Charlie mengetik pesan untuk Marie. Ia ingin bertemu dengan gadis itu di taman sekolah, karena ada Nicky yang pastinya akan heboh jika ia meminta hal tersebut kepada Marie, maka dari itu ia memutuskan untuk mengirim pesan saja kepada Marie.
Charlie: Hey, kita bertemu di taman sekolah yuk. Ada yang ingin aku katakan,
Pria berambut sedikit ikal itu meluruskan pandangannya untuk melihat Marie yang pastinya sudah mendapatkan pesan darinya. Ia melihat jelas jika Marie merasakan sesuatu di ponselnya. Karena percakapan Marie dan Nicky terputus, pria itu kembali mengirim pesan,
Charlie: Jangan sampai Nicky tahu,
Selain ia tidak ingin Nicky mengejeknya, ia juga tidak mau ribet dengan Nicky yang kemungkinan juga ingin ikut dengan Marie dan mengacaukan niatnya yang sudah mantap ingin meminta maaf kepada Marie. Walaupun sebenarnya pria itu hingga sekarang tidak terlalu menyukai sosok Jonathan, namun ia ingin belajar untuk menghargai keputusan Marie dan keinginan Marie untuk dekat dengan siapapun. Ia tidak ingin menjadi penghalang dari setiap kebaikan yang Marie taburkan kepada orang-orang.
“Ada apa?” tanya Nicky ketika Marie mengisyaratkannya untuk berhenti berbicara sejenak karena ia harus membaca pesan masuk. Gadis itu menatap Charlie yang sedang tersenyum miring di tempat duduknya dan dia membaca kembali pesan terbaru yang ia dapatkan dari Charlie. Maka dari itu, gadis itu terpaksa berbohong kepada Nicky jika ini adalah pesan dari Charlie,
“Ah tidak ada... hanya pesan dari papaku,” ujarnya sembari mengetik untuk membalas pesan tersebut. Nicky sama sekali curiga dengan perilaku Marie dan dia tidak mempertanyakan apapun kepada Marie yang mana hal ini memudahkan Marie untuk tidak lagi berbohong kepada Nicky.
Marie: Oke...
Gadis itu menyimpan ponselnya dan dirinya dengan Nicky kembali melanjutkan pembicaraan mereka dengan Charlie yang juga baru menerima notifikasi dari Marie. Pria itu tersenyum lalu menyimpan ponselnya. Matanya masih melekat pada Marie yang tampak asik dengan Nicky, entah mengapa gadis itu semakin cantik saja di matanya.
***
Waktu belajar sudah usai dan sudah waktunya untuk pulang. Marie sengaja berjalan bersama dengan Nicky ke basement, tempat di mana keduanya sering memarkirkan mobil mereka. Setelah dirinya berpisah dari Nicky, ia memakai kesempatan itu untuk berbalik arah dan berjalan ke taman sekolah seperti yang sudah Marie dan Charlie sudah janjikan.
Marie sudah membayangkan apa yang bisa saja jadi pertanyaan Charlie kepadanya dan dia berpikir keras bagaimana ia mengelak jika pria itu membahas mengenai Jonathan. Marie menghela napasnya, lebih baik ia cepat melangkah karena ia tahu Charlie sedang menunggunya. Gadis itu terus berjalan hingga akhirnya ia sampai juga ke dekat taman sekolah. Dari kejauhan gadis itu sudah bisa melihat Charlie yang sedang duduk di bangku dan tengah memainkan ponselnya.
Hingga gadis itu sudah berjalan mendekat, Charlie baru menyadari keberadaannya. Ia mengesampingkan ponselnya dan tersenyum kepada gadis itu,
“Sudah lama?” tanya Marie kepada Charlie yang menggelengkan kepalanya,
“Tidak juga,” jawabnya yang kemudian menepuk-nepuk bangku taman sebagai tanda meminta gadis itu untuk duduk bersama dengannya. Dengan begitu enteng, gadis itu duduk begitu saja dan menoleh kepada Charlie sembari menanyakan maksud pria itu memanggilnya tanpa Nicky dan Nirmala.
“Ada apa? Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepadaku?” tanyanya dengan khawatir. Ini bukan pertama kalinya Charlie dan Marie saling bertukar cerita karena memang mereka sedekat itu. Apapun yang terjadi kepada Charlie, biasanya pria itu menghubungi Marie untuk bercerita. Berbeda dengan Charlie, Marie malah lebih sering berbagi cerita dengan Nicky karena menurutnya Nicky selalu merespon dan menanggapinya dengan kepala dingin dan netral, tidak seperti Charlie yang responnya tidak tertebak.
