Marie berjalan menuju mobilnya. Ia masih merasa merona sekali hingga saat ini, tidak ia sangka di hari ulang tahunnya ada beberapa hal yang terjadi yang membuatnya tersenyum. Senyum manisnya tidak kunjung pudar seiring berjalannya ia berjalan ke mobilnya. Sekarang dia sudah memiliki nomor Jonathan, ia akan berpikir lagi kedepannya bagaimana dia akan menghubungi Jonathan dengan nomor yang ia miliki.
Gadis itu berhenti sejenak ketika ia hendak masuk ke dalam mobil. Ia berpikir, apa dia menunggu sebentar lagi saja supaya surprise untuk dirinya berjalan dengan baik? Ia juga harus berakting untuk pura-pura kaget sebagai bentuk penghargaan atas usaha mereka.
Marie masuk ke dalam mobilnya dan mengambil napas. Tidak lama setelah itu ia menutup pintu mobil dan ponselnya bergetar pertanda ada sebuah pesan yang masuk. Marie membuka ponselnya dan ternyata pesan tersebut dari Jonathan,
Jonathan: Apa kamu sudah pulang?
Marie langsung membalas pesan tersebut,
Marie: Ini sebentar lagi aku mau on the way,
Jonathan: Masih di sekolah kan?
Marie mengerutkan dahinya, apa terjadi sesuatu pada Jonathan?
Marie: Masih... apa terjadi sesuatu?
Gadis itu menunggu pesan dari Jonathan. Ia belum menghidupkan mesin mobilnya dan tidak lama sebuah panggilan masuk ke ponselnya. Ia hampir saja menjatuhkan ponselnya karena ia terkejut dengan panggilan ini. Ketika ia melihat siapa yang memanggilnya, ia pun buru-buru mengangkatnya,
“Ya, ada apa?” tanya Marie to the point,
“Maaf, bisakah kau membantuku? Aku kehilangan kunci mobilku, aku punya kunci cadangan tapi itu di rumah,” ujar Jonathan yang terdengar gelisah. Tanpa berpikir panjang, Marie pun menanyakan posisi Jonathan supaya ia bisa menjemputnya. Mendengar jika pria itu letaknya tidak jauh dari mobilnya, ia pun menghidupkan mesin mobilnya dan segera keluar dari parkiran dan bergerak menuju pria itu.
Ia melihat Jonathan yang sudah menunggunya di halaman sekolah dan Marie pun segera berhenti di depan Jonathan. Ia membuka kaca mobilnya dan menyuruh Jonathan untuk masuk ke dalam mobilnya.
“Masuk lah, aku akan mengantarmu ke rumahmu, setelah itu akan ku antar kamu balik ke sekolah,” ujarnya yang diangguki oleh Jonathan. Jonathan langsung masuk ke dalam mobil dan dia mulai memakai seatbeltnya. Sebenarnya Marie sangatlah gugup, namun ia sendiri berusaha untuk tidak berpikir macam-macam, ia melakukan ini karena Jonathan butuh pertolongan.
Marie memang sangat pandai dalam menyembunyikan perasaannya.
“Terima kasih ya sudah mau direpotkan aku,” ujarnya sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Marie tersenyum kecil dan melirik pria itu sejenak,”Tidak masalah...” ujarnya dengan teduh dan pria itu pun mengangguk dengan senyum manisnya.
“Rumah kamu di mana memangnya?”
“Ah... tidak terlalu jauh dari sekolah kok...”
“Maaf, bukannya aku tidak mau membantu, tapi aku hanya penasaran...” ujar Marie yang saat ini mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya suatu hal kepada Jonathan,
“Tidak apa, santai saja... apa yang ingin kamu tanyakan?”
