Keesokan paginya, Evellyn dibangunkan oleh maid yang membuka tirai kamarnya. Evellyn menggosok matanya seraya menguap, dan melihat beberapa maid yang tersenyum padanya.
"Selamat pagi, Nona Muda." Maid menyapanya, dan Evellyn hanya mengangguk.
"Air mandinya sudah kami siapkan. Silahkan, Nona." Maid satunya mempersilahkan dirinya masuk ke kamar mandi.
"Eum. Kalian boleh pergi, aku bisa bersiap sendiri." Evellyn turun dari tempat tidurnya, namun para Maid masih diam di tempatnya.
"Kenapa masih pada disini?" tanya Evellyn lagi.
"Maaf, Nona Muda. Tuan sudah memberikan perintah untuk melayani anda—"
"Aku mengerti, tapi ini perintahku juga. Nanti biar aku yang bicara dengan Daddy. Aku yang akan tanggung jawab, kalian tidak usah takut. Letakkan saja seragamnya di kasur." Evellyn masuk ke dalam kamar mandi mengabaikan para maid yang masih kebingungan.
Setelah selesai merapikan tempat tidur Evellyn, dan meletakkan seragamnya sesuai dengan perintah Evellyn mereka masih berdiri di sana menunggu Evellyn selesai mandi.
Beberapa menit kemudian, Evellyn keluar dari kamar mandi dan terkejut melihat mereka masih berdiri di sana. Evellyn menghela nafas dan membiarkan mereka di sana.
Setelah siap Evellyn keluar kamar menuju meja makan bersama maid yang mengikutinya. Di sana sudah ada Omanya dan Daddy-nya.
"Pagi, Oma.. Daddy," sapa Evellyn.
"Pagi cucu cantiknya Oma. Duduk, Sayang. Gimana semalam tidurnya, nyenyak?" tanya Omanya, dan Evellyn mengangguk.
"Nyenyak, Oma." Evellyn menjawabnya dengan tersenyum manis.
Setelahnya mereka sarapan bersama, "Oh ya, Dad. Paman Candra mana?" tanya Evellyn, dan Willie mengerutkan keningnya.
"Paman Candra belum datang, mungkin sebentar lagi. Kenapa?" tanya Willie dan Evellyn hanya menggelengkan kepalanya.
Panjang umur Paman Candra pun datang tepat setelah mereka selesai sarapan. Evellyn yang melihatnya, langsung beranjak dan menyeretnya pergi menjauh.
Willie yang melihatnya terkejut dan penasaran, sedangakn Candra panik dan melihat tatapan tajam Willie padanya.
"Paman, mana yang Eve minta semalam?" tanya Evellyn sambil mengulurkan tangannya.
Candra gugup, "Eum, i-itu Nona. Apa tuh—"
"Paman buruan, jangan basa-basi nanti Daddy curiga." Evellyn menggoyangkan tangan Candra.
"Aduh, maaf Nona. Tapi, semalam yang baca chat Nona itu bukan saya, tapi Tuan Blaire." Candra menundukkan kepalanya.
Evellyn shock mendengarnya, dan tangannya yang berada di lengan Candra langsung terlepas.
Matilah sudah. Daddy pasti bakal marah nih, soalnya gue gak minta langsung sama dia. Aduhhh!
"Evellyn." Willie memanggilnya, dan sontak hal itu membuat Evellyn terlonjak kaget.
"I-Iya, Dad?" tanya Evellyn seraya menghampiri Willie di ruang tengah.
Omanya tersenyum melihat Evellyn yang gelagapan menghampiri putranya. Ia tahu kalau semalam Evellyn meminta handphone baru pada Candra, dan melarang Candra untuk mengatakannya pada Willie.
"Kamu ada urusan apa sama Candra?" tanya Willie, dan Evellyn hanya menunduk sambil memainkan ujung blazernya.
"Sini, duduk sebelah Daddy." pinta Willie, dan Evellyn pun mendekati Daddy-nya seraya duduk di sebelahnya.
"Kenapa gak bilang sama Daddy kalau kamu mau handphone baru?" tanya Daddy-nya lembut sambil mengusap surai Evellyn.
"Maaf, Dad. Eve cuma gak enak aja, soalnya Eve baru aja diadopsi, gak enak kalau langsung minta dibeliin handphone baru sama Daddy," jawab Evellyn terus terang.
Tawa Willie mengudara, ia sangat gemas melihat putrinya yang masih malu-malu dengannya. Willie pun mengisyaratkan Candra untuk memberikan handphone yang ia minta Candra belikan.
Candra memberikannya pada Evellyn, dan Evellyn lagi-lagi shock melihat handphone tersebut. Pasalnya itu adalah handphone keluaran terbaru, dan belum dipasarkan. Ia melihatnya di internet, dan hal itu benar-benar membuat Evellyn shock.
"Dad, i-ini 'kan?" Evellyn menatap wajah Willie.
"Ini handphone buat kamu. Jadi—"
"Iya Eve tahu, Dad. Tapi handphone ini belum dipasarkan, Daddy dapat dari mana? Paman Candra?" tanya Evellyn menatap Candra yang hanya mengusap tengkuknya yang tidak gatal.
"Apapun akan Daddy lakukan untuk putri Daddy. Kamu gak perlu tahu bagaimana caranya Daddy mendapatkan handphone itu," jawab Willie, membuat Evellyn senang dan memeluknya.
