Author’s POV
Bel sudah berbunyi, pertanda waktu istirahat sudah usai. Masing-masing dari siswa dan siswi kembali ke kelas mereka untuk melanjutkan pelajaran. Begitu juga dengan Marie yang tidak sengaja bertemu dengan Jonathan begitu mereka hendak masuk ke dalam kelas.
Keduanya duduk dengan Marie yang memutuskan untuk diam saja dan tidak memulai percakapan apapun kepada pria itu. Pelajaran kali ini adalah fisika, salah satu pelajaran yang ia sukai. Dan sepanjang pelajaran ia terus berkonsentrasi agar pelajaran tersebut bisa masuk ke dalam otaknya.
“Baiklah. Pelajaran hari ini sampai hari ini karena setelah ini kalian akan mengerjakan tugas halaman 54. Tugas ini dikerjakan berkelompok dengan anggota dua orang saja, yaitu teman sebangku kalian saja,” ujarnya sembari berjalan ke tempat duduknya. Salah satu murid mengangkat tangannya, hendak bertanya kepada sang guru,
“Bukannya disini tertulisnya 3 orang bu? Kenapa jadi 2 orang saja?” tanya pria itu kepada sang guru.
“Ibu sengaja, biar gak berisik kalian mencari teman satu orang lainnya. Lagipula jumlah anak kelas kalian genap kan? Ibu rasa dengan mengerjakannya bersama dengan teman sebangku itu udah lebih dari cukup,” jelasnya kepada para murid yang ada di ruangan itu.
“Oh iya… usahakan kedua-keduanya mengerti soalnya ya… karena kalian nanti harus mempertanggungjawabkan jawaban kalian,” tutur wanita itu, mengingatkan para siswa-siswi yang bisa saja malas mengerjakan tugas tersebut dan mengopernya kepada teman sebelahnya,
Marie menelan ludahnya. Baru saja dia bertekad untuk tidak melibatkan diri kepada Jonathan, sekarang ia harus berhadap-hadapan bersama dengan Jonathan untuk mengerjakan tugas ini berdua. Jonathan menoleh kepadanya dan berkata kepadanya,”Mohon bantuannya ya… aku lemah banget di fisika sama matematika,” ujarnya memohon.
Gadis itu dengan kaku mengangguk saja sembari menjelaskan kepada Jonathan berbagai trik yang biasa ia gunakan ketika menghitung dan menghapal rumus. Sementara Jonathan, ia benar-benar fokus kepada persoalan yang ada di buku tersebut. Tidak hanya sesekali saja dia bertanya, melainkan beberapa kali hingga gadis itu harus kembali menjelaskan.
Namun itu tidak menjadi sebuah masalah yang besar untuk gadis itu karena ia ingin mengajar Jonathan hingga ia benar-benar mengerti. Gadis itu dengan sabar terus mengajar Jonathan hingga pria itu bisa mendapatkan jawaban yang benar.
“Wah… kau benar-benar sangat pandai dalam menjelaskan,” ujar pria itu yang senang karena ia mendapat jawaban yang benar. Marie tersenyum mendengarnya, ia senang bisa membantu pria itu mengerti persoalan yang ada,
“Kau sangat cocok menjadi guru,” ujarnya lagi kepada Marie,
“Benarkah?” tanya Marie kepada pria itu yang mengangguk dengan serius,
“Iya! Tentu saja… cara penjelasanmu sangat jelas dan juga aku tidak menyangka kamu memiliki trik untuk menghapal rumus sehingga dengan mudah tugas ini dikerjakan,” ujarnya yang terus memuji Marie. Marie ingin sekali berbunga-bunga, namun ia harus menahan dirinya karena ia harus sadar jika pria itu bukanlah miliknya, melainkan milik orang lain.
“Begitu ya…” ujar gadis itu yang entah mengapa terlintas dibenaknya jika ia ingin menjadi seorang dosen. Entah mengapa ia bisa berpikiran seperti itu padahal untuk menjadi dosen, ia harus berkuliah hingga S2.
“Marie…” panggil pria itu yang menghancurkan lamunan gadis itu,
“Eh iya, ada apa?” tanyanya kepada pria itu yang sedang menggelengkan kepalanya,
“Kamu ini suka banget melamun ya…” ujarnya yang hanya dikekehin kecil oleh gadis itu,
“Begitulah…” jawabnya malu-malu.
“Oh iya, apa ada lagi yang belum kau mengerti? Mumpung kita sudah selesai, kita bisa coba lihat soal lain diluar soal ini. Mana tau aku bisa membantumu untuk mengerti dan bisa mengerjakannya sendiri,” ujarnya yang membuat pria itu bersama,
“Ayok!” ujarnya yang kemudian mencari-cari soal yang sama sekali tidak ia mengerti.
****
Pelajaran sudah selesai. Saatnya untuk pulang. Baik Marie maupun Jonathan, keduanya membereskan buku-buku mereka dan ketika mereka melangkah untuk keluar, terdapat Gianna yang sedang menunggu Jonathan. Marie yang tidak ingin melihat momen mereka berdua, ia berusaha untuk menghindar dari mereka berdua, namun hal itu tidak berhasil karena Jonathan memegang lengannya,
“Oh iya babe, kenalin… ini teman sebangku ku, Marie,” ujar Jonathan kepada Gianna yang melihat Marie dari atas ke bawah. Marie merasa gugup, ia hanya bisa menundukkan kepalanya sembari memperkenalkan dirinya kepada Gianna,
“H-hai… saya Mariela, biasa di panggil Marie,” ujarnya kepada Gianna.
