BAB 14
Malam yang sangat mencekam itu telah berakhir. Itu adalah malam terpanjang yang penuh dengan berbagai rasa menyelimuti hati Briana. Bahkan tubuhnya pun mendapatkan beberapa hiasan berupa goresan yang sangatlah tidak indah untuk dipandang.
Penyerangan malam itu menelan banyak korban. Sebagian besar anggota Black Angels mengalami luka dari yang ringan hingga berat. Jangan tanyakan bagaimana keadaan musuh, karena sudah dipastikan tidak ada yang selamat bagi mereka yang masih saja berkepala batu.
Tiga daerah yang mengalami kerusuhan pun kini mulai normal, karena anggota yang selamat langsung membantu penanggulangan di daerah tersebut. Mulai dari kerusakan properti hingga membantu para korban mendapatkan pertolongan medis.
Sayangnya, suasana mencekam itu belum berakhir bagi Brian dan juga Briana. Mereka tengah berseteru atas kebenaran yang masih samar.
“Briana, kau jangan menghalangiku! Aku harus memberi Alan hukuman atas pengkhiatannya padamu,” teriak Brian yang saat ini tengah murka di ruang kerja kediaman Nelson.
Ini bukan kali pertama Briana berusaha menghentikan Brian akan tindakannya setelah malam itu. Brian terus memburu Alan tanpa henti, sampai Alan begitu pasrah mendapat perlakuan buruk dari Brian.
“Brian, cukup! Alan tidak bersalah!” ucap Briana berusaha meyakinkan Brian yang kini semakin gelap mata.
“Aku melihat bagaimana dia berusaha melenyapkanmu malam itu, dan sekarang kau malah membelanya mati-matian?” ucap Brian penuh dengan emosi.
“Aku yakin kau salah, mungkin dia ingin menyelamatkanku waktu itu, tapi kau melihatnya berbeda,” Briana masih berusaha untuk meluluhkan Brian.
“Satu buah peluru langsung melukai dua sasaran? Itu sungguh menakjubkan dari sebuah penyelamatan,” cibir Brian.
“Aku melihat orang lain yang memegang senjata api selain Alan,” ucap Briana yang membuat Brian langsung menatapnya tajam.
“Siapa?” tanya Brian.
“Danis,” ucap Briana.
“Lelucon macam apa ini?” ucap Brian dengan segenap ketidakpercayaannya.
“Fakta!” ucap Briana.
“Kau jangan menuduh orang kepercayaanku demi pengawal pribadimu yang tidak berguna itu!” teriak Brian.
“Aku tidak!” ucap Briana penuh penekanan.
“Lebih baik kau menyingkir dan buka pintu itu, sebelum aku menghancurkannya,” ucap Brian seolah tidak ingin dibantah.
“Aku tidak akan menyingkir jika kau masih seperti ini. Kalau kau tetap bersikukuh, lawan aku!” ucap Briana yang sama keras kepalanya.
Entah apa yang menguasai Brian, sampai dia benar-benar melawan Briana. Seolah lupa dia selalu berkoar ingin selalu melindungi adiknya, kini mereka malah mengadu kekuatannya di ruangan tertutup. Briana masih berusaha menahan dan menghindar dari serangan Brian yang mulai tidak terkendali.
“Akh!” pekik Briana.
Luka tembakan di lengan kirinya terbuka lagi akibat sebuah dorongan dari Brian hingga membentur sisi meja. Kini luka itu mengeluarkan cairan merah yang menembus lilitan perban.
“Briana…” lirih Brian saat dia begitu terkejut atas apa yang telah dia lakukan pada adik kesayangannya.
Briana pun segera bangun untuk antisipasi jika Brian melakukan serangan dadakan saat dia lengah, “Tenanglah! Aku baik-baik saja. Jika emosimu masih belum surut, kau bisa lakukan lagi sampai kau puas.”
“Tidak. Briana, maafkan aku!” emosi Brian mulai menurun melihat Briana terluka karena kebodohannya.
“Kau tidak perlu minta maaf. Aku hanya tidak ingin kau melukai orang yang belum terbukti jika dia bersalah. Kau terus emosi setiap saat, seolah kau tak pernah lelah,” ucap Briana.
