Marie tampak gugup, sebentar lagi mereka sampai di tempat tujuan mereka dan rasanya gadis itu belum memiliki keberanian yang bulat untuk menghadapi Jonathan. Ia penasaran, apa yang akan menjadi tanggapan pria itu ketika ia bertemu dengannya? Pikiran Marie masih berkutat di situ sebelum akhirnya Nicky pun memarkirkan mobilnya dan Marie pun mengambil napasnya sebelum keduanya, Nirmala dan Nicky ikut keluar dari mobil.
Ketiganya berjalan bersama tanpa mengetahui jika jantung Marie sudah berdebar begitu kencang. Ia sangat gugup, bahkan tangannya sangat bergetar saat ini. Hingga saat ini ia masih tidak percaya diri dengan penampilannya. Nicky yang menyadari ada yang tidak beres dibalik diamnya Marie pun berbalik dan melihat Marie yang masih menunduk.
Dengan cepat, ia berbalik dan menghampiri Marie yang masih berjalan jauh di belakang, disusul juga dengan Nirmala yang tidak ingin pergi sendirian masuk ke dalam sekolah asing ini.
“Kamu kenapa?” tanya Nicky kepada Marie.
Marie menggelengkan kepalanya,”T-tidak apa… a-aku hanya gugup saja bertemu dengan Jonathan nantinya,” ujarnya yang membuat Nicky menghela napasnya. Nicky meminta gadis itu untuk setidaknya menatap dirinya, ia tidak berhenti meminta hal tersebut sampai Marie benar-benar menatapnya,”Marie, ingatlah… hanya karena kamu berbeda, bukan berarti kamu itu tidak baik dan buruk,” ujarnya yang diangguki oleh Nirmala,
“Tenang saja, lagipula kita tidak akan bertemu dengan orang-orang yang benar-benar kita kenal dari sekolahan selain tim basket sekolah kita sendiri,” ujar Nicky yang diangguki Marie.
Nicky ada benarnya juga, tidak ada salahnya jika ia tampil berbeda… terlebih beberapa teman dan kerabatnya mengatakan hal yang positif mengenai perubahannya. Ia tidak mendengarkan hal yang buruk, melainkan ia dinilai semakin cantik dan menarik. Dengan segala keberanian yang ada, Marie menegapkan tubuhnya dan tersenyum kepada kedua sahabatnya itu,”Baiklah, kalau begitu ayo kita masuk ke dalam arena,” ajak gadis itu yang diangguki oleh Nicky dan Nirmala yang kemudian ketiganya berjalan bersama masuk ke dalam arena.
Mereka masih berjalan dan memutuskan untuk duduk di kursi paling depan. Dengan begini mereka bisa melihat jelas Charlie dan Jonathan yang sedang melakukan pemanasan dan stretching. Marie ingin sekali berteriak untuk memberikan semangat kepada Charlie dan Jonathan namun ia tidak memiliki keberanian yang begitu besar untuk melakukannya.
Ia melirik kepada Nirmala yang sudah ia duga terus menatap Charlie di sana. Ia mendekat kepada Nirmala dan berniat untuk menggoda gadis itu,”Lagi lihatin Charlie nih, ye,” ujarnya, menggoda Nirmala yang wajahnya sudah memerah,
“A-apaan sih… enggak tu,” ujarnya sembari menggelengkan kepalanya. Nicky yang mendengar itu pun ikut nimbrung,”Gak mengherankan sih kalau kamu lihatnya Charlie. Jadi bagaimana hubungan kalian? Apa ada kemajuan gitu?” tanya Nicky kepada Nirmala yang malu-malu mendengarnya,
“Aku tidak mengerti, kemajuan seperti apa?”
