Jonathan sama sekali tidak menyerah, ia akan terus berusaha untuk bisa menjadi teman yang dapat dipercaya oleh Marie. Ia memutuskan untuk menghubungi Marie dan meminta bertemu di café dekat sekolah. Entah mengapa pria itu merasa gugup, seakan-akan ia sedang menyatakan perasaannya kepada orang yang ia sukai, padahal dia cuman ingin memberikan paper bag ini untuk Marie, itu saja… bukan yang lain-lain.
Pria itu sengaja memesan beberapa makanan ringan supaya interaksi keduanya tidak hanya sebatas ‘say hi’ lalu pulang. Jonathan masih menunggu hingga matanya bertemu dengan Marie yang sedang mencari keberadaannya. Jonathan mengangkat tangannya dan itu menyita perhatian Marie untuk sejenak. Setelah ia menemukan Jonathan, ia berjalan menuju pria itu yang sudah menunggunya.
Jonathan bisa melihat jika gadis itu tampak begitu senang.
“Sudah nunggu lama, kah?” tanyanya sembari ia mengambil tempat duduk di hadapan Jonathan.
“Enggak kok,” ujarnya sebelum beberapa cemilan yang dibawakan oleh waiter datang. Marie sempat penasaran mengapa pria itu mengajaknya untuk kemari dan melihat sang waiter sedang meletakkan beberapa cemilan kecil, Jonathan pun bertanya kepadanya,“Kamu mau minum apa?” tanya Jonathan yang membuat perhatian Marie teralihkan.
“Um… aku jus alpukat saja…” jawab Marie yang diangguki Jonathan. Jonathan menatap sang waiter dan memesankan dua jus alpukat lalu pria itu pun mengangguk mengerti sebelum dia pergi untuk mengantarkan pesanan tambahan minuman milik Marie dan Jonathan.
“Ada apa memanggilku kemari? Apa ada yang bisa kubantu?”
Jonathan tersenyum sebentar sebelum dia memberikan paper bag yang ia letakkan di sebelah bangkunya. Marie mengernyitkan dahinya begitu ia memberikan paper bag itu, atas dasar apa pria itu memberikannya hadiah?
“Boleh aku lihat isinya?” tanya Marie,
“Boleh,”
Marie melihat isi paper bag tersebut yang ternyata ada bukunya dan beberapa coklat dan snack di dalamnya. Gadis berambut hitam itu menoleh kembali kepada Jonathan yang sedang menunggu reaksi gadis itu,
“Ini untukku?”
“Tentu saja… anggap saja itu sedikit hadiah karena kau sudah mau memberikan bukumu kepadaku,” ujarnya sembari melipat tangannya. Marie tentu merasa senang dengan hal ini, namun ia menahannya dan sebagai gantinya ia tersenyum kepada Jonathan dan tentu saja dia mengucapkan terima kasihnya kepada pria itu,
“Makasih ya… padahal kamu gak perlu repot-repot begini,” ujarnya dengan tulus. Marie kini mengerti mengapa pria itu tidak memberikan paper bag ini di sekolah karena tentu saja beberapa orang bisa melihat kedekatan keduanya jika hal itu terjadi. Padahal, sebenarnya Jonathan ingin memberikan paper bag ini kepada Marie di sekolah hanya saja hal itu sempat batal karena ia melihat Marie yang sedang bersama dengan Charlie.
“Tidak masalah… Anggap saja itu hadiah dariku, ya walaupun bukan hadiah yang begitu mewah dan mahal,”
Marie menggelengkan kepalanya,”Apapun yang kamu berikan, aku pasti akan menerimanya dengan senang hati kok,” balas Marie sembari tersenyum dan meletakkan paper bag itu di sampingnya.
“Begitu ya…” ujarnya sebelum dia kembali berkata,”Kamu tampak senang hari ini,” tutur Jonathan sebelum jus yang mereka pesan datang. Pria itu masih menatap Marie yang tersenyum ramah kepada waiter yang sudah mengantarkan pesanan mereka.
“Makasih ya, mas…” ujar gadis itu kepada sang waiter.
Jonathan termenung sejenak dengan mata yang masih melekat kepada Marie. Ia sedikit cemburu karena gadis itu baik kepada semua orang, sehingga ia susah untuk menebak gadis itu. Namun meskipun begitu, ia jadi mengerti jika kebaikan Marie ini bukanlah hal yang dibuat-buat.