“Umm... anu, kenapa kamu tidak hubungi orang rumah kamu? Misalnya orang tua mu atau siapa gitu...” tanyanya yang sebenarnya tidak terlalu disukai oleh Jonathan. Pria bermata tajam itu kemudian tersenyum sembari menundukkan kepalanya sejenak. Marie bukannya tidak melihat apa yang menjadi reaksi pria itu, bahkan ia merasa bersalah sendiri karena tampaknya ia menanyakan sesuatu yang tidak ingin Jonathan bahas,
“Tidak perlu di jawab kok hehehe, maaf bertanya sesuatu yang-“
“Tidak masalah...” ujarnya sembari menoleh kepada Marie,”Kamu juga sudah membantuku, jadi tidak ada salahnya aku menjawabnya,” lanjutnya lagi kepada Marie sembari dia menoleh kepada Marie dan ia kembali melanjutkan perkataannya,
“Sebenarnya aku tinggal sendiri, orang tuaku tidak tinggal bersama denganku,” ujarnya dengan pelan. Marie yang tidak ingin melanjutkan pertanyaannya pun mengangguk paham,”Begitu... aku mengerti,” ujarnya sembari menyetir. Sepanjang jalan, Jonathan mengarahkan Marie untuk mengendarai mobilnya ke apartemennya. Pada akhirnya, mereka pun sampai ke gedung yang menjulang tinggi ke langit,
“Aku akan tinggal di sini,” ujar Marie yang dimengerti oleh Jonathan yang dengan cepat membuka seatbelt nya dan masuk ke dalam apartemen. Marie masih menunggu hingga sebuah pesan masuk ke ponselnya. Ketika ia membuka ponselnya dan melihat siapa yang mengirimnya pesan, dengan cepat dia pun membalas,
Nicky: Hey, kamu dimana?
Marie berpikir sejenak, apa ia harus menjelaskan jika saat ini ia tengah bersama dengan Jonathan? Ia tidak tahu bagaimana ia harus memulai topik ini sehingga dengan ringkas saja dia menjawab,
Marie: Sebentar lagi aku akan pulang
Tidak lama kemudian, Jonathan pun masuk kembali ke dalam mobil gadis itu. Dengan cepat, gadis itu mulai tancap gas karena ia tahu orang rumahnya beserta dengan Nicky dan Charlie sedang menunggunya di rumah,
“Maaf ya... jadi ngerepotin...” tutur Jonathan dengan pelan.
“Tidak masalah kok, toh juga rumahmu gak jauh dan juga berhentilah meminta maaf, aku sendiri yang mau membantumu. Kamu juga tidak memaksaku untuk menuruti permintaanmu, kan?”
Desiran hangat mengalir di tubuh Jonathan. Ia merasa begitu hangat setiap kali ia bersama dengan Marie. Ia terkekeh kecil sembari menatap Marie yang masih mengendarai mobilnya dengan serius. Jika dilihat lagi, gadis itu memiliki bentuk wajah yang begitu mungil dan menarik. Gadis itu terlihat cantik jika dilihat dari samping, sungguh side profile yang sempurna.
Sadar karena dirinya tengah memuji Marie di dalam hatinya, pria itu pun mengalihkan pandangannya. Ia mempertanyakan dirinya yang mana ia merasa dirinya sedikit berbeda dari biasanya.
“Kenapa dengan aku?” tanyanya di dalam batinnya.
Mereka pun akhirnya sampai ke sekolah dan pria itu meminta Marie untuk menurunkannya di halaman sekolah saja karena mobilnya terparkir tidak jauh dari sana. Marie pun mengangguk dan ia pun menurunkan pria itu di depan halaman sekolah. Sebelum pria itu pergi, ia menoleh kepada Marie dan tersenyum,”Terima kasih untuk semuanya,”
Gadis itu dilanda kegugupan. Ia hanya bisa mengangguk kaku padahal Jonathan sudah mengeluarkan senyumannya kepada gadis itu. Jonathan pun akhirnya keluar dari mobil gadis itu. Marie tidak bisa menahan kegugupannya sehingga ia menyenderkan kepalanya di setiran mobilnya sembari mengambil napas untuk beberapa kali. Wajahnya memerah, ia berpikir, apa Jonathan akan menganggapnya sebagai orang aneh karena kekakuan wajahnya tadi?
Marie menghela napas, ia bangkit dan mengangguk kepada dirinya sendiri,”Saatnya pulang, sudah ada yang menungguku,” ujarnya sebelum dia melesat pergi pulang ke rumahnya.
***
Marie pun akhirnya sampai di rumahnya. Ia menghela napas dan mencoba untuk berakting pura-pura terkejut dengan kejutan yang diberikan oleh Nicky dan Charlie. Akhirnya, setelah merasa aktingnya sudah natural, ia pun keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke rumahnya.
