“Apa kamu datang ke rumah sakit hari ini?”
Pertanyaan Albert membuat Luna terdiam. Luna masih duduk di sofa ruang tengah, sementara Albert berdiri tidak jauh darinya. Tatapan pria itu tertuju pada tempat makan yang Luna letakkan di atas meja. Untuk beberapa saat, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara.
Luna hanya menatap wajah suaminya. Wajah yang selama ini selalu Luna lihat setiap hari. Wajah yang dulu membuat Luna merasa aman. Namun sekarang... Luna bahkan merasa sakit ketika menatap wajah itu.
“Iya,” jawab Luna akhirnya.
Albert menelan ludah. “Kamu datang untuk memberikan makanan itu?”
Luna mengangguk pelan.
“Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu datang?”
Luna tersenyum kecil. “Kalau aku bilang... memangnya kamu akan menemuiku?”
Albert terdiam. Pertanyaan sederhana itu membuatnya tidak bisa langsung menjawab.
Luna tersenyum miris. Ia menatap pria itu lebih lama. “Kamu tidak benar-benar sibuk di rumah sakit hari ini, kan?”
Albert menahan napasnya selama beberapa saat. "Kamu... datang ke ruanganku hari ini?"
Luna mengangguk tegas tanpa memutus pandangannya dari Albert.
Albert menelan ludah, "Kamu melihat aku dan—"
Luna mengangguk lagi. Tanpa keraguan.
Albert menarik napas panjang. Dia tahu tidak ada gunanya berbohong lagi... Luna sudah tahu.
“Aku minta maaf.” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Albert.
Namun Luna sudah mendapatkan jawaban yang sebenarnya. Air matanya perlahan menggenangi kelopak matanya. “Jadi... selama ini benar?”
Albert menundukkan kepalanya. “Iya.”
Luna tertawa kecil. Bukan karena merasa lucu, tetapi karena hatinya terasa begitu sakit sampai dia tidak tahu harus melakukan apa.
“Kamu dan Belinda?”
Albert mengangguk.
“Kalian sudah sejauh itu?”
Albert kembali diam.
Luna memejamkan matanya sebentar. Air mata mengaliri wajahnya.
Dia sudah melihat semuanya dan tidak ada lagi yang perlu Albert jelaskan. Namun Luna tetap ingin mendengar pengakuan itu langsung dari suaminya.
“Sejak kapan kamu berhenti mencintaiku?”
Albert mengangkat wajahnya. “Aku tidak tahu.”
Jawaban itu membuat Luna semakin sakit. “Tidak tahu?”
“Aku tidak pernah merencanakan semua ini, Luna.”
“Tapi kamu tetap melakukannya.”
Albert terdiam.
Luna menghapus air mata yang akhirnya jatuh di pipinya.
“Kamu bilang kamu mencintaiku.”
“Aku memang pernah mencintai kamu.”
“Pernah?”
Albert menghela napas panjang. “Perasaanku berubah.”
Luna menatapnya tanpa berkedip. “Karena Belinda?”
Albert tidak langsung menjawab. Namun beberapa detik kemudian, pria itu mengangguk. “Iya.”
Satu kata itu terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua kebohongan yang sudah Luna dengar.
Luna menunduk. “Apakah kamu mencintai dia?”
Albert terdiam cukup lama. Namun kali ini dia tidak ingin berbohong lagi. “Iya.”
Air mata Luna kembali mengalir.
Albert sebenarnya merasa bersalah melihatnya tetapi beberapa waktu terakhir dia sudah memikirkan semuanya. Dia terus memikirkan ucapan Belinda. Tentang bagaimana hubungan mereka tidak bisa terus disembunyikan... Tentang bagaimana Albert harus memilih... Dan akhirnya Albert sudah membuat keputusan.
“Aku sudah memikirkannya..."
Luna perlahan mengangkat wajahnya. Menatap Albert lekat menunggu kalimat selanjutnya yang akan suaminya ucapkan.
“Aku ingin menyelesaikan pernikahan kita.”
Luna terdiam dan Albert menatap istrinya. “Aku tahu aku sudah melakukan kesalahan. Aku tahu kamu tidak pantas mendapatkan semua ini. Tapi aku tidak ingin terus menjalani pernikahan ini hanya karena rasa bersalah.”
Luna tidak mengatakan apa-apa.
“Aku memilih Belinda.”
Kalimat itu akhirnya keluar dari mulut Albert. Tanpa keraguan... Albert lebih memilih wanita lain.
Luna menundukkan kepalanya. Pria yang dulu pernah memeluk Luna ketika dia sakit kini berdiri di depannya dan mengatakan bahwa dia ingin meninggalkan pernikahan mereka.
Albert merasa sudah melakukan hal yang harus ia lakukan. Luna sudah mengetahui semuanya sehingga tidak ada gunanya lagi bagi Albert terus berbohong. Albert akhirnya berjalan menuju pintu. Ia membuka pintu apartemen meninggalkan Luna.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah... Albert benar-benar merasa tidak yakin dengan langkah yang sudah ia ambil.
Albert pergi menuju tempat lain.
Apartemen Belinda.
Wanita itu sedang berada di apartemennya ketika suara pintu diketuk. Belinda segera membuka pintu. Dia terlihat sedikit terkejut ketika melihat Albert berdiri di depan sana.
“Al? Apa ada yang tertinggal?”
Albert masuk tanpa banyak bicara. Belinda memperhatikan wajah pria itu. “Ada apa?”
Albert menatapnya. “Luna sudah tahu tentang kita.”
Belinda terdiam. “Dia tahu?”
Albert mengangguk. “Dia datang ke rumah sakit hari ini.”
Belinda mencoba menjaga ekspresinya. “Apa yang terjadi?”
“Aku mengakuinya.”
Belinda tidak mengatakan apa-apa.
Albert melanjutkan. “Aku mengatakan semuanya kepada Luna.”
Jantung Belinda berdetak lebih cepat. “Lalu?”
“Aku mengatakan kalau aku ingin menyelesaikan pernikahan kami.”
Belinda menatap Albert. “Dan?”
“Aku memilih kamu.”
Untuk sesaat, Belinda hanya diam. Ada senyum kecil yang hampir muncul di wajahnya namun wanita itu segera menahannya. Belinda tidak ingin terlihat terlalu bahagia. Dia hanya mendekati Albert lalu memegang tangannya. “Kamu yakin?”
Albert mengangguk. “Aku sudah memikirkannya.”
Belinda menatap pria itu beberapa saat sebelum akhirnya tersenyum. “Terima kasih.”
Albert kemudian menarik Belinda ke dalam pelukannya. Belinda membalas pelukan itu.
Di dalam hati, wanita itu sangat bahagia. Akhirnya Albert memilihnya. Akhirnya tidak ada lagi Luna yang berdiri di antara mereka. Namun beberapa detik kemudian, Belinda tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dia menatap Albert dengan ekspresi yang berbeda.
“Al...”
“Iya?”
Belinda terdiam sejenak. Kemudian sebuah pertanyaan keluar dari mulutnya. “Kamu belum menceritakan respon Luna. Bagaimana kalau Luna tidak ingin kalian berpisah?”