Marie menatap ponselnya, berpikir pesan apa yang harus ia kirimkan kepada Jonathan. Sedari tadi dia terkutat di depan ponselnya dengan pesan yang sudah keberapa kalinya ia hapus. Marie benar-benar berpikir dengan keras, kata apa yang tepat untuk Jonathan? Gadis itu bahkan sengaja mempercepat makannya hanya karena ia ingin memikirkan pesan yang tepat untuk Jonathan. Marie berpikir sekaligus merenungkan perkataan yang cocok untuk pria itu.
Nicky yang menyadari gelagatnya sedikit aneh pun berbisik kepadanya,”Hey, apa ada masalah?” tanyanya yang sembari mengintip ke ponsel gadis itu dan dia pun melihat nama kontak itu adalah nama dari Jonathan. Nicky sungguh sangat kaget karena ia berpikir darimana Marie bisa mendapatkan nomor Jonathan padahal dirinya tidak pernah melihat keduanya berinteraksi bersama,
“Darimana kau mendapatkan nomor itu?” tanya Nicky yang begitu penasaran, walaupun ia sangat kaget, namun dia juga tetap mengontrol volume suaranya sehingga Nirmala dan Charlie yang berada di depan mereka pun tidak menyadari jika tengah mengobrol,
“Sebenarnya ceritanya cukup panjang... aku tidak bisa menceritakannya di sini,” bisik Marie yang membuat Nicky sedikit cemburut. Melihat sang sahabat yang tidak puas, Marie pun berbisik lagi,”Tenang saja, aku akan menceritakannya kepadamu, eksklusif kepadamu,” ujarnya yang membuat Nicky sangat senang dengan perkataan dan janji dari Marie,
Sementara itu ada Charlie yang menatap keduanya yang asik berbisik bersama. Ia sangat kepo dengan pembahasan keduanya sehingga ia sendiri mengeluarkan suaranya,”Kalian sedang bisik-bisik apa?” tanyanya dengan menyelidik. Nicky dan Marie buru-buru menggelengkan kepala mereka dan tersenyum kaku,
“Ah tidak ada kok,” jawab Marie dengan kaku, berbeda dengan Nicky yang bisa dengan mudah membalas pertanyaan pria itu dengan begitu mulus, “Iya... tidak ada pembahasan yang begitu berarti,” timpanya dengan begitu baik.
Sementara itu, pandangan Marie beralih kepada Nirmala yang belum menyelesaikan makannya. Ia menatap gadis itu yang sedari tadi tampak diam dan tidak bersuara. Marie penasaran, apa Nirmala tidak nyaman dengan mereka atau mungkin dia malu-malu?
“Nirmala...” panggil Marie yang langsung disahut gadis itu,
“Ya?” balasnya sembari ia mengangkat kepalanya untuk menatap Marie,
“Kamu kok dari tadi diam saja?” tanya Marie kepadanya. Gadis itu tampak malu-malu apalagi saat ini ia sedang duduk bersama dengan Charlie,
“Umm... anu tidak ada sih, aku juga bingung mau bicara soal apa,” ujarnya sebelum dia menghabiskan makanannya dalam satu suap. Marie mengangguk paham, tidak salah juga jika Nirmala terlalu banyak diam karena gadis itu juga masih baru,
“Begitu...” balas Marie sembari mengangguk. Marie kembali melihat ponselnya, setelah sekian lama berpikir, ia pun mengetik pesan untuk Jonathan, berharap jika pria itu akan membalas pesannya.
Marie: Hey, kamu sakit kah? Kenapa tidak masuk?
Marie sengaja pura-pura tidak tahu jika dia sakit, supaya tampaknya percakapan mereka sangatlah natural. Gadis berkacamata itu kemudian menunggu balasan pesan dari Jonathan dan benar saja, tidak lama kemudian Jonathan membalas pesannya,
Jonathan: Iya, aku sedang sakit,
Marie menelan ludahnya, ia ingin mengunjungi pria itu sekarang juga tapi rasanya tidak mungkin karena pelajaran akan terus berlanjut. Mau tidak mau, ia harus menjenguk pria itu pada jam pulang sekolah. Marie yang sedang berpikir pun, dipanggil oleh Charlie karena ia melihat Marie seperti sedang melamun,
Pria itu menjentikkan jarinya di hadapan Marie sehingga membuat Marie sedikit terkesiap,”Ya? Ada apa?” tanyanya kepada Charlie yang sudah penasaran dengan isi pikiran Marie,
“Apa yang sedang kau pikirkan? Sepertinya kau tidak bisa lepas dari kebiasaanmu untuk tidak melamun,” ujarnya yang membuat Marie terkekeh,”Tidak ada... jangan cemaskan aku, aku baik-baik saja...” ujarnya sembari mengibaskan tangannya kepada Charlie.
