"Oke, lalu bagaimana dengan posisi sekretaris? Apa kalian ada usul siapa yang akan kita angkat?” tanya Nirmala kepada ketiganya, Marie, Nicky dan Charlie. Charlie sendiri tidak terlalu suka ketika ia mendengar jika Jonathan akan menjadi bendahara kelas mereka. Rasa ketidaksukaannya itu bukannya tidak mendasar, sudah jelas dia cemburu jika Marie mengembangkan perasaannya kepada Jonathan.
Terlintas di benaknya untuk melakukan sesuatu untuk membatasi interaksi Jonathan dengan Marie. Ia tidak akan tinggal diam dan tentu saja dia tidak menyerah akan perasaannya kepada Marie. Semua mata tertuju pada Charlie begitu ia mengangkat tangannya.
“Aku mengajukan diri jadi sekretaris,” ujar Charlie sembari ia mengangkat tangannya. Semua gadis yang ada di samping dan hadapannya mengalihkan pandangannya kepada Charlie. Charlie bisa melihat semuanya ragu jika dirinya bisa menjadi seorang sekretaris,
“Hey, apa-apaan tatapan kalian itu? Kalian meremehkanku?” tanya Charlie dengan tidak senang,
“B-bukan gitu, tumben saja… biasanya kau tidak perduli dengan hal-hal seperti ini,” ujar Marie yang diangguki oleh Nicky,
“Benar, tidak biasanya kau begini…” ujar Nicky, menimpali perkataan dari Marie. Charlie menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia mencoba untuk mencari alasan yang tepat mengapa ia ingin ikut menjadi bagian dari organisasi kelas,
“Hmm… aku hanya ingin sekali-sekali mencobanya… tenang saja, aku pasti akan bertanggungjawab,” ujarnya dengan mantap. Nirmala dan Marie saling tatap-menatap, mereka mengobrol melalui tatapan mereka sebelum pada akhirnya Marie setuju dan mengangguk kepada Charlie,
“Oke, bener ya kamu akan melakukan pekerjaannya dengan baik…” Marie memperingatkan Charlie sekali lagi. Charlie menganggukkan kepalanya dan keputusan pun keluar. Marie melirik Nirmala yang terlihat sedang senyum-senyum sendiri, ia sudah bisa menebak jika Nirmala pasti senang sekali dengan hal ini,
“Oke… tenang saja,” jawab Charlie dengan yakin.
Sembari makan, ada sesuatu yang terlintas di benak Nirmala. Terlebih, ia tidak sengaja melihat Jonathan yang baru saja melewati meja mereka. Gadis itu mengalihkan perhatiannya kepada Marie yang sudah siap dengan makanannya, begitu juga dengan dirinya yang sudah siap makan.
“Eh, Marie… bagaimana sekarang aja kita datangi Jonathan?” tanya Nirmala yang masih belum melepaskan Jonathan dari pandangannya, ia tidak menyadari jika Marie tertegun sejenak karena perkataan Nirmala, “Emm… itu…”
“Biar aku saja yang bicara kepadanya,” usul Charlie membuat Nicky tersenyum diam-diam. Perlahan dia mulai paham mengapa Charlie mau mengajukan diri sebagai sekretaris kelas. Nicky menatap Charlie seakan ingin menggodanya, sementara Charlie mengabaikannya dan tetap menatap Nirmala dan Marie dengan yakin,
“Tidak bisa… aku dan Marie saja yang akan melakukannya,” ujar Nirmala sembari menggelengkan kepalanya,
“Lah kenapa? Apa bedanya jika aku yang memberitahu hal ini kepadanya?” tanya Charlie kepada Nirmala yang mulai menegapkan duduknya,
“Ini urusan ketua dan wakil ketua. Seharusnya yang turun itu ketua kelas, tapi kalau Marie sedang sibuk atau berhalangan, hal itu diwakilkan kepada wakil ketua kelas,” ujarnya dengan telunjuk yang ia acungkan di udara. Ia menjelaskan hal itu dengan begitu yakin, sehingga Nicky harus menahan dirinya untuk tidak menertawakan Charlie yang mendengus kesal karena perkataan Nirmala.
Nirmala yang tidak menyadari jika Marie saat ini sedang tersipu-sipu pun bertanya perihal pendapatnya mengenai hal ini. Marie sempat melamun, namun karena Nirmala memanggilnya, raganya kembali dan dia mengerjapkan matanya dengan cepat. Ia berpikir sejenak sebelum akhirnya ia mengangguk,”Iya, aku akan melakukannya. Tapi Nir, kamu bantu aku ya… soalnya aku tidak pandai bicara dengan orang yang tidak dekat denganku,” ujarnya malu-malu. Nirmala mengacungkan jempolnya dan berkata,”Tenang saja, aku akan membantu,” ujarnya juga dengan satu mata yang ia kedipkan.
“Mumpung masih ada waktu untuk istirahat, gimana kalau kita cari Jonathannya sekarang?” lanjutnya yang membuat gadis itu mengerjapkan matanya lagi,
“Huh?”
