Hari-hari Jonathan berjalan begitu hampa, selama liburan ia tidak pulang ke rumahnya karena ia terlalu malas untuk menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya. Saat ini ia tinggal sendiri di apartement yang letaknya dekat dengan sekolahnya. Ia lelah, sangat lelah melihat perkelahian dan keegoisan kedua orang tuanya. Ia berpikir, tidak ada yang menyayangi dirinya termasuk kedua orang tuanya. Menurutnya, jika kedua orang tuanya menyayanginya, seharusnya mereka melepaskan ego mereka demi kehadiran dirinya yang hanya sebagai alasan untuk mereka tidak kunjung berpisah.
Jonathan sendiri hanya mengurung diri di kamarnya dan membiarkan dirinya tenggelam dalam pikirannya yang begitu bertumpuk. Ia ingin sekali segera legal sehingga ia bisa mendapatkan beasiswa untuk bersekolah di luar negeri agar ia bisa menjauh dari kedua orang tuanya. Walaupun sang ayah adalah seorang CEO sebuah perusahaan yang ternama, namun ia tidak berminat untuk melanjutkan usaha sang ayah.
Yang ia ingin lakukan adalah memulai hidup yang baru tanpa adanya orang tuanya. Ia terlalu muak dengan sang ayah yang selalu menuntutnya untuk sempurna supaya ia bisa melanjutkan perusahaan yang sudah dibangun oleh buyutnya. Sementara sang ibu, ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya di perusahaan kakaknya dan dia tidak memiliki banyak waktu untuk sekedar menyalurkan kasih sayangnya kepada Jonathan.
Jonathan tumbuh menjadi pribadi yang tertutup walaupun dia sendiri berusaha untuk sebisa mungkin untuk terus tersenyum di luar sana. Ia tidak pernah menceritakan masalahnya kepada siapapun karena dia belum menemukan orang yang tepat untuk dapat menampung kesedihan dan kegundahannya. Walaupun ia terlihat memiliki banyak teman dan banyak gadis yang menyatakan perasaan mereka kepadanya, hal itu tidak membuatnya sama sekali bahagia, ia masih merasa hampa dan tidak berguna.
Selama ini ia bersikap ramah kepada orang lain semata-mata karena ia tidak ingin orang bisa melihat kelemahannya. Ia tidak ingin terlihat rapuh di hadapan siapapun. Pria itu mengangkat kepalanya, ia selalu saja merasa sendirian dan tidak ada yang bisa mengerti dirinya.
Jonathan mengesap rokok yang baru saja dia beli tadi. Ia tidak bisa tidur, sebagai gantinya, ia akan merokok di balkon apartemennya dan berdiri di luar supaya ia bisa merasakan segarnya udara di luar sana. Ia menghela napasnya, ia berpikir, sampai kapan ia akan terus begini kepada orang tuanya? Apakah hal ini akan berlanjut untuk seterusnya atau bahkan selamanya?
Pria yang memiliki tinggi 181 cm itu menghabiskan rokoknya dan mematikannya sebelum dia masuk ke dalam ruangannya dan kembali mencoba untuk tidur. Ia mulai berbaring dan memutar tubuhnya untuk menghadap ke jam weker yang sekarang ini menunjukkan pukul 2 pagi. Ia ingin weker itu untuk membangunkannya di jam 6 pagi. Sekarang tersisa sekitaran 4 jam lagi untuknya tidur. Ia memejamkan matanya dan mulai mengatur napasnya sebelum akhirnya mimpi menjemputnya.
Sepanjang Jonathan menutup matanya, ia tidak sadar jika waktu terus berjalan hingga ia terbangun ketika alarm kamarnya berbunyi.
Jonathan mendengar alarmnya berbunyi dan dia mematikannya. Ia mengerang kecil dan dengan mata yang sayu, ia kembali tidur karena ia masih merasa begitu mengantuk. Ia berpikir, tidak ada salahnya untuk tidur sebentar lagi. Namun tidak terasa, dia tertidur hingga satu jam, dan ketika ia terbangun, ia mendapati jam sudah pukul 7 pagi. Dengan buru-buru, dia langsung bersiap-siap untuk ke sekolah,
“Sial!” ujarnya yang buru-buru mencuci muka dan menyikat giginya. Setelah selesai, pria yang bertubuh atletis itu pun buru-buru memakai pakaiannya sebelum dia keluar dari apartemennya. Dengan cepat, ia berjalan ke lift yang akan membawanya ke basement. Ia berlari ke mobilnya sesekali ia melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.
