Jonathan terlihat sedang memerhatikan sosok Marie dari belakang. Ia tampak sedang bercakap-cakap dengan teman sebangkunya. Entah mengapa ia sangat senang melihat Marie walaupun yang terlihat padanya hanyalah punggungnya saja. Ia tersenyum, pria bermata cokelat itu berpikiran untuk mengajak gadis itu jalan-jalan walaupun ia belum tahu tempat seperti apa yang menjadi favorit Marie.
“Mungkin nanti aku bisa menanyakan hal ini kepadanya?”
Pandangan Jonathan beralih ke ponselnya ketika ia mendapat pesan dari ayahnya. Wajahnya yang tadinya tersenyum berubah menjadi datar ketika ia membuka pesan tersebut.
Papa: Papa sudah transferkan uang ke rekeningmu.
Jonathan mencengkram ponselnya dengan kuat. Meskipun ia terlahir dari keluarga yang berada, namun itu tidak memberikan apapun kepadanya termasuk kebahagiaan. Pria itu berpikir jika Johnny mengira bahwa dirinya akan senang menerima uang dari dia, namun faktanya ia terlalu muak dengan segalanya.
Ia mencari kebahagiaan di luar rumahnya yang membuatnya sempat terjerumus ke dunia malam. Awalnya menyenangkan sekali bermain di dunia malam, namun perlahan ia merasa bosan dan dia tidak menemukan hal yang benar-benar membuatnya bahagia.
Jonathan perlahan meninggalkan dunia malam dan akhirnya memilih untuk hidup menyendiri dari sekitarnya. Ia hanya akan berbaur jika ada hal yang penting untuk dilakukan, seperti memiliki rekan di tim basket. Sisanya, ia merasa sendiri dan kesepian…
Tidak ada yang bisa mengisi kekosongannya sampai ia bertemu dengan Marie, gadis biasa yang membuatnya merasa luar biasa. Belum terbesit dipikirannya untuk menyerah kepada Marie, gadis yang ia sangka menyukai Charlie. Suatu saat nanti ia pastikan gadis itu jatuh ke dalam pelukannya.
“Halo…” sapa seseorang yang sudah mengambil duduk tepat di samping Jonathan. Jonathan menoleh dan melihat Gianna yang sedang tersenyum kepadanya. Jonathan tidak terpikir untuk meladeni Gianna dengan ramah, tapi karena tadi dia bersikap begitu tidak bersahabat kepada Gianna, pada akhirnya ia memutuskan setidaknya meladeni Gianna dengan baik,
“Ya?” tanya pria itu, berusaha untuk bersikap dengan baik,
“Hmm maaf karena menganggu waktumu tadi,”
“Tidak masalah, maaf aku agak kasar tadi…” balas pria itu yang membuat gadis itu sumringah mendengarnya,
“Ah tidak, tidak… tidak masalah kok… akunya aja yang sudah menganggu,”
Pria itu mengangguk mengerti,”Oh baiklah…” ujarnya yang tidak jadi meluruskan kembali pandangannya karena ia melihat tangan Gianna sudah bergantung di udara. Jonathan melihat tangan itu sebelum dia akhirnya menyambut tangan Gianna,
“Gianna,”
“Jonathan,”
Setelah mereka berjabat tangan, Gianna tersenyum,”Apa kamu punya nama panggilan lainnya? Seperti panggilan orang terdekat begitu…” ujarnya yang membuat Jonathan teringat dengan sosok Marie yang memanggilnya dengan sebutan Jojo.
“Jonathan?” panggil Gianna lagi yang membuat Jonathan sadar seketika dari lamunannya,
“Ah, tidak ada. Panggil saja Jo,” jawabnya dengan cepat,
Gianna begitu senang, ia mengira rencananya berjalan dengan begitu baik dan ia juga mengira panggilan Jo itu adalah panggilan akrab Jonathan. Setelah ini, ia pastikan akan terus memanggil Jonathan dengan sebutan Jo, supaya ia bisa terlihat dekat dengan Jonathan.
