BAB 17
Briana memasuki kediaman Nelson yang dijaga ketat oleh para pengawal. Langkahnya begitu pasti dengan raut wajahnya yang tanpa ekspresi, hingga sampailah pada tangga menuju lantai dua di mana kamar Briana berada. Tiba-tiba suara yang begitu familiar menghampiri gendang telinganya, yang membuat Briana harus menghentikan langkah yang tinggal beberapa langkah lagi akan sampai di depan pintu kamarnya.
“Baru pulang?” itu suara Brian yang tengah berdiri di sisi lain sambil menyandarkan punggungnya di tembok dengan kedua tangan yang dilipat di d**a.
“Ya, seperti yang kau lihat,” ucap Briana.
“Dari mana saja, jika boleh aku tahu?” Brian mulai berjalan menghampiri Briana.
“Seperti biasa,” jawab Briana datar.
“Kau tidak lelah?” tanya Brian saat langkahnya berhenti di depan wajah Briana.
“Tidak terlalu,” singkat Briana.
“Ya, aku tahu kau wanita yang hebat dan kuat,” ucap Brian sambil mengangguk-angguk.
“Hm….” Briana menundukan sejenak kepalanya lalu menatap Brian kembali, “Bagaimana pekerjaanmu?”
“Sedikit rumit,” ucap Brian.
“Aku sudah mengecek beberapa sesuai permintaanmu,” ucap Briana.
Brian tersenyum mendengar penuturan adiknya. Briana semakin bisa diandalkan, “Terima kasih.”
“Tidak perlu. Jika memang kau membutuhkan bantuanku lagi, bilang saja,” ucap Briana.
“Tentu.”
Tangan Brian terulur untuk merapikan rambut Briana yang saat ini tengah digerai, lalu menyelipkan helaian rambut yang menghalangi wajah Briana ke belakang telinganya. Briana mulai menatap Brian yang kini tengah khawatir.
“Kau kenapa?” Briana meraih tangan Brian yang terus memainkan rambut sepunggungnya.
“Aku hanya khawatir padamu,” raut wajah Brian tidak bisa lagi disembunyikan.
“Kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu baik-baik saja,” ucap Briana.
“Kenapa kau selalu seperti ini?” lirih Brian.
“Karena kenyataannya seperti itu,” ucap Briana.
“Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku takut,” Brian mengecup telapak tangan Briana.
“Kau terlalu sering mengatakan itu padaku,” ucap Briana.
“Aku hanya berusaha jujur,” ucap Brian.
“Bahkan aku sendiri telah kehilangan diriku delapan tahun yang lalu,” Briana tidak akan pernah melupakan hal itu.
“Aku minta maaf, aku menyesal,” Brian menatap Briana dengan sungguh-sungguh.
Brian selalu mengatakan itu pada Briana. Meski semuanya telah berlalu, tapi rasa itu tidak pernah terkikis sedikit pun. Penyesalan itu semakin kentara, saat Brian menjadi saksi bagaimana Briana berubah menjadi mengerikan di ruang bawah tanah enam tahun yang lalu, dan semua itu berlanjut hingga hari ini.
“Kau tidak bersalah, Brian. Dia yang bersalah dan aku yang bodoh. Jadi, berhenti menyalahkan dirimu. Aku tidak suka. Aku lebih suka melihat kau ditakuti semua orang. Terlihat gagah dan juga berwibawa. Aku lebih suka kau yang seperti itu,” Briana sudah terlalu bosan melihat Brian seperti ini.
Brian hanya diam sambil menatap Briana yang menahan luapan emosinya, dan itu terpancar jelas dari sorot matanya yang tidak bersahabat.
“Boleh aku memelukmu?” tiba-tiba Brian mengucapkan hal itu yang membuat Briana mengernyit.
“Kenapa kau meminta izin?” karena pasalnya Briana merasa itu bukan kebiasaan Brian.
“Karena yang sekarang di hadapanku bukanlah gadisku, tapi dia seorang pemimpin kelompok bersenjata.”
Briana tersenyum sarkas pada Brian, lalu merentangkan kedua tangannya, “Jadi kau ingin memelukku atau tidak?”
Brian langsung memeluk Briana, begitu erat dan hangat. Jiwa protektif Brian pada Briana semakin menjadi setiap harinya.
“Aku sungguh merindukanmu. Aku sungguh merindukan gadisku,” Brian mempererat dekapannya, seolah sedang mencurahkan segala isi hatinya pada Briana melalui itu. Brian mengecup sejenak bahu Briana lalu meyembunyikan wajahnya di ceruk lehernya. Briana sangat tahu pelukan itu.
Maafkan aku! Batin Briana.
