Aksara memuat novel & drama bertema dewasa (romansa, kekerasan). Dengan lanjut, kamu menyatakan berusia 17 tahun atau lebih.

oleh eny andreastuti
BAB 1 — Bandara, Bukan Sekadar PerjumpaanLangkahku berat saat keluar dari gate kedatangan. Bukan karena lelah, tapi karena masih tak percaya anakku diterima di Harvard. Aku masih seperti melayang, antara bahagia dan cemas. Satu bab hidupnya akan dimulai, dan satu bab dalam hidupku... terasa seperti ditutup perlahan.Aku menarik napas panjang. Harvard. Tuhan menjawab doaku, sekali lagi. Thanks God. Aku tersenyum menatap anakku yang berdiri di sampingku. Dia sibuk dengan HP hasil jerih payahnya sendiri. Hasil dari kerja online.Dia tumbuh jadi perempuan kuat, seperti doaku setiap malam. “Beb!”Tiba-tiba terdengar suara dari seberang kerumunan.Aku reflek menoleh. Lalu celingukan. Tak merasa itu panggilan untukku. Tapi mengapa aku mencari arah sumber suara itu? Tak mungkinlah itu panggilan buatku. Di negeri asing ini, siapa yang bisa memanggilku dengan seakrab itu? Dan mataku jatuh pada sesosok pria. Pria bule yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran pria Eropa. Dia tersenyum dan berjalan mendekat ke arahku.Aku mengerjap. Wajah itu… Suara itu… tampak seperti familiar. Tapi siapa dan di mana pernah melihatnya?Aku menunjuk ke diriku sendiri, ragu, “Me?”Pria itu tertawa lebar, giginya putih, matanya membentuk bulan sabit.“Yeah, you!” katanya penuh antusias. “Reni?”Aku mengangguk pelan. Masih ragu. “Yeah… I’m Reni. But… how do you know my name?” tanyaku nyaris gugup.Dia melangkah lebih mendekat, masih tersenyum. Seolah waktu tak pernah memisahkan kami. “It’s me!” katanya mantap seraya melebarkan kedua tangannya. Senyumnya masih mengembang di bibirnya.Aku mengulang kata itu dengan suara hampir tercekat. “It’s me?”“Yeahhh! It’s me!” teriaknya lagi, seperti anak kecil menemukan mainan lamanya yang hilang.Aku menatapnya lebih dekat, mataku mencari sesuatu di wajahnya—bekas kenangan, potongan masa lalu.“John?” ucapku lirih, setengah tidak percaya. Kemudian agak keras, “John?!”Ya siapa lagi yang punya clue kata itu, "Its me!" Selain John. Pria Irlandia yang aku kenal lewat aplikasi Speaky. Yang selalu add delete, add delete akunku di Speaky. Aku pernah menghitung mungkin 5 atau 6 kali dia melakukan hal itu. Dan setiap kali dia setelah mendelete dan add akunku dia selalu bilang , "It's me! " Setelah menyapaku dengan , "Hi! ", atau " Heyyyy Beb!"Dan saking hapalnya dengan ulah dia setiap ada yang mampir ke akunku dengan berkata, "It's me! " Aku langsung hapal kalo itu dia. Terakhir sebelum aku menghapus akunku di Speaky dia berkali-kali minta akun telegramku yang baru tapi tidak aku beri. Dia mengangguk dan tertawa lepas, “Yeahhh! Hahaha. It’s John. From… Speaky, remember?” wajahnya tampak gembira. Mungkin karena aku masih mengingatnya.Orang-orang mulai menoleh ke arah kami, tapi aku tak peduli. Rasanya seperti dunia berhenti sejenak untuk memberi ruang bagi momen ini.John menatapku dari ujung kepala sampai kaki, masih dengan raut tak percaya. “What are you doing here?” tanyanya kemudian, masih dengan nada surprise.Aku menunjuk ke arah anakku, yang berdiri sopan di sebelahku. “I accompany my daughter. She gets a scholarship in Harvard.”John tersenyum lebar, kali ini lebih lembut. Matanya beralih ke anakku. “Wow… that’s amazing. You did great, Beb. Congratulations!” serunya pada anakku. Ditepuknya punggung anakku dengan lembut. Anakku hanya mengangguk sopan dan membalas senyum dan jabatan tangan John."You too Beb, " Matanya menatapku kembali, "Congratulations! Proud of you Beb, " Tangannya menepuk pipiku. "Not me, " kataku, "Proud of her, " sambungku seolah meralat kalimatnya. Dan aku memang sungguh bangga pada anakku. Anak semata wajangku. Anugrah terindah dari Tuhan.Dia tertawa, "Yeahhh proud both of you! " Katanya dalam tawa. "Thanks, " Jawabku membalas tawanya dengan senyuman lebarku.Aku menatapnya ragu, masih bingung bagaimana dia bisa ada di sini. “Wait,” aku berkata manatapnya penuh tanya. “Why are you here, John? What are you doing in the airport?” Dia tersenyum simpul, mungkin mengerti mengapa aku terlihat bingung. "I'm just here for a business trip, but maybe I’ll move here on next week." katanya kemudian. "Thought I could catch a flight after finishing some work." Aku terdiam sejenak, merasa ada yang aneh tapi juga tidak bisa menahan rasa penasaran. “A bussiness trip... to the US?” Dia mengangguk. "Yeah, I had some meetings here, but... you know, I never expected to run into you." Aku terdiam, baru ngeh bahwa semua ini kebetulan banget. Tapi memang dulu dia suka cerita kalau dia sering melakukan bussiness trip.Ada jeda hening beberapa detik. Kami saling menatap. Bukan tatapan cinta, tapi semacam pengakuan diam: kita pernah hadir dalam hidup satu sama lain. Tak harus berakhir bahagia, tapi cukup untuk dikenang dengan senyum.***BAB 2 — Masa Lalu yang Kembali MengetukKami duduk di bangku dekat café bandara, sementara anakku sibuk main ponsel. John duduk di depanku, tangannya memegang cangkir kopi, tapi pandanic_default
Karena kamu suka Balas Dendam, mungkin kamu suka ini juga:
inknpapermanagement
Balas Dendam · Misteri & Thriller