PLAKKK!!!
Suara tamparan kuat mendarat cantik di pipi mulusnya, bahkan membuat pipinya terasa panas dan darah segar mengalir dari sudut bibir mungilnya.
Matanya berkaca-kaca, ini bukan pertama kalinya tapi ini adalah yang kesekian kalinya. Perlahan gadis itu menoleh dan menatap wajah cantik Ibunya.
"Kamu itu gak pernah jera ya? Kenapa sih, kamu selalu ganggu Renaya? Apa kamu gak bisa berdamai sehari aja sama adik kamu, ha?!" tanya sang Ibu dengan nada yang cukup tinggi.
Gadis itu perlahan menundukkan kepalanya sambil tersenyum getir dan mengepalkan tangannya, "Tapi aku sama sekali gak ada dorong Renaya, Ma."
Simon Arglenth, kakak kedua gadis itu langsung menarik kuat rambutnya, "Kalo bukan lo yang dorong, terus siapa? Gak mungkin Renaya sengaja jatuhin dirinya cuma buat ngefitnah lo," sahutnya, sambil menghempaskan kepala gadis itu kasar.
"Tapi—"
"CUKUP, EVELLYN!!" bentak seorang pria paruh baya, dan mendekatinya.
"Papa benar-benar kecewa dan muak sama kamu, Evellyn. Sebagai hukumannya, kamu pergi dari rumah ini! Papa tidak mau anak Papa di sakiti lagi sama gadis kurang ajar seperti kamu!" Usir Papanya, membuat Evellyn membeku tak percaya di tempatnya.
Axelle yang entah sejak kapan membereskan semua barang-barangnya, langsung melemparkan kopernya ke lantai.
"Pergi kamu dari sini! Jangan pernah kembali lagi, ngerti kamu!" seru Mamanya membuat Evellyn geram.
Evellyn menundukkan kepalanya, sambil mengepalkan tangannya kuat hingga kuku-kuku tangannya memutih. Ia berjanji di dalam hatinya, ia akan datang lagi untuk merebut kembali semua hak miliknya.
Evellyn pun mengambil kopernya, dan saat ia hendak pergi tiba-tiba Serenaya datang dan menahannya. Evellyn menatapnya dengan dingin, tanpa ingin mengeluarkan kata-kata.
"Lihat 'kan? Sekuat apapun lo ngelawan gue, lo gak akan pernah bisa Evellyn," bisik Serenaya sambil menyeringai.
Tanpa Evellyn duga, Serenaya menjatuhkan dirinya sendiri dan hal itu membuat keluarganya terkejut. Bahkan Simon dengan kuat mendorongnya menjauh, hingga membuat kepala Evellyn terbentur tembok.
Pusing langsung menjalar di kepalanya, membuat Evellyn meringis pelan sambil memejamkan matanya.
"Lo kalo disuruh pergi, ya pergi s****n! Ngapain lo nyakitin adik gue, ha?!!" teriak Simon sambil menunjuk wajah Evellyn.
"Gue gak ada nyakitin adik lo, Simon. Dia yang sengaja jatuh sendiri buat fitnah gue!" jawab Evellyn membela diri.
Namun tamparan kuat kembali mendarat di pipinya, "Papa benar-benar kecewa sama kamu, Evellyn! Pergi kamu!" teriaknya.
Dengan tatapan tajam Evellyn mengangguk, "Baik! Saya akan pergi, tapi ingat baik-baik Tuan Arglenth. Suatu saat saya akan kembali, dan merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milik saya. Termasuk memb***h perempuan itu!"
Evellyn menatap tajam kearah Serenaya, dan hal itu membuat Serenaya terkejut dan ketakutan. Bukan hanya Serenaya tapi juga keluarganya ikut terkejut.
Tatapan Evellyn langsung asing dimata mereka, dan dengan langkah tegas Evellyn menyeret kopernya pergi meninggalkan kediaman Arglenth.
***
Malam semakin larut, dan Evellyn terus melangkah tanpa tahu arah. Ia benar-benar kecewa dengan perlakuan keluarganya sendiri. Semua kenangan manisnya bersama kedua kakak dan orang tuanya berputar di benaknya seperti kaset rusak yang membuatnya meringis pelan.
Setelah benturan terakhir dan tamparan Papanya membuat kepalanya berdenyut hebat. Untungnya ia masih bisa tahan, jika tidak mungkin ia sudah jatuh pingsan di rumah itu.
