Malam itu, rumah terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena angin atau cuaca, tapi karena sunyi yang menggema begitu kuat hingga membuat napas terasa berat. Vivi berdiri di depan lemari, membuka pintunya perlahan. Tangannya gemetar saat menyentuh tumpukan pakaian yang dulu dilipatnya dengan cinta.
Ia mengambil satu per satu baju miliknya—beberapa baju kerja lama, daster, dan cardigan rajut pemberian almarhum ibunya. Tak banyak yang ia bawa. Ia hanya ingin pergi. Menyelamatkan dirinya dari rumah yang tak lagi menjadi rumah.
Di balik semua keraguan dan rasa takut, ada satu keyakinan kecil yang mulai tumbuh di dalam hatinya: ia tidak bisa terus bertahan di tempat yang membunuhnya perlahan.
Di luar kamar, Raka tertidur di sofa. Masih dengan ponsel di genggamannya. Vivi tak tahu lagi untuk siapa senyuman Raka kini diarahkan. Tapi yang jelas, itu bukan lagi untuknya.
Ia memandangi suaminya untuk terakhir kalinya malam itu. Bukan dengan benci, tapi dengan sedih—karena cinta yang begitu besar telah berubah jadi luka paling tajam.
---
Pagi menyingsing. Vivi pergi sebelum matahari naik.
Ia hanya meninggalkan sepucuk surat di meja makan. Tulisannya sederhana, namun penuh dengan emosi yang terselip di antara baris-barisnya:
> “Raka,
Aku sudah lelah mencoba memeluk dinginmu.
Aku mencintaimu, tapi aku juga harus mencintai diriku sendiri.
Untuk sementara, aku pergi.
Bukan untuk menghindar, tapi untuk menyelamatkan sisa-sisa yang masih ada dalam diriku.
Jika kamu masih menganggapku istrimu, temuilah aku dengan hati.
Jika tidak… biarkan aku pergi sepenuhnya.
–Vivi.”
---
Ia menumpang tinggal sementara di rumah Maya. Sahabatnya menyambutnya hangat, menyediakan kamar kecil yang nyaman, dan yang paling penting: telinga yang selalu siap mendengar tanpa menghakimi.
“Vi, kamu yakin nggak mau bawa barang lebih banyak?” tanya Maya saat membantu membongkar koper kecil milik Vivi.
“Enggak usah. Aku nggak yakin berapa lama di sini. Mungkin… selamanya,” jawab Vivi lirih.
Maya menatapnya sedih. “Aku tahu ini berat. Tapi kamu kuat, Vi. Kamu udah melewati banyak hal. Kalau pun kamu harus pisah, itu bukan karena kamu gagal, tapi karena kamu berani menyelamatkan hidupmu.”
Vivi mengangguk pelan. Air matanya menetes lagi. Kali ini bukan karena hancur, tapi karena lega. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia bisa bernapas tanpa rasa sesak di d**a.
---
Hari-hari berlalu. Vivi mencoba membangun rutinitas baru. Ia mulai kembali menulis—kegiatan yang dulu ia tinggalkan karena terlalu sibuk mengurus rumah. Kini, menulis menjadi pelariannya. Ia mencurahkan luka, amarah, dan kerinduan ke dalam lembaran-lembaran kertas, berharap suatu saat bisa membacanya dan tidak lagi menangis.
Suatu sore, saat sedang duduk di beranda rumah Maya, ponselnya berdering. Nama “Raka” tertera di layar.
Ia mendadak kaku. Napasnya tercekat. Butuh waktu beberapa detik sebelum akhirnya ia berani menjawab.
“Halo…”
“Vi…” suara Raka terdengar pelan, tapi jelas. Ada nada asing di sana—bukan marah, bukan juga hangat. Seperti seseorang yang tak tahu harus mulai dari mana.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Di tempat yang bisa bikin aku tenang,” jawab Vivi singkat.
“Kamu ninggalin rumah… kayak gitu aja.”
“Rumah? Apa kamu masih anggap itu rumah, Ka?”
Hening. Hanya napas mereka yang saling bersahutan.
“Aku... kaget,” kata Raka akhirnya. “Aku gak nyangka kamu bakal pergi.”
“Aku juga gak nyangka kamu bisa berubah sejauh ini.”
Suara Vivi mulai bergetar. Semua rasa sakit yang ia pendam meledak lewat suara.
“Aku bangun tiap pagi nyiapin sarapan, nunggu kamu pulang, berusaha senyum meski kamu makin asing. Tapi kamu terus menjauh. Bahkan matamu gak pernah lihat aku lagi, Ka. Aku capek. Aku capek jadi orang yang berjuang sendirian.”
Raka tak menjawab. Di balik telepon, Vivi bisa mendengar napas beratnya. Tapi itu tak cukup.
“Aku cuma mau tahu satu hal,” lanjut Vivi, “Masih ada aku di hati kamu? Atau kamu udah isi dengan yang lain?”
Butuh waktu beberapa detik sebelum Raka menjawab. Dan ketika jawabannya datang, itu bukan apa yang Vivi harapkan.
“Aku... gak tahu, Vi.”
Empat kata. Tapi cukup untuk meruntuhkan seluruh harapan yang tersisa.
---
Malam itu, Vivi menulis lebih lama dari biasanya. Ia menuliskan semua yang tak sempat ia katakan. Tentang harapan yang ia simpan rapat-rapat, tentang doa yang ia panjatkan tiap malam, tentang luka yang perlahan menggerogoti jiwanya.
> “Cinta itu bukan soal siapa yang paling lama bertahan,
Tapi siapa yang masih mau berjuang saat semuanya mulai goyah.
Aku sudah berjuang, Raka.
Tapi kalau kamu bahkan gak tahu aku masih ada di hatimu atau tidak,
Mungkin… waktunya aku pergi tanpa menoleh lagi.”
---
Hari ketujuh Vivi meninggalkan rumah, sebuah pesan masuk ke ponselnya.
> “Aku pulang malam ini, dan rumah ini kosong.
Tapi entah kenapa... aku justru merasa ini pertama kalinya benar-benar sepi.
Maaf, Vi.”
Vivi membaca pesan itu sambil menatap langit malam. Hatinya berkecamuk. Tapi tak ada air mata kali ini. Hanya d**a yang sedikit berat—berat karena sadar bahwa kadang, maaf datang terlambat.
Dan cinta… kadang tak cukup untuk memperbaiki yang sudah terlalu hancur.