BAB 19
“Bawa mereka!” perintah Briana sambil memutar tubuhnya untuk kembali ke dalam mobil, diikuti oleh Chris dan Aidar.
Pria itu tersentak saat dua orang anggota Black Angels mencoba mematikan pergerakannya. Dia berusaha melepaskan diri. Namun, dia tidak bisa melakukannya. Dia akui jika kemampuan dua orang yang mengapitnya lebih baik dari kemampuan bela dirinya.
“Hey, tunggu! Lepaskan aku! Kenapa kau membawaku?” protes pria itu.
Merasa tidak tahan, tiba-tiba Aidar memutar tubuhnya dan kembali menghampiri pria itu dengan wajah datarnya, “Kau terlalu berisik.”
Tanpa disangka, Aidar membuat pria itu tidak sadarkan diri dalam sekejap. Briana hanya melirik sejenak ke arah mereka, sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil bersama bayi dalam gendongannya, dan Chris yang duduk di kursi kemudi.
“Chris, kita pergi ke markas dulu, sepertinya bayi ini demam,” ucap Briana saat mereka tengah melakukan perjalanan kembali ke Aberdeen.
“Bukankah lebih baik dibawa ke rumah sakit terdekat saja,” saran Chris.
“Yang pertama ini bukan kota kita, dan yang kedua aku akan meminta Brian untuk menghubungi Dokter Zed,” ucap Briana sambil terus menatap bayi yang tengah terlelap.
“Baik, Nona,” Chris menambah kecepatan laju mobil mereka.
***
“Akh!” pekiknya saat dia mulai tersadar dari pingsan.
Matanya mulai menyusuri ruangan temaram dan juga pengap. Dia menemukan pria yang tadi memberinya seorang bayi, kini tengah terkapar tak sadarkan diri tidak jauh darinya. Dia berusaha membenarkan posisi duduknya di atas lantai yang terbilang kotor. Bahkan tangannya tidak sengaja menyentuh cairan di lantai di dekat tubuhnya.
“Darah?” cicitnya, “Apa gadis itu seorang mafia?”
Dia memijat sedikit pangkal hidungnya, karena kepalanya masih berdenyut akibat pukulan yang dia dapatkan, “Sialan! Kenapa aku jadi berakhir di sini?”
Dia mendengar beberapa langkah kaki mendekat. Seketika dia bersiap dengan keadaan yang sangat asing baginya. Dia melihat gadis bermanik hijau itu menatapnya datar. Namun, amarahnya mulai naik saat melihat pria yang membuatnya dia tidak sadarkan diri. Dia Aidar.
“Mimpimu indah?” tanya Briana yang terkesan sarkas di telinganya.
“Sebenarnya aku di mana? Kenapa aku di sini? Aku merasa tidak memiliki urusan dengan kalian,” ucapnya.
“Siapa namamu?” bukannya menjawab, Briana malah bertanya hal lain pada pria itu.
“Harusnya aku yang bertanya, siapa kalian?” pria itu mulai berdiri sambil menatap nyalang Briana, Aidar, Chris, dan dua anggota Black Angels.
“Apa kau sedang berpura-pura menjadi amnesia?” tanya Briana sambil menekan bahu pria itu agar duduk di sebuah kursi yang biasa Briana gunakan.
“Apa maksudmu?” dahinya mengernyit mendengar penuturan Briana yang sulit dicerna olehnya.
“Aku hargai usahamu, tapi sayangnya kau bukan teman yang baik untuknya,” Briana menunjuk pria yang tengah berusaha bangun dari ketidakberdayaan dengan dagunya.
Pria itu pun mengalihkan pandangannya, lalu menatap Briana kembali, “Aku tidak mengenalnya.”
“Lalu, kenapa kau membawa bayi itu?” tanya Briana.
“Dia yang memberikannya padaku. Aku sungguh tidak tahu apa-apa,” ucapnya tidak terima.
Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar membuat pria itu membelalakan matanya.
“Terima kasih Tuan membantu saya melarikan diri. Namun, saya minta maaf, sepertinya saya harus berakhir di sini,” ucap pria yang menculik bayi itu dengan sedikit terbata.
