BAB 23
Tanpa sepengetahuan siapa pun Briana bersembunyi di ruangannya. Dia sengaja mengunci pintu ruangan khusus yang biasa dipakai menginapnya itu. Matanya menatap sebilah pisau lipat miliknya yang masih ada bercak darah Valerio. Isak tangisnya semakin menjadi. Bahkan dia berusaha membekap mulut agar isak tangisnya mampu diredam. Dia pun melipat lagi senjata tajam itu, lalu digenggamnya dengan erat. Lelehan air matanya terus saja mengalir, seolah tidak bisa dia hentikan.
Ayolah, Briana! Berhenti menangis! Jangan sampai ada orang yang tahu kau serapuh ini. Batin Briana.
Di tengah perjuangan melawan rasa trauma, tiba-tiba pintu ruangannya diketuk seseorang. Seketika Briana panik. Dia pun mencoba menghapus jejak air mata dan berusaha menenangkan diri. Hingga pintu itu pun terbuka yang ma