Seperti biasanya, Marie mengemudikan mobilnya dengan santai walaupun ia sendiri sudah tidak sabar untuk sampai ke sekolahnya. Ia tidak bisa mengendarai mobilnya dengan mengebut karena ia tidak berani. Marie menghela napasnya, ia berusaha untuk mengendalikan keantuasiasan dirinya,
Tidak berapa lama, ia akhirnya sampai di sekolahnya. Dengan cepat, ia memarkirkan mobilnya dan ia beranjak keluar dari mobilnya. Ia berjalan begitu cepat untuk masuk ke dalam sekolahnya. Hari ini seharusnya hari pertamanya di kelas sebelas dan seingatnya di kelas dua ia sekelas dengan Jonathan.
Tanpa melihat papan pengumuman, ia langsung melesat melangkah ke kelasnya. Tanpa ia sadari, Nicky merangkulnya dari belakang. Tahu siapa yang merangkulnya, gadis itu berbalik kepada Nicky yang sedang tersenyum kepadanya.
Marie tidak bisa membendung kesedihannya, ia juga merindukan Nicky sehingga ia pun memeluk Nicky yang kebingungan melihat sikapnya,
“Loh loh, kenapa malah nangis?” tanya Nicky yang bingung antara mau memeluk gadis itu kembali atau bagaimana.
“Tidak ada… aku hanya merindukanmu,” ujarnya dengan pelan. Nicky tersenyum lembut, ia berkata,”Kita hanya berpisah beberapa minggu karena libur kenaikan kelas, padahal setiap hari kita telponan, kamu ini kayak anak kecil aja…” ujarnya sembari menggelengkan kepalanya.
Marie mengabaikan perkataan Nicky, yang ia lakukan adalah terus memeluknya saja. Seakan mengerti akan kerinduan Marie, Nicky pun mengelus punggung gadis itu dengan lembut,”Tenang saja… apapun yang terjadi, aku akan terus bersama denganmu…” ujarnya dengan lembut. Gadis itu mengangguk sembari melepaskan pelukannya dari Nicky.
Nicky menyodorkan sebuah paper bag yang berisikan sepatu sport untuk Marie,”Hmm… aku harap ini cocok untukmu mengingat tidak semua ukuran sepatu memiliki ukuran yang sama,” ujarnya yang mendapat senyuman manis dari Marie.
“Makasih, Nicky…” ujarnya sembari mengambil paper bag itu dari Nicky. Nicky juga tersenyum, ia mengajak gadis itu untuk berjalan bersama dengannya. Marie pun mengiyakan dan keduanya berjalan bersama ke kelas mereka masing-masing.
“Ngomong-ngomong, kamu kenapa nampaknya buru-buru banget?” tanya Nicky tanpa menolehkan kepalanya kepada Marie,
“Hmm… itu… itu k-karena aku takut terlambat,” kilahnya yang dipercayai oleh Nicky. Gadis berambut panjang itu mengangguk paham,”Kira-kira kita sekelas sama Charlie tidak ya? Aku malas banget sekelas sama dia,” ujar Nicky dengan lemas. Marie tertawa kecil, seingatnya di kelas dua ini memang ia sekelas dengan Nicky dan Charlie, termasuk juga Jonathan.
“Sekelas… kita bertiga sekelas,” ujarnya yang membuat Nicky melemas seketika,
“Begitu ya…”
Marie mengangguk,”Bukankah itu menyenangkan? Kita bisa barengan lagi di kelas sebelas ini…”
“Yah… walaupun nanti di kelas dua belas kita tidak sekelas, sih,” batin gadis itu yang kemudian bertemu dengan Charlie yang tampak baru saja hendak masuk ke kelas. Charlie tidak menyadari keberadaan Nicky dan Marie, ia masuk saja ke kelas dan duduk begitu saja.
“Aku rasa dia tidak tahu kalau kita ada disini,” ujar Nicky yang diangguki oleh Marie.
