Pelajaran sudah usai dan sekarang waktunya untuk pulang. Marie sedang merapikan buku-bukunya dan terlihatnya buku diarinya yang sedari tadi tidak ia sentuh. Ia melihatnya sekilas sebelum dia memasukkan beberapa buku lainnya ke dalam tasnya.
Sepertinya tidak ada gunanya ia membawa buku tersebut karena ia tidak bisa membukanya terang-terangan di hadapan teman-temannya.
Marie pun dihampiri oleh Nicky dan Charlie yang berpamitan untuk pulang lebih awal karena mereka berkata mereka memiliki urusan. Marie pun mengiyakan tanpa merasa curiga dengan apa yang sebenarnya keduanya sedang rencanakan.
Gadis berambut hitam lurus itu mengambil tasnya dan membawa ranselnya di pundaknya. Tidak ia sangka, Jonathan mendekat kepadanya dan menyapanya dengan cara menepuk bahu gadis itu. Marie yang tidak tahu kalau itu adalah Jonathan pun berbalik dan menemukan Jonathan yang sedang tersenyum kepadanya,
“K-kenapa dia tiba-tiba ada di sini?" batin gadis itu yang sedang berusaha untuk menutupi kegugupannya yang benar-benar mendominasi dirinya. Lihatlah, ia sampai bergemetar seperti itu.
“Ya? Ada apa?” tanya Marie yang sedang gugup,
“Tidak ada… setelah ini kamu ada acara tidak?”
Marie berpikir lagi, ia baru saja sadar jika diingat-ingat lagi, Nicky dan Charlie sengaja cepat pulang karena mereka ingin membuat surprise untuk dirinya. Gadis itu mengangkat kepalanya dan mengangguk kepada Jonathan,”Iya… setelah ini aku ada urusan sih…” ujarnya yang sedikit penasaran mengapa Jonathan bertanya mengenai hal tersebut kepada dirinya,
“Oh begitu ya…” ujarnya sembari melihat seisi kelas yang mulai kosong. Pria itu mengembalikan pandangannya kepada Marie dan ia memegang tangan Marie, meminta gadis itu untuk ikut bersama dengannya. Marie sempat membelalakkan matanya ketika tangannya itu dipegang,
“A-ada apa?” tanya Marie yang tidak paham jika pria itu sedang ingin mengajaknya untuk keluar dari kelas,
“Ada yang ingin aku bicarakan, kita bicarakan di luar kelas aja yuk,” ujarnya sembari membawa tangan Marie bersama dengannya. Marie menatap tangannya itu dan dia menelan ludahnya, mimpi apa dia bisa mengenggam tangan Jonathan yang terasa begitu besar dari miliknya,
“T-tapi nanti kalau ada orang yang lihat…” cicit gadis itu yang tidak didengar dengan jelas oleh Jonathan,
“Nanti apa?” tanya Jonathan dengan bingung karena dia mendengar perkataan Marie yang samar-samar,
“Tidak ada…” balas Marie yang begitu gugup. Untungnya suasana sekolah sudah sepi dan tidak banyak yang melihat keduanya sedang bertautan tangan. Jonathan membawa Marie ke belakang sekolah dan setelah mereka sampai, pria itu mulai melepaskan pegangan tangannya. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan gesture tubuhnya jelas menunjukkan jika ia sedang gugup.
Marie yang begitu lugu pun kembali mempertanyakan mengapa ia dibawa ke belakang sekolah oleh Jonathan,”Ada apa? Apa ada sesuatu yang begitu penting?” Marie tidak sadar jika pria itu sedang gugup, karena itulah melihat Jonathan yang mengalihkan pandangannya, ia berpikir jika pria itu tidak menyukai kebersamaannya dengan Marie,
“Apa dia tidak nyaman denganku?” tanya gadis itu di dalam benaknya, gadis itu terlihat sedih sendiri karena pria itu.
“Hmm… anu, sebenarnya aku ingin meminta tolong kepadamu,” ujarnya yang membuat Marie kembali menatapnya dengan rasa penasaran,
“Minta tolong?”
“Jadi dia bukannya tidak nyaman denganku?”
“I-iya… sebenarnya aku ingin meminta tolong untuk mengajariku setiap kali pulang sekolah… Itu sih kalau kamu tidak keberatan…” ujarnya sembari membuang mukanya dari Marie. Marie mengerjapkan matanya, seingatnya Jonathan tidak pernah meminta hal-hal seperti ini kepadanya dan juga beberapa hal terjadi tidak selalu sesuai dengan apa yang terjadi dikehidupan pertamanya.
“Apakah ini pertanda jika keberhasilan untuk mencegah kematian Jonathan semakin meningkat? Jika saja aku bisa dekat dengannya, aku bisa mengawasinya dan mencegah insiden itu,” batinnya dengan sangat serius. Sementara itu, Jonathan masih menunggu jawaban dari Marie.
Marie kembali menatap Jonathan dan tersenyum,”Oke, kalau begitu aku akan membantumu,” ujarnya sembari mengangguk. Jonathan begitu senang mendengarnya ia bahkan tidak sadar jika dia tengah memeluk Marie yang sudah menegang tubuhnya. Pria itu melepas pelukannya dan dengan mata yang begitu berbinar-binar dia bertanya kembali kepada Marie apakah Marie serius berkata hal itu?
