Keesokan paginya, Willie keluar dari kamarnya dan ia hendak berangkat ke kantor karena ada meeting penting pagi itu. Tapi langkahnya terhenti saat mendengar tawa kecil yang asing di arah dapur.
Apa dia sudah baikan?
"Selamat pagi, Tuan Blaire." Assistant-nya menyapa saat melihat Willie berdiri di ujung tangga.
Mendengar sapaan tersebut, mengalihkan pandangan Evellyn kearahnya dan tatapan mereka bertemu untuk sekian detik.
"Selamat pagi, Tuan Blaire." Evellyn ikut menyapa bahkan melangkah dengan berani mendekati Tuan Blaire.
"Saya ingin berterima kasih karena anda sudah menolong saya semalam. Saya sudah siapkan sarapan untuk anda, silahkan di coba." Evellyn tidak lama menatap Willie, dan mempersilahkan Willie untuk menikmati sarapan buatannya.
Para maid dan assistant-nya tahu Willie pasti akan menolak, tapi di luar dugaan langkah kaki Willie berjalan kearah meja makan. Evellyn cukup senang, lalu ia mengikutinya dan menyajikan sarapan itu untuk Willie.
Aku tidak salah lihat 'kan? Tuan Blaire sarapan di rumah? Dan menikmati sarapan dari gadis itu?
Assistant-nya melongo tidak percaya, begitu juga dengan para maid yang ada di sana. Setelah sarapannya selesai, Evellyn mendekatinya dan bertanya tentang masakannya.
"Lumayan. Tapi lain kali kau tidak perlu melakukannya lagi. Aku mempekerjakan mereka, aku membayarnya, jadi tidak usah mengganggu pekerjaan mereka," ujar Willie dan Evellyn mengangguk paham.
Tapi mau bagaimana pun mereka juga manusia, apa salahnya membantu mereka menyiapkan sarapan?
"Oh ya, satu lagi. Jika perasaanmu sudah membaik, sopir diluar akan mengantarmu pulang." Willie hendak pergi sebelum Evellyn menarik ujung jasnya.
Willie berhenti seraya menoleh kearah Evellyn, "Ada apa?" tanyanya.
"Aku tidak punya rumah, bolehkah aku melamar pekerjaan sebagai maid disini?" tanya Evellyn dengan kepala tertunduk.
Willie cukup lama terdiam, lalu kembali bersuara, "Tinggalah beberapa hari disini. Jika kau butuh pekerjaan akan aku pikirkan pekerjaan yang cocok untuk anak seusiamu."
Willie pergi dan Evellyn sedikit senang karena ia masih bisa tinggal di mansion itu. Setelah Willie pergi, Evellyn membantu para maid mengerjakan pekerjaannya, lebih tepatnya Evellyn yang memaksa.
***
Dalam perjalanan menuju kantornya, Willie meminta assistant-nya untuk mencari tahu siapa Evellyn sebenarnya.
"Baik, Tuan." Assistant-nya mengerti dan segera mencari identitas Evellyn.
"Oh ya, bagaimana kondisi Alleya? Apa sudah ada perkembangan?" tanya Willie.
"Sedikit, Tuan. Nyonya Alleya sudah bisa melangkah sendiri tanpa alat bantuan. Tapi ingatannya masih belum pulih," jawab assistant-nya.
"Baiklah. Kau terus awasi keluarga Arglenth, jangan biarkan mereka tahu tentang Alleya."
"Baik, Tuan."
***
Setibanya di kantor, Willie langsung pergi ke ruangannya dan ia terkejut melihat ibunya duduk santai di ruangannya. Willie menghampirinya, lalu duduk di sebelahnya.
"Ibu, kenapa datang tidak mengabariku dulu?" tanya Willie.
"Ibu dengar dari Candra, semalam kamu menolong gadis kecil. Dimana dia?" tanya Ibu Willie.
Alih-alih menjawab, Willie menatap dingin kearah Candra, si assistant yang mulutnya tidak ada remnya bila sudah bicara dengan Ibunya.
"Arga, jawab Ibu. Dimana gadis itu?" tanya Ibunya lagi.
Willie menghela nafas, "Ada, Bu. Gadis itu sedang di mansion pribadiku."
Hal tersebut membuat Ibunya terkejut, "Apa?! Kamu bawa dia ke mansionmu? Kamu gil* ya? Bagaimana kalau dia ketakutan melihat mansionmu yang gelap itu? Bagaimana—"
"Ibu, semuanya sudah aku ubah. Tidak segelap dulu, jadi—"
"Tetap saja, Arga. Bawa gadis itu pulang, biar Ibu yang mengurusnya."
"Bu, dia hanya orang asing. Berapa kali Arga bilang, jangan percaya sembarangan sama orang asing. Nanti—"
"Ibu akan menilainya. Lagi pula, kalau memang kamu tidak percaya dengan gadis itu, kenapa kamu membawanya ke mansion pribadimu? Alleya saja dulu tidak kamu izinkan datang, padahal kamu menyukainya 'kan?" tanya Ibunya, dan Willie pun akhirnya mengalah.
