Ruangan itu sangatlah sunyi sebelum sang pemilik masuk ke dalamnya. Dengan mengulum senyum yang begitu manis, Marie mencari buku diari nya dan menuliskan apa yang tadi terjadi dengannya. Buku berwarna maroon itu biasanya ia isi dengan apapun yang berhubungan dengan dirinya dan Jonathan. Ia menuliskan bagaimana senangnya ia ketika ia berinteraksi dengan pria itu.
12 Juli 2021
Hari ini sangat menyenangkan! Aku bahkan duduk bersama dengan pria yang kusukai sampai nanti berganti semester. Dia bilang aku sangat cocok untuk menjadi dosen dikarenakan cara ajarku yang bagus katanya. Karena dia berkata begitu, aku berpikiran untuk menjadi dosen suatu saat nanti… tanpa kusadari, aku juga termotivasi padahal selama ini aku menolak untuk kuliah… aku rasa papa dan mama juga tidak masalah, malahan mungkin mereka senang karena pada akhirnya aku mempertimbangkan permintaan mereka untuk kuliah.
Juga, besok aku ulang tahun. Aku harap aku mendapatkan sesuatu yang baik!
Marie menutup bukunya dan dia memeluk buku maroon itu sembari rebahan di ranjangnya. Ia tersenyum begitu manis memikirkan Jonathan yang tadi juga tersenyum kepadanya. Namun ekspresi gadis itu berubah ketika ia teringat jika lelaki pujaannya itu sudah memiliki pacar. Ia menghela napasnya, Marie tidak bisa berbuat banyak.
Tanpa dia sadari, air matanya mengalir, membuatnya membuka kacamatanya dan menyeka air matanya. Marie menghela napasnya untuk mengatur denyut jantungnya yang berdebar menyakitkan.
“Aku sangat menyukainya…” ujarnya sembari memikirkan Jonathan yang tengah tersenyum kepadanya.
Gadis itu membalikkan tubuhnya dengan diari maroon yang masih ia dekap. Buku tersebut sangatlah berarti baginya karena setiap interaksi atau apapun yang terjadi dengan Jonathan, ia menulisnya di sana, seakan-akan buku itu adalah buku yang dikhususkan untuk Jonathan.
Ponsel gadis itu berdering, membuat perhatian Marie beralih ke ponselnya ada di nakas. Ia menggapai dengan malas dan melihat jika panggilan itu dari Charlie, sahabatnya. Marie mengambil napas sebelum dia mengangkat panggilan dan Charlie,
“Ada apa Charl?” tanya gadis itu kepada Charlie yang sedang memegang sebuah kotak beludru biru yang berisikan sebuah kalung yang begitu indah. Pria yang sudah menyukai Marie sejak dulu ini sudah mempersiapkan kado untuk Marie. Dia harap gadis itu menyukai kalung yang ia pilihkan ini,
“Besok malam ada acara gak?” tanya Charlie sembari menatap kotak beludru yang berletakkan di atas nakas tersebut,
“Hmm… sepertinya sih iya, soalnya papa dan mamaku bilang kalau mereka akan merayakan pesta kecil-kecilan untuk usiaku yang ke 17,” ujarnya sembari bangkit dan melepas buku diarinya itu darinya,
“Begitu ya? Aku boleh join gak nih?” tanya Charlie, membuat gadis itu berpikir sejenak,
“Hmm… nanti aku tanya ke orang tuaku deh,” Dibalik ponselnya, Charlie mengatakan ‘yes!’ dengan begitu semangat.
“Kalau begitu nanti kabari aku ya kalau sudah ada kepastian ya,”
Marie mengangguk,”Iya, tenang aja… aku rasa juga gak masalah sih kalau kamu ikutan, toh tahun kemarin juga kamu ada bersama dengan kami,” kata Marie sebelum dia mendengar namanya dipanggil oleh Adelia – mama Marie,
“Eh, aku sudah dipanggil nih… aku duluan ya,” pamitnya yang diiyakan oleh Charlie. Gadis itu mematikan panggilan mereka berdua dan dia pun melangkah keluar dari kamarnya dan menyahut panggilan Adelia. “Iya ma?” sahutnya,
“Kamu belum mandi kah? Buruan turun ya, kita mau makan,”
“Oke ma…” ujarnya yang kemudian menutup pintu kamarnya dan bergegas untuk mandi
***
“Huh? Besok papa pergi dinas?” tanya Marie sebelum dia menyuapkan sesendok nasi dan lauk ke dalam mulutnya. Graham mengangguk dan dia meminta maaf kepada Marie karena ia tidak bisa merayakan sweet seventeen kecil-kecilan yang akan diadakan besok,
“Tapi kita tetap rayakan ya… nanti kita rayakan berdua saja, tinggalkan saja papamu itu,” ujar Adelia, yang sebenarnya berniat untuk mengejek suaminya,
“Sayang sekali, papa juga mau ikut,” rengek pria itu dengan dramatis. Marie tersenyum geli melihat tingkah sang ayah yang memang selalu saja menganggapnya seperti anak kecil. Senyum gadis itu sedikit memudar ketika ingat akan sesuatu,
“Oh iya, pa… ma… itu si Charlie mau ikut rayain… boleh tidak?”
