Marie tengah berdiri di depan cermin, menatap pantulan dirinya untuk memastikan dirinya sudah siap untuk pergi. Ia tidak memakai riasan apapun selain bedak bayi dan kacamata yang terus melekat di matanya. Hari ini ia memilih untuk memakai kaos oversize berwarna mustard dan jeans hitam panjang. Ia juga memakai tas yang tidak terlalu besar untuk sekedar memuat dompet dan ponselnya. Gadis itu masih tersenyum sembari dia membenarkan posisi kacamatanya.
“Okey, saatnya kita menunggu di bawah,” ujarnya sebelum dia melangkah ke luar kamarnya. Begitu ia keluar dari kamarnya, bertepatan ia berpas-pasan dengan sang ibu, Adelia yang hendak berjalan ke kamarnya. Adelia melihat penampilan Marie dan dia pun menghentikan langkahnya dan bertanya kepada gadis itu,
“Mau kemana?” tanyanya yang menghentikan langkah Marie yang kemudian berbalik kepada Adelia,
“Mau nonton pertandingannya Charlie. Bukannya aku sebelumnya udah izin ke mama kalau aku akan menonton sparringnya Charlie?” tanya gadis itu yang membuat Adelia menatap anak tirinya itu dari atas ke bawah. Sadar jika sang ibu tampak menatapnya berbeda, Marie pun bertanya kepadanya,”A-ada apa, ma?”
Marie menduga penampilannya tidak menarik dan benar saja, Adelia pun mengutarakan hal tersebut kepadanya,”Kamu yakin mau nonton dengan penampilan ‘biasa’ begitu?” tanyanya, membuat Marie mengerjapkan matanya. Ia merasa tidak ada masalahnya berpenampilan biasa seperti ini dan biasanya juga Adelia tidak berkomentar banyak mengenai penampilannya walaupun sebenarnya wanita itu terkadang berkata kepada Marie untuk sekedar memperbaiki penampilannya yang culun itu.
“Hmm… aku rasa tidak masa-“
“Tentu saja itu masalah, sesekali cobalah untuk berpenampilan cantik, sayang… kamu itu cantik sebenarnya tapi penampilan culunmu itu menghalangi penampilan aslimu,” ujarnya sembari berjalan mendekat kepada Marie. Marie merasa deja vu, karena ia ingat di kehidupan sebelumnya yakni di hari ulang tahunnya untuk pertama kalinya, sang ibu melakukan make-over untuk dirinya. Dan di saat itu juga sebenarnya ia juga sudah mulai mau memperbaiki penampilannya, hanya saja karena ia kembali ke masa lalu, ia sempat melupakan hal tersebut dan dia pun berpenampilan seperti sekarang ini.
Gadis itu melihat arlojinya dan seketika itu ponselnya berdering, menandakan sebuah pesan masuk. Ketika ia membuka ponselnya, ia melihat grup dirinya dengan Charlie, Nicky dan Nirmala yang mana Charlie menginfokan jika pertandingan sparring ini diundur satu jam lebih.
Nicky: Yaudah, aku jemput kamu empat puluh lima menit lagi ya, Marie...
Marie mengembalikan tatapannya kepada Adelia yang ikut membaca apa yang menjadi isi pesannya bersama dengan teman-temannya.
“Empat puluh lima menit lagi? Masih okelah untuk kamu memperbaiki penampilanmu,” ujar Adelia sembari menatap Marie yang mulai menyimpan ponselnya. Ia teringat dengan Jonathan, ia berpikir, apa pria itu akan menyukai penampilan terbarunya? Ia harap Jonathan tidak melihatnya aneh,
“Marie?” panggil Adelia karena Marie melamun tiba-tiba,
“Eh iya, ma...”
“Ayo sini mama make over kamu... mama yakin Charlie pasti makin suka padamu,” ujarnya dengan senyuman yang begitu lebar, berbeda dengan Marie yang malah mengangkat satu alisnya,
“Charlie menyukaiku? Tidak mungkin, ma...” ujar Marie sembari menggelengkan kepalanya. Semua orang tahu akan hal itu namun Marie masih menolak untuk percaya,
“Kamu ini gak peka deh... yaudah ayo sekarang kita siap-siap, jangan buang-buang waktu lagi,” ujar Adelia sembari menarik tangan anak gadisnya untuk masuk ke dalam kamarnya. Marie hanya mengikut saja, ia harap Jonathan menyukai penampilan terbarunya saat ini,
Begitu keduanya sampai di kamar Adelia, Adelia dengan cepat pun mempersiapkan make-up dan beberapa perkakas lainnya untuk mendandani Marie secantik mungkin.
“Oke, saatnya untuk make over!”
***
Adelia benar-benar menyulap sosok Marie yang begitu culun menjadi gadis yang benar-benar cantik. Ia memakaikan kontak lens berwarna cokelat sehingga matanya terlihat begitu tajam dan sedikit besar. Ia juga menambahkan sedikit riasan supaya gadis itu terlihat cantik natural. Sebagai sentuhan terakhir, Adelia memoleskan lipstik berwarna sedikit nude ke bibir gadis itu.
Wanita itu terlihat sangat senang dan ia sama sekali tidak terkejut dengan penampilan terbaru Marie karena sebenarnya ia sudah tahu jika gadis itu sebenarnya gadis yang lumayan cantik. Marie mulai menatap dirinya yang terlihat berbeda tanpa kacamata, ia juga sedikit memiringkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk melihat dirinya melalui sudut pandang kiri dan kanan.
