Bel pulang sekolah pun berbunyi, hal ini menghentikan aktivitas para guru untuk mengajar dan setelah itu mereka mempersiapkan diri untuk keluar dari ruang kelas para siswa. Bisik-bisik dan suara hiruk pikuk kelas serta kesenangan para siswa pun menghiasi para murid untuk segera pulang ke rumah mereka, begitu juga dengan Marie yang tampak membereskan buku-bukunya. Ia menghentikan aktivitasnya begitu Nicky memanggilnya,
“Eh gak apa nih aku tinggalin?” tanya Nicky, yang kemudian diangguki oleh Marie. Tidak lama setelah itu, Nirmala bersama dengan Charlie secara bersamaan pun mendatanginya. Melihat semua temannya sedang berdiri mengelilinginya, ia pun bingung sendiri,
“Ini ada apa malah mengerumuni aku?” tanyanya kepada mereka semua,
“Tidak ada sih, mau pamit pulang lebih dulu aja,” ujar Nicky dengan santai. Ia pun kemudian melanjutkan,”Aku duluan ya…” ujarnya yang kemudian pergi meninggalkan ketiga orang yang masih berdiri di sana.
“Kalau begitu pulangkah, ngapain kalian di sini?” tanya Marie yang masih tidak mengerti.
“Apa perlu aku temani?” tanya Charlie yang langsung dibantah oleh Marie,”Tidak perlu,” potongnya dengan cepat,
“Hmm... Marie dan C-Charlie, aku duluan ya...” ujar Nirmala yang langsung pergi tanpa menunggu jawaban dari Marie. Marie berpikir, ada yang salah dengan tingkah Nirmala terhadapnya. Namun daripada memikirkan hal itu, lebih baik ia ‘mengusir’ Charlie yang nantinya bisa saja merecokki pekerjaannya.
“Kau pulanglah... aku akan mengerjakan ini bersama dengan partnerku,” ujarnya yang kurang disukai oleh Charlie. Tentu ia merasa ia sedang diusir oleh Marie.
“Aku akan membantumu,” ujarnya lagi yang digelengkan oleh Marie.
“Ti-dak. Pulanglah sebelum aku jadi marah nantinya kepadamu,”
Charlie menghela napas, dengan terpaksa ia mengalah dan pergi. Ia sempat juga berpamitan dengan Marie sebelum dia benar-benar pergi dari hadapan Marie. Melihat kepergian Charlie, Marie tersenyum kecil sebelum dia berbalik dan mengunci tasnya. Ia meletakkan ponselnya di saku roknya. Tampaknya ia akan sedikit terlambat pulang karena hari ini jadwalnya untuk piket bersama dengan seorang pria yang sama sekali tidak dekat dengannya.
Marie hendak mencari sapu untuk ruangan kelasnya yang biasanya letaknya di pantry. Ia berjalan keluar dengan senandungnya yang begitu indah untuk didengar. Ia sangat senang, kini hubungannya dengan Charlie berjalan dengan baik dan keduanya sudah tidak bertengkar lagi. Sudah tidak ada lagi perasaan yang tidak enak dalam dirinya, hanya saja ia merasa tidak enak dengan Nirmala. Marie mulai merasa jika kedekatannya dengan Charlie bisa saja melukai Nirmala. Gadis bermata cokelat gelap itu memikirkan bagaimana caranya bisa mengurangi interaksinya bersama dengan Charlie dan sebagai gantinya ia memikirkan bagaimana interaksi Charlie dengan Nirmala bisa berjalan dengan begitu baik,
Ia banyak berpikir hingga ia baru saja sadar jika dirinya sudah kelewatan dari ruang pantry. Ia berbalik dan kembali berjalan ke pantry itu berada. Marie kemudian mengambil sapu dan serokan sampah yang tersisa satu di ruangan itu, tampaknya kelas lain sudah mengambilnya lebih dahulu.