“Tapi aku…” ucapan Brian pun menggantung karena Briana memotongnya.
“Aku tahu kau melihatnya, tapi apakah kau bisa pastikan jika peluru itu dari senjata yang Alan pegang?” tanya Briana sambil berusaha mendekati Brian yang kini mulai duduk di sofa.
Brian pun hanya diam, mencerna apa yang dia ketahui. Briana tetap dalam keadaan waspada, jika Brian tiba-tiba tidak kerkendali lagi.
“Kita akan cari tahu dulu siapa yang benar-benar berkhianat,” ucap Briana yang langsung disetujui oleh Brian.
“Tentu.”
“Kalau begitu, boleh aku meminta Alan dibebaskan!” tanya Briana dengan hati-hati.
Brian langsung menolaknya mentah-mentah, “Tidak! Sebelum semuanya terungkap, aku tidak mau dia berkeliaran di sekitarmu.”
“Baiklah, tapi berjanjilah padaku jika kau tidak akan menjatuhi hukuman lagi padanya sebelum semuanya jelas,” pinta Briana.
Brian menatap Briana yang masih berdiri dengan tajam. Tangan Brian meraih pergelangan tangan Briana, memintanya untuk duduk di samping Brian, sebelum akhirnya Brian pun berkata, “Aku janji!”
Briana pun tersenyum mendengar ucapan Brian. Setidaknya masih ada kesempatan untuk mencari kebenaran. Di detik kemudian, Brian mendekap Briana dengan erat. Hatinya melembut kembali.
“Maafkan aku karena melukaimu. Jika aku melanggar lagi, kau boleh membunuhku,” ucap Brian dengan sungguh-sungguh.
“Tentu,” Briana membalas pelukan itu dengan kemurahan hatinya.
***
Keadaan markas pun telah kembali seperti semula. Namun, Briana masih tetap termenung dalam pikirannya yang berkecamuk. Angin sore di atap gedung, berhembus menerpa rambut yang sengaja digerainya, dan itu tidak cukup membuat kegundahan hati Briana menyurut.
“Apa boleh saya bergabung? Saya harap Nona tidak keberatan,” ucap Aidar yang kini tengah berjalan ke sisi tembok, di mana Briana tengah berdiri menatap panorama alam.
Briana mulai terbiasa mendengar suara Aidar. Jadi, dia hanya menjawab tanpa mau mengalihkan pandangannya, “Hm, tentu.”
Dua orang itu hanya saling diam sambil menikmati cuaca sore yang cukup cerah. Aidar membatalkan latihannya dan memilih menghampiri Briana. Tidak ada yang tahu apa yang Aidar lakukan, karena dia hanya membuat alasan jika ada hal penting yang harus diselesaikan.
“Apa luka Nona sudah membaik?” pertanyaan Aidar memecah keheningan di antara mereka berdua.
“Aku tidak tahu,” lirih Briana.
Aidar memalingkan pandangannya untuk menatap Briana. Meski raut wajah Briana tidak memperlihatkan ekspresi apa pun. Namun, saat mendengar suaranya yang lirih membuat dahi Aidar mengernyit. Ini bukanlah Briana yang dia tahu.
“Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak suka,” Briana memperingatkan Aidar yang menatapnya terlalu lama.
“Ah, maaf, Nona,” lirih Aidar sambil memalingkan lagi wajahnya ke arah depan.
“Bagaimana dengan lukamu?” tanya Briana.
“Ini tidak terlalu berarti,” ucap Aidar santai, padahal luka lengan kirinya lebih parah dari Briana.
“Terima kasih sudah berusaha menolongku,” ucap Briana.
Lagi, Aidar berusaha menatap Briana. Dia merasa sikap Briana sedikit aneh. Kata terima kasih begitu asing di telinga Aidar jika yang mengucapkannya Briana. Dia merasa kata itu tidak cocok untuk diucapkan Briana, apalagi setelah melihat aksinya malam itu. Terus melukai dan anggota lain yang melenyapkan. Tanpa Aidar sadari, dia mengulangi kesalahannya.
“Aku sudah bilang, jangan menatapku seperti itu! Jika kau mengulanginya sekali lagi, aku akan benar-benar membiarkanmu terjatuh dari ketinggian,” ucap Briana.
