Semua mata tampak takjub dengan kecantikan gadis yang sedang berdiri di depan kelas, berbeda dengan Charlie yang malah tertegun bukan karena kecantikan gadis itu, melainkan ia tidak percaya jika perkataan Marie benar-benar terjadi. Di sisi lain, gadis cantik itu menemukan seseorang yang ada di belakang sana yang menurutnya tampan. Hanya saja pria itu tampak menatapnya dengan tatapan yang terlihat seolah-olah ia tidak perduli dengan dirinya dan itu membuat nilai pria itu lebih tinggi dari pria lainnya.
“Baiklah, saatnya untuk kamu memperkenalkan dirimu,” ujar sang guru, memberikan waktu untuk gadis itu membuka suaranya.
“Halo… Aku Gianna, salam kenal semuanya,”
Charlie benar-benar terdiam begitu ia melihat seorang gadis campuran Russia-Indonesia itu benar-benar bernama Gianna. Kini semua yang terjadi pada Marie bukanlah isapan jempol belaka, mau tidak mau, ia harus percaya dengan apa yang Marie katakan walaupun itu melawan akal sehatnya.
Orang-orang takjub dengan bahasa Indonesia gadis itu yang terdengar lancar dan luwes, tidak seperti bule lainnya yang masih memakai logat asal mereka ketika berbicara bahasa Indonesia.
“Oke... karena kamu baru masuk kelas di semester ini, terpaksa kamu harus duduk di belakang ya… apa sebelumnya kamu punya masalah penglihatan?” tanya sang guru untuk memastikan jika Gianna nyaman duduk di belakang. Gianna menatap sepasang meja dan kursi yang letaknya persis di belakang Jonathan. Tanpa pikir panjang, ia pun berkata,
“Tidak bu… saya baik-baik saja kok kalau diletakkan di belakang,” ujarnya dengan senyumnya yang begitu menawan.
Guru itu pun mengangguk dan mengisyaratkan untuk gadis itu duduk di tempat duduk yang sudah disediakan. Sementara Gianna terlihat begitu senang, Marie hanya bisa mengikuti langkah Gianna yang akan duduk di belakang Jonathan. Tanpa disengaja, tatapan Marie dan Jonathan bertemu. Jonathan tersenyum kepada Marie yang mana ini membuat penglihatan Gianna pun ikut menuju ke Marie yang juga tersenyum balik kepada Jonathan.
Moodnya yang awalnya begitu baik pun ambruk seketika. Mukanya seketika muram namun ia berusaha untuk menahannya karena saat ini banyak mata yang tertuju kepadanya. Gianna menutupi wajah muramnya dengan sempurna, akibatnya siswa-siswi sekitarnya berpikir jika dia adalah gadis yang murah senyum dan baik hati.
Ketika pelajaran pun dimulai, semua perhatian siswa-siswi yang ada di kelas itu pun beralih ke depan. Disaat itu terjadi, Gianna melepaskan senyum ramahnya dan memicingkan matanya kepada Marie yang duduk di depan sana.
“Siapa sih perempuan itu? Kenapa dia sok-sokan senyum begitu ke pria idamanku?!” batinnya dengan begitu kesal.
Gianna menghela napas untuk menenangkan kebenciannya. Dia mengalihkan pandangannya kepada pria yang ada di depannya itu. Dengan segala kepedeannya, ia menepuk pelan pundak Jonathan. Jonathan yang merasa terpanggil pun menoleh kepada gadis itu,
“Umm… kamu namanya sia-“
“Bisakah kau tidak menganggu pembelajaranku?” potong pria itu dengan dingin. Tangan kiri Gianna yang terletak di pahanya pun mengepal dengan begitu kuat. Ia tidak menyangka jika pria itu membalasnya dengan respon yang begitu menyakitkan.
Jonathan kembali menegapkan tubuhnya dan mengalihkan fokusnya kepada pelajaran yang ada di depannya. Awalnya ia mengira Gianna membutuhkan sesuatu darinya, tapi mendengar gadis itu yang ternyata ingin bertanya hal yang tidak penting, ia pun langsung memotong perkataan Gianna.
Jonathan yang dulu dengan Jonathan yang sekarang sangatlah berbeda, dulu mungkin ia bisa saja mau meladeni siapapun yang mengajaknya berbicara ketika belajar, namun semenjak ia belajar bersama dengan Marie, ia semakin terpacu untuk mendapatkan peringkat yang menakjubkan. Tentu saja hal ini untuk dirinya sendiri dan juga untuk Marie, supaya gadis yang ia sukai itu takjub kepadanya. Ia tidak ingin mempersulit Marie dengan ketidakmengertian dan ketidakmampuannya dalam belajar.
Kembali lagi kepada Gianna yang masih kesal dengan perlakuan Jonathan kepadanya. Sepanjang hidupnya, ia selalu mujur jika harus berhadapan dengan pria lain, bahkan seorang pria yang sudah beristri pun bisa klepek-klepek kepadanya. Gianna kembali memicingkan matanya kepada Marie, ia bahkan tidak mengenal dan mengetahui siapa nama gadis itu namun ia sudah membenci Marie dengan sangat,
“Kalau dia bisa tersenyum begitu tampan kepada perempuan itu, lalu mengapa dia bisa bersikap seperti ini kepadaku?!” batinnya berteriak.
