyabotase datanya?”
“Tidak. Aku hanya mengawasinya saja,” ucap Brian.
“Lalu?” dahi Briana mengernyit.
“Ini masih tahap rencana. Aku akan membuat dia terjatuh sedikit demi sedikit,” ucap Brian.
“Libatkan aku, Brian. Aku juga ingin ikut andil dalam hal ini,” Briana menatap Brian dengan intens.
Brian menyunggingkan senyum sarkasnya, “Baiklah. Ini untukmu.”
Rencana kotor terpatri dalam otak mereka. Seolah akal sehatnya hilang begitu saja. Pengkhianatan merubah mereka sedemikian rupa, hingga hati terus mengutuk tanpa ampun. Meski semuanya telah berlalu. Namun, tidak bisa ditampik, jika hal itu tidak bisa hilang tergerus air, tersapu angina, bahkan terhapus waktu.
Tunggu kami pecundang! Batin Brian dan Briana.
***
Di tempat lain dengan segala keresahan dan amarah membuat suasana malam yang damai seolah tidak pernah berpihak padanya.
“Tuan, saham kita menurun karena skandal yang tiba-tiba muncul ke permukaan. Bahkan beberapa investor memilih mundur karena kebijakan baru yang dibuat Tuan Muda. Mereka menganggap bahwa pihak mereka akan mengalami kerugian jika kebijakan baru itu tetap disahkan dan juga skandal yang kian memanas,” ucap pria itu dengan nada gemetar sambil menunduk.
“Kenapa anak itu selalu membuat masalah?” teriaknya.
Pria itu meremas gelas yang sedari tadi digenggamnya, hingga urat-urat tangannya terlihat seolah ingin menghancurkan gelas itu sebagai pelampiasan.
“Sialan!”