Marie baru saja masuk ke dalam kamarnya setelah makan malam yang diadakan untuk merayakan ulang tahunnya. Senyum bahagia tidak lepas dari bibirnya bahkan ketika ia melangkah ke ranjangnya. Ia membanting tubuhnya ke ranjang dan uring-uringan di ranjangnya sebagai tanda kepuasannya dengan apa yang terjadi hari ini.
Ia membuka matanya ketika ia menelentangkan tubuhnya di ranjang yang berukuran king itu. Ia sempat tenggelam di dalam kesenangannya namun tidak lama kemudian gadis itu teringat akan sesuatu. Marie pun bangkit dari ranjangnya dan berjalan ke meja belajarnya untuk mengambil diari yang terletak di tasnya.
Marie membuka tasnya dan di dapatkannya lah buku maroonnya yang terlihat antik itu. Ia penasaran, apakah di kehidupan kedua ini dia juga memiliki diari yang sama?
Ia meletakkan bukunya tersebut di atas meja dan kemudian ia mencoba untuk mencari diarinya di mana pun. Ia mencarinya di rak buku, di laci-laci meja belajarnya bahkan ia juga mencoba untuk melihat di bawah kasurnya. Setelah sekian lama mencari, ia tidak menemukan di mana pun buku diarinya, yang mana ini berarti buku diari yang ia sekarang ada di meja belajarnya adalah diari satu-satunya yang ia miliki.
Marie sangat penasaran, diantara semua barang, mengapa harus diarinya yang tertinggal dari masa depan?
Gadis berkacamata itu berjalan ke meja belajarnya dan mengambil tempat untuknya duduk. Ia membuka diarinya, pada saat dia membuka halaman pertama, sebuah cahaya muncul di tulisan tersebut dan tulisan itu seakan berpindah-pindah dan tersusun kembali. Marie sangat kaget melihat apa yang terjadi di diarinya.
Ia melihat tulisan yang ada di diari tersebut dan tulisan itu sangat mirip dengan tulisannya sendiri. Pada halaman pertama buku tersebut, tercatat tanggal hari ini, 13 Juli 2020. Ia mengernyit heran, seharusnya halaman pertama buku ini adalah tulisannya yang dari 2019. Marie menghela napasnya, ia sama sekali tidak percaya dengan hal yang berkaitan dengan supernatural, namun apa yang terjadi padanya adalah sesuatu yang tidak bisa dipercayai oleh siapapun di dunia ini.
Marie penasaran, apakah dirinya sendiri yang juga mengalami hal ini di dunia ini?
Gadis berkulit kuning langsat itu mulai membaca isi dari diari tersebut. Ia tertegun sejenak ketika isi dari diari tersebut adalah hal-hal yang terjadi hari ini, dimulai dari ulang tahunnya yang dirayakan keluarganya dan sahabatnya sampai pada interaksinya dengan Jonathan.
Ia kemudian beralih ke halaman selanjutnya yang ternyata tercatat di tanggal 15 Juli 2020.
“Tidak ada tanggal 14 Juli ya...” ujarnya sebelum dia membaca isi diarinya di tanggal 15 Juli 2020.
Hari ini Jonathan tidak masuk sekolah. Aku penasaran, apa ada sesuatu yang terjadi kepadanya? Aku ingin sekali bertanya tapi aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Apa dia sakit? Hah... seandainya saja kami dekat dan aku tahu rumahnya, aku pasti akan mendatanginya dan memberikannya obat.
Marie terdiam untuk sejenak, ini adalah isi diari yang ia tulis di kehidupan pertamanya. Jika diingat-ingat lagi, sekarang gadis itu tahu dimana Jonathan tinggal dan juga kalau tidak salah pria itu mengaku jika dia tinggal sendirian.
“Apa besok aku ke apartemennya aja ya?” tanya gadis itu kepada dirinya sendiri,
Tidak lama berpikir, Marie menggelengkan kepalanya. Kejadian itu belum tentu terjadi karena bisa saja itu berubah seperti beberapa hal yang terjadi di hari ini. Marie mengambil buku diarinya dan membawanya ke tempat tidurnya.
Dengan posisi berbaring, ia membaca buku diarinya hingga kantuk mulai menyerangnya dan mimpi pun menjemputnya.