Jonathan merasa tidak segar meskipun ia sudah mencuri satu jam waktu tidurnya, tetap saja ia merasa sedikit pusing dan lemas, namun ia berusaha mengabaikan perasaan itu dan fokus terus untuk menyetir.
Ia tidak perduli jika banyak klakson dari para mobil yang protes karena keugal-ugalan pria itu dalam menyetir. Ia terus menyetir dan banyak menyablib kendaraan yang ada di depannya sampai pada akhirnya ia sampai ke sekolahnya. Sebelum dia masuk ke kelasnya, ia melihat papan pengumuman untuk melihat di kelas makna ia akan berada.
“IPA 11A,” ujarnya yang kemudian berjalan ke kelas tersebut. Pria itu mengigit bibirnya ketika ia sudah melihat seorang guru sudah masuk ke dalam kelas tersebut. Dengan napas yang panjang, ia mulai membuka pintu dan matanya bertemu dengan sang guru yang sedang berbicara di kelas. Kelas berasa hening begitu ia masuk ke dalamnya.
“Permisi… maaf pak… saya telat…” ujar Jonathan sembari menunduk. Ia tidak sanggup melihat tatapan orang lain yang sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dideskripsikan. Pak Tito menghela napasnya, ia kemudian mengarahkan Jonathan untuk mengambil kursi untuk meletakkan tasnya sebelum dia disuruh untuk berdiri di depan kelas.
“Letakkan tas mu di belakang sana dan kembali ke sini…” ujarnya yang diangguki oleh Jonathan. Jonathan berjalan menuju tempat duduk kosong yang letaknya di belakang sana dan dia pun kembali berdiri seperti apa yang Tito minta.
“Angkat tanganmu dan berdiri di situ, jangan turunkan tanganmu selama pelajaran berlangsung,” ujarnya yang diangguki oleh Jonathan. Pria itu mulai mengangkat tangannya, awalnya ia merasa oke-oke saja sampai ia merasa pegal sendiri. Ia menahan kepegalannya dan ia mulai menurunkan tangannya ketika sang guru berbalik daripadanya. Ketika Tito kembali berbalik, ia kembali mengangkat tangannya.
Begitu lah seterusnya.
Sampai pada akhirnya pelajaran usai dan akhirnya ia terbebas dari hukuman itu. Tidak ada pelajaran apapun yang ia serap karena ia terlalu fokus dengan rasa sakit yang ia alami. Ketika pak Tito keluar dari ruangan, ia melepaskan tangannya dan mulai melangkah ke tempat duduknya untuk bermain ponsel sejenak. Ia tidak menyadari jika ada seseorang yang tengah memperhatikan dirinya dari kejauhan,
Setelah bermain ponsel sebentar, pria itu pun akhirnya bangkit dari tempat duduknya dan dia pun berjalan ke kantin untuk sekedar mengganjal perutnya. Ia tidak selera untuk makan makanan yang berat sehingga ia memutuskan untuk membeli roti dan s**u saja.
Ia berjalan melewati tempat duduk Marie dan teman-temannya, namun hanya Nirmala yang menyadari jika pria itu sedang lewat di hadapan mereka. Pria itu terus berjalan hingga ia sampai di depan kelasnya dan dia memakan roti dan meminum susunya di depan kelas.
Sembari mengunyah, ia memikirkan masa depannya. Ia tidak ingin bergantung kepada orang tuanya, ia ingin mandiri dan mempunyai penghasilan dari jerih lelahnya sendiri. Ia juga berkeinginan untuk kuliah ke luar negeri, yakni Singapore. Namun, ia merasa ragu dengan kemampuannya karena selama ini nilai akademisnya tidaklah baik.
Pria itu menghela napasnya dan bersender di kursi besi tersebut. Ia memakan rotinya hingga habis, begitu juga dengan s**u yang ia minum. Ia membuang bekas makanannya itu ke tong sampah kecil yang letaknya di samping pintu kelas. Setelah membuang bekas makanannya, ia kembali duduk. Ia berpikir, bagaimana caranya untuk dia bisa meraih prestasi yang baik di bidang akademik?
