BAB 16
Hari itu adalah hari di mana untuk kali pertama Briana menghabisi nyawa seseorang. Semakin hari Briana semakin tidak terkendali saat anggotanya berhasil mengamankan para penculik, apalagi para pelaku pelecehan. Briana semakin memperlihatkan taringnya seolah tidak takut pada apa pun. Bahkan nama kelompok Black Angels semakin besar di bawah kepemimpinannya.
Kelompok kecil hingga besar di setiap kota pun mulai tunduk pada kekuasaan Briana. Kematian Danis membuat Briana semakin mendendam setiap harinya. Hingga tidak terasa tahun demi tahun berlalu, dan sekarang Briana berusia dua puluh lima tahun.
Tok! Tok! Tok!
Suara itu membuat seorang Briana harus mengalihkan pandangnya dari layar laptop ke arah pintu ruang kerjanya, “Masuk!”
Suara Briana begitu menggema seisi ruangan yang begitu mewah. Nada bicaranya membuat siapa saja takut untuk menatap langsung pemilik wajah cantik nan dingin itu. Pintu itu pun terbuka menampilkan seorang pengawal yang berperawakan tinggi, tegap, dengan wajah datarnya. Dia Alan, pengawal paling setia hingga saat ini. Dia berjalan beberapa langkah untuk menghadap Briana. Dengan sedikit menundukkan kepalanya, dia memberikan salam hormat, sebelum akhirnya berbicara.
“Maaf, Nona. Aidar ingin bertemu,” ucap Alan dengan tegas.
“Persilahkan dia masuk,” Briana kembali memfokuskan lagi tatapannya pada layar laptop, yang dimana dia sedang mengecek perkembangan salah satu bisnis keluarganya sebagai seorang CEO.
“Baik, Nona,” Alan pamit undur diri untuk memanggil Aidar yang tengah menunggu di dekat pintu yang menjulang tinggi itu.
Setelah diberitahu oleh Alan, Aidar pun masuk ke dalam ruangan Briana. Pintu besar nan megah itu ditutup kembali oleh Alan. Aidar melangkah lebih dekat lalu menundukkan kepalanya untuk memberikan salam hormat pada pemimpinnya.
“Ada apa?” tanya Briana tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Aidar yang tengah berdiri di dekat sofa.
“Kami sudah mendapatkan tiga dari empat orang yang terlibat. Mereka sekarang berada di markas,” ucap Aidar.
“Tunggulah! Kita akan segera ke sana,” ucap Briana dengan datar.
“Baik, Nona. Kalau begitu, saya pamit undur diri,” Aidar menundukkan kembali kepalanya.
Gadis bermanik hijau itu melirik Aidar sejenak lalu menganggukan kepala untuk mempersilahkan Aidar pergi dari ruangannya. Ruangan yang begitu dingin, sepi dan sedikit mengerikan, itu menggambarkan pribadi wanita muda ini yang semakin kentara, tak terelakkan. Matanya yang begitu cantik, tapi menyiratkan sebuah rahasia yang belum terungkap dan dendam yang semakin mendalam.
Briana berjalan dengan penuh wibawa menyusuri lorong yang cukup gelap didampingi Aidar, yang kini menjadi orang kepercayaannya, yang langsung dia tunjuk secara pribadi tidak lama setelah kejadian itu.
Saat Briana tiba di markas bawah tanah beberapa anggota yang berada di sana begitu hormat padanya tanpa kecuali. Mereka semakin mengagumi sosok Briana yang tegas dan berkelas. Dia juga semakin disegani oleh kaum pria, dan diagungkan oleh kaum wanita. Bahkan hanya orang-orang terpilih yang boleh berinteraksi atas izinnya.
“Di mana?” tanya Briana pada Aidar.
“Mereka di sana, Nona,” Aidar menunjuk salah satu ruangan yang biasa dipakai untuk eksekusi pelanggar.
Briana dan Aidar menghampiri ruangan tersebut. Ruangan yang sudah menelan lebih banyak pelanggar, dan menjadi saksi bagaimana Briana bertindak tanpa sepengetahuan khalayak. Briana membuat ruang pengap tanpa lubang fentilasi itu semakin kedap udara dan kedap suara. Ada tiga orang tahanan dan beberapa anggota kelompok di dalamnya. Kondisi tiga tahanan itu sedikit menyedihkan bagi orang awam yang melihatnya, tapi tidak bagi Briana.
“Selamat datang, Nona!” sapa Lucas sambil menundukkan kepalanya, lalu diikuti oleh beberapa anggota yang lainnya.
“Jadi, mereka yang membuat kerusuhan?” Briana menatap nyalang ketiga tahanan itu lalu duduk di kursi yang sudah disediakan untuknya.
“Benar, Nona,” ucap Aidar.
“Lancang sekali kalian berulah di sini,” senyum sarkas Briana membuat auranya semakin menyeramkan.
“Ma-maafkan kami, Nona,” ucap salah satu tahanan dengan terbata, dia sempat menatap Briana dan itu sukses membuat dia semakin ketakutan.
“Tundukan kepalamu!” perintah salah satu anggota yang langsung dituruti oleh tahanan tersebut.
“Apa saja yang mereka lakukan?” tanya Briana pada Aidar.
“Mereka melakukan penculikan pada dua orang anak dan satu bayi. Dua anak diantaranya yang berusia sekitar tiga dan lima tahun sudah kami kembalikan pada orang tuanya. Namun, bayi yang berusia sekitar lima bulan berhasil dibawa kabur oleh salah satu dari mereka yang belum tertangkap,” jelas Aidar.
“Kapan itu terjadi?” tanya Briana yang tatapannya tidak lepas dari para tahanan.