Perhatian gadis itu teralih lagi kembali ke ponselnya, begitu juga dengan Charlie yang mana matanya masih mengikuti pergerakan Marie yang mencurigakan untuknya,”Lagi kirim pesan sama siapa?” tanyanya sembari melihat ponsel gadis itu untuk mencari tahu siapa yang sedang bertukar pesan dengan Marie,
“Ada... temanku yang lain...” ujarnya dengan santai,
Marie: Kamu sakit apa?
Sembari menunggu balasan dari Jonathan, gadis itu menyingkirkan sebentar ponselnya dan perhatiannya kembali kepada teman-temannya,”Hey, kalian sudah tahu belum apa yang akan menjadi impian kalian di masa depan nanti?” tanya gadis itu kepada ketiga temannya. Masing-masing dari mereka berpikir sejenak sebelum mereka membalas perkataan itu,
“Aku belum tahu mau jadi apa,” ujar Nicky dengan begitu santai,
“Bagaimana kau bisa sesantai itu ketika kau mengatakan hal itu? Apa kau benar-benar belum tahu mau bakalan jadi apa?” tanya Marie yang membuat gadis itu terkekeh,
“Entahlah... mungkin suatu saat nanti aku akan menghilang,” ujarnya dengan enteng. Mendengar itu, Marie langsung menepuk lengan Nicky,”Hush! Jangan ngomong begitu!” tuturnya yang tidak ingin kehilangan sahabatnya, Nicky,
“Aku harap secepatnya ya kau menghilang, aku sudah malas menghadapimu,” ujar Charlie yang kembali mengejek Nicky,
“Nah ini kan... mulai lagi. Gitu aja terus,” ujar Nicky dengan sewot. Sementara itu, Nirmala tertawa kecil melihat interaksi mereka berdua. Melihat reaksi Nirmala yang malah menertawakan dirinya, Nicky pun bertanya kepadanya,”Apa? Apakah ada yang lucu dari perkataan si kucrut ini?” tanya Nicky sewot.
“Tidak ada... kalian berdua selalu saja bertengkar ya...” ujarnya yang langsung diangguki oleh Marie,
“Mereka selalu bertengkar setiap kali mereka bertemu, heran deh,” ucap Marie sembari menggelengkan kepalanya. Perhatian Marie kembali teralih ke ponselnya ketika ia mendengar sebuah pesan masuk ke ponselnya dan benar saja itu dari Jonathan,
Jonathan: Sepertinya aku sedang demam dan aku sangat pusing...
Marie mengangguk, sekarang ia tahu obat apa yang harus ia beli untuk Jonathan,
Marie: Aku akan menjengukmu nanti, apa kamu mau titip sesuatu?
Charlie mulai curiga dengan gelagat gadis itu karena ia menemukan gadis itu sedang senyum-senyum sendiri ketika ia sedang mengetik di ponselnya. Ia sungguh penasaran dengan siapa Marie mengirim pesan sehingga ia bisa tampak begitu senang,
“Sebenarnya siapa yang saat ini sedang bertukar pesan dengan Marie? Apa itu adalah seorang pria?” batin Charlie dengan tidak senang.
“Kayaknya asik banget ngechatnya... sedang ngechat sama siapa?” tanya Charlie kepada Marie. Marie tidak berniat untuk menceritakan dengan siapa ia bertukar pesan karena ia tahu Charlie tidak menyukai Jonathan. Sebenarnya sampai sekarang pun dia tidak paham mengapa Charlie bisa tidak menyukai Jonathan karena Jonathan selama ini baik-baik saja dengan dirinya.
Padahal keduanya satu tim dalam basket, tapi kenapa Charlie terlihat tidak senang setiap kali Marie membicarakan mengenai Jonathan? Sampai sekarang pun gadis itu tidak mengerti,
“Tidak ada... hanya seorang teman yang jauh...”
“Jauh di mata tapi dekat di hati,” sahut Marie di dalam batinnya.
