BAB 13
Briana berpapasan dengan Danis di pintu utama kediaman Nelson, saat dia hendak pergi ke markas untuk berebung sesuatu yang telah dia pikirkan semalaman. Namun, perhatian Briana sedikit teralihkan saat melihat bekas luka yang cukup samar di sudut bibir Danis.
Apa dia mendapat hukuman karena aku menolaknya untuk menjagaku? Batin Briana.
Briana pun melanjutkan langkahnya menuju mobil. Namun, sebuah suara yang cukup familiar menyapa pendengarannya.
“Silahkan, Nona!” ucapnya sambil membukakan pintu penumpang.
“Bella, kau kembali?” sapaan itu yang pertama kali keluar dari mulut Briana.
“Iya, Nona. Saya kembali,” ucap Bella sambil menampilkan senyum ramahnya.
“Aku senang melihat kau baik-baik saja,” ucap Briana.
“Terima kasih, Nona,” ucap Bella.
Briana pun masuk ke dalam mobil yang di mana Alan sudah bersiap di bagian kemudi. Disusul oleh Bella yang duduk di samping Alan. Mobil hitam itu pun mulai melaju meninggalkan pelataran rumah mewah dalam hitungan detik.
“Maaf, aku membuat kalian sulit,” ucap Briana.
Alan dan Bella saling melirik karena Briana tidak biasanya bersikap seperti ini, walau Briana memang tidak pernah bersikap kasar pada mereka. Hal ini menyadarkan mereka jika penilaiannya selama ini pada Briana tidak sepenuhnya benar. Seolah ada pribadi Briana yang tidak diketahui khalayak.
“Kami baik-baik saja. Nona tidak perlu khawatir,” jawab Bella.
“Aku akan mempertahankan kalian dari jangkauan Brian atau siapa pun,” ucap Briana.
“Terima kasih, Nona,” ucap Alan dan Bella bergantian.
Briana cukup sadar jika dia yang menjadi penyebab luka yang mereka alami. Bahkan dia sempat curiga dengan jawaban Aidar akan lukanya, dan sikap semua anggota Black Angels yang terasa janggal dalam benaknya.
***
“Aku ingin memperluas wilayah dan penggabungan kelompok, karena menurutku tidak cukup jika hanya disegani, tapi kelompok kita tidak cukup besar untuk itu,” ucap Briana.
Saat ini semua anggota Black Angels yang tidak melaukan patroli tengah berkumpul di aula markas.
“Saya rasa akan sulit, Nona. Mengingat bagaimana masa lalu kelompok ini yang dialih fungsikan,” ucap Chris.
“Sebagian banyak menolak karena tidak sesuai dengan prinsip dan keinginan mereka,” Aidar menambahkan.
“Kita belum mencobanya,” ucap Briana.
“Kami sudah mencobanya,” ucap Lucas.
“Kalau begitu, kita akan tawarkan kerja sama,” ucap Briana.
“Saya tidak bisa membayangkan jika mereka menerima tawaran itu,” ucap Rey.
“Bukan ‘kah setiap kelompok menginginkan keuntungan? Kita akan coba berikan, tapi dengan caraku. Tugas kalian hanya perlu mencari tahu apa yang menjadi kelemahannya,” ucap Briana.
“Masalahnya keuntungan yang mereka inginkan tidak jauh dari harta, tahta, dan wanita, Nona,” ucap Aidar.
“Mereka akan tetap memiliki tahtanya, tapi tahtaku dan kelompok kita akan kubuat jauh lebih tinggi dari mereka. Soal harta dan wanita, kita akan bermain dengan logika dan perasaan,” ucap Briana.
“Nona, saya mendapat respon positif dari masyarakat yang pernah ditolong. Mereka sangat berterima kasih atas dibentuknya kelompok ini. Namun, mereka sangat menyayangkan karena kelompok ini tidak begitu terlihat,” ucap Jack.
“Aku senang mendengarnya. Kita akan manfaatkan dukungan mereka untuk membuat kelompok kita semakin dipandang,” ucap Briana.
“Tapi sebagian masih memandang kelompok kita berbahaya karena identitas yang dulu belum sepenuhnya hilang,” ucap Chris.
“Kita akan sembunyikan itu secara perlahan, walau sebenarnya kita masih tetap sama dengan senjata yang kita miliki. Mereka cukup tahu jika kita hanyalah kelompok yang melindungi wanita dan anak-anak. Tidak lebih dari itu. Aku harap kalian bisa bekerja sama dengan baik,” ucap Briana.
Mereka merasa diri Briana lebih mengerikan dari aura Brian. Kelicikan yang terpancar dari cara Briana bicara membuat mereka cukup yakin jika kelompok mereka akan besar kembali seperti sebelumnya dengan jati diri yang berbeda.