“Iya, yuk masuk ke kelas…” ajak Marie yang sudah tidak sabar untuk melihat Jonathan. Ia sangat berharap, jika dia sendiri kembali hidup, bukankah seharusnya Jonathan juga mengalami hal yang sama. Walaupun dia sanksi jika pria itu bisa mengingat apa yang sudah terjadi, tapi bagi Marie, melihat Jonathan kembali hidup saja sudah membuatnya senang,
“Oh iya, tadi aku lihat kita sekelas sama Jonathan, loh,” ujar Nicky yang tidak membuat Marie terkejut,
“Iya, aku tahu…” ujarnya sebelum keduanya masuk ke dalam kelas. Mata gadis itu menjelajah ke seluruh ruangan dan dia tidak menemukan Jonathan dimana pun. Ia berusaha untuk menahan kepanikannya dan mulai mencari tempat duduk bersama dengan Nicky,
“Kita duduk sebangku aja ya… please…” pinta Nicky yang diangguki oleh Marie,
“Oke…” ujar Marie dengan begitu santai. Keduanya pun duduk di barisan tengah. Marie yang terlihat gelisah, ia berusaha untuk menunggu kedatangan Jonathan. Ia kemudian teringat dengan buku diarinya, ia ingin tahu apa yang terjadi di hari ini.
“Eh Marie, aku ke toilet dulu ya…” pamit Nicky yang diangguki oleh Marie. Ini adalah kesempatan untuk Marie membuka diarinya tanpa ada orang yang menyadarinya. Ketika Nicky pergi, ia membuka diarinya dan melihat apa yang terjadi di 13 Juli 2020.
Setelah akhirnya ia mendapatkan tanggal tersebut, ia membacanya kembali,
Dear diary,
Hari ini adalah hari pertamaku di kelas sebelas. Aku sangat senang karena aku sekelas dengan Jonathan karena sebelumnya aku tidak sekelas dengannya. Aku sangat berharap aku tidak salah baca ketika aku melihat namanya di papan pengumuman. Aku sempat was-was karena dia tidak kunjung datang ke sekolah, sampai pada akhirnya dia benar-benar datang. Alasan dia telat adalah telat bangun, sehingga dia dihukum oleh guru untuk berdiri di depan kelas sembari mengangkat tangannya… aku sangat kasihan kepadanya karena dia terlihat begitu lelah dan pasti pegal-pegal itu tangan karena ia harus mengangkat tangannya selama pelajaran berlangsung…
“Jadi hari ini Jonathan akan telat…” batin gadis itu yang terlihat menghela napasnya dengan lega.
“Lagi baca apa?” tanya Charlie yang mengagetkan Marie yang sedikit tersentak karena Charlie,
“A-ah… tidak ada,” ujarnya sembari langsung memasukkan buku maroon itu ke dalam tasnya. Charlie melihat kegugupan gadis itu dan dia pun mengambil tempat duduk Nicky untuk ia bisa duduk bersama dengan Marie,
“Apa kamu ada masalah? Kamu tampaknya terlihat tertekan akan sesuatu…” tanya Charlie dengan lembut. Marie menyadari hal tersebut dan bertanya kepada dirinya, apakah Charlie memang selalu seperduli ini kepadanya? Ia sedikit tidak menyangka jika Charlie bisa bersikap selembut ini kepadanya,
Kalau dipikir-pikir lagi, ia akan bersikap cuek ketika ada Nicky di sekitar dirinya. Memang tidak
“Tidak ada… aku hanya…” Gadis itu bingung untuk mencari alasan, alhasil dia menatap Charlie yang sedang tersenyum lembut kepadanya. Gadis itu sedikit terpana dengan Charlie, pria yang selama ini selalu ada untuknya sedari mereka masih kecil.
“Hari ini adalah hari ulang tahunmu, berbahagialah sedikit,” ujarnya yang diangguki Marie. Charlie tersenyum teduh sebelum Nicky datang dan mendapati keduanya yang sedang duduk bersama. Dengan kesal, gadis itu terang-terangan melipat tangannya dan menatap Charlie dengan tidak suka. Charlie tampak mengabaikan kehadiran Nicky dan dia bahkan terus menatap Marie yang sedikit salah tingkah dengan tatapannya,
“Apa-apaan ini?! Kenapa si curut ini malah duduk di sini?!” ujar Nicky yang tidak diindahkan oleh Charlie. Charlie kembali memanggil Marie, membuat Marie menoleh kepadanya,”Ya?”