Nicky menepuk jidatnya, begitu juga dengan Marie yang menggelengkan kepalanya,”Itu loh, mana tahu kalian itu chat berduaan gitu atau menghabiskan waktu untuk bersama,” jelas Nicky yang membuat Nirmala menggeleng lemah,
“Walaupun kita ada grup w******p, namun dia tidak pernah menghubungiku,” ujarnya dengan pelan. Marie merasa kasian dengan apa yang Nirmala dapatkan, ia ingin sekali di kehidupan kali ini perasaan Nirmala kepada Charlie bisa berbalas,
“Coba saja sesekali hubungi dia dan bahas mengenai sesuatu,” usul Nicky yang diangguki oleh Marie,
“Benar… coba saja bahas mengenai sesuatu seperti novel. Gitu-gitu, si Charlie suka sama novel fantasi, loh!” ujarnya yang membuat Nirmala menelan ludahnya. Ia tidak menyangka jika kesukaan dirinya dengan Charlie bisa sama, yakni suka untuk membaca novel.
Pertandingan pun di mulai dan perhatian ketiga gadis itu beralih dan ketiganya mulai duduk lurus ke depan untuk melihat pertandingan yang sebentar lagi akan dimulai. Jonathan melihat sekitarnya, mencari keberadaan Marie yang belum dapat ia lihat.
Hingga pada akhirnya ia melihat seseorang yang berbeda, duduk bersama dengan Nirmala dan Nicky. Semakin ia menatap sosok itu yang sedang mencari keberadaan Charlie, pria itu tertegun untuk sejenak. Benarkah itu adalah Marie? Gadis itu terlihat berbeda dengan biasanya, dan kali ini ia terlihat begitu cantik di matanya.
“Apa dia biasanya secantik ini?” ujar Charlie di dalam hatinya. Pria itu mengikuti pandangan gadis itu yang saat ini berada pada sosok Charlie yang sedang melambaikan tangannya kepada Marie. Ia sangat cemburu, ia berharap gadis itu melihat dirinya namun ternyata tidak.
Jonathan berusaha untuk mengabaikan perasaannya yang tidak enak tersebut dan memilih untukbersikap professional. Ia berbalik dan mulai berjalan untuk membentuk garis tanpa mengetahui setelahnya Marie menatap punggungnya yang terlihat dari belakang. Di dalam hati, gadis itu berharap pria itu bisa bermain dengan baik karena setahunya di kehidupan ini sekolah mereka menang dari SMAN 10 berkat kelihaian Charlie dan Jonathan juga.
Pertandingan pun berlangsung selama 4 babak dengan durasi 10 menit di setiap babaknya. Dan di babak akhir, akhirnya sekolah Marie pun memenangkan pertandingan dengan selisih yang begitu sedikit. Setelah pertandingan selesai, ketiga gadis itu mendatangi Charlie yang sudah berkeringat begitu banyak.
“Gimana? Apa permainanku bagus?” tanya Charlie kepada ketiga gadis itu.
“Biasa saja,” ujar Nicky yang membuat pria itu kesal,
“B-bagus kok,” ujar Nirmala yang sudah lama mengumpulkan keberaniannya untuk berkata demikian. Charlie tersenyum kepada Nirmala dan berkata,”Terima kasih…” ujarnya yang membuat gadis itu mengangguk malu.
Pandangan pria itu kemudian menuju Marie yang masih berdiri dengan mata yang sedang menatap Jonathan yang sedang berbincang-bincang dengan rekannya yang lain. Charlie yang sudah mengerti mengapa gadis itu memperhatikan Jonathan pun berniat untuk mengalihkan fokus gadis itu supaya Marie terfokus kepada dirinya saja,
“Marie… kau terlihat berbeda,” ujar Jonathan yang membuat Marie langsung menatapnya,
“Apa aku terlihat aneh?”
Nicky menghela napasnya,”Sudah berapa kali aku bilang ke kamu, kamu itu tidak aneh, Marie! Kamu itu cantik!” ujarnya dengan kesal. Nicky menoleh dan menatap Nirmala untuk meminta Nirmala mendukung apa yang sudah ia katakana kepada Marie.
“Iya, Nicky benar… aku juga lebih menyukai penampilanmu yang sekarang. Jika saja kamu sedikit lebih percaya diri, kamu pasti akan semakin cantik lagi,” ujar Nirmala sembari tersenyum. Hal itu membuat gadis itu tersenyum tipis dan rasa percaya dirinya semakin berkembang.