Waktu demi waktu terlewati dengan penuh usaha tanpa lelah, bahkan penuh kesakitan. Usaha itu berbuahkan manis, meski belum sepenuhnya Black Angels yang menguasi kota Aberdeen. Pribadi Briana pun semakin berkembang. Otaknya yang cerdas terus terasah dan semakin kritis. Namun, dibalik semua itu seorang kakak tengah khawatir pada adiknya. Brian yang selalu takut jika Briana terluka, kini tergantikan oleh rasa takut jika adiknya menjadi tidak terkendali seperti dirinya.
“Apa kau tidak lelah?” tanya Brian sambil menghampiri Briana yang sedang duduk di sofa.
Briana tengah mengunjungi Brian di ruangannya. Perusahaan itu semakin maju di tangan Brian. Bahkan banyak para kolega yang menawarkan putri mereka untuk bersanding dengan Brian. Namun, Brian selalu menolak karena dia merasa terlalu muda untuk menjalin hubungan serius. Dia masih ingin fokus pada perusahaan keluarga, dan juga menjaga adiknya yang kini semakin membuat Brian ketakutan setiap harinya.
“Tidak terlalu. Sepertinya kau sibuk,” ucap Briana.
“Seperti yang kau lihat. Tumben sekali kau mengunjungiku di sini,” ucap Brian.
“Aku hanya ingin bilang jika aku akan mengundurkan diri dari jabatanku sebagai manajer perusahaan,” ucapan Briana sontak membuat Brian terkejut.
“Kenapa kau melakukan itu?” tanya Brian.
“Aku hanya ingin fokus pada kelompokku saja,” ucap Briana.
“Alasanmu tidak masuk akal, Briana. Aku tidak akan mengizinkannya,” ucap Brian dengan tegas.
“Ini keputusanku,” ucap Briana yang sama tidak mau kalah.
“Pewaris yang Ayah miliki itu bukan hanya aku, tapi kau juga. Sekarang kau menjadi manajer di sini guna Ayah dan aku melihat perkembanganmu, karena suatu hari nanti posisimu dan aku akan sama. Kau akan memimpin perusahaan Ayah yang lain. Aku membiarkanmu dengan Black Angles bukan berarti kau menjadi lepas tanggung jawab atas semua ini,” jelas Brian.
“Tapi Brian…” ucapan Briana langsung dipotong oleh Brian.
“Kau harus mengerti jika Ayah membutuhkan kita. Ayah tidak akan selamanya terus mengurus semua ini. Akan ada saatnya Ayah beristirahat dan menikmati masa tuanya. Aku memohon padamu sebagai seorang kakak dan anak tertua di keluarga Nelson,” Brian menatap Briana dengan seksama. Mereka saling diam dalam pikiran masing-masing. Hingga akhirnya sebuah jawaban membuat keduanya saling bertukar senyum.
“Baiklah. Demi Ayah,” ucap Briana.
“Ya, demi Ayah,” ucap Brian.
Tiba-tiba Briana mengingat sesuatu yang belum sempat dia tanyakan pada Brian, “Brian, aku tahu kau selalu khawatir padaku, tapi kenapa kau sampai memasang alat itu di mobilku?”
“Apa maksudmu?” dahi Brian mengernyit dalam.
“Kau memasang alat yang sangat mengganggu ranah pribadiku, dan itu terpasang di dalam mobil secara tersembunyi. Aku sudah menghancurkannya hingga melebur,” ucap Briana yang mulai kesal mengingat hal itu kembali.
“Aku tidak pernah memasang apa pun di mobilmu,” jawab Brian dengan polos.
“Ya, kau memang tidak, tapi Danis yang memasang alat itu atas perintahmu,” ucap Briana.
“Aku tidak pernah memerintahkan Danis seperti yang kau maksudkan. Aku hanya memerintahkannya untuk menjagamu, tapi kau menolaknya,” jelas Brian.
“Lalu, kenapa Alan bilang jika Danis yang melakukannya atas perintahmu?” tanya Briana.
Mereka saling terdiam dalam kejanggalan yang tiba-tiba saja membuat mereka berpikir. Mereka pun mulai saling menatap penuh curiga.
“Sepertinya ada pengkhiatan,” desis Briana.
“Aku akan menghabisinya jika sampai itu benar,” ucap Brian penuh penekanan.
Diam-diam, mereka membagi tugas, lalu bersikap seolah tidak ada sesuatu yang penting diantara mereka. Cukup lama Briana berdiam diri di ruangan Brian, sampai akhirnya Brian harus meninggalkan ruangannya bersama Danis karena ada rapat yang sudah terjadwal sebelumnya.
“Jaga diri baik-baik,” ucap Brian, lalu mengecup kening Briana.
