BAB 20
Pagi harinya Briana sudah bersiap dengan bayi dalam gendongannya. Chris sudah memberitahu Rey disela tugasnya, jika Briana akan datang bersama bayi yang sudah mereka nantikan. Briana mulai berjalan bersama Aidar. Bahkan Alan pun ikut serta bersama mereka kali ini. Namun, saat Briana hendak memasuki mobil. Langkahnya dihentikan oleh Valerio yang tiba-tiba saja datang dari arah dalam markas.
“Boleh aku ikut!” pinta Valerio pada Briana.
“Tidak!” tolak Briana.
“Ayolah! Aku bosan berkeliaran di sini, walau memang markas ini terbilang cukup besar dan aestetik,” Valerio berusaha menilai gedung kuno itu dengan baik.
“Aku sudah bilang tidak, ya, tetap tidak. Jika aku kembali dan kau sedang berusaha melarikan diri, aku akan memburumu sampai bisa kulenyapkan,” ucap Briana disertai dengan ancaman.
“Ah, kau akan kembali?” perasaan Valerio cukup senang mendengar kata itu, tapi Briana hanya diam sambil menatap Valerio yang kini tengah tersenyum, “Baiklah, aku akan menunggumu kembali. Hati-hati di jalan! Oh, iya, jangan terlalu sering bicara kasar dan kotor jika di dekatmu ada bayi atau anak-anak! Itu tidak baik.”
Setelah mendengarkan penuturan Valerio, Briana hanya melanjutkan langkahnya tanpa berniat menjawab. Sampai akhirnya mobil itu pergi meninggalkan pelataran markas. Valerio hanya memandangi mobil itu yang semakin lama semakin menjauh dan hilang di tikungan.
Lucas memperhatikan Valerio diam-diam. Dia ditugaskan untuk menjaga Valerio selama mereka meninggalkan markas untuk beberapa jam ke depan. Dia merasa aneh dengan interaksi Briana dan seorang tahanan bersyarat.
“Aku mencium hal-hal aneh darimu,” bisik Lucas sambil menatap Valerio dengan rasa curiganya.
Namun, jawaban yang diberikan Valerio sangatlah tidak terduga. Dengan santainya dia berkata, “Aku memang belum mandi pagi ini.”
Seketika Lucas membelalakan matanya, karena yang dia maksud bukanlah tentang itu, “Sepertinya aku tidak perlu memakai banyak kiasan untuk bicara padamu.”
Dahi Valerio mengernyit, “Maksudmu?”
“Tidak ada,” Lucas tidak ingin membahasnya lagi, biar dia simpan sendiri segala pikiran yang berkecamuk di otaknya.
“Ah, baiklah,” Valerio mengangguk-angguk tidak mempermasalahkannya, “Tapi, bisakah kau tunjukan di mana kamar mandi selain di ruangan Briana?”
Valerio melanjutkan ucapannya dengan santai. Namun, berbeda dengan Lucas. Dia cukup terkejut mendengar hal itu, karena pasalnya dia sendiri pun belum pernah masuk ke dalam ruangan Briana sampai saat ini, selain Brian, Chris, Aidar, dan dua orang pengawalnya. Namun, orang baru ini sudah tahu tentang ruangan Briana. Apalagi statusnya masih sebagai tahanan.
“Kau tahu isi ruangan Nona Briana?” tanya Lucas yang sudah tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya lagi.
Dengan polosnya Valerio mengangguk, “Tentu, semalam aku tidur di ruangan itu bersama Briana.”
Lucas semakin membelalakan matanya dengan mulutnya yang menganga. Dia pun begitu sibuk dengan segala praduganya. Sulit dipercaya. Bagaimana bisa?
“Ah, iya, satu lagi. Bisakah kau meminjamkan kaos untuk mengganti bajuku yang sudah tidak nyaman ini!” lanjut Valerio dengan santai, seolah tidak peduli dengan keadaan Lucas yang masih syok akibat ucapannya.
“Ya, tentu,” ucap Lucas dengan ragu, karena pikirannya masih berkelana dengan apa yang dilakukan pria yang statusnya sebagai tahanan, bersama nonanya yang terbilang kasar dan tegas itu di dalam satu ruangan semalaman.
