BAB 12
Teriakan Aidar membuat semua pasang mata yang ada di lantai bawah seketika mencari number suara. Namun, mereka tidak menemukan kejanggalan apa pun. Hingga desas-desus memenuhi area yang awalnya tidak cukup ramai.
“Apa kau mendengarnya?” tanya salah seorang anggota pada anggota lain yang berada di dekatnya.
“Ya, itu sangat jelas di telingaku,” jawabnya sambil melirik ke sana dan kemari.
“Apa kita perlu memeriksanya? Mungkin saja ada penyusup,” ucapnya lagi.
“Mungkin itu teriakan seseorang yang sedang menjalani hukuman,” jawab anggota lain dengan santainya dan sebagian anggota mengangguk membenarkan ucapannya.
“Aku baru tahu jika suara dari bawah tanah bisa terdengar sampai kemari,” ucapnya sambil berpikir keras mencari jawaban pada dirinya sendiri.
“Entahlah. Kita kembali pada aktivitas kita saja. Mungkin anggota yang dekat dengan sumber suara akan segera menemukan jawabannya dan memberitahu kita.”
“Iya, dia benar. Ayo bubar!” ucap anggota yang lainnya.
Mereka pun kembali pada aktivitas masing-masing yang sebelumnya dikerjakan. Suasana di lantai bawah menjadi normal kembali. Namun, berbeda di tempat di mana dua orang itu tengah berdebat kecil sekarang.
“Kenapa kau menarikku? Ini sakit sekali asal kau tahu. Akh!” keluh Aidar sambil menahan rasa ngilu pada badan yang belum sepenuhnya pulih. Tanpa Aidar sadari jika cara bicaranya sudah tidak formal lagi pada Briana, tapi Briana tidak mempedulikannya.
“Apa kau benar-benar ingin aku membiarkanmu mati? Harusnya kau berterima kasih padaku,” jawab Briana yang terbilang sangat santai menanggapi kekesalan Aidar.
“Bukannya kau yang menginginkan hal seperti itu dariku untuk mendapatkan maafmu?” ucap Aidar tidak terima.
“Aku hanya mengetesmu,” ucap Briana sambil melipat kedua tangannya di d**a.
“Ini tidak lucu!” ucap Aidar yang masih saja menggerutu. Dia pun berusaha untuk bangun dari posisinya yang terbaring di lantai, karena Briana menariknya ke belakang saat Aidar hampir melompat dari lantai dua.
“Aku memang sedang tidak bercanda,” ucap Briana yang terus memperhatikan pergerakan Aidar, “Apa kau perlu bantuan?”
“Tidak perlu. Aku bisa sendiri,” tolak Aidar dengan nada sok-nya.
Briana hanya mengangguk-angguk, lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia berusaha tidak mempedulikan keadaan Aidar. Namun, rintihan Aidar yang menahan rasa sakit itu sangat mengganggu pendengarannya.
“Ck, gengsimu cukup tinggi, Aidar,” cibir Briana, lalu dia mulai melangkah, menjauh dari tempat Aidar berada.
Akhirnya Aidar pun mampu berdiri lagi karena gengsinya. Dia berdecak saat Briana sudah hilang dari pandangannya, “Ck, gadis itu.”
Aidar pun mulai pergi dari tempat itu. Namun, saat dia akan mencapai tangga menuju lantai bawah, tiba-tiba dia berpapasan dengan Chris.
“Kenapa kau menemui Nona Briana? Apa kau berulah lagi?” tanya Chris yang kini tengah menatap Aidar dengan penuh curiga.
Aidar hanya mengedikkan bahu, acuh. Chris mengembuskan napasnya kasar, berusaha untuk lebih bersabar menghadapi sikap Aidar yang keras kepala.
“Jangan sampai kau mendapat hukuman lagi, Aidar,” ucap Chris lagi.
“Aku tidak berulah, dan kau jangan asal menuduh jika tidak tahu yang sebenarnya,” ucap Aidar tidak terima.
