Di pagi yang begitu tenang, Marie membuka matanya dengan sayu. Ketenangan itu tidak bertahan lama ketika Marie teringat dengan kecelakaan yang terjadi padanya. Ia langsung bangkit dan melihat sekitarnya, yakni kamarnya sendiri yang dalam kondisi rapi seperti biasanya. Gadis itu memegang tubuhnya dan berpikir, apakah dia baru saja bermimpi?
Seingatnya, ia sedang menyebrang jalan untuk ia kembali ke mobilnya setelah ia menguntit Gianna yang ternyata selingkuh dari Jonathan. Ia sangat bingung, bagaimana dia bisa selamat dari kecelakaan fatal itu? Apa dia koma atau gimana? Lalu bagaimana dia bisa berada di kamar dengan kondisi yang begitu sehat?
Gadis itu melihat buku diari maroonnya yang terletak di sampingnya dan pandangannya tertuju ke ponselnya yang hidup karena sebuah notifikasi. Marie mengambil ponselnya dan melihat tanggal, ia berpikir sudah berapa lama ia tertidur dan begitu kagetnya ia ketika ia melihat tanggal di ponselnya.
13 Juli 2020
Marie berpikir keras, bukankah dia seharusnya hidup di 2021? Terlebih ini adalah hari ulang tahunnya sendiri. Ia membuka ponselnya dan melihat pesan-pesan masuk. Benar saja, beberapa pesan dari temannya yang mengucapkan ulang tahun kepadanya. Pandangan Marie tertuju kepada diarynya yang terletak di sampingnya. Ia tergerak untuk membuka diari itu dan benar saja, tanggal terakhir diari itu tertulis adalah tanggal 15 Juli 2021, sehari sebelum kecelakaannya terjadi di tanggal 16 Juli 2021.
Gadis berambut panjang itu memegang kepalanya,”Sebenarnya apa yang terjadi?!” ujarnya dengan bingung. Marie sama sekali tidak mengerti apa yang terjadi, tapi yang jelas ia mengambil kesimpulan jika dirinya kembali ke masa lalu. Seakan tidak percaya, ia bangkit dari ranjangnya dan berkaca di meja riasnya. Ia melihat pantulan dirinya di balik cermin dan ia menyadari jika rambutnya sedikit panjang, seingatnya sebelumnya ia berambut pendek karena ia memotongnya pada saat liburan kenaikan kelas.
“Apa aku benar-benar kembali ke masa lalu?” tanyanya kepada dirinya dibalik cermin. Marie berusaha untuk mengingat lagi apa yang sudah terjadi sebelumnya dan sekelibat ingatannya mengenai sepatu yang ia lihat sebelum dia pingsan. Seketika itu juga kepalanya sangat sakit dan dia tidak mengingat jelas sepatu tersebut walaupun dia merasa sangat familier dengan sepatu tersebut.
“Dimana aku melihat sepatu tersebut ya...” ujarnya dengan lemah. Perlahan, ia mulai bangkit berdiri, rasanya ia memiliki ingatan yang samar mengenai sepatu tersebut. Ia kemudian beralih berusaha untuk mengingat kembali hari ulang tahunnya yang ke 16. Ia teringat jika kedua orang tuanya akan memberikan surprise kepadanya di pagi hari. Untuk kembali memastikan hal itu akan terjadi, ia kembali ke ranjangnya dan mulai menunggu kedatangan kedua orang tuanya.
“Apa aku pura-pura tidur aja kali ya?” ujarnya sebelum ia memutuskan untuk kembali tiduran di ranjangnya. Ia menutup matanya dan menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Jika ia benar-benar kembali ke masa lalu, seharusnya mereka akan datang sebentar lagi.
Benar saja, tidak lama kemudian Adelia beserta suaminya datang dengan kue yang ada di tangan Adelia. Marie yang pura-pura tidur pun mulai membuka matanya ketika kedua orang tuanya mulai masuk dan menyanyikan lagu ulang tahun untuk Marie. Ia melihat lilin yang berangka 16, Marie tidak menyangka jika hal ini benar-benar terjadi, tidak salah lagi jika dia kembali ke masa lalu.
Marie tersenyum dan dia ikut menyanyikan lagu ulang tahun bersama-sama dengan kedua orang tuanya. Ia pun kemudian menirup lilin setelah ia selesai bernyanyi,
“Yeay! Selamat ulang tahun ya sayang…” ujar Adelia yang kemudian memberikan kue yang ada di tangannya kepada suaminya dan dia pun memeluk gadis itu,
“Makasih ma… pa…” jawab gadis itu dengan begitu senang. Graham tersenyum melihat interaksi istri dan anaknya yang saling menyayangi seperti biasanya. Tidak disangka oleh Graham, Marie menangis. Ia sangat senang karena kembali ke masa lalu dan kembali bertemu dengan kedua orang tuanya,
Adelia melepas pelukannya dan ketika ia melihat anaknya menangis, ia segera menyeka air matanya dan bertanya ‘ada apa’ kepada Marie. Marie menggelengkan kepalanya dan tersenyum, ia sangat senang bisa melihat kedua orang tuanya lagi,
“Tidak apa ma… mata Marie kelilipan,” ujarnya sembari tersenyum sembari dia berpura-pura untuk mengucek matanya.