“Apa kau yang bicarakan, Sialan? Bahkan aku tidak mengenalmu!” pria itu berteriak sambil mendekati si pelaku, bahkan sebuah pukulan hampir dia layangkan.
“Stt, aku tidak suka kegaduhan. Kalian yang akan diam atau aku yang akan membuat kalian diam?” Briana mulai mengeluarkan senjata apinya yang membuat pria itu semakin terkejut.
“Apa yang akan kau lakukan?” pria itu mulai waspada melihat sekitar semakin mencekam.
Briana mengangkat sebelah alisnya sambil memainkan senjata api di tangannya, “Kau masih bertanya?”
“Aku berkata jujur. Aku tidak tahu apa-apa. Kau tidak bisa berbuat seperti ini padaku!” protesnya lagi.
“Kau terlalu banyak bicara!” Briana mengacungkan senjata api itu padanya yang membuat keringat dinginnya mulai bercucuran.
“Hey, sialan, bangun! Kenapa kau melibatkanku?” suara pria itu mulai bergetar, dengan kakinya yang terus menyentuh kaki si pelaku yang kesadarannya mulai menurun lagi. Bahkan sudah tidak ada respon yang dia berikan.
“Dengarkan aku! Aku tidak bersalah di sini. Kumohon, bebaskan aku sekarang!” pria itu mulai menyatukan kedua telapak tangannya di d**a.
“Berlutut!” perintah Aidar yang membuat pria itu tidak suka. Namun, pria itu akhirnya menurut dengan berlutut di hadapan gadis yang sempat membuatnya terpana.
“Lihatlah aku! Apa kau pikir dengan pakaianku yang seperti ini bisa menculik bayimu?” pria itu berusaha membuat Briana percaya padanya.
“Bahkan orang yang paling keji sekali pun bisa berpakaian rapi dan mahal lebih darimu,” ucap Briana penuh penekanan.
Chris yang sejak tadi hanya diam, akhirnya kini mulai angkat bicara, setelah mengamati gerak-gerik pria yang kini masih berlutut di bawah senjata api milik Briana, “Maaf, Nona, tapi saya juga tidak yakin jika orang ini terlibat.”
“Mungkin kau lupa hal ini, Chris. Jika orang yang kau yakini juga bisa menjadi penjahat dan berkhianat,” ucapan Briana membuat Chris langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
Entah kenapa, perasaan pria itu seolah terketuk mendengar semua penuturan Briana. Rasa penasaran mulai mucul dalam benaknya. Manik hijau dan manik biru itu saling menatap dengan artian yang berbeda.
Briana menurunkan senjata apinya, lalu beralih pada Chris dan juga Aidar, “Selidiki keterlibatannya dan biarkan dia tetap di sini.”
Mendengar hal itu, pria itu langsung memohon kembali, “Kumohon, biarkan aku keluar dari sini!”
“Tidak! Kau tetap di sini sampai mereka menemukan bukti keterlibatanmu,” tolak Briana.
“Aku tidak pernah memohon seperti ini sebelumnya, tapi kali ini aku akan terus memohon padamu, agar kau membiakan aku keluar dari sini. Minimal tidak di ruangan ini, rasanya aku akan mati,” ucapnya.
Briana sudah merasa sangat lelah. Dia mengembuskan napasnya dengan kasar. Briana mulai melangkah, tapi tangannya langsung dicekal oleh pria itu.
“Aku mohon padamu! Baiklah, jika aku melanggar kau bisa membunuhku kapan pun yang kau mau,” ucapnya dengan sungguh-sungguh.
Briana menghempaskan tangan pria itu dengan kasar, “Jika aku tahu kau kabur dari sini. Aku tidak akan segan melenyapkanmu saat itu juga.”
Pria itu mulai tersenyum yang membuat Briana tertegun sejenak, “Terima kasih.”
Briana langsung melangkah pergi dari ruangan pengap itu, diikuti oleh Chris dan juga Aidar. Chris pamit untuk menjalankan tugasnya menyelidiki pria tadi. Kini mereka tengah berdiam diri di ruang khusus milik Briana.
“Apa kau yakin dengan keputusan tadi?” tanya Aidar memastikan.
“Sejujurnya, aku tidak tahu,” ucap Briana dengan santai.
Dahi Aidar mengernyit melihat sikap Briana yang tidak biasanya, “Apa?”