Aidar pun memalingkan lagi wajahnya, “Sama-sama, Nona. Hanya saja pertolongan saya tidak begitu berarti karena Nona tetap terluka.”
Mereka pun saling diam kembali. Cukup lama.
“Aidar!” panggil Briana.
“Iya, Nona,” ucap Aidar.
“Apa kau melihat siapa yang menembak kita waktu itu?” Briana memutar tubuhnya untuk menghadap Aidar.
“Saya tidak begitu yakin,” ucap Aidar.
“Menurutmu siapa?” nada bicara Briana mulai berubah seperti biasanya.
Merasa percakapan ini cukup penting, Aidar pun mulai menatap Briana dengan tatapan serius, “Saya melihat Danis berusaha menyembunyikan senjata api setelah suara tembakan itu terdengar dengan raut wajah yang cukup mencurigakan, tapi saya juga melihat Alan tengah mengacungkan senjata api ke arah kita. Jadi saya tidak bisa memastikan dari senjata mana peluru itu melesat,” jelas Aidar.
“Aku dan Brian melihat hal yang berbeda, dan kau melihat dari sisi keduanya. Aku tidak yakin jika Alan mengkhianatiku,” ungkap Briana.
“Orang baik yang kita percaya bisa saja mengkhianati kita. Apalagi saat mereka gelap mata. Tidak menutup kemungkinan jika dia bisa melakukan sesuatu yang tidak pernah kita duga,” ucap Aidar.
“Jadi kau setuju dengan Brian jika Alan mengkhianatiku?” tanya Briana dengan dahinya yang mengernyit.
“Saya tidak bermaksud seperti itu, karena Danis pun orang kepercayaan Tuan Brian. Mereka berdua mendapat kepercayaan dari Nona dan Tuan,” jelas Aidar.
“Ya, kau benar,” Briana berusaha berpikir keras memecahkan masalah yang belum terlihat hasilnya, “Aidar, apa kau bisa membantuku?”
“Tentu. Apa yang Nona butuhkan dari Saya?” tanya Aidar.
***
Setelah bertukar informasi dan mengatur strategi, Briana dan Aidar mulai menjalankan misi keesokan harinya. Briana sudah memastikan jika Brian akan sangat sibuk dengan segala urusan perusahaan. Dia dan Aidar pun berusaha mencari keberadaan Alan, karena tanpa sepengetahuannya, Brian memindahkan Alan dari gedung yang biasa digunakan untuk menghukum seseorang ke gedung yang berada tidak jauh dari gedung utama di kawasan markas. Gedung ini selalu kosong dan tidak pernah dipakai sebelumnya.
“Jika dia ada di gedung ini, kenapa kita harus repot-repot kembali ke kediaman Nelson,” Briana menggerutu pada dirinya sendiri dan itu masih bisa didengar oleh Aidar.
Aidar berusaha mengelabui pengawal Brian yang tengah berjaga di salah satu lorong di mana di salah satu ruangan yang berjejer ada Alan di dalamnya. Dengan hati-hati, Briana berusaha melangkah tanpa suara. Dia pun mempertajam pendengarannya untuk bisa memastikan jika di dalam ruangan itu ada penghuninya. Tidak sengaja dia mendengar suara rintihan dari dalam ruangan yang pintunya terkunci rapat.
“Alan, kau mendengarku?” lirih Briana yang membuat penghuni di dalamnya terkejut.
“Alan, bicaralah!” tanya Briana sekali lagi.
“Saya di dalam, Nona, tapi Nona tidak perlu kemari. Saya mohon pergilah!” ucapan Alan terdengar lirih dan juga pilu.
Briana tidak mengidahkan perkataan Alan. Dia hanya berfokus untuk membuka kunci yang dia dapatkan dari rampasan Aidar, dan pintu itu berhasil terbuka. Briana pun masuk dan menutup pintu itu lagi dengan sangat hati-hati. Dia melihat Alan begitu mengenaskan dengan kemeja putihnya yang lusuh dan basah.
“Nona, pergilah! Nanti Tuan Brian marah. Saya mendengar Nona terluka karena Tuan Brian,” ucap Alan dengan raut wajahnya yang begitu cemas.
