Marie tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melihat ke arah Jonathan yang sedang dihukum. Ia tidak bisa konsentrasi pada pelajaran yang ada di hadapannya, ia berusaha dengan baik untuk setidaknya mencatat apa yang sedang diajarkan. Bel pun berbunyi, pertanda waktu untuk istirahat. Jonathan terlihat sangat lega ketika tangannya sudah boleh diturunkan.
Marie mulai mengalihkan pandangannya ketika Jonathan melangkah ke tempat duduknya. Ia berjalan melewati Marie yang sudah berdebar-debar karena kehadirannya,
“Duh, baru juga dia lewat udah begini aja rasanya,” ujarnya kepada dirinya sendiri. Gadis itu akhirnya juga merapikan bukunya untuk ia segera ke kantin bersama dengan Nicky. Nicky yang sudah selesai merapikan bukunya, sekarang ini ia sedang menunggu Marie yang masih belum beres dengan bukunya.
Tidak lama kemudian, Charlie pun menghampiri Marie yang sudah selesai merapikan bukunya. Nicky menatap Charlie dengan sinis, sementara Charlie sendiri mengabaikan tatapan Nicky yang tidak suka dengannya.
“Yuk ke kantin…” ajak Charlie yang diangguki oleh Marie. Marie mengalihkan pandangannya sejenak kepada Jonathan yang tampak sibuk sendiri dengan ponselnya. Ia ingin sekali menghampiri pria itu dan ikut mengajaknya, namun ia tidak punya keberanian untuk melakukan hal tersebut. Marie pun akhirnya berjalan bersama kedua sahabatnya ke kantin.
Pikirannya bergumul, bagaimana caranya ia bisa mendekati Jonathan? Ia sengaja ingin mendekati Jonathan karena ia sudah bertekad untuk mencegah kematian Jonathan. Ia mungkin tidak bisa menghalau perasaan Jonathan kepada Gianna, namun ia berpikir mungkin saja ia bisa mencegah kematian Jonathan dengan cara mendekat kepadanya dan mengawasinya,
Tidak berapa lama, ketiganya pun sampai di kantin. Marie yang tidak memperhatikan jalannya pun menabrak Charlie yang sedang berhenti karena ada seseorang yang akan lewat. Charlie berbalik dan menatap Marie yang meminta maaf kepadanya,
“S-sorry, aku tidak tahu kalau kau sedang berhenti,”
Charlie tersenyum kecil,”Tidak masalah…” ujarnya yang kemudian berbalik lagi dan kembali melangkah. Nicky yang melihat interaksi manis mereka pun mendekati Marie, menanyakan sebenarnya apa yang menjadi pikirannya,
“Kamu kenapa? Nampaknya kamu sedang memikirkan sesuatu,” tanyanya kepada Marie yang sebenarnya ingin sekali menceritakan apa yang menjadi kegundahannya. Hanya saja, ia tidak ingin dilihat aneh bagi teman-temannya dan juga ia yakin tidak ada yang mempercayai dirinya,
“Tidak apa kok, aku hanya kepikiran mengenai masalah tadi,” kilahnya yang membuat Nicky menaikkan satu alisnya,
“Masalah tadi? Maksudnya saat kamu ditunjuk sebagai ketua kelas?” tanyanya yang diangguki ragu oleh Marie.
“Oalah, kirain apaan. Kenapa kamu tidak menolak saja ketika ditunjuk tadi kalau kamu merasa keberatan?” tanyanya yang membuat Marie terpikir alasan lain untuk mengelak. Ia tidak sepenuhnya menolak sih, ini hanyalah sebuah alasan aja kepada Nicky,
“Um… tidak apa kok… aku gak enak aja menolak,”
Nicky menghela napasnya,”Haduh kamu ini, jangan keseringan gak enak sama orang, kamu tuh harus tegas,” ujar Nicky dengan kepalan tangan yang ia layangkan ke udara. Marie tertawa kecil melihat tingkah Nicky yang selalu saja lucu baginya, ia sedikit terhibur dengan keceriaan dan juga tingkah Nicky yang tidak pernah membuatnya bosan. Sementara itu, Charlie mendengar apa yang sedang mereka katakan. Ia juga ikut tersenyum kecil ketika ia mendengar gadis itu tertawa walaupun kecil,
Akhirnya ketiganya pun sampai ke kantin dan mereka mencari tempat untuk duduk.
