Hari ini Jonathan benar-benar tidak masuk sekolah seperti apa yang terjadi di diarinya. Marie selalu menatap kursinya yang kosong tersebut, berpikir apa yang harus ia lakukan untuk membantu Jonathan? Sembari berpikir, dia teringat dengan apa yang menjadi isi diarinya. Itu merupakan ungkapan hatinya di masa itu ketika dia tidak mengetahui apapun mengenai Jonathan,
“Karena aku sekarang sudah tahu dimana ia tinggal, bagaimana jika aku datang ke apartemennya saja?” tanyanya di dalam hatinya. Ia menghela napas ketika ia ingat jika dia tidak tahu di apartemen berapa pria itu tinggal dan bukankah terlihat aneh jika tiba-tiba dia datang begitu saja ke apartemen tanpa pemberitahuan apapun?
Marie teringat lagi jika dia sudah memiliki nomor w******p Jonathan. Ia berpikir, apakah dia perlu memulainya dari sebuah pesan? Walaupun gadis itu sedang memikirkan Jonathan, namun ia juga masih bisa fokus kepada pelajaran yang sedang diajarkan, bahkan dia mencatat banyak hal karena ia berniat untuk memberikan catatannya kepada Jonathan keesokkan harinya.
Gadis itu masih terus mencatat walaupun pikirannya berpikir mengenai Jonathan.
Nicky yang berada di samping Marie pun menyikutnya karena ia melihat catatan Marie yang begitu rapi dan berwarna-warni. Walaupun ini tidak pertama kali ia melihat catatan Marie, namun karena sang guru menjelaskan materi dengan cepat, ia takjub dengan tulisan gadis itu yang sama sekali tidak acak-acakan,
“Hei! Hei!” bisiknya yang membuat gadis itu menoleh kepada Nicky,
“Pinjem catatanmu nanti ya…” pintanya yang diangguki saja oleh Marie,
“Tapi kembalikannya hari ini juga ya…” ujarnya, memperingati Nicky. Nicky pun mengangguk dan tersenyum puas, kini dia tidak perlu ngebut-ngebutan untuk menulis, ia tinggal melihat isi catatan Marie yang elok dipandang. Nicky melirik Charlie yang sedang mencatat pelajaran, dan secara tidak sengaja Charlie juga sedang melirik kepadanya. Nicky memeletkan lidahnya kepada Charlie sebelum Charlie memutarkan bola matanya dengan malas untuk meladeni Nicky,
“Nicky…” panggil sang guru berkemeja toska itu, membuat Nicky terkesiap di tempat,
“Y-ya bu?” sahutnya dengan takut-takut. Melihat Nicky yang ketahuan sedang tidak fokus, Charlie pun memeletkan lidahnya kepada Nicky sebagai balasan karena sudah mengejeknya tanpa alasan. Sang guru meminta gadis itu untuk menjelaskan kembali apa yang ia jelaskan, namun Nicky tidak bisa melakukannya. Alhasil, ia disuruh sang guru untuk beranjak dari tempat duduknya dan berdiri di sudut depan kelas sembari menaikkan kedua tangannya di udara, seperti saat Jonathan juga dihukum semalam,
Semua orang menertawakan Nicky, termasuk Charlie yang tampak puas dengan hukuman sang guru, namun berbeda dengan Marie yang malah teringat dengan Jonathan ketika dia dihukum kemarin.
“Aku rasa aku akan memulainya dengan sebuah pesan,”
Nicky sangat beruntung, berbeda dengan Jonathan yang harus mengangkat tangannya sampai pelajaran usai, karena tidak lama kemudian, bel pun berbunyi yang mana Nicky terbebas dari hukumannya dengan cepat. Nicky menghela napas lega, namun tidak lama ia merasa lega, sang guru pun mendatanginya dan memintanya untuk memberikan buku catatannya sepulang sekolah. Nicky hanya bisa mengangguk lemah dan dia pun kembali ke tempat duduknya.
Charlie mendatangi Nicky dengan senyuman puasnya karena gadis itu mendapatkan hukuman. Nicky yang kesal pun melipat tangannya dan mencebik Charlie yang tersenyum kepadanya,
“Aku kurang puas dengan hukumanmu, terlalu singkat,” ujarnya yang membuat Nicky menatapnya dengan kesal,
“Segitu senangnya kah kau kalau temanmu ini susah? Teman macam apa kau ini?”
Charlie mengangkat alisnya,”Sejak kapan aku menganggapmu sebagai temanku?” ujarnya yang membuat Nicky kesal seketika itu juga. Charlie melirik sejenak Marie yang ingin menengahi pertengkaran mereka sebelum dia kembali berkata,”Bagiku, temanku hanyalah Marie,” ujarnya dengan begitu bangga,
“Marie adalah milikku!” seru Nicky seakan ia tengah mengajak pria itu untuk berperang mendapatkan Marie,
“Sejak kapan dia milikmu? Dia sudah bersama denganku jauh lebih lama daripada dia bersama denganmu,” balas Charlie yang tidak ingin kalah dari Nicky. Nicky yang mendengar itu pun tidak terima, ia merasa jika dirinya adalah orang yang lebih mengerti Marie melebihi siapapun.
“Tapi aku dan Marie adalah perempuan,” tantang Nicky yang sama sekali tidak diterima oleh Charlie,
“Memangnya kenapa kalau kalian perempuan?”