Mereka pun berpisah, dengan Briana yang pergi meninggalkan Brian yang kini sedang frustrasi karena kesalahan masa lalu yang tidak akan pernah kembali. Itu tidak mungkin. Walau hati begitu ingin mengembalikan semuanya seperti semula dengan segala usaha, tetap tidak mungkin. Kaca yang telah retak akan tetap retak, jika salah memperbaiki maka akan semakin hancur hingga tidak berbentuk.
***
“Tolong!”
Briana berteriak dengan terus berlari tanpa henti, menyusuri hutan yang sama sekali tidak berpenghuni. Briana tidak tahu di mana titik keberadaannya sekarang. Dia hanya terus berharap jika keluarga dan para pengawalnya bisa lebih cepat menemukannya. Bahkan ponselnya pun hilang entah ke mana, padahal itu adalah satu-satunya cara untuk bisa keluar dari keadaan yang sangat tidak menguntungkan.
“Tolong! Hiks…” Briana mulai meneteskan air mata karena rasa putus asa yang mulai menyelimuti hatinya.
Sungguh, ini tidak tertuga, dia menyesali semua ini. Dia menyesali dengan apa yang dialaminya sekarang. Kakinya mulai terasa lelah yang membuat Briana tidak bisa berlari lagi, sampai akhirnya dia terjatuh diantara pohon-pohon rindang yang menjulang tinggi. Sepi dan mencekam, begitulah suasana yang dirasakan Briana. Mungkin saja yang hidup di hutan seperti ini hanyalah binatang buas, pikirnya.
“Jangan terus berlari! Bukan kah sekarang kau lelah, sayang?” ucap orang itu.
“Jangan memanggilku seperti itu, aku tidak sudi!” Briana berusaha berdiri lagi walau sekarang kakinya semakin gemetar.
“Tapi aku suka, bukannya itu indah,” dia tersenyum mencemooh yang membuat Briana merutuki dirinya sendiri.
“Sangat buruk! Apalagi jika kau yang menyebutnya,” Briana berteriak padanya.
“Jangan menguji kesabaranku. Di sini hanya kita berdua jika kau lupa, sayang,” dia mengucapkannya dengan penuh penekanan.
Briana berusaha untuk mundur karena dia terus saja mendekat. Manik mata Briana yang begitu indah terus menatap nyalang. Tatapan Briana tidak teralihkan, tapi itu malah membuat orang itu tertawa menjengkelkan dan mengerikan di waktu yang bersamaan.
“Jangan mendekat!” teriak Briana saat dia hanya berjarak kurang dari lima langkah.
“Bukannya kau senang kalau kita selalu berdekatan? Kau selalu mengucap rindu padaku setiap saat dan aku suka mendengarnya.”
“Tapi tidak untuk sekarang. Aku sudah tidak percaya lagi padamu. Kau penipu! Kau pembohong!” Briana berusaha menguatkan dirinya walau air matanya terus menetes karena ketakutan dan hatinya pun terluka.
“Kenapa seperti itu? Aku terluka mendengarnya,” raut wajahnya dibuat sedih sedemikian rupa lalu tertawa terbahak di kemudian, “Tapi aku tidak peduli.”
Orang itu menarik tangan Briana dengan kasar yang membuat dia tersentak. Briana semakin panik dibuatnya. Dia mencoba melawan walau semua usahanya hanya sia-sia. Dia terus berteriak berharap ada yang mendengar suaranya.
“Tolong, jangan!” Briana berusaha memohon disisa tenaganya, “Brian!”
Dia tidak mendengarkan semua ucapan Briana. Dia hanya berbuat sesuai tujuannya. Sampai akhirnya Briana berteriak saat orang itu sudah menguasai tubuh Briana, “Tidak!”
Briana membuka matanya lebar-lebar. Napasnya tersenggal sampai peluhnya bercucuran membasahi wajah dan tubuhnya. Air matanya pun terus menetes.
“Akhirnya kau bangun,” Brian mengembuskan napas lega sambil mengusap peluh di dahi Briana.
“Brian…” lirih Briana.
“Iya, ini aku,” ucap Brian.
Briana bangun mengubah posisi tidurnya menjadi duduk dan dia langsung memeluk Brian dengan erat. Briana menangis begitu pilu di dalam dekapan Brian. Brian bisa merasakan bagaimana gadisnya begitu menderita.
“Kenapa mimpi itu selalu ada? Sampai kapan?” suara Briana tercekat karena rasa sedihnya.
“Tenanglah! Semuanya akan baik-baik saja,” ucap Brian.
“Aku lelah. Aku takut, Brian.”
“Ada aku di sini, kau aman. Tidak perlu takut. Gadisku ini hebat.”
Brian terus memeluk Briana, mengelus punggung nya, sesekali dia mengecup kepala Briana berharap Briana akan cepat membaik. Cukup lama Brian membuat Briana tenang kembali.
