“ALUNA BAGASKARA! AYO, BANGUN!”
Suara seseorang terdengar begitu keras sampai membuat Luna perlahan membuka matanya. Cahaya yang sangat terang terasa menyilaukan matanya. Kepala Luna berdenyut hebat dan tubuhnya terasa begitu berat. Luna mengerang pelan sebelum akhirnya membuka kedua matanya.
Untuk beberapa saat Luna hanya menatap langit-langit kamar. Kemudian ingatan terakhirnya kembali muncul.
Tebing... Belinda... tubuhnya yang terjatuh... dan rasa sakit yang begitu kuat.
Luna langsung bangkit dari tempat tidurnya. “Hah?”
Tangannya bergerak menyentuh tubuhnya sendiri. Tidak ada luka. Tidak ada darah. Tidak ada rasa sakit. Luna menatap kedua tangannya dengan mata membesar. Kemudian wanita itu memegang wajahnya sendiri.
Aku... masih hidup?
Jantung Luna berdetak semakin cepat. Dia langsung turun dari tempat tidur lalu berjalan cepat menuju cermin yang berada tidak jauh dari sana. Luna menatap pantulan dirinya sendiri. Wajahnya masih sama. Tidak ada luka sedikit pun...
Luna menyentuh pipinya, kemudian dahinya, lalu kedua lengannya... Semuanya masih utuh.
“Aku... masih hidup?”
Luna benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Bukankah dia baru saja jatuh dari tebing? Bukankah Belinda yang mendorongnya?
Luna bahkan masih bisa mengingat rasa sakit ketika tubuhnya terjatuh.
Apa semua itu cuma mimpi?
Tiba-tiba pintu kamar terbuka. “Lho, kamu baru bangun, Lun?”
Luna langsung menoleh. Seorang wanita yang sangat Luna kenal masuk ke dalam kamar. “Mama?”
Dewi Bagaskara menatap putrinya dengan wajah bingung. “Kenapa kamu bengong begitu?”
Luna tidak menjawab. Matanya masih tertuju kepada Dewi. Ibunya yang kini berdiri di depannya dengan ekspresi kebingungan.
Luna perlahan mendekati Dewi. “Mama...”
“Iya?”
Luna langsung memeluk ibunya.
Dewi semakin bingung. “Lun? Kamu kenapa?”
Luna tidak menjawab. Dia hanya memeluk Dewi erat-erat.
Untuk beberapa saat Dewi membiarkan putrinya memeluk dirinya. Namun setelah beberapa detik, wanita itu akhirnya bertanya, “Kamu kenapa pagi-pagi aneh begini?”
Luna melepaskan pelukannya.
Dia menatap wajah ibunya. “Mama...”
“Apa?”
“Kok Mama ada di sini?”
Dewi mengerutkan kening. “Pagi ini mama enggak ada acara apapun dan kamu enggak bangun-bangun, jadi mama datang ke kamar kamu.”
Luna terdiam. Jawaban itu justru membuatnya semakin bingung.
Dewi semakin bingung, “Mama sudah bilang dari kemarin, hari ini kamu harus bertemu Kendric. Kamu enggak lupa, kan?”
Luna langsung mengerutkan kening. “Kendric?”
“Iya.”
Luna menatap ibunya tanpa berkedip. “Kendric?”
Dewi menghela napas. “Iya, Kendric. Anak kenalan Mama dan Papa. Kamu lupa?”
Luna mundur beberapa langkah. Kendric... Nama itu terasa begitu familiar.
Luna membulatkan matanya begitu mengingatnya. Kendric adalah pria yang dulu hendak dijodohkan kepadanya sebelum Luna akhirnya bertemu dengan Albert.
Luna menatap Dewi dengan wajah kebingungan. “Kenapa Mama membicarakan Kendric sekarang?”
Dewi semakin bingung. “Lho. Kan kamu memang ada janji ketemu, Lun...”
“Aku─”
Luna berhenti. Bagaimana mungkin dia menjelaskan semuanya? Bagaimana mungkin dia mengatakan bahwa dia sudah menikah? Bahwa suaminya bernama Albert Hermawan? Luna menatap Dewi lagi. “Ma... kenapa Mama buat janji aku bertemu Kendric?”
Dewi memutar bola matanya. “Kalau Mama tidak membuat janji, memangnya kamu bisa kenal sama Kendric bagaimana?”
Luna semakin mengerutkan kening. “Kenapa aku harus kenal sama Kendric lagi?”
Dewi terdiam. “Lagi?”
“Iya.”
Dewi menatap putrinya dengan wajah semakin bingung. “Kamu pernah bertemu Kendric?”
Luna membuka mulutnya. “Aku─”
Luna terdiam lagi.