“A-aku serius... H-hanya saja...”
“Hanya saja?”
“Hanya saja jangan memelukku begitu,” ujarnya dengan wajah yang merona. Jonathan salah tangkap dengan apa yang gadis itu katakan. Ia berpikir jika gadis itu tidak nyaman jika dirinya terlalu melekat kepada Marie. Ia perlahan sadar, Marie tampak begitu berbeda dari gadis lainnya yang biasanya malah senang jika mereka dipeluk oleh Jonathan.
“A-ah, maaf... aku hanya refleks,” ujarnya sembari menjauhkan dirinya dari Marie. Marie mengangguk paham dan tersenyum tipis kepadanya,
“Bagaimana kalau kita tukeran nomor? Jadi komunikasi kita bisa berjalan dengan baik,” usul Marie yang langsung disetujui oleh Jonathan. Marie dan Jonathan saling bertukar nomor dan tidak ada yang tahu bagaimana senangnya Marie karena ia sudah merasa selangkah lebih maju dari sebelumnya. Kini ia sudah memiliki nomor Jonathan dan kebersamaan keduanya juga memiliki alasan yang kuat,
Namun kesenangan gadis itu sedikit sirna ketika ia mengingat kembali jika nanti di beberapa bulan kedepan pria itu akan bertemu dengan Gianna. Lagi dan lagi gadis itu berusaha untuk memeringati dirinya untuk tidak terlalu berharap kepada perasaan Jonathan, yang terpenting adalah ia harus bisa mencegah kematian Jonathan kali ini,
“Iya... tujuanku bukanlah untuk berpacaran atau menjalin hubungan dengan Jonathan. Tujuanku adalah mencegah insiden itu di kehidupan ini!”
“Marie... nama kamu Marie, kan?” tanya Jonathan, memecahkan lamunan gadis itu untuk sekejab,
“E-eh i-iya...” jawabnya sembari menganggukkan kepalanya.
“Huh... sepertinya dia tidak mengingat pertemuan kami di kelas sepuluh dulu,” batin Marie yang sedikit sedih. Tidak mengherankan jika pria itu melupakannya karena Marie merasa dirinya tidaklah menarik dan iconic untuk diingat,
“Aku masih ingat ketika kita tersesat dulu, benar-benar seperti orang bodoh ya akunya,” ujarnya sembari tertawa. Rona memerah pun tercetak jelas di wajah Marie, tidak ia sangka jika Jonathan masih mengingat dirinya. Gadis itu tersenyum dan berkatam”Aku kira kamu sudah lupa dengan aku,” ujarnya yang mendapatkan gelengan kepala dari Jonathan,
“Mana mungkin aku bisa lupa, saat itu aku menjadi orang yang terbodoh,” ujarnya sembari tertawa lagi. Marie sangat senang melihat pria itu yang begitu murah senyum dan walaupun dia tertawa, ia pun tetap tampan.
“Begitu ya... aku juga merasa seperti orang t***l saat itu,” ujarnya sembari tersenyum. Jonathan menatap arlojinya dan tidak terasa sudah lima belas menit berlalu bersama dengan Marie. Mengingat gadis itu berkata ia sedang ada urusan, Jonathan pun berkata,”Oh iya... katanya kamu ada urusan? Kamu bisa pergi sekarang kok, kita mulai belajar barengnya minggu depan saja,” tutur Jonathan yang bingung melihat gadis itu menggelengkan kepalanya,
“Tidak, sepertinya kalau aku terlambat pulang akan lebih bagus,” ujarnya yang membuat Jonathan bingung,
“Maksudnya? Bukannya semakin cepat kamu pulang, urusanmu semakin cepat selesai?” tanyanya dengan lugu. Gadis itu tersenyum kecil,”Sebenarnya hari ini adalah hari ulang tahunku dan aku tahu jika teman-temanku sedang menyiapkan surprise di rumah, jadi aku rasa supaya persiapannya matang, aku akan sengaja pulang agak terlambat,” tuturnya yang membuat Jonathan mengedipkan kedua matanya,
“Kamu ulang tahun hari ini?” tanyanya yang diangguki oleh Marie,
“Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?!”
“Hmm? Memangnya kenapa?” tanya gadis itu dengan bingung. Pria itu tersenyum simpul melihat keluguan gadis itu yang menggemaskan baginya,“Aku rasa aku tidak terlambat mengucapkan ini. Selamat ulang tahun ya...” ujarnya sembari mengambil tangan gadis itu dan mengecupnya. Marie hanya bisa mematung melihat perlakuan pria itu kepadanya. Ia tidak menyangka jika Jonathan akan melakukan ini kepadanya dan ia masih merasa sedikit asing dengan perilaku seperti ini,
“A-ah... iya, terima kasih...” ujarnya dengan gugup. Gadis itu tidak bisa menahan debaran jantungnya, sehingga ia berpamitan dari hadapan Jonathan dan segera pergi menjauh dari Jonathan. Di belakang gadis itu, ada Jonathan yang tersenyum begitu manis ketika ia mengingat kembali wajah merona gadis itu ketika ia mengecup tangannya.
Entah mengapa ia sangat senang untuk menggoda gadis itu.