Aku yakin, jika Tuan Brian tahu, hal ini akan menjadi bencana untuknya, batin Lucas.
Lucas berusaha menyudahi pikirannya yang semakin bingung, lalu pergi ke bagian gedung lain yang dikhususkan untuk anggota mengingap, karena sebagian besar mereka menetap di gedung itu. Valerio yang sedari tadi mengekor Lucas pun hanya mengedarkan pandangannya pada setiap sudut gedung yang terbilang mewah, sangat berbeda jauh dengan keadaan luar gedung yang lebih terlihat seperti gedung tidak terawat.
“Masuklah!” ucap Lucas saat dia membuka sebuah ruangan yang ternyata itu adalah kamar pribadi.
Seolah tersadar dari ketakjubannya, Valerio langsung menatap Lucas di ambang pintu, “Ah, terima kasih.”
Mereka pun masuk dengan Lucas yang menutup pintu itu kembali. Dia menunjukkan di mana kamar mandi dan menyiapkan baju untuk Valerio. Valerio pun mulai membersihkan diri.
***
Di tempat lain, kedatangan Briana dan bayi dalam gendongannya sangat disambut oleh pemilik rumah. Senyum kebahagiaan terpancar dari pasangan yang begitu merindukan anaknya. Briana pun memberikan bayi itu pada Veronica, yang langsung diterima dengan sangat baik.
“Halo sayang! Ibu rindu, Nak. Kau baik-baik saja kan?” ucap Veronica pada bayinya.
“Nona, terima kasih,” ucap suami Veronica yang sudah tidak bisa lagi membendung air matanya.
Briana hanya menampilkan senyum tipis sambil sedikit mengangguk, “Sama-sama. Aku harap tidak ada kejadian buruk lagi pada bayi kalian.”
“Tentu, kami akan berusaha menjaga bayi kami dengan baik. Sekali lagi, terima kasih, Nona,” ucap Veronica dengan matanya yang sudah berkaca-kaca.
“Aku senang melihat kalian bahagia seperti ini,” ucap Briana dengan tulus.
“Semoga Nona juga bisa jauh lebih bahagia dari keluarga kami,” ucap Veronica dengan tulus, dan suaminya hanya menampilkan senyum bahagia.
Hati Briana menghangat. Tiba-tiba saja dia merindukan dua sosok pria yang selalu ada untuknya. Setelah berbincang sedikit, Briana pun berencana untuk pergi.
“Kalau begitu, aku bersama timku izin pamit, dan semoga kau juga segera lekas membaik,” ucap Briana.
“Iya, Nona. Terima kasih,” ucap Veronica yang sedang dirundung oleh rasa bahagia.
“Tuan, Nona, hati-hati!” ucap suami Veronica.
Semuanya pun akhirnya pergi meninggalkan rumah sederhana yang penuh kehangatan itu. Tugas Rey pun sudah selesai untuk menjaga keluarga itu.
“Keluarga mereka begitu hangat, bahkan mereka pun memperlakukanku dengan sangat baik selama bertugas di sana,” ucap Rey memecah keheningan di dalam mobil, “Aku semakin ingin memiliki keluarga, apalagi saat aku melihat betapa suaminya mencintai Veronica. Aku iri melihatnya.”
Briana, Aidar, dan Alan saling melempar tatapan dalam diam. Rey hanya bersikap santai sambil menatap keluar jendela, yang kebetulan dia duduk di kursi depan di samping Alan.
“Apa kau tidak merasa cukup jika aku dan anggota Black Angels yang lain menjadi keluargamu?” ucap Aidar, karena dia tahu jika Rey sudah tidak keluarga.
“Aku sangat bersyukur bertemu dengan kalian dan menjadi salah satu keluarga di Black Angels. Namun, perasaanku berbeda saat melihat keluarga kecil seperti mereka,” ucap Rey.
“Kalau begitu ciptakan keluarga kecilmu sendiri,” ucap Aidar.
“Sayangnya tidak ada yang mau denganku,” Rey terkekeh seolah itu hal lucu untuknya.