Marie mengembalikan tatapannya kepada Jonathan yang masih menatapnya. Gadis itu mengangkat alisnya dan bertanya,”Ada apa menatapku begitu?” tanyanya yang langsung memecahkan lamunan Jonathan.
“Apa aku terlihat aneh?” batin gadis itu yang merasa insecure dan tidak percaya diri.
“Ah tidak ada… aku hanya kepikiran sesuatu… sampai mana tadi?”
“Eum… kamu bilang aku terlihat bahagia,” jawab gadis itu yang diangguki oleh Jonathan,
“Iya… apa ada sesuatu yang membuatmu senang?” tanya Jonathan dengan sengaja kepada Marie. Walaupun ia menganggap gadis itu senang karena hubungan dekatnya kepada Charlie, namun ia ingin mendengar lebih lagi dari Marie mengenai apa yang ia rasakan,
“Apa aku terlalu kebahagiaanku untuk bertemu dengannya terlalu mencolok? Padahal aku berusaha untuk menekannya,”
“Apa aku benar-benar terlihat bahagia?” tanya Marie untuk kembali memastikan hal ini kepada Jonathan. Bisa saja pria itu hanya asal bicara saja kan…
Jonathan mengangguk,”Iya nampaknya sih begitu, apa ini ada hubungannya dengan teman lelakimu itu?” tanya Jonathan yang membuat gadis itu mengerjapkan matanya. Jika Marie pikirkan lagi, hubungannya dengan Charlie sebenarnya juga mempengaruhi moodnya karena sudah tidak ada lagi tembok yang memisahkan dirinya dari Charlie,
“Dia meminta maaf kepadaku tadi…” ujar gadis itu sembari menyeruput jus alpukatnya yang belum ia sentuh daritadi,
“Minta maaf? Kalian bertengkar lagi?”
Marie menggeleng,”Enggak sih… kami tidak bertengkar. Tiba-tiba aja dia meminta maaf kepadaku,”
“Duh bagaimana aku jelaskannya ke Jonathan ya? Ini kan ada hubungannya juga dengan dirinya…”
“Sebentar, sebentar… untuk apa meminta maaf kalau kalian sedang tidak bertengkar?” tanya Jonathan yang masih tidak mengerti. Ia tidak melihat gadis itu sedang berbohong tapi nampaknya Marie sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
“Hmm bagaimana ya cara menjelaskannya. Aku juga kaget ketika dia meminta maaf,” ujar Marie yang bingung sendiri bagaimana ia menjelaskan hal ini kepada Jonathan,
“Dia meminta maaf karena apa?”
“Sebenarnya selama ini dia agak posesif padaku, jadi aku sedikit kurang nyaman ketika dia melarangku berteman dengan beberapa orang…” ujarnya dengan hati-hati. Marie tidak ingin Jonathan tahu jika sebenarnya Charlie sebelumnya melarang dirinya untuk berteman dan dekat dengan Jonathan,
“Begitu?”
“Nampak jelas banget kalau dia cemburu karena Marie baik kepada semua orang,” batin Jonathan sembari bersender.
Marie mengangguk,”Begitulah… sebenarnya pun tanpa dia minta maaf pun aku tidak masalah walaupun sedikit menganggu, namun menurutku dia melakukan semuanya demi aku juga…” ujarnya sembari tersenyum kecil.
Jonathan mengangguk paham,”Sepertinya kalian sudah lama dekat ya… sudah berapa lama kalian berteman?” tanya pria itu dengan penasaran sembari dia juga menyeruput jus alpukatnya dan mengambil kentang goreng di hadapannya,
“Hmm… kami sudah berteman sejak SD… aku lupa kelas berapa tapi yang jelas saat itu kami sekelas saat SD dan begitulah…”
“SD? Berarti udah lama banget dong!”
Marie kembali mengangguk dengan ingatan yang melayang ke masa-masa di mana dirinya dengan Charlie bertemu dulu,”Iya… dia salah satu sahabatku yang paling berharga… selama ini dia selalu bersamaku bagaimana pun keadaan dan kesulitan yang aku alami, terlebih ketika aku berada di titik terendahku, dia selalu ada menjadi tempat untukku berkeluh kesah,” ujarnya yang mulai sadar jika ia sudah tidak sengaja menceritakan banyak hal kepada Jonathan,
“Maaf, aku jadi curhat…” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.