Briana menatap Aidar seolah apa yang dia katakan bukanlah hal besar, “Kenapa kau memasang wajah seperti itu? Dan ke mana Dokter Zed?”
“Mungkin itu,” ucap Aidar saat mendengar pintu ruangan Briana diketuk.
Briana hanya fokus pada bayi yang mulai terbangun. Bahkan dia tidak mempedulikan raut wajah khawatir Dokter Zed saat memasuki ruangan yang terbilang cukup besar itu.
“Apa kau terluka lagi? Ck, kau selalu membuat semua orang khawatir,” Dokter Zed mulai mengomel, tapi tidak dihiraukan oleh Briana.
“Apa keadaan bayi ini sudah membaik? Aku rasa demamnya sedikit menurun,” ucap Briana dengan santai tanpa menatap Dokter Zed.
“Astaga! Bahkan kau tidak mendengarkanku, Briana,” keluh dokter Zed sambil mengambil peralatannya.
Aidar menahan tawanya agar tidak membuat dokter Zed tersinggung. Ini bukanlah pemandangan pertama bagi Aidar. Dokter Zed pun mulai memeriksa bayi tersebut.
“Kenapa kau malah membawanya kemari? Kenapa tidak memanggil dokter anak atau berikan langsung pada ibunya,” ucap Dokter Zed saat dia sudah selesai dengan pemeriksaannya.
“Aku takut ibunya semakin bersedih karena bayinya kembali dalam keadaan demam seperti tadi,” ucap Briana yang terdengar polos.
“Sebaiknya kau segera kembalikan pada ibunya, bayi ini membutuhkan ibunya dan juga ASI,” saran Dokter Zed.
“Mungkin aku akan mengembalikannya besok pagi,” ucap Briana.
“Tidak ada hal yang serius, jadi kau tidak perlu khawatir, tapi kemungkinan bayi ini akan sedikit rewel, dan kau harus mengurusnya dengan baik. Kalau begitu aku pergi, aku memiliki jadwal operasi malam ini,” ucap Dokter Zed.
“Baiklah. Terima kasih,” ucap Briana.
“Sama-sama,” ucap dokter Zed sambil mengelus puncak kepala Briana.
Aidar pun mengantar dokter Zed keluar, tersisalah Briana dengan bayi itu. Hati Briana begitu tenang memandangi wajah bayi yang begitu menggemaskan. Entah kenapa, bayi itu seolah mengambil perhatian Briana sejak kali pertama bayi itu dalam gendongannya.
“Hai, sayang!” Briana mulai tersenyum melihat bayi itu yang tersenyum bersamanya.
Hingga malam semakin larut, Briana dan bayi itu pun terlelap di tempat tidur yang sama. Namun, sesuai perkataan Dokter Zed, bayi itu tiba-tiba menangis, membangunkan Briana yang tengah menutupkan matanya.
“Kau lapar?” tanyanya sambil menggendong bayi itu.
Briana berusaha menenangkannya sambil memberikan dot s**u, yang sebelumnya sudah disiapkan oleh perawat yang biasa bertugas merawat anggota Black Angels jika ada yang terluka. Namun, bayi itu tidak kunjung diam. Hingga tangisnya mengundang seseorang untuk masuk ke dalam ruangan Briana begitu saja.
“Sepertinya kau harus memberinya ASI,” ucapnya yang membuat Briana terperanjat.
“Kenapa kau tiba-tiba masuk ke ruanganku?” dengan sigap Briana langsung mengacungkan senjata api yang dia ambil dari bawah bantalnya.
Pria itu langsung mengangkat kedua tangannya, “Tangisan bayimu ini cukup kencang, bagaimana aku tidak mendengarnya?”
“Tapi kau tidak perlu sembarangan masuk ke ruanganku seperti ini,” ucap Briana yang masih menatap nyalang pria itu.
“Aku minta maaf, tapi aku tidak tahan mendengar tangisan bayi,” ucapnya.
Briana berdecak, lalu mengalihkan perhatiannya pada bayi yang masih saja menangis, “Hey, apa yang kau inginkan?”
Pria itu terus memperhatikan Briana yang begitu kesulitan menghadapi bayi, “Kau harus memberinya ASI.”
