BAB 18
“Siapa nama ibu bayi itu?” tanya Briana pada Chris yang saat ini mereka tengah di dalam ruangan Briana di markas Black Angels.
“Namanya Veronica, Nona,” ucap Chris.
“Lalu, bagaimana dengannya? Apa dia masih menolak bantuan medis kita?” tanya Briana.
“Seperti sebelumnya dan tidak ada perubahan,” jelas Chris.
“Ck, apa Aidar menghubungimu?” raut wajah Briana sudah mulai terlihat kesal dan itu sangat jelas di mata Chris.
“Setelah sekian lama, mereka mengalami kesulitan lagi. Sepertinya pelaku yang sekarang sedikit berbeda. Dari pergerakan dan bagaimana dia bersembunyi, sudah sangat terlatih sampai bisa mengelabui anggota kita, Nona,” jelas Chris.
Jelas saja, mungkin dia sudah mulai kekurangan anggota, batin Briana.
“Lalu, apa gunanya dengan geng setempat yang kita mintai tolong, Chris? Bahkan sampai sekarang pelaku itu masih belum tertangkap juga,” tatapan Briana mulai menyalang dan itu cukup membuat Chris menunduk seketika.
“Hah, kita ke rumah ibu si bayi itu sekarang. Apa Rey masih berjaga di sana?” tanya Briana.
“Masih, Nona. Bahkan sekitar lima menit yang lalu, Rey memberi kabar jika ibu bayi itu tengah mengamuk meminta bayinya kembali,” jelas Chris.
“Sialan!” umpat Briana sambil berjalan melewati Chris begitu saja.
Aku akan benar-benar menghancurkanmu! Batin Briana.
Sesampainya Briana dan Chris di sebuah rumah sederhana. Rey pun meminta izin pada pemilik rumah jika nonanya ingin bertemu dengan Veronica. Saat Briana baru membuka pintu kamar yang memiliki luas sekitar lima meter, Veronica langsung memburunya dengan tangis yang begitu pilu di telinganya.
“Nona, bayiku mana? Kau membawanya kembali, bukan?” sorot mata penuh harap Veronica mencari keberadaan bayinya. Namun, dia tidak melihat apa yang dia cari.
Rey dan Chris berencana menjauhkan Veronica dari Briana, karena dia seolah berusaha menyakitinya. Namun, Briana memberikan isyarat untuk tidak ikut campur. Dengan segenap kemampuannya, Briana berusaha membujuk ibu dari si bayi yang sampai saat ini belum juga ditemukan. Dia merasa iba melihat Veronica terus bersedih, menangisi bayinya yang hilang.
“Aku bersama tim sedang berusaha untuk mendapatkan bayimu kembali. Namun, sebelum itu kau harus sehat. Kau tidak boleh seperti ini,” bujuk Briana.
“Kapan Nona akan membawanya kembali? Bayiku pasti ketakutan, dia pasti kedinginan di luar sana. Aku ingin bayiku kembali sekarang,” ucap Veronica sambil menangis tersedu.
“Bayimu akan segera kembali, tapi kau harus membiarkan para perawat itu menyentuhmu. Kau sudah lemah seperti ini, bahkan kau tidak mau makan. Aku tahu kau sangat sedih atas bayimu, tapi kau juga membuat sedih suamimu berlipat ganda,” Briana mencoba mengambil hati Veronica.
Veronica melirik suaminya yang kini tengah berdiri menatapnya tidak jauh dari mereka. Dia berusaha tersenyum untuk istrinya. Namun, Briana sangat tahu bagaimana hatinya saat ini.
Persis Brian, batin Briana.
Briana meraih pundak Veronica. Mengelusnya selembut mungkin, berharap itu membuatnya sedikit lebih tenang. Veronica menyandarkan kepalanya di bahu Briana dengan isak tangis yang tak kunjung berhenti.
“Bagaimana keadaanmu, Nak? Ibu rindu, sayang,” Veronica meracau dalam dekapan Briana.
Briana membawa Verorica ke tempat tidur. Dia pun memberikan isyarat pada dua perawat yang sejak kemarin berusaha membujuk Veronica. Mereka pun mulai menjalankan tugasnya. Untung saja tidak ada lagi penolakan dari Veronica seperti sebelumnya. Briana berusaha membuat Veronica nyaman, agar pengobatan yang diberikan bisa segera diselesaikan.
Chris dan Rey begitu takjub dengan pribadi Briana yang begitu lembut. Mereka masih bertanya-tanya tentang Briana yang seolah memiliki kepribadian ganda, padahal kebersamaan mereka sudah sekitar enam tahun. Namun, pertanyaan itu seolah enggan terjawab, atau mungkin tidak akan pernah ada jawabannya.
