Marie merasa mengedipkan matanya dan merasa ada sesuatu di matanya. Ia tidak terbiasa memakai kontak lens karena selama ini ia memakai kacamata. Khusus untuk hari ini, Adelia mengharuskannya untuk berdandan cantik sehingga ia mengganti kacamata Marie dengan sebuah kontak lens yang berwarna mirip dengan matanya.
“Nanti juga kalau kamu sering pakai, akan terbiasa kok,” ujar Adelia yang sedang menata rambut Marie. Sudah menjadi sebuah kebiasaan untuk Adelia mendandani orang karena pekerjaannya adalah seorang make-up artist yang cukup terkenal. Sebenarnya awalnya ia ingin memakai jasa make-up artist lainnya namun Marie sendiri yang meminta untuk ibunya sendiri yang mendandaninya dan wanita itu pun menyanggupi,
Marie yang awalnya tampak sebagai gadis biasa disulap menjadi seorang gadis cantik dengan riasan yang tidak terlalu berlebihan dan natural. Sebenarnya Marie memang cukup cantik, hanya saja ia memakai kacamata sehingga kecantikannya sedikit buram, belum lagi dia tidak terlalu pandai untuk mendandani dirinya sehingga tidak ada yang benar-benar menyadari kecantikan dirinya.
“Rasanya aku lebih nyaman pakai kacamata, ma...” ujarnya sembari menatap dirinya di balik cermin rias.
“Tidak juga, kacamata merusak penampilanmu... seperti yang mama bilang, kamu akan terbiasa kalau kamu sering memakainya. Asal, kamu bisa merawat kontak lensmu dan memakainya dengan baik, matamu tidak akan ada masalah,” ujarnya sembari dia menyemprotkan barbara ke rambut Marie. Setelah dinilai pas, ia pun menatap Marie di cermin dan tersenyum akan karyanya yang begitu luar biasa.
“Kamu mulai-mulai deh sedikit demi sedikit belajar untuk dandan, pasti akan banyak cowok yang kepincut denganmu,” ujarnya yang membuat Marie menggelengkan kepalanya,
“Tidak, tidak mungkin. Aku merasa aku biasa saja, masih banyak yang lebih cantik daripadaku, ma...” tolak gadis itu sembari berdiri dan berbalik kepada ibunya yang kemudian memegang kedua tangannya,
“Sayang... kamu itu cantik sebenarnya, hanya saja kamu tidak sadar akan hal itu...” ujarnya yang ingin menyakinkan anaknya jika dia sebenarnya benar-benar cantik,
“Tapi ma... cantik karena make-up itu agak gimana gitu,” ujarnya pelan,
Adelia menghela napasnya dan berkata lagi sembari menggelengkan kepalanya,”Tidak usah perduli dengan kata orang kalau kamu cantik karena make-up karena memang make-up di buat untuk memaksimalkan kecantikan kita, juga bisa untuk menambah kepercayaan diri. Anggap saja make-up sebagai bentuk self-love kamu kepada diri sendiri, jangan perdulikan kata orang lain dan tetap saja berjalan ke depan. Mulai besok coba deh kamu pakai sedikit riasan, nanti mama ajarin. Juga, coba lepas kacamatamu dan ganti ke kontak lens saja...”
Marie terlihat sedikit berpikir sebelum dia menganggukkan kepalanya kepada sang ibu. Adelia tersenyum kepada anak angkat yang benar-benar sudah ia anggap sebagai anak kandungnya itu. Ia senang jika Marie akhirnya mau berbenah diri,
“Yaudah... mama sudah belikan kamu dress untuk kamu pakai,” ujarnya dengan semangat yang kemudian mengambil sebuah paper bag dan memberikannya kepada Marie,”Kamu harus cantik hari ini,” tuturnya lagi dengan antusias. Ia merasa senang melihat jika anak satu-satunya itu terlihat cantik. Marie mengangguk dan menerima paper bag itu dengan senyum yang begitu manis,
“Makasih, ma...”
“Sama-sama... coba deh, mama yakin dengan penampilanmu kali ini, Charlie pasti klepek-klepek lihat kamu,” godanya yang membuat gadis itu merengut,
“Mama ini! Aku dan Charlie itu teman doang, tau! Lagipula aku sudah punya orang lain yang kusukai,” ujarnya sembari membuang wajahnya, membayangkan bagaimana reaksi Jonathan jika dia melihat dirinya berpenampilan seperti ini.
“Aku penasaran apa yang akan dia katakan jika aku berpenampilan begini...” batinnya tidak percaya diri,
“Yah... poor Charlie... Btw, siapa memangnya? Mama penasaran, dia gak ikut party kah?”
Sebenarnya Graham dan Adelia sendiri ingin menggelar pesta yang cukup besar untuk merayakan sweet seventeennya Marie. Namun Marie sendiri tidak ingin, ia malah ingin merayakannya secara private dan sederhana. Graham dan Adelia sebenarnya tidak heran jika Marie menolak rencana mereka karena memang Marie tipikal gadis yang tidak ingin repot dan ribet. Ia juga tidak memiliki banyak teman untuk diundang.