***
Marie membuka matanya dengan nyawa yang belum sepenuhnya terkumpul. Entah mengapa ia tidak merasakan keempukan dari ranjangnya, ia tersadar ketika ia mulai membuka matanya sepenuhnya dan melihat jika dia sedang tidur di atas lantai putih yang begitu bersih. Ia heran, kemana perginya ranjangnya dan juga dimana dia sebenarnya?
Ia mulai bangkit dari tempatnya dan berdiri. Marie melihat sekitarnya yang mana ini terlihat seperti ruangan tertutup yang bercatkan putih di sekitarnya, seakan-akan saat ini dirinya sedang diisolasi.
“Kenapa aku ada di sini?” tanyanya dengan bingung.
Apa ini mimpi?
Perhatian gadis itu teralih ketika sebuah cahaya muncul di hadapannya. Terlihat seorang perempuan yang tidak asing baginya berdiri di beberapa meter di hadapannya dengan wajah yang begitu menyilaukan. Saking silaunya, ia tidak bisa melihat wajah perempuan itu.
Yang membuatnya tahu jika itu perempuan adalah dari rambut hitamnya yang panjang, sehingga ia beramsumsi jika itu adalah seorang perempuan. Gadis itu bergidik ngerti, ia baru saja bangun dari kematiannya, dan sekarang apa dia akan diseret ke alam baka karena sudah kembali hidup?
“S-siapa kamu!” tanyanya yang mengira jika sosok cahaya yang ada di hadapannya adalah malaikat pencabut nyawa. Walaupun sosok itu tidak seperti yang digambarkan sebagai sosok berjubah hitam dengan sebuah sabit bersamanya, namun tetap saja gadis itu takut jika itu benar-benar malaikat pencabut nyawa.
“A-aku masih mau hidup! Aku tidak ingin mati lagi!” teriak gadis itu yang berjalan mundur dan menjauh dari sosok yang berjalan ke arahnya.
“J-Jangan mendekat!” perintah gadis itu yang benar-benar membuat sosok itu berhenti berjalan ke arahnya.
“Mariela Kusuma...” panggil sosok itu yang membuat gadis itu mengernyitkan dahinya. Entah mengapa ia sangat familiar dengan suara ini, ia merasa ia pernah mendengarnya dari orang-orang yang terdekat darinya,
“S-siapa kamu?!”
Walaupun cahaya tersebut menutupi wajahnya, sosok itu tersenyum,”Aku adalah temanmu...”
“Teman? Aku tidak ingat memiliki teman sepertimu!” tuturnya yang semakin bingung dengan sosok tersebut. Sungguh! Ia mengenal suara ini namun sampai sekarang ia tidak menemukan siapapun diingatannya. Setelah sekian lama berpikir, akhirnya gadis itu menyerah, memang seharusnya alam yang ia alami adalah alam baka, bukan kembali hidup di masa lalu,
“Apa kau ingin mencabut nyawaku?” tanya gadis itu setelah dia berusaha menenangkan diri,
“Tidak... aku tidak berniat untuk mencabut nyawamu...” ujarnya yang membuat Marie mengernyitkan dahinya,
“Terus apa? Kalau bukan mencabut nyawa, jadi ngapain?” tanyanya dengan lugu. Sosok itu tertawa kecil, membuat Marie merasa dipermainkan,
“Hey kau! Apa kau mempermainkanku?!” tunjuknya dengan kesal. Sosok itu berhenti tertawa dan dia pun menengadahkan tangan kanannya di hadapannya dan tiba-tiba muncullah diari merah maroon milik Marie. Marie terkesiap melihatnya dan ia tergerak untuk menggapai buku merah itu namun buku itu terbakar dengan sendirinya,
“Tidak!” teriak gadis itu ketika buku itu sudah terlahap habis oleh api.
“Kau tidak membutuhkan ini...” ujarnya yang langsung ditentang oleh Marie,”Tidak butuh?! Aku membutuhkannya untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya!” ujarnya sembari memekik kesal. Sosok itu tersenyum teduh kepada gadis itu walaupun Marie telah memarahinya,
“Jangan khawatir, ini adalah diarimu yang ada di kehidupan keduamu... Diari kehidupan pertamamu masih ada bersamamu, jadi kau masih bisa membaca apa yang akan terjadi di masa yang akan datang walaupun diari itu tidak akan menjamin seratus persen kejadian yang ada di dalamnya terjadi,” jelasnya yang menenangkan hati Marie. Marie menghela napasnya dengan tangan yang ia letak di dadanya. Ia baru saja lega sampai pada akhirnya ia teringat akan sesuatu,
“Kamu... kamu siapa? Bagaimana kamu bisa mengetahui namaku? Dan juga, bagaimana kau tahu ini adalah kehidupanku yang kedua?” tanya gadis itu dengan penasaran.