“Lalu, apa yang kau lakukan? Aku tidak sengaja melihat Nona Briana keluar dari arah yang sama denganmu beberapa saat yang lalu,” ucap Chris.
“Aku hanya berusaha minta maaf padanya,” ucap Aidar, jujur.
“Aku harap kau memang benar-benar melakukannya,” ucap Chris.
“Terserah kau saja,” ucap Aidar acuh.
Aidar meneliti wajah Chris sejenak. Terlihat luka yang masih baru di salah satu pelipis Chris.
“Sebelum kau mengingatkanku tentang hukuman, lebih baik kau ingatkan dirimu terlebih dahulu untuk tidak mendapat hukuman,” ucap Aidar sebelum akhirnya dia mulai berjalan meninggalkan Chris yang masih memperhatikan kepergiannya.
Chris mendapatkan hukuman sesuai perkataan Brian, tidak lama setelah Aidar mendapatkan hukumannya. Luka yang Chris dapatkan tidak terlalu parah seperti yang didapatkan Aidar. Chris masih terlihat sehat dan baik-baik saja.
Aku harap kau tidak melakukan kesalahan lagi, batin Chris.
Sore tadi Briana tidak mengikuti latihan. Dia hanya berdiam diri di ruangannya sambil mengecek beberapa laporan perusahaan. Sampai tidak terasa malam pun mulai menjelang. Saat ini Briana tengah berjalan di sebuah lorong menuju pintu utama gedung kuno ini. Tidak sengaja dia melihat Lucas, Chris, Rey, dan Jack tengah berkumpul. Mereka sedang bersiap untuk melakukan patroli malam.
“Rey, malam ini kau bersamaku. Biar Lucas bersama Jack,” ucap Chris.
“Ah, baiklah,” ucap Rey. Lucas dan Jack hanya mengangguk, mengerti.
Di tengah pembicaraan mereka, kedatangan Briana mulai disadari oleh Rey. Rey langsung menundukkan kepala seraya menyapa Briana, yang membuat Chris, Lucas, dan Jack memutar tubuh menghadap ke arah Briana datang. Mereka pun langsung ikut menyapa Briana.
“Apa kabar, Nona?” tanya Rey.
“Baik. Aku harap kau pun begitu,” ucap Briana.
“Tentu saja, Nona,” jawab Rey.
“Saya senang bisa melihat Nona datang ke markas lagi,” ungkap Chris.
“Tentu, Chris,” ucap Briana.
Tiba-tiba Lucas menundukkan kepalanya, lalu diikuti oleh Rey, “Nona, maafkan saya karena lalai menjaga Nona saat patroli.”
“Iya, Nona. Saya juga minta maaf,” ucap Rey menimpali.
“Aku yang memutuskan untuk ikut bersama kalian, dan kejadian itu mungkin memang harus terjadi. Jadi, santailah!” ucap Briana.
“Sekali lagi kami minta maaf,” ucap Rey.
“Hm,” Briana mengangguk menanggapi permintaan maaf Lucas dan Rey.
Jack yang sedari tadi hanya menyimak percakapan, kini dia pun mulai ikut bicara, “Nona, saya juga minta maaf atas perbuatan saya tempo hari.”
Mendengar ucapan Jack, membuat Lucas ingin menimpali. Namun, sayangnya Chris langsung memberi peringatan pada Lucas agar tetap diam. Mereka cukup tahu jika Jack selalu enggan meminta maaf pada orang lain, terlebih pada wanita.
“Siapa namamu?” Briana langsung menatap Jack, tapi di mata mereka yang melihatnya, tatapan Briana tiba-tiba datar.
“Nona bisa memanggil saya Jack,” ucap Jack.
“Jack? Baiklah,” ucap Briana.
“Iya, Nona. Saya harap, Nona mau memaafkan kesalahan saya tempo hari,” ucap Jack terdengar sungguh-sungguh.
Briana tidak langsung menjawabnya. Namun, dahinya tiba-tiba mengernyit dalam, “Aku merasa heran. Kenapa semua orang berucap maaf padaku? Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak datang kemari?”