"Iya, iya, Bu. Ibu menang, nanti aku akan ajak dia pulang ke mansion utama." Willie pun mengalah dan senyuman Ibunya langsung merekah.
"Baiklah, kalau begitu Ibu pulang dulu. Ibu tunggu kedatangan kalian malam ini," jawab Ibunya seraya beranjak dan pergi dari kantor anaknya.
"Ini semua gara-gara Candra! Awas kau, Candra!" gumamnya pelan seraya beranjak menuju meja kerjanya.
***
Beberapa jam kemudian, Candra datang menghampiri Willie dan mengatakan kalau dirinya sudah menemukan identitas asli Evellyn.
"Apa?! Jadi dia itu anak Alleya dan Arglenth?!" pekik Willie terkejut, dan Candra mengangguk menanggapinya.
"Bukan hanya itu saja, Tuan. Ternyata di rumahnya Nona Evellyn selalu di fitnah oleh putri angkat mereka, Serenaya." Candra memberikan bukti-bukti perlakuan mereka terhadap Evellyn.
Tentu saja Willie tidak akan tinggal diam. Bahkan kecelakaan Alleya saja masih belum ada titik terang, apakah itu benar-benar kecelakaan atau sengaja di rekayasa.
Willie kesulitan mencari buktinya karena saat menolong Alleya dari dasar jurang, mobil Alleya langsung meledak dan Alleya koma selama 10 tahun.
Willie mengepalkan tangannya, "Baik, mereka membuang putrinya sendiri. Maka aku yang akan mengadopsinya."
"Siapkan semua berkas-berkasnya. Mulai sekarang Evellyn akan menjadi putriku. Evellyn Callistha Blaire." Willie menatap lurus dengan rahang mengeras, dan Candra mengangguk seraya langsung mengurusnya.
Tenang saja Alleya, aku akan menjamin kehidupan putrimu. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitinya, termasuk Ayah kandungnya!
***
Sore harinya, Willie pulang ke masionnya dan ia melihat Evellyn yang duduk santai di teras depan sambil menatap langit malam. Ia hanya menggunakan setelan tipis, dan Willie pun mendekatinya.
"Kamu sedang apa?" tanya Willie seraya duduk di sebelah Evellyn.
"Eh! Tuan, selamat sore." Evellyn menyapa Willie seraya berdiri.
"Duduklah. Ada hal yang mau saya bicarakan sama kamu," jawab Willie, dan Evellyn pun duduk di sebelah Willie.
"Semalam, kenapa kamu bisa pingsan di jalan? Apa kamu kabur dari rumah?" tanya Willie, dan Evellyn cukup lama terdiam.
Evellyn menghela nafas, "Tidak. Mereka mengusirku dari rumahku sendiri."
"Kenapa di usir? Kau membuat kesalahan?" tanya Willie dan Evellyn terkekeh pelan.
"Di saat orang tidak mempercayaiku lagi, mereka tidak akan peduli apakah aku membuat kesalahan atau tidak, yang penting mereka melampiaskan amarah mereka padaku. Dan puncaknya semalam, dia memfitnahku dan mereka mengusirku."
"Seandainya Nenek dan Mama masih ada, mungkin aku tidak akan pernah meninggalkan rumah itu, dan mereka tidak akan bisa semena-mena terhadapku," jawabnya sambil memejamkan mata dengan kepala mendongak kearah langit.
"Kalau begitu, bagaimana kalau kamu menjadi putriku? Aku akan mengadopsimu, dan menjamin masa depanmu," ujar Willie, membuat Evellyn terkejut dan menoleh.
"Tuan serius? Tapi, kenapa?" tanya Evellyn bingung.
"Apanya yang kenapa? Mereka sudah tidak menginginkanmu. Padahal kamu anaknya baik, cantik dan perhatian. Tapi mereka buta, malah mengusirmu dari rumah. Kebetulan, aku masih sendiri. Jadi, kamu mau menjadi putriku?" tanya Willie dengan senyuman manisnya.
"Terima kasih, Tuan. Saya berjanji, saya akan menjadi anak yang penurut dan membanggakan untuk, Tuan." Evellyn membungkuk hormat pada Willie.
"Sudah-sudah, jangan seperti itu. Mulai sekarang jangan memanggilku Tuan lagi," pinta Willie sambil menarik lembut tangan Evellyn kearahnya.
"Terus, aku harus panggil apa? Tapi, aku tidak akan memanggilmu 'Papa'. Aku tidak suka," jawab Evellyn, dan Willie hanya terkekeh pelan.
"Terserahmu saja, yang pasti bukan 'Tuan' lagi," sahut Willie, membuat Evellyn berpikir pelan.
"Bagaimana kalau aku memanggilmu 'Daddy', boleh 'kan?" tanya Evellyn, dan Willie mengangguk menanggapinya, dan Evellyn memeluk Willie seraya mengucapkan terima kasih.
To be Continue..