BAB 15
“Malam ini kau menginap?” Briana menghampirinya seolah tidak tahu apa-apa.
Danis sedikit terkejut mendapati Briana tiba-tiba muncul di sekitarnya. Namun, dia berusaha untuk tenang kembali dan menyapa Briana dengan baik dan sopan. Untung saja sambungan teleponnya sudah berakhir.
“Kebetulan ada pekerjaan yang belum selesai. Kenapa Nona belum tidur?” tanya Danis.
“Aku hanya sedang tidak bisa tidur. Perasaanku tidak enak. Apa kau tahu apa penyebabnya?” tanya Briana.
“Maaf, Nona. Saya kurang tahu,” ucap Danis.
“Ah, ya. Kau pasti tidak tahu. Bodoh sekali aku menanyakan hal ini pada orang penting sepertimu. Maaf, ya,” ucap Briana penuh penekanan.
“Iya, Nona. Tidak apa-apa,” ucap Danis yang seolah tengah mengolok Briana.
Briana menahan gejolak emosinya melihat Danis begitu menjengkelkan. Bahkan dia setuju jika Briana bodoh. Sialan!
Briana melihat ponsel di tangan Danis, lalu dia berinisiatif mengambil dengan paksa ponsel itu. Danis terkejut atas tindakan tiba-tiba Briana padanya.
“Maaf, Nona. Tolong kembalikan ponsel saya!” pinta Danis.
Seolah Briana tidak mendengar, dia hanya meneliti setiap inci ponsel Danis, “Sepertinya ponselmu baru, terlihat sangat bagus. Aku suka.”
“Nona, saya meminta ponsel saya kembali, tolong!” jantung Danis berdegup cukup kencang, pasalnya dia cukup takut jika Briana melihat isi ponselnya yang memang tidak pernah dia kunci.
“Apa boleh ponselmu untukku? Aku bisa menggantinya dengan ponsel apa pun yang kau mau, atau kau menginginkan ponsel keluaran terbaru bulan ini? Aku pernah melihatnya, itu sangat mengesankan,” Briana memasang wajah polosnya seolah tidak berdosa.
“Tidak perlu, Nona. Ponsel itu pun sudah cukup bagi saya,” ucap Danis yang semakin cemas saat Briana mulai membukanya.
“Nona, saya mohon! Kembalikan ponsel saya,” ucap Danis yang berusaha meraih ponsel itu, tapi Briana terus menghindar dengan senyum sarkasnya.
“Ayolah Danis! Sepenting apa ponselmu ini sampai kau menolak ponsel tawaranku?” nada bicara Briana mulai kembali menjengkelkan.
“Itu sangat penting. Banyak jadwal Tuan Brian di sana. Saya tidak bisa kehilangannya,” ucap Danis.
Raut cemas Danis semakin menjadi saat ponsel di tangan Briana bergetar. Briana melihat nomor tanpa nama tertera di layar ponsel Danis. Saat Briana lengah, Danis langsung merebut ponsel itu.
“Maaf, Nona. Saya harus menerima teleponnya,” ucap Danis sambil berjalan sedikit menjauh dari Briana.
Briana terus menatap tajam Danis, seolah tatapannya cukup melenyapkan satu nyawa. Danis selesai dengan panggilannya. Saat dia berbalik, dia melihat Briana masih berdiri di tempatnya dengan tatapan yang sering dia perlihatkan pada siapa pun.
Hah! Kau menjengkelkan! Andai saja aku bisa melenyapkanmu. Sayangnya, Tuan melarangku melakukan itu. Batin Danis.
Danis menemui Briana lagi sambil memberikan salam hormat padanya, “Nona, masih di sini?”
“Kenapa? Apa kau tidak suka?” tanya Briana.
“Bagaimana saya tidak suka, jika kediaman ini milik Nona. Kalau boleh saya sarankan, Nona, segeralah tidur karena ini sudah larut,” ucap Danis berbasa-basi.
“Ya, terserah kau saja. Selamat istirahat!” ucap Briana yang mengerti maksud Danis.
“Selamat istirahat Nona!” ucap Danis.
“Aku harap, aku tidak mengalami mimpi buruk malam ini. Aku sungguh lelah,” ucap Briana dengan santai, lalu dia memutar tubuhnya, melangkah menjauhi Danis yang kini tengah tersenyum sarkas.
“Sayangnya, mimpi buruk itu akan selalu datang untuk kalian,” cicit Danis, sebelum akhirnya dia pun pergi meninggalkan tempat yang sudah sangat sepi itu.
Tanpa mereka berdua sadari masih ada pasang mata yang memperhatikan mereka. Kini dia tengah ingin memburu seseorang, bahkan mungkin menghancurkan seluruh pengkhianat yang berani melawannya.
Sebuah ponsel kini dia genggam. Matanya yang nyalang tidak bisa dia sembunyikan lagi. Dering pertama langsung bersambut, menyambungkan telepon yang membuat mereka bertukar informasi.