Dengan tatapan yang tajam, ia menatap punggung Jonathan dan Gianna bersumpah kalau bagaimana pun caranya, Jonathan harus menjadi miliknya tidak perduli apapun yang akan terjadi nantinya.
***
Nirmala terdiam mendengar penjelasan Marie yang dibantu oleh Nicky untuk menjelaskan apa yang mereka bahas ketika mereka di café kemarin. Ia sama skeptisnya dengan Charlie yang awalnya menolak akan apa yang dikatakan oleh Marie.
“Dengan adanya kehadiran gadis blasteran itu, membuktikan jika Marie tidak main-main dengan perkataannya. Ia sedang tidak bermimpi, lagipula dunia ini terlalu luas untuk kita ketahui semuanya, bukankah begitu, Marie?” tanya Nicky yang diangguki oleh Marie,
Nirmala menatap ke Charlie yang saat ini sedang duduk di sampingnya dan mempertanyakan pendapatnya mengenai apa yang Nicky dan Marie katakan kepadanya,
“Menurutmu bagaimana?”
“I have no comment,” ujar Charlie sembari mengangkat tangannya. Marie tampak tersenyum puas, kini tidak ada yang bisa membantah perkataannya karena teman-temannya sudah melihat perkataannya yang benar-benar terjadi,
“Sebenarnya aku penasaran akan sesuatu…” ujar Nicky, membuat seluruh mata tertuju kepadanya,
“Penasaran gimana? Memangnya apa yang kamu ingin tahu?” tanya Marie yang sudah siap untuk menjawab pertanyaan apapun yang akan Nicky tanyakan kepadanya.
“Gianna itu… dia siapa? Apa perannya di kehidupan pertama?”
Marie menghela napasnya untuk sejenak sebelum dia berkata,”Sebenarnya di kehidupan sebelumnya dia adalah pacarnya Jonathan… Mereka akan berpacaran dimulai tanggal 31 Januari nanti,” ujarnya dengan detail setelah dia kembali membaca diary maroon yang ada di kamarnya. Sebenarnya Marie tidak tahu pasti kapan mereka pacaran, hanya saja di buku diari itu, tertulis jika ia mengetahui kabar kencan mereka berdua pada tanggal 31 Januari.
“Ha? Berpacaran dengan Jonathan?” tanya Nicky dengan kaget. Tidak hanya Nicky, Nirmala dan Charlie juga kaget mendengarnya,
Marie menganguk,”Sebenarnya aku ingin minta bantuan kalian… aku ingin Jonathan menjauh dari Gianna dengan memasukkan Jonathan ke grup kita supaya kita bisa mengawasi dia agar dia tidak melakukan hal yang tidak-tidak…” pinta Marie dengan sangat.
“Marie… apa salahnya jika mereka nantinya berpacaran? Apa ini karena perasaanmu yang tidak rela melihat mereka bersama?” tanya Charlie kepada Marie, yang mana Charlie mengira hanya Marie ingin menyelamatkan hatinya yang akan terluka jika Gianna dan Jonathan benar-benar berkencan,
Marie menggelengkan kepalanya,”Ini bukan tentang aku, ini tentang kehidupan Jonathan untuk selanjutnya. Apa kalian tahu? Gianna itu adalah penyebab kematian Jonathan… saat itu, sekitaran dua hari setelah kematian Jonathan, aku mengikuti Gianna dan aku melihat dengan jelas jika Gianna sedang bersama dengan pria lain di sebuah hotel, yang di mana disitulah aku kecelakaan setelah aku menemukan fakta jika dia adalah sugar baby…”
“S-sugar baby?!” pekik Nicky yang masih ditahannya.
“Jadi kamu menduga alasan Jonathan bunuh diri adalah karena dia patah hati kepada Gianna yang mengkhianati dirinya?” tanya Nirmala yang dibalas dengan jentikkan tangan Marie yang mengudara,
“Bingo! Benar sekali. Jadi aku mohon kepada kalian… please banget… biarkan Jonathan bergabung dengan kita supaya ia tidak terus menerus sendirian…” pintanya dengan sangat. Nirmala dan Nicky saling berpandang-pandangan sebelum mereka mengangkat tangan mereka sebagai tanda jika mereka akan ikut membantu Marie.
Namun berbeda dengan Charlie yang sebenarnya tidak terlalu perduli akan kematian Jonathan. Ia tidak berkata apapun dan dia membuang wajahnya.
“Sudah, fix… dua lawan satu, dualah pemenangnya. Udah Marie, tidak usah hiraukan sikap Charlie itu… ajak saja dia untuk spend time bersama dengan kita-kita,” ujarnya yang membuat Marie tersenyum begitu manis,
“Terima kasih… terima kasih banget, Nicky, Nirmala…” ujarnya dengan sangat.
“Don’t mention it… kita ini sahabatan, tidak ada salahnya jika kita bertambah banyak seperti Nirmala yang juga belakangan ini selalu bersama dengan kita,” tutur Nicky sembari menatap Nirmala yang mengangguk malu.
“Tapi aku mohon satu hal kepada kalian…” ujar Marie yang baru saja teringat sesuatu,
“Apa itu?” tanya Nirmala yang mulai mengeluarkan suaranya lagi,
“Tolong rahasiakan hal ini dari Jonathan… aku tidak ingin dia tahu…” pintanya yang disetujui oleh semua orang kecuali Charlie yang mengasingkan diri dari pembahasan yang serius ini.
“Siap boss!” ujar Nicky yang diiringi dengan anggukan anggun dari Nirmala.