Willie membalas pelukan Evellyn, lalu ia mencium puncak kepala Evellyn. Jam menunjukkan pukul 8 dan Evellyn pun segera berangkat sekolah diantar sopir pribadinya bersama Ariel.
***
Neo Andromeda School, salah satu sekolah terfavorit di kota yang isinya hanya orang - orang berada. Senyuman Evellyn tidak lepas dari wajahnya semenjak mobilnya masuk ke dalam area sekolah.
Ariel yang duduk di depan melongo melihat sekolah yang begitu megah, "Nona, kit-kita beneran sekolah disini? Saya ikutan belajar disini?" tanyanya.
"Iya, Riel. Daddy 'kan udah biayain sekolah lo selama 4 tahun di sini, jadi lo sekolah bareng gue. Oh ya, jangan panggil gue Nona di sekolah, dan jangan terlalu formal sama gue. Pokoknya, anggap gue temen lo, okay?" perintah Evellyn, membuat Ariel dan sopirnya saling menatap.
"Tapi, Nona—"
"Ini perintah loh, lo mau nolak perintah gue?" tanya Evellyn kesal, dan Ariel pun menggelengkan kepalanya.
"I-iya deh, No— Eh! Lyn." Ariel benar-benar gugup, ia takut ketahuan oleh Willie dan Willie akan memarahinya.
"Good! Ayo turun," ajak Evellyn.
Sopir pribadinya membukakan pintu mobil untuknya, sedangkan Ariel langsung lari berpindah di sebelah Evellyn.
"Pak, nanti jemput kalo saya udah chat ya. Soalnya kemungkinan nanti saya pulang telat," ujar Evellyn.
"Baik, Nona."
Evellyn pun melangkah beriringan dengan Ariel, dan mereka langsung menjadi pusat perhatian.
Ariel memang cantik, hanya saja ia menjadi sebatang kara saat kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan. Ariel pun akhirnya berhenti sekolah dan mencari pekerjaan, dan menjadi maid di kediaman Blaire.
Saat hendak pergi ke ruang kepala sekolah, seseorang menghadang langkah Evellyn dan Ariel, dan Evellyn langsung menatapnya dengan tatapan datar.
"Evellyn? Lo ngapain disini?" tanya Serenaya pada Evellyn.
"Bukan urusan lo buat tahu ngapain gue disini," jawab Evellyn, dan hendak pergi.
Serenaya menahannya, dan Evellyn langsung menepis tangannya. Evellyn menepisnya pelan, namun Serenaya berpura-pura dan jatuh tepat di kaki Evellyn.
"Evellyn Callistha Arglenth! Beraninya lo dorong Serenaya!" teriak seseorang, dan Evellyn menoleh kearah sumber suara.
Mendengar nama marga Evellyn membuat siswa-siswi lainnya mulai berbisik. Mereka mengatakan kalau Evellyn dan Serenaya memiliki marga yang sama.
"Kalian jangan gitu, walaupun dia putri angkat tapi aku sayang dia. Aku udah anggap dia sebagai kakak kandungku sendiri," ujar Serenaya sambil membalas pelukan laki-laki yang menolongnya.
"Wow! Jadi, gue yang anak angkat nih? Ahahaa! Tapi lo gak lupa 'kan, Serenaya Arglenth. Kalo gue bukan lagi bagian dari keluarga Arglenth?" tanya Evellyn sambil berpangku tangan menantang Serenaya.
"Kak, kamu—"
Lagi-lagi Evellyn menepis tangan Serenaya, "Enough, b***h! Gak usah lo sentuh-sentuh gue!!" pekiknya kesal.
Laki-laki yang bersama Serenaya, hendak memukul Evellyn, namun Evellyn lebih dulu menamparnya. Ariel tersenyum menyeringai melihatnya, ia senang karena Evellyn berani melawan musuhnya.
"Lo berani mukul gue?!" teriak laki-laki itu menunjuk wajah Evellyn.
"Kenapa gue harus takut sama banci kayak lo?" tanya Evellyn dengan senyuman mengejek.
"Kak, kamu—"
"Stop panggil gue dengan sebutan 'Kak' Nona Arglenth. Gue bukan kakak lo, dan gue bukan bagian dari keluarga lo!" seru Evellyn dengan tegas, membuat siswa-siswi sekolah berisik membicarakan mereka.
"Kakak, aku tahu kamu marah sama aku. Aku minta maaf, tapi kakak jangan pukul Vexar, dia gak salah, Kak." Serenaya begitu membela Vexar membuat Evellyn terkekeh pelan.
"Gue gak bakal pukul dia, kalo dia gak ngusik gue duluan." Evellyn hendak pergi, namun Serenaya kembali menahannya.
Dengan cepat Evellyn mencengkram rahang Serenaya dengan kuat, membuat semuanya memekik kaget termasuk Vexar.
Serenaya memukul tangan Evellyn berkali-kali, namun Evellyn semakin kuat mencengkramnya.
"Jangan lo pikir gue takut sama lo, Serenaya. Gue udah bukan bagian dari keluarga Arglenth, jadi gue bebas buat nyentuh lo sesuka gue. Sesuai dengan apa yang biasanya lo bilang ke nyokap bokap lo. Ini peringatan buat lo, kalo lo masih berani usik gue, gue gak bakal segan buat ngerusak wajah busuk lo," ancam Evellyn seraya menghempaskan wajah Serenaya dengan kuat, lalu pergi bersama Ariel.
To be Continue...