Beberapa bulan sudah berlalu dan sebenarnya saat ini adalah masa liburan dan sebentar lagi semester dua akan dimulai. Di ujian semester satu kemarin, nilai Jonathan meningkat dari yang biasanya ia mendapatkan 50 besar, kini ia masuk menjadi 15 besar untuk kategori satu angkatan. Bukan hanya Jonathan, Marie pun ikut senang atas pencapaian yang sudah diperjuangkan Jonathan.
Jonathan mengucapkan banyak terima kasih kepada Marie atas bantuannya yang membuatnya bisa mencapai nilai yang memuaskan untuknya.
Meskipun nilai dan kemampuan Jonathan sudah meningkat, pria itu tetap saja tidak mau melepas Marie. Ia tetap terus ingin belajar bersama dengan Marie hingga saat ini, bahkan saat liburan seperti ini pun mereka tetap belajar setiap harinya kecuali hari Sabtu dan Minggu. Sampai sekarang belum ada yang tahu jika keduanya terus bersama sepulang sekolah dan tidak ada yang mengetahui bagaimana hubungan mereka di luar sekolah.
Seperti saat ini, Jonathan sampai membeli buku-buku untuk dia berlatih soal dan memperbanyak ilmu yang bisa ia dapatkan dari buku tersebut. Marie juga menemani pria itu dalam membeli dan memilih-milih buku untuknya bisa belajar. Jonathan yang awalnya memaksakan dirinya untuk bisa terus belajar, sekarang ia benar-benar menikmati pembelajaran. Hal ini bukan hanya karena ia sudah mulai menguasai materi, namun juga Marie selalu mengajarinya dengan baik dan juga tidak lupa gadis itu memberikan tips-tips bagaimana pembelajaran bisa berjalan dengan efektif.
Sementara Marie, ia juga menikmati kebersamaannya dengan Jonathan. Gadis itu merasa ia semakin dekat dengan Jonathan, ia sudah bisa merasa nyaman ketika Jonathan berada di dekatnya dan dia sudah tidak gugup lagi seperti dulu. Marie sudah terbiasa dengan hadirnya Jonathan di sisinya.
Namun dibalik kesenangannya, ada rasa khawatir di mana waktu terus terpikirkan sosok Gianna yang semakin dekat kemunculannya. Mau tidak mau, ia harus siap dengan segala kemungkinan yang ada. Gadis yang sedang duduk di hadapan Jonathan ini mengangkat sedikit kepalanya dan melirik Jonathan yang sedang sibuk mengerjakan tugas yang Marie berikan kepadanya.
Ingin sekali Marie memanggil Jonathan, namun ia takut menganggu keseriusan Jonathan. Maka dari itu, ia menahan suaranya dan memilih untuk diam saja, menunggu jika pria itu sudah selesai mengerjakan tugasnya.
“Ada apa terus melihatku begitu?” tanya Jonathan tanpa melepas pandangannya dan konsentrasinya dari soal yang ada di hadapannya. Gadis itu terkesiap sejenak dan ia menggelengkan kepalanya dengan cepat,
“T-tidak ada...” ujarnya sembari berpura-pura untuk kembali membaca bukunya. Jonathan melirik Marie dan dia pun mulai menegapkan tubuhnya dan pandangannya dengan jelas tertuju kepada Marie. Merasa jika ia sedang diperhatikan, Marie mengembalikan tatapannya kepada Jonathan,
“Ada apa? Apa kamu sudah siap mengerjakan soalmu?” tanya Marie dengan bingung,
Pria itu mengangguk,”Sudah, tapi aku penasaran akan sesuatu,” ujarnya yang membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. Ia merasa jika ia sedang tidak menyembunyikan apapun dari Jonathan, lalu kenapa dia merasa pria itu berpikir demikian?
“Penasaran maksudnya? Aku tidak merasa sedang menyembunyikan apapun tuh?”
“Aku hanya penasaran, belakangan ini kamu sering melamun. Apa ada sesuatu yang kamu pikirkan?” tanya pria itu dengan penasaran. Marie tidak bisa mengelak, memang belakangan ini ia sering melamun karena ia sedang memikirkan mengenai kemunculan Gianna di semester dua ini. Ia merasa belum siap untuk nantinya gadis itu datang ke kehidupannya dan Jonathan.
“Benarkah?” tanya gadis itu yang sebenarnya ingin mengelak pertanyaan Jonathan,
“Iya... kamu ada masalah kah?” tanya pria itu yang sebenarnya khawatir dengan Marie.
Marie menunduk sejenak, ingin sekali ia bercerita kepada pria itu mengenai apa yang menjadi khawatirannya yang mana ini melibatkan Jonathan dan Gianna di masa depan. Menurutnya, kedekatannya dengan Jonathan tidak akan menjamin hati Jonathan tidak jatuh kepada Gianna. Masih, Marie masih belum seyakin itu kepada Jonathan.
“Marie...” panggil Jonathan lagi kepadanya.
Marie mengangkat kepalanya dan menatap Jonathan. Tidak mungkin ia berkata semuanya mengenai kematian Jonathan dan kehadiran Gianna di semester baru nanti karena apa yang terjadi kepadanya sangatlah tidak masuk akal. Marie masih belum menyadari jika pria itu sudah jatuh hati kepadanya.