“Mau duduk samaku atau Nicky?” tanya Charlie kepada Marie,
“Ugh rasanya dia terlihat bersinar sekali,” batin Marie, menghadapi kesilauan pesona dari Charlie. Charlie menatapnya seakan meminta gadis itu untuk mengiyakan apa yang ia inginkan, sementara Nicky, ia menunggu jawaban dari Marie. Marie menelan ludahnya, dengan terpaksa dia berkata jika dia akan duduk bersama dengan Nicky,
“Maaf, Charlie… aku sudah lebih dulu janji sama Nicky…” ujarnya dengan pelan. Charlie tersenyum, pria tampan itu tampak tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia menerima keputusan Marie dan dia pun bangkit dari tempat Nicky sembari dia mengacak kecil rambut Marie dengan sayang,
“Yaudah… tidak masalah kok…” ujarnya yang kemudian pergi begitu saja dari Nicky dan Marie. Marie masih menatap kepergian Charlie, sementara itu Nicky kembali duduk di tempat duduknya. Ia menjentikkan jarinya kepada Marie yang menurutnya sedang melamun.
“Lagi mikirin apa sih?” tanya Nicky kepada Marie. Marie menggelengkan kepalanya dan tersenyum kecil,
“Tidak ada kok,” ujarnya sebelum bel sekolah berbunyi. Baik Marie maupun Nicky, keduanya mengembalikan konsentrasinya ke depan. Seorang pria yang bernama Tito, yang diketahui adalah wali kelas mereka pun masuk ke dalam kelas. Ia memperkenalkan dirinya sebelum dia membahas dan menentukan siapa yang akan menjadi ketua kelas,
“Perkenalkan, nama saya Tito. Kalian bisa memanggil saya pak Tito. Mulai sekarang saya adalah wali kelas kalian…” ujarnya dengan tegas.
“Oh iya, sebelum kita mulai pelajaran, saya ingin menentukan ketua kelas ini. Apa ada yang ingin mengajukan diri?” tanya Tito kepada seisi kelas yang mulai berisik karena membahas siapa yang akan menjadi ketua kelas mereka,
“Bagaimana jika Marie, pak? Sebelumnya di kelas satu Marie juga ketua kelasnya dan dia mengerjakan tugas dengan baik,” usul seorang gadis yang bernama Nirmala, gadis cantik yang selalu baik kepada semua orang.
Marie menatap gadis itu yang bermain mata kepadanya. Marie kemudian meluruskan pandangannya ke depan, semua orang menunggu keputusannya dan setelah beberapa menit berpikir, akhirnya ia pun mengangguk,”Baik, pak… saya bersedia,” ujarnya yang kemudian dilanjutkan oleh Tito,
“Baik, apa ada yang mau mengajukan diri lagi?”
Tidak ada yang mengangkat tangannya. Sang wali kelas pun bertanya dan ingin tahu seberapa banyak yang setuju jika Marie menjadi ketua kelas.
Seperti yang diduga oleh Marie, banyak yang memilih dirinya sebagai ketua kelas seperti sebelumnya. Anak-anak kelas Marie menganggap Marie adalah sosok yang begitu peduli dan juga pintar.
“Baiklah… kalau begitu mulai hari ini, Marie akan menjadi ketua kelas. Lalu bagaimana dan siapa yang akan menjadi wakilnya? Karena tidak ada yang mengajukan diri, Marie… silahkan pilih siapa yang akan menjadi wakil ketua kelas,” ujar Tito yang diangguki Marie. Marie melihat sekitarnya dan dia pun menunjuk Nirmala sebagai wakil untuknya.
Nirmala sempat terkejut, namun ia sendiri mengiyakan apa yang menjadi keputusan Marie.
“Baik, Marie akan menjadi ketua kelas dan Nirmala akan menjadi wakilnya. Selanjutnya untuk pemilihan bendahara dan sekretaris, Nirmala dan Marie harus berdiskusi. Saya ingin besok sudah ada nama-nama yang akan menempati posisi itu,”
“Baik pak…” ujar Nirmala dan Marie bersamaan.
Tidak lama kemudian, seseorang mengetuk pintu dan Marie pun menatap pria yang sudah ia tunggu itu untuk masuk ke dalam kelas. Jonathan tampak begitu berantakan karena tampaknya ia buru-buru sekali,
“Akhirnya… Jonathan…” batinnya yang hampir membuatnya menangis.
“Maaf pak… saya telat…” ujar Jonathan sembari menunduk. Tito menghela napasnya, ia kemudian mengarahkan Jonathan untuk mengambil kursi untuk meletakkan tasnya sebelum dia disuruh untuk berdiri di depan kelas.