“Halo!” sapa seseorang lebih dulu dari seberang telepon.
“Aku memiliki tugas untukmu!” perintahnya yang membuat lawan bicaranya langsung terkesiap.
***
Briana tidak berniat tidur malam ini. Bahkan dia begitu sibuk mengotak-atik laptop dan juga berkas. Dia berusaha melakukannya dengan cepat, berjaga jika saja Brian atau Tuan Nelson terbangun tiba-tiba di tengah malam yang hampir dini hari ini.
Brian, di mana kau menyimpan berkasnya? Batin Briana.
Briana begitu fokus sampai langkah kaki seseorang tidak didengar, yang kini tengah berusaha membuka pintu ruang kerja.
Ceklek!
Suara itu akhirnya mengalihkan perhatian Briana. Bahkan dia mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang. Napasnya berhenti sejenak dengan perasaan cemas.
“Kau belum tidur?” tanyanya.
“Ayah! Kenapa Ayah kemari?” tanya Briana yang berusaha menyembunyikan raut wajahnya yang sempat terkejut.
Tuan Nelson berjalan mendekati putrinya, “Ayah membutuhkan sesuatu untuk pekerjaan. Kebetulan Brian yang menyimpannya.”
“Ah, begitu. Apa Ayah mau aku membantu mencarikannya?” tawar Briana.
“Tentu,” ucap Tuan Nelson sambil menyebutkan apa yang saat ini dia butuhkan.
Briana mendengar instruksi yang Tuan Nelson berikan. Tidak membutuhkan waktu lama, Briana pun mendapatkan apa yang Tuan Nelson maksud.
“Terima kasih,” ucap Tuan Nelson seraya menerima berkas itu dari tangan Briana.
“Sama-sama, Ayah,” ucap Briana.
“Jangan terlalu lama di sini! Segera tidur! Bahkan ini sudah terlalu larut untukmu,” ucap Tuan Nelson.
“Iya, Ayah,” ucap Briana.
“Jika urusanmu sudah selesai, segera kembali ke kamar. Ayah tinggal!” Tuan Nelson mengecup puncak kepala Briana sebelum akhirnya dia keluar dari ruangan itu.
“Ya, aku harap, aku segera mendapatkannya,” ucap Briana yang melanjutkan lagi pekerjaannya.
Waktu menjelang pagi dan Briana benar-benar tidak memejamkan mata semalaman. Bahkan kini matanya begitu terlihat lelah. Dia ingin menyelesaikan semuanya dengan cepat. Jika data itu belum dia dapatkan secara lengkap hari ini, Briana cukup tahu apa konsekuensinya. Pergerakannya harus bisa lebih cepat dari musuh.
Kenapa data dirinya banyak sekali? Apa dia sudah terbiasa memalsukan identitas? Ck, Brian! kau membuatku kesulitan, batin Briana.
Briana sudah ada di dalam kamarnya sejak pukul empat pagi. Dia tidak ingin ada yang tahu tentang apa yang dia lakukan. Dia masih mengingat nomor penelepon Danis, tapi dia tidak cukup mahir melacak siapa pemilik nomor ponsel tersebut.
“Siapa yang bisa aku mintai tolong soal ini?” cicit Briana.
Saat Briana tengah bingung dengan segala pikirannya, tiba-tiba ponsel miliknya berdering dan menampilkan nomor tidak dikenal di sana.
Nomor siapa ini? Batin Briana.
Dengan ragu, Briana akhirnya mengangkat telepon itu di dering kedua.
“Halo! Selamat pagi, Nona!” sapa orang itu lebih dulu.
“Siapa ini?” tanya Briana.
“Saya Aidar, Nona. Saya mendapatkan nomor ponsel Nona dari Alan,” jelas Aidar.
“Alan? Apa kau menyusup lagi ke gedung itu?” dahi Briana mengernyit.
“Saya mendapat kabar dari Chris, jika Tuan Brian membebaskan Alan beberapa jam yang lalu, dan para pengawal mengantar Alan ke markas. Sekarang dia tengah istirahat setelah mendapatkan perawatan,” jelas Aidar.
“Kalau begitu, kenapa kita harus repot menyusup kemarin?” keluh Briana dan Aidar hanya diam sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat, “Ah, baiklah. Sekarang ada apa kau meneleponku?”
“Begini, Nona. Saya sudah mendapatkan informasi tentang pemilik selongsong peluru itu. Maaf, jika saya melakukannya tanpa sepengetahuan Nona,” ucap Aidar.
“Baiklah, tidak masalah. Lalu, siapa pemiliknya?” tanya Briana.
Saat Briana tengah antusias dengan informasi yang Aidar berikan, tiba-tiba sebuah ketukan membuat Briana harus menjeda percakapannya.
“Briana! Apa kau belum bangun? Ayah sudah menunggu untuk sarapan,” teriak Brian dari luar kamar.
“Baik, Brian. Aku akan segera turun!” teriak Briana.