“Aku setuju… kamu terlihat cantik hari ini… Jadi percaya dirilah, okey?” ujar Charlie sembari tersenyum kepadanya.
“Terima kasih ya semuanya… mungkin kalian benar, aku harus lebih percaya diri lagi,” ujarnya sebelum tanpa diduga Jonathan mendatangi rombongan mereka dan hal pertama yang ia lihat adalah Marie yang sudah tertunduk malu ketika pria itu datang menghadapinya,
“Iya, kan Jonathan?” tanya Nicky yang tidak dimengerti oleh Jonathan,
“Iya apaan maksudnya?” tanya Jonathan dengan bingung,
“Marie, dia terlihat cantik kan hari ini?” tanya Nicky, yang sangat ingin mendengar pendapat pribadi dari pria itu. Jonathan melihat Marie dari atas ke bawah hingga ia sendiri tersenyum,”Iya, dia terlihat cantik dengan penampilannya yang seperti ini… Tapi menurutku dia memang sudah cantik dari awal sih,” ungkapnya dengan jujur sembari malu-malu sendiri.
Marie yang malu-malu pun mulai mengangkat kepalanya,”Benarkah?” tanyanya yang kemudian diangguki oleh Jonathan,”Untuk apa aku berbohong? Berbohong itu tidak menyenangkan,” ujarnya sembari melipat tangannya.
Sebenarnya Jonathan sangat bingung, mengapa gadis itu malah menundukkan kepalanya begitu ia bergabung dengan rombongan Marie? Apa gadis itu tidak nyaman akan keberadaannya? Entahlah, menurutnya Marie sangat susah untuk ditebak.
Terlebih, di samping mereka ada Charlie yang sudah berwajah kurang bersahabat dan yang menyadari hal itu hanyalah Nirmala karena gadis itu terus memperhatikan Charlie.
“Oh iya, bagaimana jika kita foto saja, ya hitung-hitung kenangan aja sih,” ujar gadis itu yang disetujui oleh semua orang,
“Boleh tuh, pakai hape ku saja,” ujar Jonathan yang menawarkan dirinya secara langsung. Hal itu langsung disetujui oleh semua orang dan sebagai pria yang paling tinggi, ia lah yang akan memegang kamera. Semua orang berusaha untuk masuk ke dalam frame, termasuk Marie yang berdiri tepat di belakang Jonathan. Setelah dinilai mereka sudah siap, beberapa kali pria itu memotret kebersamaan mereka semua.
Setelah selesai memotret, Nicky pun mengajak Nirmala dan Marie untuk segera pulang karena ia memiliki urusan. Baik Nirmala maupun Marie, mereka saling pandang untuk sejenak sebelum Jonathan membuka mulutnya.
“Kalian udah mau pulang? Gak mau makan di mana gitu?” tanya Jonathan kepada ketiga gadis itu,
“Rencananya sih kami mau langsung pulang,” ujar Nicky.
“Ugh, padahal aku ingin sekali makan bersama dengan Jonathan,” batin Marie,
Pikiran yang sama pun muncul dipikiran Nirmala mengenai Charlie karena sebenarnya keduanya memang berjanji untuk bersama setelah pertandingan usai. Nirmala memancing Charlie untuk menjadikan Marie sebagai topik pembahasan mereka dan Charlie pun setuju.
Sementara itu, Jonathan pun mendekat kepada Marie dan dia berbisik untuk mengajak Marie untuk makan bersama dengannya. Marie tidak menyangka jika Jonathan akan mengajaknya untuk berduaan dan gadis itu tidak ingin kesempatan ini hilang begitu saja.
“Umm… Nicky… setelah ini aku ada urusan lain,” ujar Nirmala dengan gugup.
“Iya, aku juga… kamu duluan saja, nanti kami pulang masing-masing saja,” ujar Marie yang dengan enteng pun diangguki oleh Nicky.
“Oke, kalau begitu selamat bersenang-senang,” ujarnya yang seolah tahu kemana mereka akan pergi, yang mana kemudian ia meninggalkan kedua pasangan itu sendirian.