“Aku sudah memberinya s**u, tapi dia tidak mau diam,” Briana mulai kesal dengan situasi yang dia hadapi. Ini lebih menyulitkan ketimbang dia harus menghadapi para musuh atau penjahat.
“Astaga! Maksudnya, kau harus memberikan ASI milikmu. Bayimu menginginkan ASI milikmu!” ucap pria itu yang sama mulai kesal karena Briana seolah tidak mengerti dengan ucapannya.
“Hah?” dahi Briana mengernyit sambil memikirkan maksud dari perkataan pria itu.
Mendapat respon seperti itu, pria itu merasa tidak habis pikir dengan jalan pikiran Briana. Sampai dia kehabisan kata-kata untuk menjelaskan sesuatu, yang seharusnya bisa dimengerti oleh Briana dengan mudah. Akhirnya pria itu menunjuk Briana dengan dagunya. Namun, Briana hanya mengernyit sejak tadi.
“Dadamu!” desis pria itu saking kesalnya. Namun, respon Briana tidak terduga.
“Apa kau sedang mencari mati sekarang?” Briana mengacungkan senjata api itu lagi padanya.
“Kau salah mengerti. Bukan itu maksudku. Kau ibunya, bukan? Sudah pasti bayimu ingin kau susui. Kenapa kau sangat tidak mengerti tentang hal itu?” pria itu sudah benar-benar kesal sampai merebut senjata api Briana dengan mudah lalu melemparkannya ke atas ranjang begitu saja, “Kalau kau tidak bisa menjadi ibu, seharusnya kau tidak perlu memiliki anak!”
Pria itu mengambil alih bayi dari gendongan Briana. Dia pun mengambil dot s**u serta. Dengan telaten pria itu mengasuh bayi. Briana hanya diam mendapat perlakuan seperti itu. Dia hanya melihat bagaimana pria itu membuat si bayi diam bahkan hampir terlelap lagi.
“Sepertinya bayimu mulai tertidur lagi. Di mana aku harus menidurkannya?” tanya pria itu sambil menatap Briana kesal.
Briana menunjuk ranjang hanya dengan dagunya. Pria itu pun mulai menidurkan bayi dengan perlahan. Dia melirik senjata api yang tergeletak tidak jauh dari bayi itu.
“Singkirkan benda ini, tidak baik jika dekat-dekat dengan bayi,” ucap pria itu sambil menyingkirkan senjata api milik Briana.
Briana langsung mengambil dan menyimpannya di tempat lain yang menurutnya aman. Dia pun ikut duduk sambil terus memperhatikan interaksi yang cukup asing di matanya. Pria yang merasa diperhatikan pun mulai berbicara lagi.
“Lain kali…” tapi sayang Briana langsung memotong ucapannya.
“Aku memang belum menjadi seorang ibu karena bayi itu bukan milikku. Aku berencana mengembalikan kepada orang tuanya besok pagi,” ucapan Briana membuat pria itu menatapnya, “Bayi itu salah satu korban penculikan. Aku pikir jika bayi itu kurawat sampai sehat akan lebih baik, jadi ibunya tidak akan semakin sedih dan drop lagi. Namun, aku salah, ternyata bayi itu sangat membutuhkan ibunya.”
Mendengar penjelasan Briana, pria itu merasa bersalah karena sudah membentak Briana yang pastinya tidak tahu apa-apa tentang bayi.
“Maafkan aku…” lirih pria itu.
“Tidak masalah. Yang penting bayi itu sudah terlelap lagi,” ucap Briana.
Pria itu hanya mengangguk-angguk sambil mengatupkan bibirnya. Dia mulai mengulurkan tangannya pada Briana, yang membuat Briana mengernyitkan dahinya.
“Kau bisa memanggilku Valerio,” ucapnya.
“Apa aku perlu menjabat tanganmu?” tanya Briana sambil melirik tangan Valerio yang belum bersambut.
“Aku rasa perlu,” ucap Valerio.
“Hm, baiklah,” Briana menerima jabatan tangan Valerio.
“Dan kau?” Valerio tersenyum begitu tampan.
“Briana,” ucap Briana.
Senyum Valerio semakin berkembang setelah mendengar nama yang menurutnya sangat indah.
Briana Nelson, batin Valerio.