“Kau juga,” ucap Briana.
Mereka pun berpisah dengan tujuan yang berbeda. Semua pasang mata menatap takjub pada dua pesona pewaris Nelson. Aura yang terpancar begitu kuat. Tatapan mereka sama tajamnya. Berjalan dengan penuh percaya diri seolah siapa pun tidak bisa menyentuh mereka.
Seperti biasa, Briana menyempatkan diri datang ke markas meski kini sudah menunjukan pukul sembilan malam. Namun, saat dia tengah berkumpul dengan Chris, Aidar, Lucas, dan Rey, tiba-tiba salah seorang anggota datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa. Dia melaporkan jika maskasnya kedatangan tamu tak diundang.
“Kami masih berusaha menahan mereka di area luar gerbang, Nona,” ucapnya.
“Apa kau tahu siapa mereka?” tanya Aidar.
“Beberapa saya tahu siapa mereka, mereka mantan anggota kelompok ini yang dulu menantang Tuan Brian,” ucapnya.
“Apa mereka membawa senjata?” tanya Chris.
“Sebagian membawa balok kayu,” terangnya.
“Baiklah. Ayo semuanya bersiap!” seru Briana.
Namun, pergerakan mereka terhenti saat anggota itu melanjutkan ucapannya, “Terjadi kekerasan dan penculikan di tiga daerah. Salah satunya di daerah yang sekarang Jack tangani. Dia mengirim sinyal meminta bantuan untuk dua daerah yang saat ini tengah kacau, sekitar sepuluh menit yang lalu.”
Mereka semua terdiam, seolang mengenang masa di mana mereka tengah berjuang mempertahankan prinsip baru mereka dengan sisa anggota. Chris, Aidar, Lucas, dan Rey, saling menatap satu sama lain. Briana cukup tahu perasaan mereka. Seolah memberikan harapan Briana menyakinkan mereka dengan tatapannya yang membara.
“Mari kita selesaikan! Pilihannya hanya dua. Mereka tunduk pada kita atau mati,” ucap Briana.
Mereka semua mengangguk dengan yakin. Lalu, mulai berjalan pada titik-titik formasi yang telah ditentukan. Lucas, Rey, dan dua puluh anggota lain pergi ke tempat yang diarahkan oleh Jack. Sedangkan Chris dan Aidar membantu Briana mempertahankan markas mereka.
Jumlah yang datang tidaklah sedikit. Mereka mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan para musuh yang begitu brutal. Ada yang berjaga di bagian kawasan dalam, ada yang menuju gerbang, dan ada yang berpencar ke titik-titik yang ada kemungkinan penyusup masuk. Mereka berusaha menahan musuh di luar agar tidak memasuki kawasan gedung kuno. Jarak dari gerbang depan ke markas sekitar kurang lebih tiga ratus meter.
“Kita harus bisa mempertahankan milik kita lagi!” ucap Chris yang menggebu-gebu.
“Tentu saja. Aku tidak akan membiarkannya,” ucap Aidar dengan penuh penekanan.
Kabar penyerangan ini langsung diketahui oleh Brian, karena Chris mengirimkan pesan singkat sebelum akhirnya dia pun ikut mengambil posisinya.
“Sial!” Brian bergegas menuju markas dengan emosinya yang sudah membludak.
Kawan dan lawan, sedikit tidak bisa dibedakan, karena kekacauan ini menganggu penglihatan dan juga pendengaran mereka. Ditambah malam yang gelap tanpa penerangan yang cukup. Briana berusaha mempertahankan diri dengan terus melukai lawan yang tiada henti menyerangnya.
Tanpa disadari siapa pun, ada seseorang tengah mengacungkan senjata api ke arah sasarannya. Senyum sarkasnya pun kian menguar dibalik kacaunya area. Dan di sisi lain ada yang tengah bergulat demi menyelamatkan seseorang dari sebuah tembakan.
Aidar menyadari akan sebuah kejanggalan dan dia berusaha berlari ke arah Briana. Di detik kemudian suara itu menggelegar membuat semua yang ada di sana terpaku sejenak. Darah mengalir di lengan Briana dan Aidar, yang kini posisinya Aidar tengah memeluk Briana. Hal itu membuat reaksi seluruh anggota Black Angles semakin murka, bahkan sulit lagi dihentikan. Bahkan sorot mata Brian sudah mengikrarkan bahwa kematian untuk mereka.
“Alan!” desis Brian saat dia menemukan Alan tengah memegang senjata api yang mengarah ke Briana dan juga Aidar.
Namun, di sisi lain Briana dan Aidar melihat hal yang berbeda dengan apa yang dilihat Brian.
“Danis!” cicit Briana.
Sepertinya Chris benar. Ada yang tidak beres dengannya. Batin Aidar.