Selama ini ia unggul di bidang non akademik seperti basket hanya saja nilainya pas-pasan. Jonathan berpikir, apakah ia harus menyewa guru privat untuk mengajarinya? Ia sangat ingin masuk ke Nanyang University yang berletakkan di Singapore. Pria itu menghela napasnya, sepertinya mimpi seperti itu hanyalah sebuah mimpi yang tidak akan terealisasikan untuknya.
Tidak berapa lama, dua gadis mendatanginya. Satunya memang gadis cantik berkulit pucat dengan rambut yang sedikit kecoklatan dan satunya lagi gadis culun yang rambutnya tidak terlalu panjang dan berkacamata.
“Apa ada yang bisa aku bantu?” Jonathan bertanya dengan begitu ramah begitu ia melihat Marie dan Nirmala tampak ingin bicara padanya. Lagi dan lagi ia memberikan senyuman terbaiknya kepada orang lain. Ia lelah terus tersenyum tapi tampaknya ia tidak punya pilihan lain,
“Jadi begini, saat ini kami sedang diskusi mengenai siapa yang akan diangkat menjadi sekretaris dan bendahara kelas. J-jadi, setelah kami bahas lebih lanjut, kami berpikir untuk menunjukmu menjadi bendahara kelas,” Perhatian Jonathan beralih kepada Marie ketika ia mengatakan niat dan maksud kedatangan mereka ke Jonathan. Pandangan pria itu kembali teralih kepada Nirmala yang tersenyum ramah kepada Jonathan dan melanjutkan kembali perkataan Marie,
“Dia benar… saya, tidak! Kami bahkan berpikir kalau kamu adalah orang yang tepat. Tentu saja kami harus meminta persetujuan darimu sebelum kami mengajukanmu untuk menjadi bendahara kelas,” ujar Nirmala sembari tersenyum. Jonathan terdiam sejenak, seketika ia teringat pada dirinya ketika ia menjadi bendahara kelas ketika kelas sepuluh dulu. Ia sempat menghilang uang kebendaharaan sekolah, hal itu membuatnya merasa tidak becus menjadi bendahara yang baik,
Jonathan menggelengkan kepalanya,“Aku rasa aku tidak yakin jika aku bisa melakukannya,” ujar Jonathan dengan jujur. Ia masih tertunduk sampai Marie tergerak untuk mengatakan sesuatu yang mengubah cara pandang Jonathan terhadap kesalahannya.
Marie mulai membuka mulutnya, ia menasehati Jonathan untuk tetap maju walaupun masa lalu terus menghantuinya. Untuk pertama kalinya gadis itu menunjukkan keberaniannya di depan pria yang ia sukai. Menurutnya, setiap orang pantas untuk mendapatkan kesempatan kedua jika kita berniat untuk mengubah diri sendiri.
Tidak diduga-duga, hal itu benar-benar menghantam Jonathan. Pria tampan itu mulai menatap Marie yang masih menatapnya dengan begitu serius.
“Gadis ini... dia sangat berani,” batinnya yang seketika itu kagum dengan Marie.
Tidak hanya Jonathan, Nirmala yang mendengarnya pun merasa takjub dengan pemilihan kata dan perkataan Marie yang terdengar begitu berani. Ia tersenyum sembari menatap Jonathan yang terpikat dengan perkataan gadis itu.
Perkataan Marie ada benarnya dan perkataan itu membuat Jonathan menunduk sejenak. Entah mengapa di dalam dirinya terdapat semangat yang mulai berkobar dengan begitu hebat. Ia mengangkat kepalanya dan tersenyum kepada Marie,
Pria itu mengangguk,”Iya, aku rasa kamu ada benarnya…” ujarnya dengan senyumnya yang begitu tulus.
“Terima kasih ya…” lanjut Jonathan lagi. Jonathan tidak menyangka perkataan Marie sungguh membuatnya tergerak. Ia kembali merasa hidup lagi mendengar perkataan gadis itu dan seketika itu juga ia menyadari pesona Marie yang tidak dilihat dari tampangnya, melainkan sikapnya yang begitu manis dan berani,
“Jadi… apa kali ini kamu masih mau jadi bendahara kelas?” tanya Nirmala pada Jonathan yang sedang melirik Marie sejenak. Dengan senyumnya dan dengan penuh keyakinan, dia pun mengangguk,
“Iya…”