Gadis blasteran itu sudah mencari tahu mengenai Jonathan melalui orang-orang kelasnya. Ia begitu senang begitu ia mendengar Jonathan belum memiliki siapapun menjadi pacarnya. Dan juga mengenai Marie, tidak ada orang di kelasnya yang melihat keduanya berduaan ataupun dekat karena mereka tidak tahu betapa dekatnya Marie dan Jonathan di luar sekolah.
Niat Gianna untuk menaklukkan Jonathan semakin besar dan semakin besar juga kepedeannya melihat respon Jonathan yang terlihat baik kepadanya, padahal Jonathan hanya bersikap dengan baik karena ia ingin menebus kesinisannya tadi,
“Oh iya, kata wali kelas kita, nanti sore setelah pulang sekolah aku akan ditemani oleh ketua kelas untuk keliling sekolah. Kamu tahu tidak ketua kelas kita siapa?” tanya Gianna berpura-pura karena ia sebenarnya sudah tahu jika Marie lah yang akan bersama dengan dia nantinya,
“Marie… nanti kamu dibawa sama Marie untuk keliling sekolah,” ujar Jonathan sembari tersenyum kecil karena ia sedang membahas Marie. Gianna bergelagat seolah-olah ia adalah gadis yang lugu dan salah tingkah kepada Jonathan. Namun meskipun begitu, Jonathan sama sekali tidak begitu perduli dengan hal itu.
Tidak seperti di kehidupan pertama, Jonathan sudah tidak lagi tergugah dengan pesona Gianna karena dia sudah memiliki Marie di dalam hidupnya. Gianna memang hebat untuk bermain sebagai gadis yang baik-baik dan ramah kepada Jonathan dan sekitarnya, sehingga Jonathan pun luluh kepadanya dan keduanya berakhir bersama di kehidupan pertama.
Namun sekarang keadaannya sudah berbeda, perasaan Jonathan kepada Marie bukanlah perasaan yang bisa diremehkan. Pikiran dan hatinya hanya tertuju kepada Marie seorang, bahkan jika dibandingkan dengan kehidupan pertamanya, perasaannya kepada Marie di kehidupan kedua ini jauh lebih besar daripada perasaannya kepada Gianna.
“Umm… kalau boleh, bisa tidak kamu aja yang menemaniku untuk keliling sekolah?” tanya Gianna malu-malu. Jonathan mengernyitkan dahinya, mengapa gadis ini tidak ingin berkeliling dengan Marie saja? Kenapa harus bersama dengan dirinya?
“Memangnya kenapa harus samaku? Kan sudah ada Marie?” tanyanya yang tidak mengerti,
“Aku ragu kalau aku bisa berjalan-jalan bersama dengan gadis yang bernama Marie itu…”
Kembali, Jonathan semakin mengerutkan dahinya,”Memangnya kenapa dengan Marie? Kenapa kau meragukannya?”
Gianna masih berlagak seakan-akan dia adalah gadis yang lugu. Ia melirik sekilas Marie, membuat Jonathan jika ikut menatap Marie yang sedang bersenda gurau dengan Nicky.
“Perempuan itu, tampaknya dia bukan gadis yang baik-baik,” ungkap Gianna yang membuat rahang pria itu mengeras seketika.
“Bukan gadis baik-baik katamu? Kau hanyalah anak baru yang baru saja datang ke kelas ini. Kau tidak tahu apa-apa mengenai Marie, jadi berhentilah berkata hal yang jelek mengenai Marie.”
Pria itu menahan amarahnya dan dia bangkit berdiri dan meninggalkan Gianna yang tertegun melihat respon Jonathan yang begitu marah. Gianna mengepalkan tangannya sembari bersumpah serapah di dalam dirinya. Ia mengutuk Marie di dalam hatinya, dan karena ini ia semakin yakin jika Jonathan dan Marie memiliki hubungan yang dekat,
“Sial! Gadis sialan!”