Tiba-tiba saja Chris pergi dari ruangan itu. Namun, Tidak lama kemudian dia kembali dan memberikan isyarat pada Briana jika ada hal penting yang harus dia sampaikan. Briana pun merespon dengan kedipan mata. Setelah berbicara sedikit untuk meminta izin keluar dari kamar Veronica, Briana pun mengikuti ke mana Chris pergi, dan meninggalkan Rey yang tetap berjaga di dalam.
“Ada kabar?” tanya Briana saat merasa tidak ada orang di sekitar mereka.
“Aidar memberitahu saya jika mereka sudah menemukan persembunyian pelaku. Namun, saat mereka tengah berusaha mengepung si pelaku, mereka mendapat ancaman jika mereka tidak mau membiarkan dia pergi, dia akan membunuh bayi itu,” lirih Chris agar tidak dapat didengar oleh siapa pun, meski di sekitar mereka cukup sepi.
“Beritahu Aidar untuk melakukannya secara diam dan perlahan. Jika memang tidak ada hasil, ulur saja waktunya sampai kita datang. Aku akan kembali ke dalam untuk pamit,” ucap Briana.
“Baik, Nona,” ucap Chris yang langsung menjalankan perintah.
Briana berencana masuk kembali ke dalam rumah yang terbilang sederhana itu tanpa Chris. Namun, langkahnya terhenti, saat melihat suami Veronica tengah memperhatikan mereka dari pintu rumah yang Briana tidak tahu sejak kapan.
“Jujur saja, apa yang terjadi pada anak kami?” pinta suami Veronica dengan matanya yang sudah berkaca-kaca, sambil menyiratkan amarah yang tertahan.
Briana hanya diam sambil menatapnya dalam kebingungan. Entah kebohongan atau kebenaran, yang harus dia sampaikan padanya yang begitu menginginkan bayi itu selamat.
“Tolong, jujur saja!” pintanya yang terdengar frustrasi.
Briana mencoba mencari kata yang tepat untuk dia sampaikan. Dia berusaha menenangkan diri agar perkataannya tidak menyakiti ayah dari si bayi, “Aku tidak bisa berjanji, tapi aku akan berusaha yang terbaik. Tolong sampaikan salamku pada istrimu! Aku harus segera pergi. Jaga istrimu dengan baik, dua perawat itu akan membantumu merawatnya. Kalau memang ada hal lain, beritahu Rey. Dia yang aku tugaskan untuk berjaga di sini,” ucap Briana.
Embusan napas kasar dari suami Veronica mampu didengar oleh Briana. Dia cukup mengerti dengan apa yang Briana katakan. Dia pun mengangguk lemah sambil berusaha menekan kedua matanya yang hampir meneteskan air mata, “Baiklah. Aku harap kami bisa mendengar kabar baik darimu, Nona.”
“Kalau begitu, aku permisi!” ucap Briana.
Chris yang tiba-tiba ada di belakang Briana pun meminta izin untuk pamit. Mereka langsung meninggalkan rumah sederhana itu yang kini sedang berduka. Membutuhkan sekitar satu jam lebih, akhirnya Briana dan Chris sampai di kota Dundee. Mereka menuju titik yang diberikan Aidar. Namun, Briana merasa ada yang tidak beres.
Ah, ternyata ada pelaku lain yang berusaha membantu? Batin Briana.
Tidak sengaja Briana melihat pengawal Brian membawa dua orang pria yang keadaannya sudah tidak berdaya. Briana mulai menggunakan instingnya untuk mencari celah yang mungkin akan ada jalan yang tidak diketahui oleh anggotanya. Benar saja, Briana menemukan jalan rahasia untuk melarikan diri.
“Sialan!” umpatnya.
Tanpa sepengetahuan siapa pun pelaku penculikan itu tengah berjalan diam-diam setelah melewati jalan rahasia, lalu dia bertemu dengan seseorang. Seorang pria berperawakan tinggi, memiliki iris mata biru, dan berpenampilan kasual.
“Tuan, kau pegang bayi ini,” ucap pelaku penculikan.
Pria itu menerima bayi yang diberikan si pelaku. Sebelum dia mampu mengatakan sesuatu saat si pelaku itu mulai berlari menjauhinya, tiba-tiba ada seseorang menepuk salah satu bahu yang membuat dia memutar tubuhnya.
Dia melihat sosok wanita cantik beriris hijau yang berdiri di belakangnya. Sepersekian detik dia terpesona memandangi wajah Briana. Namun, dia mulai tersadar saat Briana merebut bayi dalam gendongannya.
“Kembalikan bayi itu padaku!” ucap Briana sambil menatap nyalang pria yang kini tersenyum tipis padanya.