‘Dia cantik sekali’ batin gadis itu yang tidak berani untuk menatap langsung Giana,
Tanpa disangka-sangka, Gianna mengulurkan tangannya kepada Marie dan dengan ramah dia juga memperkenalkan dirinya,
“Aku Gianna,” ujarnya dengan sumringah,
“Marie,” ujar Marie sekali lagi,
“Dia banyak membantuku hari ini, sepertinya kita bisa menyewanya untuk menjadi guru les privat kita berdua, hahahah,” gelak Jonathan yang membuat Gianna kembali menatap Marie dengan senyum yang ia paksakan untuk ramah,
“Begitu ya… terima kasih telah membantu pacarku yang lemot ini,” ujarnya dengan senyuman paksaannya. Marie menyadari senyuman itu dan mengangguk saja,”Iya… sama-sama…” ujar gadis itu yang masih tertunduk.
Gadis itu tersentak ketika Charlie menepuk pundaknya dari belakang. Charlie menghampiri dan merangkul Marie dengan akrab. Sementara Marie, dia melepas rangkulan Charlie dengan cepat karena ia tidak ingin Jonathan dan Gianna salah paham terhadap hubungannya dengan Charlie,
“Pacarmu?” tanya Gianna kepada Marie,
“Ah bukan. Dia sahabatku,” ujar Marie yang diangguki Charlie,
“Woho… aku tidak percaya jika seorang pria dan perempuan bisa bersahabatan,” ujarnya menyelidik. Hal itu ditanggapi dengan senyuman dari Marie yang kemudian berkata,”Bisa aja kok, buktinya kami dari SMP sampai sekarang masih sahabatan, ya gak?” tanya Marie kepada Charlie yang menganggukkan kepalanya,
“Begitulah…” ujar Charlie dengan santai.
“Babe, kita duluan yuk… malam ini kan ada dinner bareng keluargamu,” ujar Gianna kepada Jonathan sembari melirik Marie yang hanya diam tertunduk saja. Jonathan mengangguk mengerti dan berpamitan kepada Marie dan Charlie yang mengangguk kepada kepergian mereka berdua.
Charlie melirik Marie yang masih menatap kepergian Jonathan dengan dalam.
“Memangnya apa hebatnya pria itu sih?” tanya Charlie yang membuat gadis itu menoleh kepadanya. Kali ini Charlie tidak melontarkan pertanyaan yang mengusili atau mengejek pria itu. Kali ini ia benar-benar serius bertanya kepada Marie. Marie yang mengerti akan hal itu, ia membuang pandangannya,”Entahlah… aku juga tidak tahu…” ujarnya.
“Dasar ular,” ujar Charlie yang membuat gadis itu membelalakkan matanya dan langsung menatapnya untuk meminta penjelasan mengapa ia disebut ular. Charlie menatap Marie yang sudah salah paham dengan perkataannya. Mengerti jika gadis itu yang merasa dikatai, pria itu menggelengkan kepalanya,
“Bukan kamu, tapi Gianna,” ujar pria itu kepada Marie yang sebenarnya tidak terlalu kaget jika Charlie berkata demikian. Marie merasakan dengan jelas jika gadis itu berpura-pura baik dan ramah kepadanya.
“Bagaimana kau bisa berkata begitu?” tanya Marie yang juga ingin tahu pendapat dari sahabatnya mengenai Gianna,
“Dia sekelas denganku. Dari yang kulihat, dia hanya dekat dengan orang-orang yang memiliki paras yang cantik dan tampan. Aku tidak sengaja mendengarnya malah menggoda pria lain, padahal dia kan sudah punya pacar. Bisa-bisanya dia bersikap begitu,” ujarnya kepada Marie,
“B-benarkah? Bukankah kalau begitu seharusnya-“
“Percuma… apa kau tidak melihat bagaimana cara Jonathan menatap Gianna? Jonathan sudah jatuh dalam pesona wanita ular itu. Jadi bagaimana pun kau berkata kepadanya, dia tidak akan percaya kepadamu… malah kau yang akan di capnya jelek jika kau melakukan itu kepadanya,” jelas Charlie yang kemudian menolehkan tubuhnya kepada gadis itu,
“Kau benar… dia tidak mungkin percaya kepadaku,” ujar gadis itu dengan sedih. Melihat gadis itu bersedih, pria itu mengelus kepalanya,”Sudah, sudah… biarin aja. Suatu saat nanti akan terungkap kok buruknya perempuan itu… tunggu tanggal mainnya aja itu,” ujar pria itu yang membuat gadis itu kembali tersenyum,
“Iya… kau benar… kau benar sekali,” ujarnya kepada pria itu. Charlie senang melihat gadis itu tersenyum kembali. Meskipun terdengar jahat, Marie sangat ingin pria itu menyadari keburukan yang dimiliki oleh Gianna. Dengan itu, pria itu bisa mendapatkan perempuan yang lebih baik daripada Gianna, bahkan ia tidak mempermasalahkan jika itu bukanlah dirinya.
‘Suatu saat nanti… aku harap dia akan sadar,’ batin gadis itu.