Seperti biasanya, kamar itu selalu dibersihkan oleh penggunanya. Dengan telaten dia menyapu, mengepel serta juga mengganti sepray ranjangnya yang awalnya berwarna kuning, menjadi warna ungu, warna kesukaan Marie. Marie juga merapikan buku-bukunya di rak lemari yang letaknya di sudut ruangan. Gadis itu menemukan buku diarinya dan meletakkannya di atas meja belajarnya untuk ia baca nanti.
Marie merenggangkan tubuhnya setelah kamarnya sudah bersih. Ia tersenyum puas, sebelum dia berjalan menuju ranjangnya dan membanting tubuhnya untuk melepaskan penatnya. Ia menatap langit-langit rumahnya, berpikir apa yang akan terjadi besok.
Sudah sekitar 2 hari setelah ia kembali hidup.
Sebelumnya, Marie membaca buku diarinya, tidak ada jejak apapun untuk tanggal hari ini… namun sekarang di dalam buku itu tercatat mengenai apa saja yang terjadi dengan dirinya dan Jonathan. Ia mulai menyadari jika apapun yang berhubungan dengan Jonathan akan tercatat kembali di buku ini.
“Kenapa hanya Jonathan ya?” ujarnya sembari berpikir keras.
“Apa ini karena di kehidupan sebelumnya aku hanya menuliskan tentang Jonathan?”
Gadis itu tidak lama kemudian menggelengkan kepalanya, bagaimana pun dia berpikir, rasanya pertanyaannya barusan itu tidak akan terjawab. Lagipula itu tidak terlalu penting karena baginya, kesempatan untuk hidup kembali merupakan sebuah berkah untuknya yang tidak perlu lagi dipertanyakan dan disesali.
Marie bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke meja belajarnya untuk dia mengambil buku diari itu dan membawanya untuk ia baca di atas ranjangnya. Gadis itu meletakkan bokongnya di atas ranjang dan mulai membalikkan halaman selanjutnya di tempat yang sudah ia tandai sebelumnya. Tidak ada catatan apapun pada tanggal 16 Juli. Gadis itu mulai tidak sabar, ia tidak sabar akan apa yang akan terjadi besok.
Karena interaksi dirinya dengan Jonathan tidak banyak, jadi ia tidak banyak mencatat di buku ini apa saja yang terjadi.
Ia membaca apa yang menjadi halaman selanjutnya yakni tanggal 19 Juli. Pada hari itu Charlie ada sparring basket dan di sana ia melihat ada Jonathan yang setim dengan Charlie. Dalam buku ini tercatat jika dirinya mengagumi cara bermain Jonathan yang begitu lihai.
Hanya itu yang terjadi di tanggal 19 Juli, tidak lebih dan tidak kurang. Memang sungguh singkat, namun ia sama sekali tidak menyesalinya. Gadis itu tersenyum, yang jelas apapun yang terjadi ia akan berusaha sebisa mungkin untuk dekat dengan Jonathan. Ia ingin tahu apapun mengenai Jonathan, termasuk beban dan keburukannya. Marie ingin membantu sebisa mungkin…
Gadis itu memeluk buku diarinya dan menjadikannya seperti bantalnya. Marie mulai menutup matanya dan tidak lama kemudian mimpi pun menjemputnya.
***
“Kalian bakalan nonton sparringku dengan sekolah lain kan?” tanya Charlie setelah dia menghabiskan makanannya. Ia menatap Nicky dan Marie yang duduk di depannya. Ketiga gadis itu saling bertatap-tatapan sebelum salah satu dari mereka bertanya,
“Kapan sparringnya?” tanya Nicky yang tanpa diberitahu juga Marie sudah tahu kapan,
“Tanggal 19 nanti, di lapangan basket sekolah SMA 10. Mereka tuan rumahnya,” jelasnya.