Gadis itu pun berjalan hingga tanpa disadari ia sudah sampai di kelasnya. Ia begitu kaget melihat pria yang ada di dalam kelas. Ya benar, itu adalah Jonathan. Jonathan yang menyadari keberadaan Marie pun berbalik,
“Ada apa? Ngapain kamu di sini?” tanya Marie dengan lugu,
“Hmm? Piket dong, apalagi? Memangnya kamu pikir aku mau ngapain?” tanyanya balik kepada Marie yang melongo untuk sepersekian detik,
“T-tapi bukannya yang hari ini piket denganku orang lain? Kenapa orang itu malah kamu?”
Jonathan tampak berpikir sejenak, sebenarnya memang hari ini bukanlah gilirannya dan cara dia mendapatkan jadwal ini adalah dengan sedikit memaksa kepada Tony yang seharusnya menjadi partner piket dari Marie. Pria itu melakukan ini karena ia ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan Marie.
“Apa caraku tadi terlalu jahat ya?” pikir Jonathan mengingat kembali saat ia memaksa kutu buku kelas itu untuk memberikan jadwalnya kepada dirinya.
“Tidak apa… kebetulan di hari piketku, aku tidak bisa… jadi aku mengganti hari piketku menjadi hari ini,” kilahnya yang begitu mulus sampai benar-benar dipercayai oleh Marie. Mulut Marie berbentuk O dan dia pun mengangguk sebelum dia meletakkan serokan dan mulai menyapu kelas.
Sementara Jonathan, ia masih diam mematung untuk sesaat, menatap Marie yang tampaknya begitu santai kepadanya. Ia mengharapkan reaksi gadis itu yang berlebih, tapi faktanya gadis itu hanya biasa saja dan malah mulai menyapu. Pria itu sedikit kecewa dan dia pun akhirnya berjalan dari bangku belakang untuk merapikan bangku-bangku dan meja yang ada.
Marie memang tampak diam dan tenang, namun siapa sangka jika dia adalah satu-satunya yang sangat berdebar-debar saat ini. Ia menundukkan wajahnya yang sebenarnya sudah memerah karena malu. Ia tidak menyangka bisa satu piket dengan Jonathan karena di kehidupan sebelumnya ia tidak ingat jika ia pernah sepiket dengan Jonathan walaupun mereka satu kelas sebelumnya.
“Rasanya jantungku ingin lepas!” batinnya sembari ia menyapu lantai kelas yang begitu kotor. Ia melirik Jonathan yang tampak merapikan bangku-bangku, gadis berambut hitam ini penasaran, apa yang Jonathan rasakan ketika ada dirinya di sekitar Jonathan? Pria itu tampak biasa-biasa saja sementara dirinya sudah heboh pake banget di dalam dirinya.
Keadaan kembali hening dan masing-masing dari mereka lebih fokus pada tugas mereka masing-masing. Baik Marie maupun Jonathan, keduanya tidak memiliki topik apapun untuk dibahas padahal masing-masing dari mereka ingin sekali bercakap-cakap dengan akrab. Terlebih lagi Jonathan, ia sengaja menukar jadwalnya hanya demi berbincang dan bersama dengan Marie. Namun faktanya ia tidak tahu ingin membahas apa.
Pria itu sedikit mengintip Marie yang tampaknya mulai selesai untuk menyapu. Ia terpana ketika ia melihat gadis itu tersenyum, ia sangat penasaran… apa yang membuat gadis itu bisa tersenyum padahal ia sedang melakukan tugasnya, bukan sedang melakukan sesuatu yang menyenangkan,
“Apa dia tersenyum karena aku?”
Jonathan menggeleng,”Argh tampaknya tidak karena aku tidak melakukan apapun kepadanya,”
Jonathan kembali mengintip dan dia teringat dengan apa yang ia lihat sebelumnya. Ia melihat jelas jika Charlie tampaknya berdiri bersama dengan gadis itu dan mereka tampak saling berinteraksi. Pria bermata cokelat itu menebak jika Marie dan Charlie sudah berbaikan.