Nicky menyenggol Marie ketika Jonathan berjalan ke luar kelas. Mereka tentu melihat interaksi Jonathan dan Gianna walaupun mereka tidak mendengar apa yang menjadi bahan obrolan mereka. Marie sedikit menunduk, sepertinya kedekatan Gianna dan Jonathan sudah dimulai.
“Sepertinya kamu benar, tampaknya si Gianna itu tertarik kepada Jonathan,” ujar Nicky yang diangguki Marie,
“Iya…” angguknya dengan sedih. Nicky ingin sekali menghibur sahabatnya itu, ia memegang pundak Marie dan dia memberikan senyumannya kepada gadis itu,
“Hey… jangan begitu… kita pasti bisa membuat mereka menjauh. Kamu, bicaralah pada Jonathan ketika kalian sedang belajar bersama sepulang sekolah ini, ajak dia untuk bergabung dengan kita. Aku rasa dia akan mau melakukannya, jadi percaya dirilah, Marie…”
Marie mengangguk paham,”Baiklah… aku akan bicara kepada dia… aku harap dia mau bergabung dengan kita,”
“Pasti… dia pasti mau, aku yakin,” ujar Nicky dengan yakin. Hal ini membuat gadis itu tersenyum mendengar dukungan Nicky yang sungguh berarti untuk dirinya.
“Terima kasih, Nicky…”
“Sama-sama…”
“Oh iya, aku penasaran akan sesuatu,” lanjut Nicky ketika sesuatu terbesit di pikirannya.
“Apa itu?”
“Gianna… apa kamu membencinya?”
Marie bukanlah tipikal gadis yang mudah membenci seseorang. Namun untuk pertama kalinya, ia bisa membenci orang sebegitunya. Tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi, Marie pun mengangguk,
“Ya… aku membencinya,”
“Apa ini karena dia berpacaran dengan Jonathan di kehidupan pertama?” tanya Nicky lagi kepadanya. Marie menggelengkan kepalanya dengan cepat,”Bukan, bukan karena itu,” ujarnya sebelum dia kembali menundukkan kepalanya.
“Jadi karena apa?” tanya Nicky lagi dengan hati-hati. Sungguh, jika saja Gianna adalah benar gadis baik-baik, maka dia tidak masalah jika ia berpacaran dengan Jonathan.
“Seperti yang kau tahu, dia adalah penyebab Jojo bunuh diri. Dia mengkhianati Jojo dan aku tidak terima akan itu. Jojo adalah pria yang baik, bagaimana dia bisa mengkhianatinya begitu mudah? Aku sungguh tidak bisa menerima hal itu,” ujarnya sembari mengepalkan tangannya dengan begitu kuat.
“Oh begitu, baiklah… aku mengerti,” ujar Nicky sebelum dia menyadari sesuatu,
“Eh, Jojo? Kau memanggilnya Jojo?” tanya Nicky yang membuat wajah gadis itu memerah seketika itu juga,
“U-um… ya, dia menyuruhku memanggilnya Jojo,” balas gadis itu sembari salah tingkah. Nicky tersenyum kepada Marie dan berkata,
“Dengan kesempatan yang sudah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, kamu melakukannya dengan baik,” ujarnya sebelum bel pun berbunyi. Marie terdiam sejenak mendengar perkataan Nicky yang mirip dengan perkataan sosok yang ia temui di mimpinya. Gadis itu tidak sempat untuk bertanya dari mana Nicky bisa mendapatkan perkataan itu karena guru sudah terlanjur masuk ke dalam kelas.
Gadis itu berniat untuk bertanya nantinya kepada Nicky, namun entah mengapa dia akan melupakannya seolah-olah ia tidak pernah mendengar apapun mengenai hal itu dari Nicky.