“Kalian duduklah di sini, supaya nanti tidak ada yang mengambil tempat ini,” ujar Charlie yang diangguki oleh Nicky dan Marie. Keduanya pun akhirnya duduk bersama dan saling hadap-hadapan, mereka menunggu Charlie untuk kembali. Tidak lama mereka menunggu, seorang gadis yang mereka kenal pun datang menghampiri mereka,
“Nirmala?”
Gadis cantik berkulit pucat itu tersenyum,”Aku boleh duduk di sini, tidak?” tanyanya dengan ramah. Tanpa berpikir panjang, kedua gadis itu mengangguk dan menepuk kursi mereka sebagai tanda untuk menyambut gadis itu duduk bersampingan dengan mereka. Gadis itu pun memilih untuk duduk bersampingan dengan Nicky,
“Kalian tidak pesan makanan?” tanya gadis berkuncir satu itu,
“Hmm… kami sedang menunggu Charlie beli makanan, tunggu dia datang dulu aja baru kita beranjak,” ujar Marie yang diangguki paham oleh Nirmala.
“Begitu ya… kalau begitu aku juga deh…” ujarnya yang mengundang senyuman dari Nicky dan Marie.
Marie melirik Nirmala yang sedang menunggu kedatangan Charlie. Kalau gadis itu tidak salah ingat, Nirmala adalah gadis yang menyukai Charlie. Ia pernah melihat Nirmala menyatakan perasaannya kepada Charlie dan saat itu ia tidak sengaja melihatnya. Namun tampaknya waktu itu Charlie menolaknya begitu saja.
Ia tidak punya ingatan jika Nirmala menghampiri mereka seperti ini, yang ia tahu Nirmala diam-diam menyukai Charlie dari kejauhan. Marie berpikir lagi, berpikir jika mungkin saja ada detail yang ia lewatkan dari hari ini karena Nirmala yang menghampiri mereka seperti ini tidak pernah ada di benaknya. Gadis itu sedikit mengangkat kepalanya ketika ia ingat juga jika hari ini ada sesuatu yang tidak terjadi,
“Benar juga, setauku seharusnya Nicky tidak pernah memberikanku apapun pada hari ini, tapi berbeda dengan apa yang terjadi dulu, sekarang ia memberikanku sebuah sepatu…” ujarnya di dalam benaknya. Gadis itu meluruskan pandangannya, mengapa ada beberapa hal yang terjadi dan beberapa hal yang tidak terjadi malah terjadi? Ia berpikir keras sebelum Charlie menghampiri mereka bertiga. Pria itu tampak bingung dengan kehadiran Nirmala yang sudah duduk di samping Nicky,
Sadar jika Charlie menatapnya dengan bingung, Nirmala pun tersenyum,”Tidak apa ya aku duduk di sini… soalnya ada yang ingin aku bahas bersama dengan Marie juga,” ujarnya yang membuat semua orang menoleh kepada Marie,
“Aku?” tanya Marie sembari menunjuk dirinya sendiri. Nirmala mengangguk,”Iya…”
“Yaudah, kalian pesanlah makanan kalian, aku akan menjaga tempat ini,” ujar Charlie yang diangguki ketiganya. Ketiganya berjalan bersama untuk memesan makanan mereka masing-masing. Marie melirik Nirmala yang malah ikut dengannya ke bude kantin tempat langganannya, ia berpikir, apa Nirmala juga sering langganan di tempat kantin ini?
“Kamu mau pesan apa?” tanya Marie kepada Nirmala yang tampaknya sedang berpikir,
“Hmm... nasi goreng sih, kamu?”
“Bakso... aku ingin bakso...” jawabnya yang diangguki oleh Nirmala. Keduanya kemudian berjalan bersama dan memesan makanan mereka, sampai untuk beberapa saat, akhirnya mereka mendapatkan makanan mereka masing-masing. Ada satu hal yang menganggu pikiran Marie, yang membuatnya bertanya kepada Nirmala,
“Memangnya apa yang kamu ingin katakan kepadaku?” tanya Marie sembari keduanya berjalan,
“Hmm... aku ingin membahas mengenai posisi bendahara sama sekretaris sih... wali kita meminta untuk segera ditentukan, jadi aku rasa tepat kalau aku membahasnya sekarang bersama denganmu,” ujarnya yang diangguki oleh Marie yang setuju juga dengan apa yang Nirmala katakan,
“Aku kira dia akan membahas mengenai Charlie... Eh tapi tidak mungkin juga dia membahas Charlie di depan Charlie,” Marie melirik kembali kepada Nirmala yang pandangannya tertuju kepada Charlie yang sedang membelakangi mereka. Ia dengan yakin menebak jika di masa ini, Nirmala pasti sudah menyukai Charlie.