Kepala gue sakit banget. Gue harus kemana sekarang? Uang gue semuanya diambil mereka. Apa ini bakal jadi hari terakhir gue lihat dunia?
Tanpa aba-aba, Evellyn akhirnya kehilangan kesadarannya tepat di depan sebuah mobil yang hendak lewat. Untungnya mobil tersebut bisa berhenti tepat di depan wajah Evellyn.
Lalu sopir mobil itu segera keluar untuk mengecek kondisi Evellyn. Tidak lama seorang pria tampan dengan wajah tegasnya keluar dari mobil untuk ikut melihat kondisi Evellyn.
"Bagaimana kondisinya?" tanya pria itu, dan sopirnya menoleh.
"Sepertinya gadis ini pingsan, Tuan. Apa kita bawa ke rumah sakit saja?" tanya sopirnya, dan pria itu mengangguk.
Sopirnya segera menggendong Evellyn, lalu mendudukannya di kursi depan bersamanya sedangkan pria itu kembali duduk di kursi belakang.
"Langsung ke rumah sakit, atau ke mansion saja, Tuan?" tanya sopirnya sambil melihat kearah rearmirror visor.
"Ke mansion. Panggil dokter pribadi untuk memeriksanya." Pria itu kembali memejamkan matanya, dan sopir pun mengangguk seraya melajukan mobilnya.
Sopirnya sempat bingung melihat tingkah tuannya yang tidak biasa. Walaupun memang sering terjadi hal seperti ini, tapi tuannya tidak pernah membiarkan orang asing untuk datang ke mansionnya.
Namun kali ini adalah pertama kali tuannya mengajak seorang gadis asing datang ke mansionnya. Bahkan tunangannya saja tidak pernah ia izinkan untuk datang ke mansion pribadinya itu.
***
Setibanya di mansion megah itu, sopirnya kembali menggendong Evellyn dan membawanya masuk ke kamar tamu sesuai dengan perintah tuannya.
"Langsung telepon Dokter Chris, saya ke kamar dulu." Tuannya memberikan perintah, lalu pergi ke kamarnya di lantai 3.
Sopir yang sekaligus menjabat sebagai assistant pribadinya itu hanya bisa menuruti perintahnya dan segera menelepon dokter pribadi Tuannya.
Hanya membutuhkan waktu 30 menit, Dokter Chris tiba di mansion tersebut dan langsung memeriksa kondisi Evellyn. Ia sempat terkejut melihat keberadaan Evellyn di mansion tersebut, yang bukan lain adalah sahabatnya sendiri.
"Bagaimana kondisinya?" tanya pria yang saat ini tengah bersandar santai di pintu kamar.
"Kau selalu begitu, mengejutkanku. Tapi, kau bertemu gadis ini dimana, Will?" tanya Dokter Chris pada pria yang di sapa 'Will'.
"Di jalan. Pingsan tepat di depan mobilku," jawab Willie sambil meneguk wine di tangannya.
"Lagi? Tapi, kenapa kau bawa dia pulang? Biasanya akan kau bawa ke rumah sakit, lalu melakukan pembayaran dan pergi." Dokter Chris menjabarkan semua kebiasaan Willie.
"Tidak tahu. Kalau sudah selesai di periksa, kau boleh pergi. Biarkan dia istirahat," ujar Willie mengusir Dokter Chris dan pergi ke kamarnya.
Dokter Chris hanya bisa mendengus kesal dan segera membereskan semua peralatannya, lalu memberikan resep obat gadis itu pada assistant Willie.
Arga Willie Blaire, pria usia 30 tahun yang dingin dan sangat kejam. Willie adalah King Mafia terkuat di dunia yang memiliki hati sedingin es dan sekeras tembaga.
Tidak banyak orang yang berani bersinggungan dengannya, karena Willie terkenal sebagai orang yang berdarah dingin dan tidak segan-segan memb***h orang yang mengusiknya.
Ada apa denganku? Kenapa aku dengan mudahnya membiarkan gadis asing itu masuk ke mansionku? Bahkan membiarkan Chris memeriksanya. Apa aku sudah gil*?
Di dalam kamarnya Willie hanya bisa bergelut dengan pikirannya sendiri sambil menikmati rokok di sela-sela jarinya. Ini benar-benar pertama kalinya ia membawa seorang gadis asing ke mansion pribadinya.
Malas memikirkan hal tidak penting, Willie pun mematikan rokok itu dan segera berbaring seraya memejamkan matanya.
To be Continue..