Karena sudah waktunya makan malam, Willie mengajak Evellyn untuk makan malam bersama. Namun sebelum makan malam, Willie meminta Candra untuk mengumpulkan semua maid dan bodyguard yang berjaga di mansionnya.
"Memangnya buat apa, Dad?" tanya Evellyn, dan Willie hanya mengisyaratkan Evellyn untuk diam.
Saat hendak menuruni tangga, Willie dan Evellyn berdiri di pinggir lantai 2 seraya menatap semua maid dan bodyguard yang sudah berkumpul.
"Aku ingin menyampaikan kalau mulai hari ini Evellyn resmi menjadi putriku. Dia adalah Nona muda keluarga Blaire, Evellyn Callistha Blaire." Willie memperkenalkan Evellyn pada seluruh maid.
Evellyn sempat terkejut mendengar marga Willie, dan ia ingin bertanya tapi sepertinya bukan saat yang tepat untuknya. Para maid dan bodyguard senang mendengarnya, dan mereka menyambut Evellyn dengan baik.
Willie menggandeng Evellyn menuruni tangga dan melangkah menuju ruang makan. Maid menyiapkan makan malam mereka, dan Evellyn sedikit gugup di perlakukan layaknya princess oleh mereka semua.
"Evellyn, lo beneran di angkat anak sama Tuan Blaire?" tanya seorang gadis dengan pakaian maid yang langsung menghampiri Evellyn.
Willie menatap gadis itu dengan datar, dan ia merasa kalau gadis itu tidak menyadari keberadaannya. Seorang kepala pelayan pun menghampirinya, dan mengatakan kalau Willie di belakangnya.
Tentu saja gadis itu terkejut, dan memohon ampun pada Willie. Evellyn pun beranjak dan membantu gadis itu berdiri, namun ia menolaknya karena ia takut kehilangan pekerjaannya.
"Sudah, berdiri." Willie pun membuka suaranya.
"Te-terima kasih, Tuan. Maaf, Nona saya—"
"Udah deh Ariel, lo gak usah kaku gitu. Daddy gak bakal pecat lo kok, iya 'kan, Dad?" tanya Evellyn, dan Willie mengangguk menanggapinya.
"Te-terima kasih, Tuan." Lagi-lagi gadis itu membungkuk hormat pada Willie.
Setelahnya gadis itu pergi bersama para maid yang lain, yang langsung menegurnya. Evellyn terkekeh pelan mendengarnya dan hal itu menarik perhatian Willie.
"Sepertinya kamu menyukainya," ujar Willie membuka obrolan.
"Iya, Dad. Anaknya seru, humble dan baik juga. Baru kali ini aku merasa senyaman ini ngobrol dengan orang baru," jawab Evellyn dan Willie mengangguk.
"Bagaimana sekolahmu? Biar Daddy urus semuanya," tanya Evellyn, membuat Evellyn terdiam.
"Aku sekolah di sekolah swasta, Dad. Mereka mengirimku ke sekolah biasa, sedangkan putri angkat mereka sekolah di sekolah impianku. Dan putrinya sekolah di sana menggunakan jalur penghargaan yang aku raih," jawab Evellyn sambil mengepalkan tangannya.
"Baiklah, besok kamu mulai sekolah di sekolah itu. Daddy akan mengurus semuanya untukmu," jawab Willie sambil mengusap puncak kepala Evellyn.
"Terima kasih, Dad." Evellyn tersenyum senang.
Bukan hanya itu, Willie juga memberikan sebuah mobil dan sopir pribadi untuk mengantar jemput Evellyn kemana saja. Dan hal itu benar-benar membuat Evellyn bahagia.
Karena Evellyn sangat menyukai Ariel, Willie pun meminta Ariel untuk ikut bersekolah dengan Evellyn sekaligus menjaga Evellyn dari orang-orang tidak penting.
Tentu saja hal itu membuat Ariel senang dan tanpa sadar ia memeluk Evellyn. Willie ingin marah, tapi Evellyn terkekeh pelan seraya membalas pelukan Ariel.
"Sudah malam, karena besok kalian mulai sekolah sekarang kita pulang." Willie beranjak dari sofa.
"Pulang? Pulang kemana, Dad?" tanya Evellyn bingung.
"Ke rumah utama, Sayang. Tinggal bareng Oma," jawab Willie, dan Evellyn pun mengangguk menanggapinya.
Ariel segera membereskan barang-barangnya, dan ia segera menyusul Evellyn dan Willie yang sudah menunggunya.