“Iya sekarang, ayo!” ajak Nirmala yang sudah keburu berdiri. Ia memegang tangan Marie yang ragu-ragu dan membawanya bersama dengan dirinya. Marie pun ikut berdiri dan ikut berjalan bersama dengan Nirmala yang memimpin jalan, sementara Charlie hanya bisa menatap kepergian mereka yang sudah menjauh. Nicky tersenyum usil kepada Charlie, membuat pria itu tidak nyaman bersama dengannya,
“Apa?” tanya Charlie dengan nada yang sewot dan tidak senang,
“Kau terlihat sangat cemburu…” godanya yang membuat Charlie mengendus napas dengan kesal,
“Berhentilah mengejekku,” ujarnya yang membuat Nicky tertawa,”Kau ini, kenapa sih tidak beritahu saja ke Marie kalau kau menyukainya?” tutur Nicky yang langsung dijawab oleh Charlie,”Aku rasa tanpa aku memberitahunya, kau juga sudah tahu mengapa aku tidak memberitahunya,” jawabnya sembari mencari keberadaan Marie dan Nirmala yang sudah entah kemana,
“Sudah berapa lama kau menyukainya? Setahuku kalian sudah kenal lama dan dari dulu kau sudah tampak sekali kalau kau menyukainya,”
Ingatan Charlie kembali ke masa di mana untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Marie. Saat itu adalah satu-satunya gadis yang mau bermain dengannya walaupun dia sendiri adalah seorang yatim piatu sejak dia masih SD. Ia sudah menyukai Marie sejak lama, hanya saja ia tidak ingin merusak pertemanannya dengan Marie jika dia menyatakan perasaannya. Ia merasa semakin senasib dengan Marie semenjak Marie kehilangan orang tuanya waktu dia SMP. Ia merasa hanya dirinyalah yang bisa mengerti betapa hancurnya seseorang saat mereka kehilangan kedua orang tuanya disaat yang bersamaan,
“Hey, apa kau mendengarku?” tanya Nicky kembali karena Charlie termenung sejenak,
Charlie menatap Nicky,”Aku rasa aku tidak perlu menjawabnya, tapi yang jelas jangan memberitahu apapun kepada Marie,” pintanya yang diangguki oleh Nicky,
“Kau bisa percayakan hal ini kepadaku,”
Sementara itu, Marie tidak bisa mengontrol detak jantungnya yang berpacu dengan kencang. Ia menyamakan langkahnya dengan Nirmala yang membawanya ke tempat di mana Jonathan berada. Ia sangat gugup, Marie berharap dia tidak melakukan sesuatu yang aneh di hadapan Jonathan,
Pandangan Marie beralih kepada Nirmala yang masih berjalan dengan tangannya yang sedang menggenggam tangan Marie. Ia menelan ludahnya ketika ia sudah melihat Jonathan yang sedang duduk di kursi besi yang letaknya ada di depan kelas mereka.
“Tenanglah Marie, tenang…” ujarnya kepada dirinya sendiri,
Nirmala dan Marie akhirnya sampai di hadapan Jonathan yang sibuk memainkan ponselnya. Melihat ada yang berdiri di hadapannya, Jonathan menaikkan kepalanya dan menatap kedua gadis itu yang sudah menunggu responnya,
“Ada apa? Ada yang bisa aku bantu?” tanya Jonathan dengan ramah. Jantung Marie benar-benar berdetak tak karuan ketika Nirmala meliriknya sebagai kode untuk memberitahu Marie jika sekarang ini adalah saat Marie untuk mengatakan niat dan maksud keduanya datang kemari,
“Sebenarnya kami mendiskusikan mengenai siapa yang akan menjadi sekretaris dan bendahara kelas. J-jadi, setelah kami bahas, kami berpikir untuk menunjukmu menjadi bendahara kelas,” ujar Marie dengan sedikit terbata-bata. Nirmala tersenyum ramah kepada Jonathan dan melanjutkan kembali perkataan Marie,
“Benar… kami berpikir jika kamu adalah orang yang tepat. Tentu saja kami harus meminta persetujuanmu sebelum kami mengajukan dirimu untuk menjadi bendahara kelas,” ujarnya sembari tersenyum. Jonathan terdiam sejenak, ia merasa tidak yakin kepada dirinya sendiri karena ia pernah menjadi bendahara dan alhasil uang yang ia pegang tidak ia jaga dengan baik,
“Aku tidak yakin jika aku bisa melakukannya,” ujar Jonathan dengan pesimis dan kepala yang tertunduk,
Marie teringat dengan cerita yang ia dapatkan dari Nirmala. Tidak mengherankan jika Jonathan merasa tidak percaya diri karena ia pernah melakukan kesalahan di masa lalu. Gadis itu tergerak untuk menyemangati Jonathan, dengan segala keberanian yang ia kumpulkan, ia pun berkata,
“Setiap orang pasti pernah berbuat salah, baik itu aku maupun kamu, hanya saja setiap orang memiliki kesalahan yang berbeda-beda. Merasa bersalah adalah hal yang lumrah terjadi ketika kita sudah menyadari kesalahan kita namun yang tidak boleh kita lakukan adalah hidup di dalam kesalahan dan masa lalu kita. Kalau kita sudah melakukan kesalahan, asalkan ada niat untuk mengubah diri sendiri, maka kita juga berhak untuk mendapatkan kesempatan lainnya,” ujarnya yang membuat Jonathan sedikit terkejut. Tidak hanya Jonathan, Nirmala juga kagum dengan apa yang Marie katakan.
Marie sedikit kaget dan tidak menyangka, pria itu tersenyum manis kepadanya,”Aku rasa perkataanmu itu ada benarnya…” ujarnya dengan begitu menawan. Marie mengangguk kaku, berusaha untuk menyembunyikan kegugupannya karena pria itu sedang tersenyum kepadanya. Hal ini sangatlah jarang ia dapatkan karena selama ini Marie hanya menatapnya dari kejauhan,
“Makasih ya...” lanjutnya lagi dengan tulus. Marie mengangguk pelan dan ikut tersenyum, ia senang jika Jonathan bisa menerima perkataannya,
“Jadi, apa kamu mau jadi bendahara kelas?” tanya Nirmala kepada Jonathan yang melirik Marie sejenak. Marie masih sedikit menundukkan kepalanya karena ia benar-benar tidak berani untuk menatap pria itu. Dengan senyuman ramah, pria itu akhirnya mengangguk,
“Iya, aku mau,”