Ketika ia membuka pintu megah yang bercatkan putih itu, tidak ada yang terjadi di dalamnya. Di dalam ini tampaknya begitu sepi, membuatnya sedikit mengernyitkan dahinya. Apa tidak ada kejutan apapun dari Charlie maupun Nicky? Ia mencoba untuk kembali mengingat dan kalau tidak salah memang mereka memberikan kejutan begitu dirinya masuk ke dalam rumahnya.
Marie menghela napas, mungkin di kehidupan kedua ini tidak ada kejutan apapun dari kedua sahabatnya karena memang beberapa kejadian terjadi dan ada juga yang tidak terjadi. Gadis itu melangkah ke dapur dan ruang tamu, ia tidak menemukan siapapun. Ia masih berpikir positif, mungkin saja kedua orang tuanya belum pulang.
Gadis berkacamata itu masih berjalan hingga pada akhirnya ia sampai di depan pintu kamarnya. Dengan malas, ia membuka pintu dan disitu lah terdengar sesuatu yang meletup yang ia yakini adalah party popper yang berisikan confetti yang berhamburan mengenai dirinya.
Di sana terdapat Nicky, Charlie, beserta kedua orang tuanya yang sedang menyambut kedatangannya. Jujur saja, gadis itu sangat kaget karena ia pikir tidak ada perayaan seperti di kehidupan pertamanya karena seingatnya surprise ini dilakukan di balik pintu rumahnya,
Nicky memegang kue di tangannya dengan lilin yang berangka 16 yang ditancapkan di kue tersebut.
“Make a wish dulu,” ujar Charlie yang diangguki Marie. Marie menutup matanya dan setelahnya ia membukanya dan meniup lilin tersebut hingga apinya padam. Marie mengambil kue tersebut dari tangan Nicky kali ini ia memegangnya. Marie menatap kedua orang tuanya yang juga menghampirinya sekali lagi dan mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.
Mereka pun melakukan banyak foto-foto sebagai kenangan untuk mereka semua. Setelah selesai berfoto, Nicky pun bertanya kepada Marie,“Apa kau kaget?” tanya Nicky kepada Marie yang hanya bisa mengerjapkan matanya,
“I-iya...”
“Tuh kan, sudah dibilang, dia gak akan sadar jika aku bertanya kapan dia pulang,” ujar Nicky sembari berkacak pinggang kepada Charlie yang malas meladeni dirinya,
“Terserah...” ujarnya sembari membuang wajahnya. Melihat interaksi keduanya yang lucu, Adelia tersenyum gemas kepada keduanya,
“Kalian berdua kayaknya cocok deh kalau bersama,” goda Adelia kepada Nicky dan Charlie yang mengangakan mulutnya,
“Hah? Yang benar aja tante! Siapa juga yang mau sama lelaki menyebalkan seperti dia ini!” ujar Nicky dengan nyaring,
“Aku juga tidak ingin bersama dengan perempuan sepertimu,” ujarnya dengan raut muka yang terlihat jijik. Melihat wajah menyebalkan Charlie, gadis itu berkacak pinggang dan mengendus kesal,
“Seharusnya aku yang bilang begitu!”
Melihat keduanya yang akan bertengkar, Graham pun memisahkan keduanya dengan mengajak Nicky dan Charlie untuk makan bersama di dapur,
“Ya sudah, ayo makan... tante Adelia sudah siapkan makanan untuk rayain ulang tahun Marie... Nicky dan Charlie ikut ya...” ajak pria itu yang diangguki oleh keduanya.
“Pantesan aja di dapur ada makanan banyak,” batin Marie yang mengingat kembali ketika ia melihat begitu banyak makanan di meja dapur. Adelia masih tersenyum dan membawa ketiga anak itu untuk pergi bersama dengannya ke dapur untuk makan bersama.
Sementara Marie, ia tersenyum dengan apa yang terjadi di hari ini. Baginya, hari ini adalah hari yang sangat menyenangkan dan berharga untuknya. Ia mendapatkan banyak cinta dari orang tua angkatnya dan juga sahabat-sahabatnya yang selalu bersama dengannya. Selain itu juga, ia merasa hubungannya bersama dengan Jonathan mulai berkembang.
Ia sama sekali tidak menyesal dihidupkan kembali di masa lalu dan ia harap hal seperti ini terjadi setiap hari di hidupnya.