“Brian hanya terlalu marah dan aku baik-baik saja,” ucap Briana berusaha menenangkan Alan.
“Tapi Nona...” ucapan Alan terpotong.
“Stt, sudah. Sekarang tolong katakan padaku, kenapa kau melakukannya? Apa kau memiliki dendam padaku?” tanya Briana.
Alan yang langsung mengerti arah pembicaraan pun langsung menjawab, “Saya tidak pernah memiliki dendam pada Nona. Saya tidak pernah memiliki niat sedikit pun untuk berkhianat pada Nona. Saya hanya berusaha melindungi Tuan Brian saat itu, karena saya melihat ada musuh yang telah bersiap dengan senjata apinya. Namun, entah kenapa semua itu bisa terjadi. Saya minta maaf, Nona. Saya minta maaf.”
Tangis Alan begitu pilu. Briana cukup bisa merasakan jika apa yang diucapkan Alan terdengar tulus.
pantas saja Brian bersikukuh menghukum Alan. Ternyata pernyataan yang Alan berikan seperti ini. Batin Briana.
Saat Briana berusaha mencerna perkataan Alan, tiba-tiba saja pintu ruangan itu terbuka membuat Briana dan juga Alan panik seketika.
“Astaga, Aidar! Kau benar-benar,” desis Briana saat tahu jika Aidar yang datang.
“Apa?” ucap Aidar dengan polosnya.
Briana tidak menanggapi Aidar lagi, dia berfokus pada Alan yang kini tengah menundukkan kepalanya.
“Ah, iya. Apa kau masih memiliki senjata itu?” tanya Briana pada Alan.
“Senjata itu hilang saat saya menjatuhkannya di tempat kejadian ketika melihat Tuan Brian begitu marah,” ucap Alan.
“Ah, sial!” umpat Briana.
Setelah percakapannya dengan Alan selesai, Briana dan Aidar langsung pergi, dan meminta alan untuk tidak memberitahukan apa pun pada siapa pun. Mereka bisa kembali ke markas tanpa satu orang pun curiga.
“Aidar, apa kau masih memiliki peluru itu?”
Saat ini Briana dan Aidar tengah di atap gedung markas.
“Saya sengaja menyimpannya, Nona,” ucap Aidar.
“Bagus, nanti malam kita akan cari siapa pemiliknya,” ucap Briana yang langsung disetujui oleh Aidar.
Malam menjelang, tapi sayang Briana harus membatalkan janjinya pada Aidar, karena Brian meminta Briana untuk makan malam bersama. Saat Briana sampai di kediaman, dia melihat Tuan Nelson tengah menyambutnya dengan sebuah senyuman.
“Putri Ayah sibuk sekali,” sapa Tuan Nelson saat Briana menghampiri, lalu Briana memberikan sebuah kecupan singkat di pipi Tuan Nelson.
“Ayah pun selalu sibuk,” ucap Briana.
“Maaf. Ayo kita makan malam!” ajak Tuan Nelson sambil merangkul putri kesayangannya.
“Di mana Brian?” tanya Briana.
Tuan Nelson hanya menggunakan dagunya untuk menunjuk seseorang yang tengah turun dari lantai dua. Mereka pun makan malam dengan khidmat sampai selesai. Semua orang pergi ke kamar masing-masing setelah perbincangan ringan keluarga harmonis.
Saat tengah malam, Briana keluar dari kamarnya menuju dapur untuk mengambil air minum karena air minum di kamarnya sudah habis. Dia belum bisa memejamkan matanya karena pikiran itu masih saja mengganggu. Tidak sengaja dia mendengar sebuah suara yang cukup dikenalnya. Dia pun mengumping diam-diam.
“Maaf, Tuan. Saya gagal melakukannya, tapi tenang saja saya berhasil membuat kesayangannya terluka,” ucapnya melalui sambungan telepon.
“....”
“Posisi saya saat ini aman, saya mendapat kambing hitam yang pas untuk menggantikan saya,” ucapnya.
Briana begitu ingin melenyapkannya sekarang juga, tapi dia menunggu waktu yang tepat agar semua ada di bawah kendalinya, “Sialan!”