“Tidak ada... karena sebenarnya Marie tidak terlalu dekat sama dia dan juga tidak mungkin Marie bisa bersama dengannya,” gumam gadis itu dengan pelan. Ada sirat kesedihan dibalik perkataannya itu dan Adelia menyadari itu.
“Ah... jadi cinta yang bertepuk sebelah tangan ya?” ujarnya yang diangguki oleh Marie. Adelia tersenyum dan dia memegang kedua pundak gadis itu,”Sudah... kalau jodoh juga tidak akan kemana kok nantinya. Sekarang, kamu fokus saja kembangkan dirimu dan fokus saja ke cita-citamu... tapi jangan lupa untuk selalu rendah hati,” ujar wanita cantik yang terlihat masih usia 30an awal itu. Tidak ada yang menyangka jika ia sudah berkepala empat karena kecantikannya yang begitu manis itu,
“Iya, mama benar... yaudah, sekarang Marie mau ganti baju dulu ya...” ujarnya yang diangguki Adelia. Gadis itu masih tersenyum sebelum dia meninggalkan Adelia yang kemudian berberes perlengkapan make-up nya.
Gadis itu berjalan dan melihat sekilas isi paper bag itu yang terlihat jika dress ini berwarna peach. Ia sangat senang karena Adelia memilih warna yang tampak cantik untuknya. Kesedihannya mengenai Jonathan sirna seketika dan dia pun berjalan ke kamarnya untuk mengganti pakaiannya.
***
Charlie baru saja sampai di rumah Marie. Ia menatap paper bag yang berisikan kado darinya dan tersenyum. Ia berjalan masuk ke rumah tersebut dan memencet bell. Tidak lama setelah itu, Nicky yang sudah sampai duluan membukakan pintu untuk Charlie,
“Baru sampai?” tanya Nicky kepada Charlie,
“Ya menurutmu aja, lagian kemana Marie? Kenapa kau yang membuka pintu?” tanya Charlie sembari masuk ke dalam rumah megah itu. Ia terlihat mencari-cari keberadaan Marie yang belum tampak di pandangannya. Nicky menutup pintu sebelum dia mengikuti Charlie yang sudah lebih dulu berjalan mencari Marie.
“Marie lagi di tempat rahasia... sebentar lagi dia pasti akan turun,” ujarnya membuat Charlie berbalik dan berkacak pinggang kepada gadis berpakaian dress pink itu. Ia terlihat cantik dengan riasan dan sedikit aksesoris yang ia kenakan. Tidak lupa, dia memakai
“Maksudnya tempat rahasia? Nick, ini bukan taman bermain yang pakai rahasia-rahasiaan,” ujarnya dengan maksud untuk menuntut gadis itu untuk memberitahu di mana Marie berada sekarang ini.
“Kamu pasti akan terkejut jika melihatnya nanti, tunggu saja...” ujarnya yang kemudian mengajak pria itu untuk mengikutinya ke ruang tamu. Di sana terdapat Adelia yang tampak menyambut keduanya dengan begitu ramah.
“Halo tante...” sapa Charlie kepada Adelia,
“Hai juga, Charlie... duduklah dulu,” ajaknya yang juga kemudian dia mengajak Nicky untuk ikut duduk,
“Hmm... Marie nya di mana, tan?” tanya Charlie yang membuat Adelia tersenyum,”Tunggu saja, bentar lagi dia turun kok,” ujarnya kepada Charlie yang tersenyum mendengarnya. Pria bertubuh atletis itu mengangguk ramah untuk membalas perkataan Adelia,
“Kan udah dibilang, tunggu saja...” ujar Nicky kepada Charlie yang sebenarnya tidak sabar untuk melihat Marie. Ia sangat ingin memberikan kado ini untuk Marie, ia harap Marie menyukai kalung yang sudah ia pilihkan untuk Marie,
“Eh, Charlie? Sudah datang?” ujar Marie yang kemudian turun dari tangga. Ia memakai high heels pendek dengan dress peach dan riasan yang begitu cantik untuknya. Charlie sempat menganga melihat perubahan gadis itu yang tidak pernah ia lihat. Di dalam hatinya, ia tidak berhenti untuk memuji Marie, sosok gadis yang selama ini selalu dia sukai dari dulu.
Sementara Nicky, ia menyenggol pria itu karena ia sudah tahu jika Charlie menyimpan rasa kepada Marie,”Biasa aja itu mulut,” ejeknya pada Charlie yang malah menatapnya dengan sinis. Sementara itu, Adelia sendiri terlihat bangga akan karya tangannya yang telah membuat putrinya begitu cantik. Ia sudah menduga jika Charlie akan terpana dengan kecantikan Marie. Ah... seandainya saja pesta ini digelar besar-besaran, pasti akan lebih banyak orang yang melihat betapa cantiknya Marie saat ini.
Ketika gadis itu turun, semua orang menyambutnya. Mereka merayakan ulang tahun Marie dengan begitu meriah walaupun hanya ada empat orang saja di sana. Keempat dari mereka, termasuk Marie merasa begitu senang dan menurutnya hal ini lebih berarti daripada sebuah penggelaran mewah seperti yang lain lakukan.