“Berarti akal wanita itu masih sehat, karena tidak menjadikanmu pasangan. Aku yakin jika hubungan kalian terjalin pasti tidak akan terarah, karena melihatmu sekali tatap saja sudah seperti anak labil,” jawaban Alan begitu menohok hati Rey, karena yang dia ucapkan ada benarnya jika Rey masih labil di usianya yang sudah menginjak dua puluh lima tahun, sama seperti Briana dan Aidar.
“Kalau kau sedang tidak menyetir, kupastikan kau babak belur Alan,” ucap Rey yang terdengar kesal, tapi Alan hanya tersenyum geli melihatnya.
Briana hanya menikmati interaksi mereka, yang menurutnya cukup menarik untuk mengisi kekosongan selama perjalanan kembali ke markas.
“Aku baru sadar, apa kita semua tidak memiliki pasangan?” ucap Rey yang membuat semua penumpang mobil terdiam kembali. Rey memutar tubuhnya untuk melihat Briana yang duduk tepat di belakang Alan, “Apa Nona juga belum memiliki pasangan sampai sekarang?”
Briana menatap Rey dengan santai, bahkan dia tidak pernah berpikir lagi tentang pasangan.
“Tidak,” singkat Briana.
“Ah, kalau begitu, apa Nona mau menjadi pasangan saya?” ucap Rey seolah itu adalah hal yang wajar yang dia ucapkan pada Briana.
Mendengar hal itu Aidar ingin sekali merespon sambil memperingatkan Rey jika mereka berbeda dengan Briana. Namun, Briana lebih dulu menjawab.
“Apa kau sedang melamarku?” tanya Briana dengan santai.
“Jika Nona mau, Nona bisa beranggapan seperti itu,” ucap Rey dengan semangat.
“Sayang sekali, aku tidak tertarik pada pria yang selalu menghindar sepertimu,” sarkas Briana.
Rey cukup tahu ke mana arah pembicaraan Briana. Jadi, dia hanya memberenggut tidak berbicara lagi. Aidar dan Alan berusaha menyembunyikan tawa mereka, yang satu pura-pura fokus mengemudi, dan satunya lagi memalingkan wajah ke luar jendela.
“Harusnya kau tahu diri, Rey,” ucap Aidar.
“Kau mau melawanku?” ucap Rey tidak terima.
Aidar mulai menatap Rey, “Kau sedang menantangku?”
“Alan, sepertinya kita akan memiliki tontonan yang seru,” ucap Briana penuh arti.
“Saya akan menantikannya, Nona,” ucap Alan.
Briana tidak mempermasalahkan perdebatan Aidar dan Rey sepanjang jalan. Hati Briana sedang bahagia sekarang. Jadi, dia membiarkan apa pun yang terjadi di dalam mobilnya. Mobil melaju menuju arah markas, tapi Rey dan Aidar meminta turun di salah satu jalan, karena mereka akan melakukan patroli bersama dua anggota lainnya yang sudah lebih dulu sampai di tempat.
“Nona, terima kasih atas tumpangannya,” ucap Aidar.
“Hm, kalian berhati-hatilah!” ucap Briana.
“Tentu. Nona juga,” ucap Rey.
Mereka memberikan salam hormat pada Briana, sebelum akhirnya mobil itu melaju lagi meninggalkan mereka berdua. Membutuhkan sekitar lima menit lagi mobil itu sampai di markas. Namun, Briana meminta Alan memutar arah laju mobil.
“Alan, kita ke kantor Brian. Aku ingin bertemu dengannya,” ucap Briana.
“Baik, Nona. Tadi saya mendapat kabar dari Bella, jika Tuan Nelson sedang berada di kantor Tuan Brian,” ucap Alan.
“Ah, baiklah,” ucap Briana.
Mobil itu pun mulai melaju menuju arah yang berlawanan. Menyisakan harapan seseorang yang kini tengah menunggu dalam kebosanan. Bahkan kerap kali dia mengecek pintu utama, dan pintu ruangan Briana yang tidak menunjukan keberadaan gadis yang ditunggu kehadirannya. Bahkan siang sudah berganti malam, dia tetap setia menunggu.
“Ke mana dia pergi? Kenapa belum juga kembali?” tanya Valerio pada dirinya sendiri sambil memperhatikan sekitar pelataran gedung yang cukup sepi dan temaram.