Dari ketidaktahuan Briana sekarang, akhirnya mereka berempat mulai mengerti, jika tidak ada keterbukaan diantara Briana dan Brian. Brian hanya seorang diri berusaha melindungi adiknya, tanpa sepengetahuan Briana sendiri. Mengerti akan situasi, mereka pun enggan mengatakan hal yang sebenarnya.
“Kami hanya menyesal, Nona,” ucap Lucas.
“Baik, sekarang tidak usah dibahas lagi,” ucap Briana yang membuat semua orang di sana mengangguk, “Jika boleh aku tahu, apa yang sedang kalian bicarakan?”
“Kami hanya sedang membagi tugas untuk patroli malam ini,” jelas Chris.
“Kalau begitu, boleh aku ikut?” pertanyaan Briana sedikit membuat mereka terkejut. Pasalnya mereka sekarang cukup waspada, jika saja Brian akan murka kembali jikalau terjadi sesuatu pada Briana.
“Mungkin lebih baik Nona berjaga di markas saja. Biar patroli, kami saja yang tangani,” ucap Chris.
“Iya, Chris benar, Nona. Jika terjadi sesuatu, kami pasti akan membutuhkan anggota yang berjaga di markas,” Jack menimpali.
“Tapi aku ingin ikut,” ucap Briana seolah tidak ingin dibantah.
“Tapi Nona…” ucapan Chris langsung dipotong oleh Briana.
“Ini perintah bukan permintaan, Chris,” ucap Briana.
Chris pun berusaha mengatur napasnya sebelum berkata, “Kalau begitu, Nona harus meminta izin tuan Brian terlebih dahulu.”
“Jadi alasannya Brian?” tanya Briana pada mereka dan dirinya sendiri.
Tidak ada yang berani menjawab. Mereka hanya diam, tapi kediaman mereka membuat Briana yakin jika ucapannya benar.
“Kalian tidak usah khawatir. Tentang Brian, aku yang akan tanggung jawab,” ucap Briana penuh keyakinan.
Mereka saling melirik setelah mendengar penuturan Briana. Lucas, Rey, dan Jack memberikan isyarat pada Chris jika keputusan mereka berikan padanya.
“Baiklah, Nona bisa ikut dengan saya dan juga Rey,” putus Chris.
Briana menyunggingkan salah satu sudut bibirnya, lalu mengangguk sejenak. Namun, tiba-tiba ada suara lain yang berseru membuat Briana mengalihkan pandangannya pada seseorang di belakangnya.
“Nona, boleh saya ikut?” tanya Alan yang entah datang dari sudut mana.
“Hm, terserah kau saja,” ucap Briana.
Alan menundukkan kepalanya seraya berkata, “Terima kasih, Nona.”
Setelah semuanya kesepakatan, mereka pun mulai memisahkan diri. Namun, saat mereka mulai berjalan, ada suara lagi yang membuat mereka harus menghentikan langkahnya.
“Tunggu!” serunya.
Mereka pun memutar tubuhnya dan melihat Aidar tengah berjalan mendekat, yang membuat semua orang bertanya-tanya.
“Aku ikut!” kalimat itu yang keluar dari mulut Aidar saat dia sudah berdiri di depan semua anggota yang akan memulai patroli.
“Kau bicara apa, Aidar?” tanya Chris, karena dia sangat tahu jika Aidar belum pulih sepenuhnya.
“Aku ikut patroli bersama kalian,” ucap Aidar lagi.
“Kau jangan bercanda. Lukamu belum sepenuhnya kering,” ucap Lucas.
“Untuk apa aku bercanda?” ucap Aidar dengan santainya, “Ayo kita pergi!”
Setelah mengatakannya, Aidar lebih dulu melangkah meninggalkan semua orang yang tengah kebingungan akan sikapnya. Bahkan Briana pun merasa aneh dengan Aidar sejak hari ini.
Dia bertingkah tidak berdaya tadi siang, tapi sekarang dia bertingkah seperti tidak terjadi sesuatu padanya. Hm, patut dicurigai! batin Briana.