“Sekitar enam puluh menit yang lalu sebelum Nona datang ke mari. Sepertinya dia menuju ibu kota melalui Dundee,” ucap Aidar.
“Tutup jalur keluar kota itu, kita harus mendapatkannya di sana!” perintah Briana.
“Baik, Nona!” ucap Aidar.
Aidar langsung menjalankan perintah Briana. Dia mengirimkan beberapa anggota menuju kota Dundee dan sebagiannya lagi mereka bekerja sama dengan anggota geng di kota tersebut agar mampu mempercepat pergerakan mereka.
Lirikan mata Briana begitu mematikan. Mereka mulai ketakutan saat Briana mulai mengeluarkan senjata api dan memainkannya. Suasana semakin mencekam karena mereka semua tahu apa yang akan terjadi jika nonanya ini sudah berubah bagaikan monster. Tidak ada kata ampun bagi mereka yang berbuat kejahatan di kotanya.
“Kalian tahu, jika aku tidak suka manusia macam kalian?” Briana menjeda ucapannya, “Bahkan aku benci pada mereka yang tidak punya hati. Jadi, maafkan aku. Jika aku pun saat ini tidak punya hati.”
Briana akan mengejar siapa pun yang berani mengusik kedamaian kotanya. Bahkan dia memiliki dukungan penuh atas tindakan dari para kaum want dan dia juga menjadi idola bagi anak-anak, karena mereka hanya tahu jika Briana hanya wanita cantik yang membela mereka, tanpa tahu apa yang Briana lakukan di belakangnya. Hanya keluarga dan anggota kelompoknya yang mengetahui seberapa mengerikannya dia bagi tahanannya.
“Nona!” panggil Aidar saat dia menghampiri Briana yang tengah berdiri di atap markas seorang diri, seperti biasanya.
“Kita hanya berdua, Aidar,” ucap Briana tanpa mengalihkan pandangan menatap hamparan hijau yang begitu luas.
“Baiklah, Briana. Aku hanya ingin mengatakan kalau mereka….” ucapan Aidar terpotong.
“Aku sudah tahu, tidak perlu dijelaskan,” ucap Briana.
“Aku hanya khawatir ini akan mengundang bencana bagi kelompok kita, seperti kematian Danis,” Aidar mengikuti arah pandang Briana yang begitu menyejukkan mata.
“Apa kau takut?” tanya Briana dengan santai.
Aidar langsung melirik Briana lalu mengalihkan lagi pandangannya kesemula, “Tentu saja tidak. Kapan pun aku siap jika mereka tiba-tiba menyerang lagi. Aku sedikit tersinggung kau menyebutku takut.”
Mendengar jawaban Aidar, Briana pun menampilkan senyum sarkasnya, “Bagus kalau begitu. Aku senang mendengarnya.”
“Apa kau sudah membuat rencana untuk selanjutnya?” Aidar begitu penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Briana.
“Santai Aidar! Kenapa rasanya kau sedang panik sekarang?” Briana melirik Aidar, dia sangat tahu apa yang dirasakan lawan bicaranya.
“Masalahnya, mereka bukan orang sembarangan,” Aidar sangat tahu siapa pemimpin tahanannya, hanya saja dia belum memperlihatkan batang hidungnya.
“Jadi kau meragukanku? Sekarang aku yang tersinggung,” cibir Briana.
“Tentu, tidak. Aku hanya khawatir padamu. Bahkan Brian kerap kali kalang kabut saat kau hampir terluka karena pertikaian. Aku pun sampai dipukulinya, padahal aku juga sedang terluka saat itu,” Aidar mulai mengomel karena tingkah kakak beradik yang terkadang membuat Aidar sakit kepala.
Briana tertawa dalam hati mendengar Aidar mengomel tentang kakaknya. Dia sudah memaklumi sifat Brian yang protektif padanya karena itu bukanlah yang pertama.
“Aku minta maaf atas apa yang Brian lakukan padamu,” ucap Briana.
“Tidak apa-apa, aku mengerti perasaan Brian,” ucap Aidar.
“Tapi kau terdengar marah.”
“Aku hanya sedikit kesal.”
“Sama saja.”
Kedekatan Briana dan Aidar sudah berlangsung selama kurang lebih lima tahun. Perseteruan, berselisih paham, itu menjadi sebuah hiasan bagi pertemanan mereka. Bukan lagi celah yang membuat mereka berjauhan, seperti dulu. Usia mereka terbilang sama. Banyak yang berubah dari mereka. Bahkan mereka bisa saling mengerti dan menjaga, layaknya sebuah ikatan saudara.
“Lalu bagaimana?” tanya Aidar.
“Aku akan membereskan segalanya. Kau dan yang lain hanya perlu bersiap jika terjadi sesuatu di luar dugaan,” jelas Briana.
“Pasti!”
Ini sebuah pilihan yang penuh dengan perencanaan. Jika boleh memilih, lebih baik hidup dengan kedamaian daripada harus terus terancam. Namun, cara berpikir Briana berbeda. Pengalaman hidupnya yang membuat dia tidak ingin lengah.
Memiliki latar belakang keluarga Nelson yang memasuki kategori tiga keluarga terkaya membuat Briana semakin leluasa bergerak. Entah itu menjadi seorang CEO perusahaan yang bergerak di bidang industri dan perdagangan, atau menjadi seorang pemimpin kelompok bersenjata yang melindungi wanita dan anak-anak.
Aku akan terus memancingmu keluar dari tempat persembunyian. Sampai kau tahu bagaimana rasanya dikhianati dan menjadi tidak berguna. Batin Briana.