Gadis itu gatal sekali untuk membahas mengenai Charlie kepada Nirmala karena menurutnya keduanya adalah pasangan yang serasi. Ia ingin sekali menggoda Nirmala, namun tampaknya ia tidak bisa mengatakannya sekarang karena ada Charlie di sini. Ya, ia akui sih kalau Charlie itu adalah pria yang cukup tampan juga walaupun menurutnya Jonathan lebih tampan daripada Charlie.
Tidak lama, Nicky bergabung dengan keduanya yang sedang berjalan bersama. Gadis itu tampak melihat apa yang mereka pesan dengan apa yang ia pesan,
“Lagi-lagi bakso,” ujarnya kepada Marie yang hanya bisa nyengir saja mendengarnya,
“Kamu suka bakso ya?” tanya Nirmala yang langsung diangguki oleh Marie,”Sangat suka,” balasnya dengan ramah.
“Tapi kan gak tiap hari juga makannya bakso. Nanti pulang sekolah belinya bakso bakar pula lagi,” ujar Nicky sembari menggelengkan kepalanya.
“Gak apa dong, inilah yang namanya cinta,” ujar Marie dengan bangga,
“Cinta apaan? Bukannya kamu suka Jo-“ Perkataan Nicky berhenti ketika Marie memelototinya. Nicky menelan ludahnya dan tertawa garing, sementara Nirmala sendiri semakin penasaran dengan siapa Marie suka,
“Siapa? Memangnya Marie suka siapa?” tanyanya dengan lugu,
“Ahahaha tidak ada... satu-satunya cinta abadinya adalah bakso,” ujar Nicky dengan canggung. Mereka berharap jika Nirmala sama sekali tidak menyadari akting jelek mereka, namun tidak disangka-sangka, Nirmala malah percaya dengan apa yang mereka katakan. Hal itu membuat keduanya menghela napas lega,
Mereka pun sampai ke meja mereka dan melihat Charlie yang sudah menunggu mereka untuk makan. Seperti biasanya, Charlie akan makan jika teman-temannya juga ikut makan, ia tidak ingin makan sendiri. Nirmala tampak malu-malu, dia sedikit menyesal duduk berhadap-hadapan dengan Charlie karena ia sendiri tidak bisa fokus dengan adanya Charlie di depannya.
“Jadi, gimana? Kamu udah ada kandidat untuk menjadi sekretaris dan bendahara kelas kita?” tanya Marie kepada Nirmala. Nirmala mengangguk, kali ini raut mukanya sudah serius, tidak lagi gelagapan seperti tadi,
“Aku belum tahu siapa yang akan sekretaris, tapi untuk bendahara, aku ingin Jonathan yang memegang posisi itu,” ujarnya yang membuat Marie membelalakkan matanya,”K-kenapa harus Jonathan?” tanya gadis itu dengan gagu. Sementara itu, Charlie menatap gadis itu dengan tatapan yang dingin, ia sejujurnya tidak senang jika gadis itu terus terlibat dengan Jonathan.
“Aku dengar-dengar dia juga bendahara di kelasnya kemarin. Uang bendahara sempat hilang dan dia mengganti uang tersebut, bukankah dia terlihat sangat bertanggung jawab?” tanyanya yang membuat Charlie mengernyitkan dahinya,
“Bukankah malah dia terlihat ceroboh? Bagaimana bisa kita memercayakan hal seperti ini kepada pria yang ceroboh seperti dia?” ujarnya dengan satu alis yang terangkat,
“Pencurinya sudah tertangkap dan sudah dikeluarkan dari sekolah. Walaupun pencuri itu sudah mengembalikan uangnya, ia sama sekali tidak mengambil kembali uang yang ia ganti... aku rasa setiap orang pasti memiliki kesilapan, namun sikapnya sangat baik, jadi aku merasa percaya kepadanya,”
Marie berpikir lagi. Sikap yang dimiliki Jonathan memang baik walaupun dia sempat melakukan kesalahan. Ia mengabaikan perasaannya dan berpikir rasional,
“Baiklah... kalau begitu kita akan bertanya kepadanya apakah dia mau menjadi bendahara kelas kita,”