“Apa kamu percaya dengan hal-hal supranatural?” tanya gadis itu yang membuat Jonathan mengedipkan matanya dengan cepat,
“Seperti sihir?” tanya pria itu yang diangguki oleh Marie,
“Iya, seperti adanya dunia lain dan lain-lainnya,”
Tanpa berpikir panjang, pria itu menggelengkan kepalanya,”Tidak, aku tidak percaya dengan hal-hal seperti itu,” ujarnya yang diangguki Marie. Tentu saja, di dunia modern seperti ini, sihir hanyalah sebuah isapan jempol belaka.
“Begitu ya...” kata Marie dengan kecewa. Sudah ia duga, ia tidak bisa membicarakan hal ini kepada Jonathan. Jika saja ia menceritakan hal ini kepada ketiga teman-temannya, apa mereka akan percaya dengan perkataannya?
“Marie, kamu yakin kamu sedang tidak menyembunyikan apapun dariku?”
“Aku tidak mungkin memberitahumu mengenai masalah itu...”
Marie berpikir keras, bagaimana caranya ia mengalihkan topik ini? Ia merasa tidak nyaman sekarang, sampai akhirnya ia memiliki ide untuk sedikit mengalihkan pembicaraan ini,
“Sebenarnya belakangan ini aku bermimpi buruk,” kilahnya yang ternyata dipercayai oleh Jonathan.
“Mimpi seperti apa?”
“Hmm... aku tidak enak membicarakan ini karena sebenarnya kamu ada di mimpiku,” ujarnya yang malah membuat Jonathan semakin penasaran,
“Kamu memimpikanku?” tanyanya dengan senang. Gadis itu mengerjapkan matanya dengan cepat dan mengangguk,”Iya, aku memimpikanmu,”
“Kenapa dia terlihat begitu senang?”
“Coba ceritakan, apa yang menjadi mimpimu? Aku ingin tahu,” ujarnya yang sudah sangat penasaran.
“Ini bukanlah mimpi yang indah, seharusnya aku tidak memberitahunya kepadamu,” ujar gadis itu yang tidak ingin lagi membahas hal tersebut kepada Jonathan. Jonathan terlihat tidak senang, ia meminta gadis itu untuk menceritakan isi mimpinya kepada dia,
“Ayolah Marie... mimpi hanyalah sebuah mimpi. Tidak mungkin juga terjadi nantinya... Jadi beritahu aku, apa yang menjadi mimpimu?”
Marie menggigit bibirnya, sepertinya ia tidak bisa mengelak lagi selain memberitahu apa yang terjadi pada Jonathan di kehidupan pertamanya.
“Aku mau minta satu hal sebelum aku memberitahukan hal ini kepadamu,” pintanya yang menurut Jonathan bisa saja ia sanggupi,
“Apa itu? Beritahu saja kepadaku,” ujarnya dengan enteng.
“Jangan mewujudkan mimpi ini menjadi sebuah kenyataan... jangan sekali-sekali berpikir mengakhiri hidupmu di tanganmu sendiri,” pinta gadis itu yang membuat Jonathan langsung mengerti apa yang menjadi isi mimpi dari Marie.
“Jadi kamu bermimpi kalau aku bunuh diri?” tanya pria itu yang diangguki oleh Marie,
“Aku tidak ingin ini menjadi kenyataan, jadi kumohon, jangan sekali-sekali berpikiran seperti itu,” Jonathan bisa melihat jelas ketakutan gadis itu terhadap mimpi tersebut. Sebenarnya ia sedikit terkejut dengan isi mimpi Marie itu karena sejujurnya belakangan ini hubungannya dengan kedua orang tuanya semakin buruk. Beberapa kali terlintas di kepalanya untuk mengakhiri hidupnya namun ia terus menepisnya.
Pandangan pria itu teralihkan ke tangan Marie yang begitu bergetar. Ia tidak menyangka jika mimpi itu benar-benar bisa menakuti Marie sebegitunya. Apa segitu mengerikannya mimpi itu bagi Marie? Jonathan tergerak untuk memegang kedua tangan gadis itu dan begitu ia melihat wajah Marie, ia begitu kaget ketika Marie sendiri tanpa sadar menitihkan air matanya.
Dengan cepat, menyeka air mata gadis itu. Ia tidak mengerti alasan gadis itu menangis, apa ia menangis karena isi mimpinya atau dia menangis karena berpikir jika Jonathan akan mengakhiri hidupnya seperti mimpinya?
“Hey... Marie... jangan menangis. Itu hanyalah sebuah mimpi,” ujarnya sembari menyeka air matanya dan memegang tangan gadis itu yang begitu bergetar.
“Berjanjilah kalau kamu tidak akan mengakhiri hidupmu seperti itu,” tuturnya dengan getar. Jonathan mengangguk dan membelai rambut gadis itu dengan sayang,”Iya, aku berjanji,” ujarnya yang berharap jika gadis itu bisa menenangkan dirinya dengan perkataannya.
Marie pun berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tentu saja merasa tertekan karena ia menyimpan semua cerita ini sendirian. Ia berpikir untuk menceritakan hal ini kepada teman-temannya untuk sekadar melegakan dirinya dari beban yang selalu membelenggunya.
Meskipun pria itu sudah berjanji untuk tidak mengakhiri hidupnya dengan tragis, namun gadis itu akan tetap terus berusaha untuk mengawasi Jonathan sampai hari yang tragis itu lewat darinya.