“Oh iya, papa punya ide, bagaimana tahun depan kita rayakan ulang tahun Marie besar-besaran?” usul Graham yang langsung disetujui oleh istrinya,
“Mama setuju, kamu kan tahun depan 17 tahun, harus dirayakan nih,” ujarnya yang membuat Marie berpikir,
“Hmm… sebenarnya Marie tidak ingin sih, pa, ma… Marie mau merayakannya secara private aja…”
Graham menghela napasnya,”Sayang banget… yaudah, nanti kita bahas lagi aja ya…” ujarnya sebelum dia kembali berkata, “Yaudah… ma, biarkan Marie siap-siap… bentar lagi dia kan mau sekolah,” lanjut Graham yang diokekan oleh sang istri,
“Iya… kamu siap-siap ya, jangan sampai terlambat,” ujarnya yang diangguki Marie. Marie masih tersenyum menatap kepergian Adelia dan Graham yang kemudian mulai beranjak dari kamarnya. Gadis itu memanggil Adelia, membuat wanita itu berbalik dan menghampirinya,
“Ada apa sayang?”
“Umm… anu…”
Gadis itu menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal itu. Ia sebenarnya ingin membicarakan apa yang terjadi kepada kedua orang tuanya, tapi sepertinya itu tidak akan berhasil dan juga tidak ada gunanya. Gadis itu masih menangis kecil sebelum dia teringat sesuatu,
“Ugh, bagaimana ya aku bilangnya,” batinnya dengan bingung,
“Kalau kamu tidak mau dirayakan besar-besaran, tidak apa kok… nanti bisa dibicarakan lagi ya… sekarang kamu siap-siap dulu,” ujar Adelia yang mengira jika anaknya itu ingin menyambung perkatannya. Mau tidak mau, gadis itu mengangguk pelan sebelum Adelia tersenyum dan pergi meninggalkan Marie sendiri di kamarnya.
“Pastinya tidak ada yang percaya dengan perkataanku jika aku mengatakan hal tersebut…” ujarnya sebelum dia terdiam karena dia teringat akan sesuatu,
“Jika aku kembali hidup di satu tahun lalu, berarti bukankah seharusnya Jonathan…” Gadis itu tidak bisa menahan dirinya, ia kembali menangis. Ia ingin sekali melihat Jonathan, sangat ingin…
“Aku harus secepatnya berangkat ke sekolah,” ujarnya lagi sebelum ia bersiap-siap untuk pergi ke sekolahnya.
***
“Kamu yakin tidak ingin merayakan ulang tahunmu secara terbuka?” tanya Graham, membuka percakapan antara dirinya dengan anaknya, Marie. Marie mengangguk sembari mengunyah makanannya. Setelah dia menelan makanannya, dia berkata,”Iya pa… Marie mau ulang tahun yang kecil-kecilan saja…” ujarnya sebelum dia meminum airnya.
“Sayang sekali, Marie… padahal itu sweet seventeen loh,” ujar Adelia kepada Marie yang kemudian tersenyum,
“Tidak masalah ma... Marie lebih suka menggelar pesta dengan private soalnya... rasanya lebih dapet aja feelnya daripada ramai-ramai begitu. Lagipula Marie tidak punya banyak teman,” jelasnya yang membuat kedua orang tuanya saling menatap dan tidak berkutik juga dengan apa yang Marie jelaskan,
“Yaudah... kalau begitu kamu pikirkan lagi aja ya... mana tau dengan pesta ini diselenggarakan besar-besaran, temanmu jadi bertambah,” jelas pria yang masih tampan di usia tuanya. Terlihat garis-garis kerutan yang menandakan ia sudah berusia, meskipun begitu, ia masih tetap menarik dan menawan.
Marie mengangguk,”Baik pa...” ujarnya yang kemudian segera menghabiskan makanannya. Gadis itu benar-benar tidak sabar untuk ke sekolah. Ia juga bahkan membawa buku diarinya di tasnya. Ia tidak sempat untuk membaca apa yang akan terjadi pada hari ini. Saking cepatnya ia mengunyah, ia tersedak, dengan segera ia mengambil air putih dan meminumnya dengan segera,
“Pelan-pelan, Marie. Jangan buru-buru, kamu tidak akan terlambat kok,” ujar Adelia yang diangguki Marie. Gadis mengangguk malu dan mulai mengunyah makanannya dengan hati-hati.
“Aku sangat tidak sabar...”