***
Setibanya di mansion utama, Evellyn dan Ariel sama-sama melongo melihat kemegahan mansion utama Keluarga Blaire.
"Mansion pribadi Tuan aja udah gede banget, ini mansion utama udah kek kerajaan, anjir." gumam Ariel pelan, membuat Evellyn terkekeh pelan.
"Gue juga gak nyangka mansionnya bakal sebesar ini," bisik Evellyn.
Setelah mobil berhenti, Ariel langsung keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Evellyn. Evellyn tersenyum, "Terima kasih," ujarnya.
"Sama-sama, Nona." Ariel tersenyum dan Evellyn terkekeh pelan.
Willie menggandeng Evellyn dan mengajaknya masuk ke dalam mansion. Ariel berdiri di belakang Evellyn bersama dengan Candra yang berdiri di belakang Willie.
Saat pintu masuk terbuka, "SELAMAT DATANG TUAN BLAIRE DAN NONA MUDA," sapa para maid, membuat Evellyn dan Ariel terlonjak kaget.
Willie mengusap pundak Evellyn seraya melangkah menuju ruang tengah. Ibu Willie sudah menunggunya, dan saat melihat mereka datang, ia langsung beranjak dan menghampiri Evellyn.
"Cantik, lebih cantik dari Mamanya," ujar Ibu Willie sambil mengusap puncak kepala Evellyn.
"Mama? Oma, kenal Mama?" tanya Evellyn bingung.
"Tentu saja, Oma sangat mengenal Mama kamu. Ayo, duduk." ajak Omanya, dan Evellyn mengangguk mengikuti langkah Ibu Willie.
"Dulu, Mama kamu sama Daddy kamu itu temen sekolah, dan mereka sangat dekat. Tapi—"
"Ibu, jangan dibahas lagi. Semuanya udah selesai, sekarang tugas kita hanya menjaga Evellyn. Buat dia bahagia, dan menjadi satu-satunya princess kesayangan keluarga Blaire," ujar Willie menyela, dan Ibunya mengangguk setuju.
"Terima kasih, Oma.. Daddy.. Aku gak tahu harus bilang apa lagi selain terima kasih," jawab Evellyn, seraya memeluk Omanya.
Karena hari semakin larut, Willie mengantar Evellyn ke kamarnya sedangkan Ariel di antar oleh Candra. Evellyn menyukai kamarnya, dan ia pun segera istirahat karena besok ia akan sekolah di sekolah impiannya.
Mulai besok gue bakal susun rencana. Gue bakal buat lo menyesal dan memohon ampun sama gue, Serenaya.
Evellyn melangkah menuju kamar mandi dan ia terkejut melihat kamar mandinya yang mewah, lebih mewah dibandingkan kamar mandi di rumahnya dulu.
Bukan hanya itu, bahkan menghidupkan lampu dan tirai saja tidak perlu tenaga. Ia hanya perlu bicara dan semuanya otomatis menyala dan terbuka.
Evellyn merasa sangat lelah, dan ia pun memutuskan untuk berendam di bathup sambil mendengarkan musik favoritnya.
Aku lupa, handphone ini pemberian Axelle. Tapi aku gak mungkin minta Daddy buat belikan handphone baru. Tck! Harus gimana ya? Apa aku tanya Paman Candra aja ya?
Evellyn pun mengirimkan pesan pada assistant Willie dan memintanya untuk membelikan handphone baru, namun ia tidak mengizinkan Candra untuk memberitahu Daddy-nya.
Ia akan mengembalikan uang Candra setelah ia mendapat uang bulanan dari Daddy-nya. Setelah Candra setuju, tanpa pikir panjang Evellyn langsung memasukkan handphonenya ke dalam ember berisikan air.
Good bye my phone.
Evellyn bersandar dan menikmati kehangatan air yang menyentuh kulit putihnya. Evellyn sudah lama tidak merasakan menyamanan ini, karena di rumah lamanya ia selalu mandi menggunakan gayung, dan tidur beralaskan karton di gudang yang gelap.
"Mama.. Mama tenang aja, sekarang hidupku sudah membaik. Daddy Willie sangat baik padaku, memperlakukanku layaknya putri kandungnya sendiri. Berbeda dengan mereka yang membuangku demi anak yang bukan darah dagingnya sendiri. Tapi, Mama tenang aja, aku akan segera rebut kembali semuanya dari mereka. Yang mereka miliki sekarang adalah milik kita, Ma." gumam Evellyn sambil memejamkan matanya dan tanpa sadar airmatanya menetes.
To be Continue...