“Cepatlah!” teriak Brian lagi sebelum akhirnya dia pun meninggalkan kamar Briana menuju lantai bawah.
Briana beralih pada ponselnya lagi yang masih tersambung dengan Aidar.
“Aidar, aku akan segera ke markas. Kita lanjutkan pembicaraannya di sana,” ucap Briana.
“Baik, Nona,” ucap Aidar.
Sambungan telepon itu pun berakhir. Dengan segera, Briana pun keluar dari kamarnya menuju meja makan. Mereka pun memulai sarannya saat Briana sudah tiba. Tidak ada pembicaraan di sana, karena Tuan Nelson harus segera meninggalkan kediamannya karena ada pertemuan bisnis di salah satu kota yang tidak jauh dari Aberdeen.
Brian pun langsung pergi karena ada rapat pagi ini dengan para karyawannya untuk laporan akhir bulan. Sebenarnya, Briana juga harus ikut andil soal ini, tapi dia lebih dulu memberikan data pada Brian, dengan alasan ada hal yang harus dia urus, dan itu sempat mengundang tanya bagi Brian. Namun, Brian tidak terlalu mempermasalahkannya karena data yang Briana berikan cukup membuat Brian puas.
“Bagaimana?” tanya Briana saat melihat Aidar datang menyusulnya di atap gedung markas.
“Peluru itu memiliki lisensi dan bukan orang sembarang yang memilikinya,” jawab Aidar.
Briana memfokuskan setiap penjelasan Aidar, sampai air wajah Briana menggelap. Amarah yang selama ini berusaha dia tahan, kali ini tidaklah terbendung. Bahkan Aidar yang melihatnya pun merasa ketakutan.
“Sialan!” umpat Briana.
Di tempat lain, Brian tengah membereskan seluruh pekerjaannya. Namun, ada notifikasi pesan yang dikirimkan Chris. Itu sebuah rekaman video.
“Beraninya kau, Danis!” teriak Brian sambil menggebrak meja kerja di hadapannya dengan keras.
Di dalam markas yang awalnya sepi tiba-tiba menjadi riuh, karena Chris membawa Danis dengan paksa saat setelah Danis bertemu dengan tuannya. Semua anggota berdatangan, lalu berkumpul di aula. Desas-desus semakin menjadi, karena mereka cukup tahu siapa Danis. Mereka semua bertanya tentang masalah apa yang sedang dihadapi oleh Danis dan juga Chris, di mana mereka adalah sama-sama orang kepercayaan Brian.
“Pantas, aku sulit percaya padamu, tapi aku akui kau hebat bisa bersembunyi dibalik identitas barumu,” ucap Chris.
“Kau akan rugi jika terus-menerus mengikutinya. Sok suci!” desis Danis yang membuat Chris melayangkan sebuah pukulan di wajahnya.
“Chris, bawa pengkhianat itu ke ruang bawah tanah!” suara Brian begitu menggelegar mengisi aula yang cukup luas.
Semua anggota langsung menunduk, sampai tidak berani melihat kemarahan Brian. Chris pun langsung menjalankan perintah Brian. Di dalam bawah tanah ada beberapa orang, yaitu Brian, Chris, Jack, Lucas, Rey, Danis, dan dua orang pengawal Brian.
Danis sudah tidak berdaya karena hukuman-hukuman yang Brian berikan, yang dilakukan oleh Chris, Jack, dan Lucas. Hanya rintihan dan pekikan Danis yang memenuhi ruangan pengap nan gelap itu.
“Harusnya sejak awal aku melenyapkanmu dan Tuan tidak bergunamu itu,” desis Brian.
Danis masih mampu terkekeh walau terdengar lemah, “Nyatanya, kau tidak akan bisa melenyapkan Tuanku, karena dia lebih hebat dan licik.”
“Sialan!” teriak Brian.
“Aku yang akan melenyapkannya,” ucap Briana.
Semua pasang mata langsung tertuju pada dua orang yang kini tengah berdiri tidak jauh dari pintu masuk ruangan pengap itu. Mereka adalah Briana dan Aidar.
“Briana...” lirih Brian.
“Aku tahu, Brian, dan aku semakin muak sekarang,” Briana menahan air mata yang sudah mengumpul di pelupuk matanya, agar tidak menetes.
Briana mengacungkan sebuah senjata api yang membuat semua orang di sana tercengang, termasuk Aidar. Senyum mengerikan tercetak jelas di wajah cantiknya.
“Aku kembalikan peluru ini padamu,” ucap Briana.
Danis sempat terkejut melihat reaksi Briana yang tidak pernah dia lihat selama kurang dari satu tahun. Namun, ekpresinya kini menghilang untuk selamanya, setelah suara yang memekakkan telinga itu terdengar.
Semua orang di dalam ruang bawah tanah menjadi saksi, bagaimana Briana berubah menjadi wanita mengerikan tanpa ampun.
Aku berjanji tidak akan membiarkan wanita mana pun merasakan hal yang sama denganku. Ini keadilan yang setara. Batin Briana.