“Kalian main bersama anak SMAN 10, begitu?” tanya Nicky lagi. Pria berambut sedikit ikal itu pun mengangguk enteng,”Iya…” ujarnya sebelum dia mengalihkan pandangannya kepada Marie. Ia sangat berharap gadis itu bisa ikut dengan sparringnya. Baginya, Marie adalah support system yang begitu berarti untuknya. Tanpa pikir panjang, gadis itu mengangguk enteng,
“Tentu saja aku akan ikut,” ujarnya sembari menilik Nirmala yang sempat terlupakan oleh Charlie. Karena gadis itu tidak bersuara sedari tadi, Marie pun dengan inisiatif bertanya kepada Nirmala,
“Kalau Nirmala, kamu mau ikut tidak?” tanyanya yang membuat Charlie menoleh kepada Nirmala. Ia sempat melupakan sosok Nirmala yang padahal duduk di sampingnya.
Nirmala terlihat salah tingkah, melihat Charlie sedang menunggu jawabannya, gadis itu sedikit menunduk untuk sejenak. Marie terlihat sangat gemas dengan perilaku malu-malu kucingnya yang lucu bagi Marie. Baik Nicky maupun Marie, mereka sempat heran dengan sikap Charlie yang tidak sadar jika gadis itu menyukainya.
“I-ikut,” ujarnya dengan pelan.
“Baiklah, selanjutnya pastikan kalian duduk paling depan ya... setidaknya aku bisa melihat kalian di bangku penonton,” ujarnya dengan begitu senang sembari menatap Marie yang juga menatapnya dengan jempol ia angkat ke udara. Nirmala melihat interaksi keduanya dan ia bersedih hati. Ia merasa jahat karena sudah merasa iri dengan Marie.
Nirmala yang hampir saja terhanyut dengan kesedihannya pun mengangkat kepalanya dan menggelengkan kepalanya dengan kecil. Meskipun ia tahu Charlie menyimpan rasa kepada Marie, ia rasa tidak ada salahnya ia juga berjuang untuk Charlie karena ia sudah berjalan sejauh ini hanya untuk dekat dengan Charlie karena sebenarnya juga Marie tidak menyukai Charlie.
Suatu saat... suatu saat nanti ia akan memberitahu perasaannya ini kepada Charlie. Dan sampai hari itu tiba, ia akan terus bertahan.
Perhatian keempat anak muda itu beralih kepada seseorang yang berkata ‘permisi’ kepada mereka. Marie tertegun sejenak ketika ia mendengar suara yang sangat familiar baginya. Ia perlahan menoleh dan sedikit mendongakkan kepalanya untuk melihat Jonathan yang sedang berdiri tepat di sampingnya. Ia mempertanyakan keberadaan Jonathan yang entah darimana bisa ada di sini.
“Aku boleh gabung sini?” tanya Jonathan dengan begitu ramah. Marie sekilas melihat Charlie yang menatap Jonathan dengan datar, ia tidak tampak masam seperti yang gadis itu pikirkan. Karena keempat dari mereka tidak bersuara, Nicky pun mulai berbicara kepada pria itu untuk mempersilahkannya untuk duduk,
“Tentu saja… kenapa tidak boleh, ya kan?” tanyanya kepada ketiga orang lainnya yang semuanya mengangguk kaku selain Charlie yang hanya diam saja. Ia melihat Jonathan yang mulai duduk di samping Marie. Pria itu kemudian menatap Marie yang sudah tertebak olehnya sedang gugup tidak karuan. Pria itu mempertanyakan keberadaan dan maksud Jonathan memilih untuk duduk bersama dengan mereka padahal masih banyak bangku yang kosong di sekitar mereka.
“Kalian lagi bahas apa? Kayaknya seru banget,”
“Kami sedang bahas sparringnya Charlie nanti Sabtu, kamu juga turun kah?” tanya Nicky yang diangguki oleh Jonathan yang kemudian mengoper pandangannya kepada Charlie yang sedang menyeruput es teh manisnya. Sebenarnya keduanya selalu satu tim setiap kali ada perlombaan, namun mereka tidak begitu dekat. Kedekatan mereka hanya sebatas formalitas saja sebagai rekan satu tim,
“Iya, aku turun… Kalian ada rencana mau nonton?” tanyanya yang diiyakan oleh Nicky.
Pria itu sangat senang, ia bahkan menoleh kepada Marie dan berkata,”Benarkah?!” tanyanya kepada Marie yang dibalasnya dengan anggukan kaku. Pria itu tersenyum dengan begitu bahagia karena sebelumnya ia berencana untuk mengajak Marie untuk menonton sparring dirinya, dan ternyata tanpa ia tanya pun gadis itu datang. Ya, walaupun menurutnya gadis itu datang karena Charlie, ia tetap senang akan hal itu.