“Bukankah aku sudah bilang? Aku ini temanmu... aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu lebih lanjut karena perlahan demi perlahan kamu juga nantinya akan tahu siapa aku,” tuturnya dengan teduh. Masih banyak hal yang ada di kepala Marie yang ingin sekali ia muntahkan, namun ada satu hal yang membuatnya kembali bertanya kepada sosok tersebut,
“Kalau begitu bisakah kau jelaskan, mengapa kehidupan keduaku ini tidak semuanya terjadi seperti yang ada di diari kehidupan pertamaku dan juga tidak terjadi seperti kehidupan pertamaku?”
Sosok itu mengangguk,”Aku bisa menjelaskannya... alasan mengapa apa yang terjadi tidak sepenuhnya sama dengan kehidupan pertama itu adalah karena keberadaan Jonathan yang sudah menentang kehidupan. Jonathan adalah orang yang sudah mati dan seharusnya ia tidak ada lagi di dunia ini. Namun karena ada beberapa alasan, pada akhirnya Jonathan kembali dihidupkan oleh Yang Maha Kuasa,” jelasnya,
“Karena ada beberapa alasan? Maksudnya apa?” tanya gadis itu yang masih belum mengerti,
“Aku tidak bisa menjawab itu,”
“Tuhan memberikan kesempatan hidup untuk Jonathan? Bagaimana itu bisa terjadi?”
“Itu karena Jonathan mati belum pada waktunya. Ia sendiri yang memutuskan untuk mati bunuh diri sebelum waktu kematian yang telah ditentukan. Hal ini merupakan pertimbangan Yang Maha Kuasa untuk menghidupkannya kembali.”
”Salah satu? Berarti ada lebih dari satu hal dong?”
Sosok itu mengangguk,”Aku tidak bisa memberitahumu semua hal karena belum waktunya untuk kamu ketahui semuanya...”
“Kalau begitu bagaimana denganku? Mengapa aku bisa juga ikut dibangkitkan? Apa aku juga mati sebelum waktu yang ditentukan?” tanya Marie dengan begitu banyak pertanyaan di dalam benaknya,
“Iya... kamu sengaja dimatikan atau dibunuh di kehidupan pertama agar kamu bisa kembali hidup di kehidupan kedua ini... hal ini dilakukan supaya kamu bisa mengingat apa yang terjadi di kehidupan sebelumnya... mereka yang tidak memiliki ingatan dunia ini adalah mereka yang masuk ke dunia ini tanpa kematian...”
Marie mengangguk paham sebelum namanya dipanggil,
“Marie...” panggil sosok itu yang membuat gadis itu mengalihkan pandangannya kepada sosok itu,
“Ya?”
“Dengan kesempatan yang sudah diberikan oleh Yang Maha Kuasa, gunakanlah kesempatan itu untuk mencegah kematian Jonathan. Kami percaya, kamu bisa melakukannya...”
Marie hampir menangis, ia mengangguk. Ia sangat bersyukur dengan apa yang ia alami dan dia tidak menyesali apapun sejauh ini,”Terima kasih... terima kasih...” ujarnya sembari menangis.
“Berterimakasihlah kepada Yang Maha Kuasa karena Beliau sudah memberikan kesempatan ini untukmu. Sisanya, kamu serahkan segalanya kepadamu...” Marie mengangguk paham, tekadnya semakin kuat, bagaimana pun caranya, ia harus menghentikan kematian Jonathan bagaimana pun caranya.
“Baik... aku akan melakukannya!” ujarnya dengan tekad yang kuat.
Sosok itu tersenyum,”Baiklah... kalau begitu, bangunlah,” ujarnya tepat setelahnya Marie terbangun di pagi hari. Gadis itu bangkit dari tempat tidurnya dan ia memegang kepalanya untuk mengingat kembali apa yang menjadi mimpinya.
Sungguh, sebuah mimpi yang sangat nyata.