“Minum dulu!” pinta Brian sambil memberikan segelas air mineral yang langsung diterima oleh Briana.
“Terima kasih,” Briana memberikan lagi gelas itu yang sekarang sudah tandas.
“Kau ingin tidur kembali?” Brian mengusap kepala Briana dengan lembut.
“Aku tidak ingin tidur. Aku takut mimpi itu datang lagi,” tolak Briana.
“Tapi ini masih malam,” ucap Brian.
“Biar saja,” ucap Briana.
“Mau aku temani?” Brian berusaha membujuk Briana yang terus saja menolak, sampai akhirnya Briana mengangguk setuju.
“Hm….”
Brian pun memposisikan diri menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang, membawa Briana untuk bersandar ke dadanya, “Jika kau sudah mengantuk lagi, tidurlah! Aku tidak akan meninggalkanmu.”
“Janji?” ucap Briana.
“Janji!” ucap Brian dengan penuh keyakinan.
Sayup-sayup mata Briana mulai terpejam kembali. Namun, tiba-tiba ponsel Briana bergetar cukup keras di atas nakas dan itu membuat perhatian Brian teralihkan. Briana juga terjaga kembali, lalu beringsut bangun dari d**a Brian yang langsung ditahan oleh tangan Brian.
“Mau apa?” tanya Brian.
“Ponselku,” ucap Briana.
“Ini sudah malam, istirahatlah!” pinta Brian.
“Sebentar saja, mungkin itu penting.”
Sudah tidak heran jika mereka sama-sama keras kepala. Mereka seperti ayahnya, tuan Nelson. Mereka tidak berdebat dengan kata-kata sekarang, tapi melalui sorot mata. Brian yang tidak ingin dibantah dan Briana yang tidak ingin mengalah. Akhirnya, Briana mengeluarkan kemampuannya dengan menatap Brian dengan begitu menggemaskan. Dengan terpaksa Brian mengambilkan ponsel Briana di atas nakas yang tepat di samping Brian. Ada pesan dari Aidar yang berisi laporan. Briana mendial nomor ponsel Aidar dan telepon pun langsung tersambung.
“Bagaimana? Ada perkembangan?” ucap Briana lebih dulu.
“Kami sudah berada di kota yang dimaksud. Namun, kami minta maaf, Nona. Sepertinya dia berhasil bersembunyi, tapi kami bisa pastikan dia belum keluar dari kota ini, dan kami akan berusaha untuk mendapatkannya dengan cepat,” ucap Aidar dari seberang telepon.
Raut wajah Briana langsung berubah drastis dan itu tidak lepas dari penglihatan Brian.
“Lalu, bagaimana dengan ibu si bayi?” ucap Briana.
“Kondisinya drop. Wanita itu banyak kekurangan cairan dan mengalami stres berat karena si bayi belum juga kembali. Dia menolak pertolongan medis. Jadi, keluarganya hanya merawatnya di rumah,” jelas Aidar.
“Beri aku alamatnya, aku akan urus ibu si bayinya terlebih dahulu. Nanti beritahu aku titik posisi terakhir, jika kalian masih belum menemukannya,” ucap Briana dengan tegas.
“Baik, Nona!” ucap Aidar.
Briana menggenggam erat ponselnya. Dadanya bergemuruh kembali menahan luapan emosi yang harusnya bisa dilampiaskan. Terlihat dari sorot matanya, Brian sudah tahu apa yang terjadi dan pastinya itu tidak sesuai dengan rencana saudarinya.
“Apa masalahnya belum selesai?” Brian meraih ponsel Briana lalu menyimpannya kembali di atas nakas.
“Belum, sepertinya harus aku yang langsung turun mencarinya,” Briana mulai menatap Brian kembali.
“Biar mereka saja yang mencarinya,” ucap Brian.
“Aku menginginkan bayi itu kembali,” ucap Briana penuh dengan tekanan.
“Aku rasa bukan hanya itu yang kau inginkan,” ucap Brian.
“Kau sangat tahu aku.”
“Aku akan membantumu,” putus Brian.
“Tidak perlu,” Briana menolak.
“Aku tidak ingin dibantah,” ucap Brian penuh penekanan.
“Baiklah, terserah kau saja,” Briana pun pasrah.
Brian mengembuskan napas pelan dan sedikit menarik lengan Briana, “Kemari!”
Malam kembali hening, walau masih ada jiwa yang terjaga untuk menenangkan demi ketenangan. Semua ingatan itu masih terpampang jelas di ingatan Briana meski sudah delapan tahun yang lalu. Kenyamanan yang diberikan Brian membuat Briana terlelap kembali.