Charlie tampak tidak puas dengan jawaban Marie karena ia jarang sekali melihat Marie yang bisa senyum-senyum seperti ini ketika ia sedang membalas sebuah pesan,”Siapa dia?” tanya Charlie sekali lagi. Nicky yang mendengar hal itu pun tidak suka. Di matanya, Charlie terlihat termakan api cemburu.
“Berhentilah bertanya seperti itu kepada Marie... kenapa kau terdengar sangat sewot?” tanya Nicky dengan tidak senang. Nicky benar-benar tidak suka dengan sikap Charlie walaupun dia tahu Charlie menyukai Marie, namun menanyakan hal-hal seperti ini menurutnya merusak privasi Marie.
“Aku hanya bertanya dengan siapa dia bertukar pesan, apa aku salah?” tanya Charlie yang tidak sadar jika perkataannya itu terdengar egois. Nicky mencebik kesal mendengar perkataan pria itu, sementara Marie dan Nirmala hanya diam saja,
“Kau sudah seperti pacarnya saja, kau tidak boleh membatasi pertemanan Marie seperti itu...” balas Nicky yang membuat pria itu mulai sadar. Charlie mengalihkan pandangannya kepada Marie dan dia meminta maaf kepada Marie karena ia sudah tenggelam dalam kecemburuannya,
“Maaf Marie, aku tidak bermaksud seperti itu...”
Marie menggelengkan kepalanya,”Tidak masalah... tidak perlu dipusingkan,”
Nirmala yang sedari tadi menyimak perkataan mereka pun melihat cara Charlie menatap Marie. Ia memiliki firasat yang tidak ingin dia percayai hingga saat ini. Ia berharap jika hal ini adalah asumsinya belaka saja. Gadis itu sedikit sedih sehingga ia menundukkan kepalanya, berpikir apakah dia bisa terus bersama dengan Marie dan teman-temannya seperti ini?
Sebenarnya ia memang tidak banyak memiliki teman, jadi ketika ia diminta untuk menjadi teman Marie, ia menerimanya mengingat Marie adalah orang yang begitu baik, selain itu juga ia mau karena ada Charlie yang bersama-sama dengan mereka.
“Aku harap ini hanya perasaanku saja...” batinnya yang ingin sekali menolak mempercayai firasatnya,
Marie mengambil ponselnya ketika ia mendapatkan sebuah pesan dari Jonathan.
Jonathan: Benarkah kau akan kemari?
Marie pun langsung mengetik pesannya,
Marie: Iya... aku akan membelikanmu obat dan bubur. Karena kamu tinggal sendiri, sepertinya tidak ada yang bisa mengurusmu saat ini...”
Marie mengembalikan pandangannya kepada teman-temannya,”Lalu bagaimana denganmu, Charlie dan Nirmala? Kalian punya impian kah? Setahuku dulu Charlie mau jadi pilot ya? Apa kau masih berpikiran untuk menjadi pilot?” tanya Marie untuk mencairkan suasana yang sempat direbut dengan percakapannya dengan Jonathan melalui w******p,
“Masih... aku sendiri masih bermimpi untuk menjadi pilot,” jawab pria itu dengan santai.
“Lalu bagaimana dengan Nirmala?” tanya Nicky,
“Sebenarnya aku ingin menjadi pramugari tapi... tapi aku ragu itu bisa kesampaian,” ujarnya dengan ragu. Hal ini mengundang rasa penasaran dari ketiga temannya itu sehingga perhatian mereka terpusat kepada Nirmala yang malah semakin gugup karena ditatap seperti ini oleh teman-temannya,
“Kenapa? Apa salahnya dengan impianmu? Bukankah jadi pramugari itu susah banget ya?”
Gadis itu mengangguk,”Iya... sebenarnya papaku tidak setuju jika aku menjadi pramugari... beliau takut kalau terjadi apa-apa di udara,” ucapnya dengan sedikit gugup. Mendengar itu, Charlie pun tersenyum miring,
“Bilang sama papamu, kalau aku yang jadi pilotnya, aku pastikan kau akan selalu selamat,” ujarnya yang membuat semburat merah di pipi gadis itu. Marie tersenyum melihat interaksi keduanya sebelum ponselnya kembali bergetar karena notifikasi yang ia yakini dari Jonathan,
Jonathan: Tidak perlu... aku tidak ingin merepotkanmu...