Mengetahui fakta itu, pria itu sedikit down. Mungkinkah ini alasan mengapa gadis itu tersenyum tadi? Ia menoleh ke tempat Marie berada. Gadis itu sudah selesai menyapu dan sekarang ia sedang menghapus papan tulis. Melihat Marie yang melompat-lompat untuk menghapus tulisan yang berada di atas, pria itu tergerak untuk mendekat dan mengambil penghapus papan tulis satunya lagi dan dia pun berdiri tepat di belakang Marie dan dia menghapus tulisan yang tidak bisa dihapus Marie.
Marie terdiam dengan dekatnya Jonathan dengan dirinya. Ia benar-benar terpaku diam di tempatnya. Ia berharap jantungnya tidak terdengar oleh pria itu,
“Biar aku yang menghapus yang di atas ini, kamu hapus yang di bawah-bawahnya,” perintahnya yang diangguki oleh Marie. Gadis itu kemudian menghapus tulisan-tulisan lainnya dan berusaha untuk fokus terhadap apa yang ada di depannya. Ia bisa mencium dengan jelas wangi mint dari Jonathan yang akan ia ingat terus di dalam hidupnya.
“Terima kasih sudah membantuku,” ujar gadis itu yang sudah hampir selesai menghapus bagian bawah,
“Tidak masalah, ini juga tugasku,” jawabnya.
Marie dan Jonathan kembali hening untuk sejenak sebelum Jonathan membuka percakapan diantara mereka,”Kau terlihat senang…” tutur pria itu, membuat Marie menelan ludahnya. Ia berpikir, apa ia terlalu menampakkan perasaannya kepada Jonathan?
Jonathan melirik gadis itu yang berada di hadapannya. Tubuh gadis itu kecil untuk ukuran seorang perempuan, jika disandingkan dengannya, gadis itu hanya setinggi bahunya. Gadis itu sangatlah mungil untuk Jonathan yang merasa gemas, rasanya ia ingin sekali mendekap tubuh mungil itu dari belakang.
“Hmm… benarkah?” tanya gadis itu yang sudah selesai menghapus. Gadis itu berbalik, bersamaan dengan Jonathan yang kemudian memundurkan tubuhnya sehingga keduanya saling tatap menatap untuk sepersekian detik. Jonathan menatap gadis itu penuh harap, berharap jika gadis itu menyadari perasaannya namun Marie memutuskan tatapan mereka dan berpindah ke sisi kanan untuk lanjut menghapus bagian sana.
Jonathan sangat menyayangkan hal tersebut.
“Apa kamu sudah baikan dengan teman lelakimu?” tanya Jonathan yang sudah selesai menghapus. Pria itu beralih untuk kembali merapikan kembali kursi-kursi dan meja-meja yang miring. Ia melakukan hal itu sembari melirik Marie yang berhenti menghapus sebelum dia mengangguk,”Ya, untungnya kami sudah baikan…” ujarnya sembari tersenyum dan kembali menghapus.
Pria itu merasa sedih, ia mengira jika senyum itu hanya ditujukan untuk sosok Charlie. Ia sangat berharap jika suatu saat nanti gadis itu juga tersenyum manis karena dirinya.
“Siapa yang meminta maaf duluan?”
“Dia, sih… dia mendatangi kami saat istirahat tadi dan meminta maaf…”
“Aku kira kamu yang duluan minta maaf…” tutur Jonathan yang diangguki Marie,”Sebenarnya aku juga ingin melakukan itu, tapi dia sudah lebih dulu melakukannya. Tentu saja aku memaafkannya, aku tidak tahan terus bermarah-marahan kepadanya,”
“Seberharga itukah pria itu untuknya?” ulang pria itu di dalam hatinya.
“Kalau itu aku, apa kau juga dengan mudah memaafkanku?” tanya Jonathan, membuat gadis itu berhenti menghapus untuk sejenak. Pria itu berdiri tegap, menatap Marie yang kemudian berbalik untuk menatapnya. Dengan senyum tulusnya gadis itu mengangguk,
”Tentu saja…” ujarnya yang tampak indah di mata Jonathan. Pria itu pun perlahan ikut tersenyum dan desiran hangat pun menyebar di dalam tubuhnya.
“Begitu ya…”