“Tidak masalah… sepanjang apapun kamu cerita, aku akan mendengarkannya,” tutur Jonathan sembari menggelengkan kepalanya dengan tidak keberatan.
“Benarkah?”
“Benar… percaya saja padaku. Aku juga orangnya bisa menjaga rahasia loh,”
Gadis itu terkekeh,”Baiklah. Kalau begitu bagaimana denganmu? Apa kamu juga punya teman yang juga dekat denganmu?” tanya gadis itu yang juga ingin tahu mengenai Jonathan.
“Hmm… sebenarnya aku tidak memiliki teman yang begitu dekat… semuanya hanyalah teman biasa. Bisa dikatakan aku tidak memiliki sahabat, sama sekali tidak,”
Selama ini Marie mengira Jonathan memiliki segalanya karena ia tampak baik kepada siapapun dan juga banyak gadis yang menyukainya. Namun ia baru mengetahui jika pria itu sama sekali tidak memiliki siapapun di sisinya selain Gianna. Gadis itu mencengkram roknya, ia semakin benci dengan sosok Gianna yang sudah menghancurkan Jonathan hingga ia bisa dengan nekat menghabisi nyawanya sendiri.
“Inikah mengapa beberapa kali aku melihatnya makan sendiri dan melakukan beberapa hal sendiri juga?”
Disaat yang sama, Marie merasa dirinya sangat beruntung. Ia memiliki teman yang bisa menguatkan dirinya ketika ia merasa berada di titik terendahnya. Ia juga memiliki keluarga yang menyayanginya, sehingga ia merasa tidak pantas untuknya mengeluh akan hidupnya,
“Jangan mengasihaniku,” ujar pria itu, membuat Marie kembali menatapnya. Meskipun pria itu sudah berkata demikian, ia tetap saja merasa empati kepada Jonathan.
“Tidak perlu mengasihaniku, karena aku sekarang aku sudah punya seseorang yang cukup dekat denganku,” tuturnya dengan begitu bangga.
Marie tertegun sejenak, ia berpikir keras. Ia mengira orang yang Jonathan maksud adalah Gianna, sementara Gianna sendiri belum waktunya untuk datang ke sekolah mereka,
“Kalau boleh tahu, siapa yang kamu maksud?” tanya gadis itu dengan lugu.
“Ini… orangnya sedang duduk di depanku,” ujarnya yang membuat gadis itu terdiam sejenak. “Aku penasaran dengan reaksinya,” batin Jonathan,
“Ha? Aku?” tanya Marie dengan jari telunjuk yang menunjuk kepada dirinya sendiri. Ia memastikan dirinya tidak salah dengar dan dia malah mengerjapkan matanya berkali-kali.
“Kenapa dia malah bingung? Apa dia tidak suka aku berkata begitu?”
“Apa aku tidak boleh-“
“Ti-tidak, tidak… bukan begitu,” potong gadis itu dengan cepat.
“Bukan tidak boleh, aku hanya… umm… maksudku aku hanya kaget. Aku sama sekali tidak keberatan jika kamu menganggapku teman dekatmu karena aku juga merasa tidak ada salahnya juga jika kita berteman,” ujarnya malu-malu.
“Ugh, aku merasa bodoh sendiri,”
Tanpa ia sangka, pria itu tersenyum begitu manis, “Begitu ya…” ujarnya yang menyilaukan pandangan Marie. Ia terpana dengan senyuman pria itu kepadanya bahkan ia sampai tertegun untuk sejenak sebelum pria itu menjentikkan jarinya ke hadapan Marie.
“Yok, dimakan… aku sudah memesannya untuk kita makan,” ujarnya yang diangguki Marie.
“Iya, iya…” ujarnya sembari mulai memakan kentang goreng yang ada di hadapannya. Sembari mengunyah, ia menatap Jonathan yang juga ikut menikmati cemilan yang sudah ia pesan. Di dalam hatinya, Marie sangat senang karena ternyata Jonathan menganggapnya seperti apa yang inginkan. Ia semakin percaya diri untuk mencengah insiden itu terjadi. Ia akan mempertahankan hubungan ini hingga waktu kematian Jonathan di kehidupan pertama lewat.