Saat sampai di salah satu daerah, mereka pun memilih duduk di salah satu bangku taman dekat tiang lampu yang memancarkan cahaya yang temaram. Tempat itu tidaklah terlalu jauh dari tempat kejadian di mana Briana untuk kali pertama menolong orang dari kejahatan. Tempat itu cukup sepi, apalagi jika malam seperti sekarang, rawan digunakan untuk melancarkan aksi kejahatan.
“Kita ini lebih mirip anak muda tengah berkumpul dari pada patroli,” ucap Rey.
“Kau lupa jika di sini ada senior yang berlaga muda,” ucap Aidar.
“Ah, iya. Kau benar,” ucap Rey sambil tersenyum bodoh.
“Sialan kalian!” umpat Chris yang mengundang tawa mereka.
“Sayangnya tidak ada wanita yang lewat depan mata,” ucap Rey sebunyinya sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Memangnya jika ada wanita yang lewat, kau mau apa?” tanya Briana.
Semua orang yang ada di sana tengah menahan napasnya, karena ucapan Rey yang terkadang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu. Ditambah nada bicara Briana yang terkesan dingin, melebihi dinginnya malam ini yang tengah menyelimuti mereka.
“Aku akan memanggilnya. Siapa tahu wanita itu mau ikut berkumpul dengan kita,” ucap Rey yang belum sadar jika Briana yang menanggapi ucapannya sedari tadi.
“Lalu?” singkat Briana.
Rey, berhenti bicara yang tidak perlu! batin Chris, Aidar, Dan Alan.
“Kenapa mesti dipertanyakan lagi? Ya jelas saja… akh!” ucapan Rey berubah menjadi pekikkan, karena Briana menarik salah satu telinga Rey tanpa permisi.
“Jelas apa?” Briana menantang Rey yang kini tengah menyengir padanya sambil menahan rasa sakit di telinga yang kini mulai memanas.
“Ya-ya jelas saja kita akan lindungi. Bukan ‘kah tugas kita patroli untuk menciptakan keamanan?” ucap Rey sedikit terbata yang berusaha bersilat lidah mengelabui Briana.
Briana mengangguk santai, “Bagus!”
“Nona, tolong lepaskan!” Rey menyatukan kedua telapak tangannya sebagai tanda permohonan, kerena Briana masih menarik telinga Rey tanpa dosanya.
Chris, Aidar, dan Alan berusaha menahan tawa karena tingkah Rey yang mengundang kemarahan Briana dibalik sikap dinginnya. Briana masih menatap Rey tajam. Namun, akhirnya dia melepaskan telinga Rey yang sudah memerah.
“Nona, sakit!” keluh Rey sambil mengusap telinganya.
“Jangan banyak mengeluh! Bahkan sampai hari kau belum memenuhi permintaanku,” ucap Briana.
Rey tidak pernah lupa dengan hal itu. Namun, entah kenapa, Rey selalu ingin menghindar untuk bertarung dengan Briana. Padahal dia cukup yakin, jika dia mampu melawan Briana.
“Boleh saya meminta diskon untuk hal itu!” Rey dengan wajah polosnya membuat Briana ingin memukulnya.
“Kau pikir sedang berbelanja? Bahkan jika aku memiliki toko sendiri pun, aku tidak akan memberikan diskon itu padamu,” ucap Briana.
“Ayolah, Nona! Sebagai gantinya, saya akan melindungi Nona dengan seluruh jiwa dan raga,” ucap Rey dengan yakin.
“Seluruh jiwa dan raga siapa maksudmu?” tanya Briana.
“Seluruh jiwa dan raga mereka pastinya, karena mereka lebih unggul dariku,” ucap Rey sambil menunjuk Chris, Aidar, dan Alan.
Ketiga pria itu langsung memelototi Rey yang kini tengah menampilkan sederet giginya, yang membuat dia semakin terlihat tampan dengan bekas-bekas luka yang masih terlihat di wajahnya. Briana hanya mampu tersenyum sambil memijit pangkal hidungnya, mendapat tingkah ajaib yang belum pernah dia temui sebelumnya.