Meskipun ia sudah terlihat cantik, namun gadis itu tidak memiliki keberanian untuk menunjukkan kecantikannya kepada teman-temannya. Gadis itu kembali menatap Adelia yang mengerti jika gadis itu merasa aneh karena ia tidak terbiasa berpenampilan seperti ini kepada teman-temannya.
“Ma... aku gak pede...”
“Kamu ini, seharusnya dengan penampilanmu yang terbaru ini, kamu harus semakin pede dengan diri kamu. Ini masalah biasa tidak biasanya saja... mama yakin teman-temanmu pasti menyukai penampilanmu yang sekarang ini,” ujarnya sembari memegang kedua pundak Marie,
“Marie... kamu harus mulai perduli dengan penampilanmu ya... berhentilah memakai kacamata dan pakailah kontak lens. Nanti kalau kamu sudah legal, kita operasi lasik ya...” ujarnya sembari tersenyum kepada gadis itu,
“T-tapi ma... operasi lasik itu kan mahal...” cicitnya yang tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Adelia menghela napasnya dan kembali dia berkata,”Mama sudah bahas ini sama papa kamu. Kami sudah putuskan untuk membawamu operasi lasik nantinya. Lagian kamu minusnya belum terlalu tinggi tapi kamu terus pakai kacamata. Ini juga supaya penampilanmu semakin bagus dan juga bukankah lepas dari kacamata itu lebih baik? Minus kamu tidak akan bertambah lagi untuk kedepannya,”
Marie yang merasa tidak enakkan pun sedikit menundukkan kepalanya. Tentu saja kedua orang tuanya akan kecewa jika ia menolak operasi itu tapi ia juga tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya. Sembari menghela napas, akhirnya gadis itu pun mengangguk dan mengangkat kepalanya,”Baiklah... aku akan operasi lasik seperti yang papa dan mama inginkan nantinya,” ujarnya yang membentuk lekukkan senyum yang begitu lebar bagi Adelia.
Adelia kemudian beranjak sebentar untuk mengambilkan tetes mata untuk kontak lens Marie,”Ini ambillah, pakai ketika matamu terasa kering, kalau bisa pakai dengan rutin dan sering supaya matamu tidak kering,” ujarnya sembari mengambil tangan Marie dan memberikan tetes mata itu. Marie mengangguk dan momen keduanya pun terhenti ketika Marie mendapatkan panggilan dari Nicky,
“Oke, ma... Makasih banyak ya... Marie duluan, ma,” ujarnya sembari memasukkan tetes mata itu ke dalam tasnya. Adelia pun mengangguk dan matanya masih melekat kepada Marie yang sudah kocar-kacir mengambil barangnya dan mulai pergi meninggalkan Adelia yang masih tersenyum di sana.
Marie mulai melangkah dan juga memakai sepatunya sebelum dia berlari ke luar rumahnya yang begitu luas. Marie adalah tipikal gadis yang suka tidak enakan kepada orang lain, sehingga ia tidak enak untuk membuat Nicky menunggunya lama. Maka dari itu ia sampai lari-lari ke sana ke mari untuk menghampiri Nicky yang sudah ada Nirmala di sampingnya.
Begitu Marie sampai di depan gerbang rumahnya, ia pun menggeser gerbang itu dan langsung masuk ke dalam mobil Nicky dan Nirmala yang sudah menunggu dirinya. Karena semuanya terjadi begitu cepat, keduanya masih belum melihat penampikan terbaru dari Marie. Mereka baru saja melihat penampilan terbaru Marie ketika gadis itu masuk ke dalam mobil.
Baik Nirmala maupun Nicky, keduanya sempat menganga sejenak sebelum Marie bertanya mengapa mereka malah diam saja begitu ia sampai ke dalam mobil,
“Kenapa kalian malah diam? Jalan lah,”
“Ini beneran Marie? Kami tidak salah lihat kan?” ujar Nicky yang kemudian disambung juga oleh Nirmala,
“Kami tidak salah rumah kan?”
Marie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu,”A-apa aku terihat aneh?” tanyanya yang serentak digelengkan oleh Nirmala dan Nicky,
”Sama sekali tidak,”
“Tidak kok, hanya saja kami terbiasa melihat penampilanmu yang biasanya. Jadi kami sedikit kaget melihat penampilan terbarumu,” ujar Nirmala yang secara tidak langsung memuji penampilan cantik dari Marie,
“Hey, kamu pakai kontak lens?” tanya Nicky yang mulai menyadari warna mata gadis itu yang sedikit berbeda. Jika dilihat sekilas sih, kontak lens itu sangatlah alami warnanya, hanya saja jika dilihat lagi warna mata gadis itu sedikit lebih terang daripada biasanya,
Marie yang mendengarnya pun mengangguk,”I-iya, aku tidak terbiasa memakainya... apa aku terlihat an-“
“Berhentilah berpikir kau terlihat aneh, Marie... kamu ini terlihat cantik loh daripada biasanya. Kemampuan berdandan tante Adelia memang tidak bisa diremehkan,”
“Tentu saja, dia kan make-up artist,” ujar Marie dengan bangga.
“Ah, aku ingin didandani olehnya. Mana tau dengan itu aku bisa secantik malaikat,” ujar Nicky sembari memegang kedua pipinya dan mengkhayal jika akan banyak orang yang akan menyukainya,
“Berhentilah mengkhayal, kita nanti telat,” ujar Nirmala, memotong fantasi Nicky untuk sekejap. Nicky pun mengangguk mengerti sebelum dia mulai mengendarai mobilnya kembali,
“Oke! Mari kita jalan!”