Tangan Brian setia memeluk tubuh yang orang lain tidak tahu seringkih apa gadis yang bersamanya sekarang. Pandangan Brian menerawang jauh, sejauh penyesalan yang sangat sulit untuk dia hilangkan. Wajahnya yang begitu tegas, dingin dan begitu ditakuti, siapa sangka tanpa sepengetahuan siapa pun air matanya ikut menetes hanya untuk gadis dalam pelukannya.
“Aku berharap yang terbaik untukmu. Selamat malam, Briana. Maafkan aku!” Brian mengecup puncak kepala Briana cukup lama.
Tidak berselang lama, akhirnya Brian pun ikut terlelap menyusul Briana. Meski matanya terpejam, dia masih berusaha untuk menjaga mimpi gadisnya agar tetap indah.
Di tempat lain, seseorang tengah duduk dengan santai sambil menikmati segelas wine di tangan kirinya. Cahaya temaram di sekelilingnya, mampu menampilkan wajah angkuh yang tersirat jelas tak terbantah. Sorot matanya sulit terbaca, terlalu banyak rasa yang bergulat di dalam hatinya. Namun, karena ambisi membuat dia mampu mengabaikan yang selalu terbayang.
Manik coklat yang terjaga tengah menatap segelas wine, seolah sedang menyelaminya yang begitu dalam sedalam palung hati, disaat sebagian besar orang tengah terlelap menyambut mimpi dan juga harapan. Gemercik air mancur di taman pribadi membuat malam yang hening sedikit menemani. Tiba-tiba ada seseorang tengah berjalan menghampiri dan itu sedikit mengusik momen yang sedang dinikmati.
“Ada apa?” ucapnya tanpa mengalihkan pandangan, suara itu membuat suasana malam semakin mencekam.
“Maaf, Tuan. Ada kabar buruk yang harus saya sampaikan,” ucap orang kepercayaannya dengan sangat hati-hati.
“Apa?” raut wajahnya mulai berubah.
“Ada yang berhasil menyabotase salah satu pengiriman senjata dan peket obat terlarang kita keluar negeri. Sekarang kita mengalami kerugian yang cukup besar,” jelas orang itu.
Mendengar hal itu raut wajahnya semakin kelam, “Siapa yang melakukannya?”
“Maaf, Tuan. Tidak ada jejak,” kepala orang itu menunduk dalam.
“Apa?” dia melempar gelas yang sedari tadi dipegangnya ke lantai dan hampir mengenai kaki orang kepercayaannya.
“Kami masih berusaha mencari pelakunya dan barang bukti, Tuan,” jelas orang kepercayaannya.
“Kalian tidak berguna! Bisa-bisanya kalian tidak tahu siapa orang itu,” teriaknya.
“Maaf, Tuan!”
“Ah, sialan!” umpatnya dan dia mulai berdiri sambil berkacak pinggang, “Lalu, apa ada lagi?”
“Anak buah kita beroperasi di salah satu kota dan sekarang mereka menghilang. Terakhir ada sinyal dari salah satunya, tapi itu hanya persekian detik lalu menghilang kemudian saat kami mencari titiknya. Kejadian ini bukan kali pertama terjadi,” jelasnya.
“Kenapa jadi begini?” teriaknya.
“Maaf, Tuan. Kami sedang berusaha mencari solusinya.”
“Kalian terus berusaha, tapi tidak pernah membuahkan hasil. Aku sudah tidak ingin mendengar itu lagi. Jadi, beritahu aku bagaimana dia sekarang?” ucapnya penuh penekanan.
“Dia hidup dengan baik, Tuan.”
Mendengar jawaban itu membuat sosoknya semakin merasa tertarik, “Ah, begitu rupanya. Aku pikir dia sudah tidak berguna. Sudah lama aku tidak mendengar kabarnya sejak pengkhianat itu menghilang. Ah, iya. Apa kau sudah menemukan jejak pengkhiatan itu?”
“Maaf, Tuan. Saya tidak menemukan.”
“Hebat sekali dia bersembunyi sampai terhitung tahun seperti ini. Aku akan menghukumnya jika dia berhasil aku temukan,” ucapnya penuh kebencian, “Rasanya aku ingin kembali lagi ke Aberdeen. Aku jadi rindu bermain-main dengan mereka.”
“Tapi sepertinya sekarang anda harus lebih berhati-hati, Tuan.”
“Mengapa begitu?” dahinya mengernyit.
“Mereka semakin kuat dan dia begitu ditakuti sampai tidak ada yang berani mengusiknya.”
Dia menatap tajam orang kepercayaannya, “Lalu, kau meragukanku?”
“Tentu tidak! Tuan sangat hebat,” ucapnya berusaha meyakinkan tuannya.
Dia pun menampilkan senyum sarkastiknya yang begitu mengerikan, “Tentu saja.”
“Briana, aku mencintaimu. Tunggu aku, sayang!” ucapnya sambil mengusap bibir dengan ibu jarinya.