“Aku hanya ingin meminta maaf…”
Marie mengerutkan dahinya,”Bukannya kamu udah minta maaf sebelumnya?” tanyanya dengan bingung,
“Hmm… aku baru sadar, selama ini aku terlalu banyak menekanmu untuk berteman dengan siapa saja termasuk kepada Jonathan. Aku kira dengan melakukan itu, kamu akan terhindar dari kekecewaan namun nyatanya kamu malah tertekan dan akhirnya kamu tidak menceritakan apapun kepadaku…” tuturnya sembari menunduk. Marie yang mengerti pun menepuk-nepuk bahu pria itu dan membisikkan kepadanya kata-kata yang menyejukkan hati Charlie,
“Tidak apa… kayak mana pun kamu bersikap, aku yakin kamu melakukan semuanya itu demi kebaikanku,” ujarnya yang sudah paham betul jika Charlie tidak berniat untuk memperlakukannya dengan buruk.
Pria itu merasakan kehangatan yang mengalir dari gadis itu dan secara reflek, ia memeluk gadis itu yang langsung gelagapan ketika Charlie memeluknya. Ini pertama kalinya ia dipeluk oleh lawan jenis yang mana tentu saja ia sangat gugup. Gadis itu yang awalnya bingung pun akhirnya perlahan mulai mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk punggung pria itu dengan perlahan.
“Tidak apa… semuanya akan baik-baik saja… Aku percaya padamu kok, Charlie…”
Charlie perlahan melepas pelukannya dari Marie dan tersenyum kepadanya,”Mulai sekarang jangan takut lagi bercerita kepadaku, oke? Aku tidak akan marah, percayalah…”
“Walaupun aku menceritakan mengenai Jonathan?” tanyanya hati-hati.
Charlie mengangguk,”Tidak masalah… ceritakan saja semuanya. Aku iri pada Nicky yang tampaknya mengetahui segalanya daripada aku yang padahal sudah lebih lama bersama denganmu,” cebiknya sembari memajukan bibirnya.
Marie tertawa kecil melihat tingkah Charlie,”Kalian berdua itu teman berhargaku, tidak ada yang lebih baik diantara kalian karena menurutku kalian sama saja,”
“Teman berharga ya…” batin Charlie mengulang sekali lagi perkataan Marie,
“Hanya saja, aku sempat bingung… apa kamu dan Jonathan pernah bertengkar atau gimana gitu? Kenapa kau begitu tidak senang jika aku bicara tentang Jonathan?” tanya gadis itu dengan lugu. Charlie menyayangkan sikap Marie yang sama sekali tidak peka jika dirinya sebenarnya cemburu kepada Jonathan. Namun pria itu tidak bisa berharap lebih karena ia juga belum pernah menyatakan perasaannya kepada Marie dan Marie juga hanya menganggapnya sebagai teman, tidak lebih. Maka dari itu ia tidak menyadari jika pria itu menyimpan rasa kepadanya.
Rasanya gak mungkin gitu kalau Charlie menyukai dirinya.
“Tidak apa… aku hanya tidak ingin kamu kecewa jika Jonathan tidak membalas perasaanmu,” kilahnya yang dipercayai oleh Marie.
Marie pun mengangguk mengerti,”Kamu jangan khawatir… aku juga sebenarnya tidak yakin dia menyukaiku, aku hanya…”
“Aku tidak bisa bilang jika aku berniat untuk mendekatinya agar ia selamat dari kematian. Dia pasti tidak mempercayaiku,”
“Hanya? Hanya apa?”
“Hanya bersikap baik saja seperti biasanya… dia orangnya baik kok dan aku rasa dia juga berperilaku yang sama kepadaku,” ujarnya sembari mengangguk. Charlie mengangguk mengerti sebelum dia memegang tangan gadis itu, membuat Marie menoleh kepadanya,
“Apapun yang terjadi, aku akan selalu ada di sisimu…”
Marie bisa melihat keyakinan yang begitu kuat dari Charlie. Merasa aman, gadis itu pun tersenyum kepadanya,”Ya… aku percaya kepadamu…” ujarnya dengan Charlie yang ikut tersenyum juga,
“Kalau dia menyakitimu, jangan segan memberitahukan hal itu kepadaku, aku akan menghabisinya,” tutur Charlie sembari menegapkan duduknya untuk menunjukkan kewibawaannya kepada Marie yang tertawa melihat tingkah Charlie,
“Hahaha… gak usah sok keren, ih!” ujarnya sembari memukul lengan pria itu.
Mereka tampak asik dengan tawa dan candaan yang mencairkan suasana sekitar mereka tanpa mengetahui jika Jonathan tengah berdiri dari kejauhan dan melihat kedekatan keduanya yang bak sepasang kekasih. Pria itu tampak sedih, di tangan kanannya sudah ada sebuah paper bag dengan buku dan hadiah kecil yang sudah ia siapkan kepada Marie. Awalnya ia ingin mengejutkan gadis itu dan hendak memberikan paper bag ini langsung kepada Marie, namun tampaknya gadis itu saat ini sangat menikmati kedekatannya dengan Charlie.
Walaupun ia merasa cemburu, namun ia merasa tidak pantas untuk merasakan hal tersebut. Pria itu pun pada akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan keduanya yang sama sekali tidak menyadari keberadaannya.