Dewi kemudian melanjutkan, “Sudah, jangan bersikap aneh. Kamu bikin mama pusing aja pagi-pagi gini. Kamu mandi dulu. Nanti kamu terlambat datang. Enggak enak kalau sampai Ken nungguin kamu kelamaan.”
“Memangnya aku janjiannya jam berapa?”
“Kamu janjian jam sebelas, Lun.”
Luna membeku.
Dewi menatap putrinya beberapa saat sebelum berkata, “Kamu kenapa sih dari tadi aneh sekali?”
Luna tidak menjawab. Dewi kemudian berjalan menuju lemari pakaian Luna. “Sudah, kamu siap-siap. Mama bingung sama sikap kamu pagi ini. Mama tunggu di bawah aja.”
Dewi hendak meninggalkan kamar ketika Luna tiba-tiba memanggilnya. “Ma.”
Dewi menoleh. “Apa?”
Luna menelan ludah. “Sekarang tanggal berapa?”
Dewi mengerutkan kening. “Hari ini?”
Luna mengangguk.
Dewi terlihat semakin heran dengan pertanyaan putrinya. “Hari ini Sabtu, sepuluh Januari. Baru dua hari yang lalu kamu ulang tahun ke dua puluh tiga, masa kamu sudah lupa tanggal?”
Luna membeku... Sepuluh Januari?
Luna langsung berlari menuju meja kerjanya. Sebuah kalender yang berada di atas meja membuat matanya membesar.
Luna menatap kalender itu cukup lama.
Kemudian pikirannya mulai menghitung.
Dua tahun.
Dia kembali dua tahun ke belakang.
Sebelum pernikahannya dengan Albert... Sebelum dia mengenal kehidupan sebagai istri Albert.... Sebelum Belinda masuk ke dalam hidupnya.... Sebelum semuanya berakhir dengan tubuhnya jatuh dari tebing.
Luna memegang kepalanya. “Tidak mungkin...”
Dewi yang masih berdiri di dekat pintu semakin bingung. “Lun?”
Luna menoleh.
Wajahnya masih menunjukkan kebingungan.
“Jadi...” Luna menatap ibunya. “Sekarang aku belum menikah?”
Dewi terdiam lalu tidak lama kemudian alisnya langsung mengerut. “Menikah?”
Luna mengangguk cepat. “Iya. Aku sudah menikah, kan?”
Dewi menatap putrinya seperti sedang memastikan apakah Luna sedang bercanda atau tidak. “Luna... kamu belum menikah.”
Luna membeku. “Belum?”
“Belum.”
Dewi semakin bingung melihat ekspresi putrinya. “Memangnya kamu menikah dengan siapa?”
Albert Hermawan.
Nama itu langsung muncul di kepalanya namun mulutnya menolak untuk mengucapkannya. Luna menundukkan wajah. Ingatan tentang pria itu kembali muncul di kepalanya. Air matanya perlahan mulai menggenang.
Dewi segera mendekatinya. “Lun?”
Luna hanya diam. Luna benar-benar bingung. Dia tidak tahu bagaimana semua ini bisa terjadi. Apakah selama ini dia bermimpi atau... dirinya benar-benar kembali ke masa lalu? Satu hal yang Luna tau... dia masih mengingat semuanya. Dia ingat setiap kejadian, kebahagiaan, kebohongan, pengkhianatan dan juga wajah Belinda ketika mendorongnya dari tebing.
Luna mengangkat wajahnya. Mungkin... Ini bukan mimpi. Mungkin... Dia benar-benar mendapatkan kesempatan kedua. Kesempatan untuk menjalani hidupnya kembali. Kesempatan untuk menghindari akhir yang sama...
Sementara itu, Dewi benar-benar tidak mengerti apa yang sedang terjadi. “Lun?”
Luna memejamkan mata sambil memeluk ibunya erat.
Aku... baru saja didorong ke jurang, Ma. Selingkuhan suamiku datang membunuhku karena dia ingin mendapatkan suamiku.
Air mata Luna jatuh.
Dewi semakin panik melihat putrinya menangis tanpa alasan yang jelas. “Kamu kenapa sih, Lun? Mama jadi takut.”
Luna tidak menjawab.
“Luna?” Dewi mencoba melihat wajah putrinya. “Kamu sakit atau kenapa? Kamu jadi aneh begini. Mama bingung.”
Luna menggeleng. “Enggak, Ma.”
“Terus kenapa kamu menangis begini?”
Luna hanya memeluk ibunya semakin erat.
Dewi mengusap punggung putrinya dengan wajah penuh kebingungan. “Luna... kamu benar-benar membuat Mama khawatir.”
Luna tidak mengatakan apa pun untuk menanggapi ucapan Mamanya karena Luna sendiri tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang baru saja terjadi kepadanya.