Nicky menatap Nirmala yang duduk di depannya dengan alis yang ia angkat, menandakan sesuatu hal yang ingin ia sampaikan ke Nirmala yang ternyata hal itu dimengerti olehnya,
“Kalian kelihatannya dekat ya…” ujar Nicky yang kemudian disambung oleh Nirmala,
“Iya, kayaknya kamu senang banget kalau Marie ikut nonton sparring kamu,”
“Astaga Nicky! Nirmala! Apa yang kalian katakan!?” batin Marie yang sudah menjerit di dalam sana.
Jonathan tampak terkekeh dengan tengkuk yang ia garuk,”Ya begitulah…” ujarnya yang membuat Charlie menatap Marie seakan ia meminta penjelasan Marie mengenai hal ini.
Marie menelan ludahnya, ia tidak tahu bagaimana ia harus berkata apa kepada Charlie. Ia hanya tahu jika Charlie tidak menyukai Jonathan dan dia tidak ingin memperkeruh ketidaksukaannya itu dengan berkata jika dirinya sudah berinteraksi berkali-kali dengan Jonathan.
Sementara itu, Jonathan melirik Marie yang masih menatap Charlie. Ia merasa sedih, apa gadis itu sama sekali tidak senang jika dirinya berkata seperti itu? Jonathan sebenarnya ingin sekali gadis itu untuk berkata ‘ya, kami lumayan dekat’ atau setidaknya mengakui dirinya sebagai teman Marie, namun tampaknya Marie tidak melakukan hal tersebut.
“Sebenarnya Marie banyak membantuku. Ya… seperti dia memberikanku catatan ketika aku tidak masuk sekolah beberapa hari yang lalu,” ujarnya yang sangat membantu mencairkan suasana Marie dengan Charlie. Marie bisa melihat Charlie mulai melunakkan wajahnya. Charlie pun tersenyum kecil, Marie memang baik kepada semua orang dan juga tentu saja ia pastinya baik kepada pria yang Marie sukai.
Charlie sendiri merasa tidak dewasa dan mulai berpikir jika ia telah bersikap seperti ini kepada Marie. Dirinya terbutakan dengan rasa cemburu yang seharusnya tidak ia lampiaskan kepada Marie. Ia harus sadar diri jika dirinya hanyalah seorang sahabat walaupun dia masih berharap untuk Marie bisa menganggapnya lebih.
Ia rasa setelah ini ia harus meminta maaf nantinya kepada Marie.
Sementara Marie, ia merasa lega dan dia pun mulai merespon perkataan Jonathan,”Tidak masalah… aku hanya melakukan tugasku sebagai ketua kelas,” ujarnya dengan senyum manisnya. Perkataan itu sama sekali tidak membuat Jonathan puas dan senang, ia malah merasa down terlebih ketika Nicky nyeletuk jika Marie memang baik kepada semua orang. Ia menutupi hal itu dengan mengangguk paham,”Oh... begitu...” ujarnya sembari melirik Marie yang sedang tidak menatap dirinya.
“Aku makan dulu ya... Kalian lanjutlah bicaranya...” ujarnya sebelum dia menyantap makanannya. Pria itu menyimak perkataan demi perkataan yang diucapkan oleh mereka dengan maksud ia ingin melihat bagaimana Marie yang sesungguhnya ketika ia bersama dengan teman-temannya.
Tidak ia sangka, gadis itu juga bisa banyak berbicara dengan teman-teman dekatnya. Ia mencuri pandang kepada Marie yang bisa tersenyum begitu manis dan tertawa begitu lepas.
“Bisakah dia selepas ini ketika dia bersama denganku?” tanyanya di dalam hati. Ia sempat gundah sejenak namun perlahan ia mulai percaya diri. Pria itu meluruskan pandangannya dan semakin ingin menjadi seseorang yang dekat dengan Marie. Setelah ini, ia akan berusaha lebih lagi untuk mendekat kepada Marie hingga gadis itu bisa klaim dirinya sebagai seseorang yang dekat dengannya.
“Ya... aku harus bisa membuatnya mengakui diriku,” lanjutnya lagi.