Tanpa pikir panjang, Adelia pun menimpa,”Tentu saja boleh dong!” Berbeda dengan apa yang menjadi reaksi Adelia, sang ayah – Graham menatap anak gadisnya itu dengan menyelidik,”Kamu sedang tidak pacaran diam-diam dengan Charlie, kan?” tanyanya yang membuat gadis itu menggelengkan kepalanya dengan cepat,
“T-tentu saja tidak! Papa ini! Aku tidak akan pernah pacaran dengan Charlie,” ujarnya dengan penuh keyakinan. Mendengar itu, Adelia mengalihkan pandangannya kepada sang anak yang sedang mengunyah makanannya,
“Yakin? Menurut mama Charlie itu lumayan ganteng loh,” godanya yang kembali digelengkan oleh Marie. Ia sangat yakin kapan pun itu, ia tidak akan berpacaran dengan Charlie karena selama ini ia hanya memiliki perasaan kepada Charlie sebagai teman saja, tidak lebih dan tidak kurang,
“Bener nih, Marie… jangan coba main-main loh,” ujar Graham, memastikan jika Marie terus memegang perkataannya,
“Tentu saja, pa… lagipula aku…” Perkataan Marie terhenti ketika ia hampir saja mengatakan jika dirinya sendiri sudah memiliki orang yang ia sukai. Ia memutuskan untuk berdehem dan menekankan kembali jika dirinya dan Charlie tidak akan berpacaran,
“Pokoknya aku dan Charlie tidak akan pernah pacaran,” ujarnya dengan penuh tekanan.
Adelia dan Graham hanya bisa menganggukkan kepalanya dan Graham pun berkata,”Yaudah, ajak saja dia. Besok mamamu akan masak untuk dinner, anggap saja kalau dia adalah pengganti papa,” ujar Graham sembari tersenyum. Gadis itu pun senang, dia tidak bisa menahan senyumnya dan berterimakasih kepada kedua orang tuanya. Ia harap besok adalah hari yang menyenangkan…
***
Marie baru saja sampai di sekolahnya, secara tidak sengaja ia bertemu dengan Charlie yang juga baru keluar dari mobilnya. Keduanya tersenyum dan saling mendekat sebelum mereka berjalan bersama untuk masuk ke dalam sekolah.
“Jadi aku boleh ikut kan?” tanya Charlie sembari keduanya berjalan bersama ke kelas mereka yang letaknya bersebelahan.
“Boleh, kebetulan papaku hari ini dinas ke luar kota, jadi terlalu sepi kalau cuman aku dan mama yang merayakannya,” ujarnya sebelum seseorang menghampiri mereka dari belakang dan merangkul keduanya. Marie sangatlah kaget, ia bahkan tersentak sejenak, berbeda dengan Charlie yang sudah menebak siapa yang melakukan ini kepada mereka,
“Hey ho! Kalian melupakan aku, huh?” tanya gadis berambut cokelat panjang itu. Gadis yang memiliki kulit putih pucat itu tersenyum begitu lebar ketika Marie berbalik kepadanya,”Nicky?! Aku kira kamu masih liburan di Singapore!” ujar Marie yang tidak menyangka kepulangan Nicky lebih cepat dari yang pernah dia katakan kepada Marie dan Charlie.
Nicky adalah seorang siswi yang juga memiliki prestasi yang begitu baik secara akademis maupun akademik. Hobinya adalah bermain voli dan menggambar, ia sebenarnya terkenal akan kecantikannya, namun sebenarnya ia tidak terlalu banyak teman karena ia tipikal gadis yang pemilih dalam berteman. Tidak ada yang menyangka jika pada akhirnya gadis secantik dia memilih Marie sebagai teman mainnya. Mereka sudah berteman sejak mereka masuk SMA,
“Oh iya, nanti malam datang ya ke rumahku! Kita mau rayakan ulang tahunku,” ajak Marie yang diangguki oleh Nicky,
“Kau tidak izin dulu dengan orang tuamu? Seperti aku meminta izin untuk bergabung sebelumnya?” tanya Charlie dengan niat untuk menyindir Nicky yang belakangan ini tidak ada kabar,
“Ih Charl, jahat banget sih! Aku harus ada biar suasananya meriah nantinya, ya kan, Marie?” katanya dengan manja. Charlie memutarkan bola matanya dengan malas sementara Marie sendiri tersenyum dan mengangguk,
“Pokoknya aku mau kalau ada kamu, gak ada kamu gak asik,” ujarnya membuat Charlie menatapnya dengan aneh,
“Kalian sudah seperti pasangan lesbian,” ujarnya sembari melihat tangan keduanya saling bertautan,
“Bodo amat deh, oh iya… btw kita gak sekelas loh… sayang banget,” ujar Marie dengan sedih. Nicky, gadis periang itu tersenyum melihat Marie yang begitu senang jika ada dirinya di kelas Marie,
“Tidak apa, nanti aku sering-sering mampir deh,” janji Nicky kepada Marie.
“Oh iya, aku ingin memberitahu sesuatu,” ujar Marie yang kemudian mendekat dan berbisik kepada Nicky. Nicky membulatkan matanya dan menanyakan kebenaran hal tersebut. Marie mengangguk dengan begitu senang,
“Akhirnya kisah cintamu tidak tragis-tragis amet ya… ya, walaupun sebenarnya dia sudah punya pacar sih,” kata Nicky yang diangguki oleh Marie.
“Aku senang sih bisa sekelas dengan dia, tapi gimana ya… aku susah menjelaskannya,”
“Tidak masalah, asal ada aku di hidupmu, kamu pasti aman,” ujar Nicky sembari keduanya berjalan bersama, meninggalkan Charlie yang tertinggal karena keasikan keduanya. Sementara Charlie, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya sembari berjalan mengikuti langkah keduanya yang semakin menjauh darinya,