“Jelas saja sesama perempuan itu feelingnya lebih dapat dan ngena!” balas Nicky yang tidak main-main dengan perkataannya. Marie melihat keduanya dan hanya bisa menghela napas karena keduanya sangat susah untuk dipisahkan kalau keduanya sedang bertengkar seperti ini. Ya… setidaknya Marie mau berusaha untuk menghentikan pertengkaran mereka karena ia tidak kuat melihat suara mereka yang memekakkan telinganya.
“Kalian berdua… sudahlah…” ujar Marie dengan malas, Sudah beberapa tahun mereka bertiga bersama namun hingga saat ini Marie bingung bagaimana harus memisahkan keduanya kalau mereka sudah berantem.
“Tidak, ini tidak bisa dibiarkan, sebagai temanmu, aku harus memenangkan argumen ini,”
“Memangnya ini kontes debat bahasa Indonesia apa?” batin Marie dengan malas. Mata cokelat gadis itu beralih kepada Charlie yang tampaknya tidak jauh berbeda dengan Nicky yang tidak ingin kalah.
“Sekarang coba kita tanya, aku atau kau yang akan dipilih oleh Marie,” ucap Nicky yang disetujui oleh Charlie. Keduanya menatap Marie seakan mereka ingin Marie segera memilih satu diantara mereka berdua yang menurut Marie adalah teman terdekatnya.
“Pilih, Marie… aku atau Nicky?” tanya Charlie kepada Marie yang kebingungan. Di tengah kebingungannya, Marie tidak sengaja menatap Nirmala yang baru saja hendak lewat dari mereka bertiga. Dengan sigap, dia menarik Nirmala kepadanya dan berkata,”Aku pilih dia,” ujarnya yang membuat Nirmala bingung.
“Yuk ke kantin…” ajak Marie kepada Nirmala yang kebingungan. Marie membawa Nirmala bersamanya ke kantin kemudian disusul oleh Charlie dan Nicky yang masih ngebet untuk meminta Marie memilih satu diantara mereka berdua. Marie berhenti melangkah dan dia menoleh kepada keduanya yang masih menunggu jawaban darinya,
“Sudah kubilang aku memilih Nirmala,” ujarnya dengan sengaja,
“Ih kok begitu… kan opsinya hanya aku dan Charlie,” rengek Nicky yang masih ingin Marie memilihnya. Marie berkacak pinggang kepada keduanya dan berkata,”Aku tidak bisa memilih siapapun karena kalian berdua adalah temanku yang berharga. Jadi hentikanlah pertengkaran bodoh kalian,” ujarnya yang langsung dimengerti Charlie,
“Baiklah kalau begitu,” ujar Charlie yang kemudian ia berpindah ke sisi Marie. Melihat Charlie yang mengalah, Nicky pun menghela napas dan ikut mengalah juga,”Iya, iya… aku ngalah deh…” ujarnya yang kemudian mendekati Marie. Sementara itu, Nirmala yang tidak tahu apa-apa pun mulai bersuara,
“Umm… apa aku sudah tidak dibutuhkan lagi di sini?” ucapnya dengan bingung. Gadis itu masih menatap sekitarnya yang mana Nicky dan Charlie mengarahkan pandangan mereka ke Marie seakan-akan mereka meminta Marie untuk menjelaskan hal ini kepada Nirmala. Marie yang tahu jika Nirmala sebenarnya menyukai Charlie pun mendukung perasaannya itu, sehingga ia sangat bersemangat jika Nirmala bisa ikut nimbrung bersama dengan mereka.
Mana tahu perasaan Nirmala bisa tersampaikan dan terbalaskan oleh Charlie.
”Mulai hari ini kamu barengan sama kita terus, gimana?” ajak Marie dengan begitu ramah. Nirmala menatap Nicky dan Charlie yang kelihatannya sedang menunggu jawaban dari dirinya. Gadis cantik yang memiliki tinggi 157 cm itu mengigit bibirnya dan kembali bertanya, “Gak apa nih?” tanyanya ragu-ragu,
Marie tersenyum,”Tentu saja boleh…”
Marie melihat dirinya di sosok Nirmala, yang mana di kehidupan sebelumnya keduanya tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan orang yang mereka cintai. Maka dari itu, selain dirinya yang ingin berjuang demi orang yang ia sukai, ia ingin juga Nirmala mendapatkan kesempatan yang sama dengan dirinya.
“B-baiklah… kebetulan aku juga tidak memiliki teman…” ujarnya yang membuat Nicky tidak percaya,
“Tidak ada teman? Yang benar saja! Gadis secantik kamu loh!”
“Hehehe iya… soalnya kebanyakan malah membenciku karena penampilanku yang begini…” katanya dengan kaku. Ia tidak berani menatap Charlie yang masih menempelkan matanya kepada Nirmala.
“Oke sudah diputuskan, mulai sekarang ini, Nirmala adalah bagian dari geng kita, gimana?” usul Marie kepada kedua sahabatnya. Tanpa berpikir panjang, Charlie dan Nicky pun mengangguk setuju dan itu membuat Nirmala dan Marie sangat senang akan hal ini.
“Yaudah, yuk kita melangkah ke kantin!” ajak Marie kepada teman-temannya.